
Kediaman Rumah Utama Jason.
Di tengah malam saat kediaman Jason tertidur lelap. Terdengar sebuah telepon dari bilik meja,dimana handponenya bergetar dengan kerasnya. Jason yang sedang tertidur dalam keadaan tubuh tanpa helaian benang,ia membuka kedua matanya dan ia mengumpat dengan mengambil dan membanting handponenya, yang bergetar terus menerus dari tadi yang mengganggu tidurnya. Ia tidak menghiraukan getaran handponenya dan tidur kembali.
Di pagi hari di rumah utama keluarga Jason. Semua orang sedang ramai dengan adanya kabar tentang rumah kedua hancur dan pabrik milik keluarga Jason terbakar habis tanpa sisa. Orang tua Jason merasa resah dengan kerugian besar dalam kecelakaan ini.
Jason yang baru saja turun dari kamarnya,ia melihat ke arah kerumunan keluarganya yang panik. Jason di hampiri oleh sekertarisnya yang sudah menunggunya untuk menyampaikan beritanya.
Dia tidak berani mengganggu tuannya jika sedang berada di kamarnya.
Apabila ada yang mengganggunya maka hanya hal buruk yg akan terjadi, yang paling ringan hukumannya hanyalah dua puluh hukuman cambuk bagi siapapun yag melanggarnya selain dari itu hukuman yang bahkan orang lainpun tidak tahu.
"Tuan saya ingin menyampaikan berita tentang perusahaan kita,yang sedang terkena kecelakaan tuan pbrik di kota timurterbakar habis tanpa sisa," ucap sekertarisnya.
"kenapa bisa seperti itu hah," teriak Jason.
Jason mempercepat jalannya dan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang terlihat panik dan duduk dalam kebingungan.
Dengan wajah geramnya ia menghampiri orang tuanya yang juga kini terdiam melihat ke arahnya
"Ayah apa yang kau lakukan ,kenapa bisa seperti ini ,bukankah kau bilang semua akan baik baik saja, huh, memang salah aku mempercayakannya padamu," decak kesal Jason pada ayahnya.
"Aku sendiri tidak tahu akan hal ini tidak ada bukti sama sekali ,CCTV kita baik-baik saja tidak ada yang mencurigakan," jawab ayah Jason.
"Huh, kau memang selalu payah, biar anak buahku yg mencari tahu panggil Adam dia dimana," teriak Jason.
"Kau, kau, kau ,pergi ke area timur dan cari tahu secepatnya. Kau ikut denganku ke pusat. Aku takut di sana juga ada hal yang tidak terduga katakan juga pada Adam untuk menemuiku di kantor," tegas Jason memerintahkan anak buahnya yang di ikuti sekertarisnya menuju perusahaan.
Dengan wajah geram dan kesal. Jason berjalan memasuki kendaraanya dan pergi menuju perusahaannya.
Setelah mobil melaju keluar dari gerbang depan dengan kecepatan sedang.
Ada sebuah senyuman di balik wajah seseorang yang berdiri di balik pohon, di depan gerbang utama.
Ia menatap dengan penuh kebencian, saat melihat mobil Jason keluar.
"Kau pikir aku akan membiarkan kau tahu akan hal itu,heh,aku akan pastikan tuanku akan tetap aman,karena hanya dia yang bersedia mementingkan keselamatan kelurgaku," ucap Adam di balik pakaian serba hitamnya.
Ia berdiri mengenakan pakaian serba hitamnya ,ia mengenakan helmnya dan membawa motornya.
**
Perusahaan Jason King.
Kendaraan yang di tumpangi Jason. Kini sudah memasuki perusahaannya. Ada banyak penjagaan yang ketat .
di sepanjang jalan di depan perusahaann berdiri.
Di bagian depan perusahaan berjejeran para penjaga yang berpakaian formal serba hitam.
Mereka membungkukan tubuhnya memberi hormat pada Jason. Di saat Jason keluar dari mobilnya dan memasuki perusahaannya mereka memberi salam dan hormat padanya.
Jason tampak geram saat melihat para karyawannya sibuk mondar mandir kesana kemari,mengurus permasalahan yang di alami perusahaan yang terjadi. Setiap proyek yang bekerja sama dengannya kini satu persatu memutus kerja samanya.
Jason berdecak kesal, saat mendengar itu semua dari managernya. Ia yang saat ini sedang duduk di ruang kerjanya. Ia membuang semua yang ada di mejanya tampak wajahnya merah karena amarah yang memuncak.
"Dimana Adam,kenapa dia belum ke sini," teriak Jason geram.
"Saya di sini tuan," ucap Adam memasuki ruangan Jason.
"Dam,cepat kamu periksa dan cari tahu apa yang terjadi,juga kamu cek area timur aku ingin semuanya beres dan tahu dalang di balik kacaunya perusahaanku," ucap Jason lembut.
Jason bersikap lembut pada Adam setiap kali bersamanya. Ia selalu perlahan jika ia berbicara padanya. Itu karena Adamlah yang selalu memberinya informasi yang selalu akurat.
Adam mengangguk ia duduk di sofa
membuka laptopnya dan mulai mencari tahu apa yang terjadi
dengan kamera CCTV di setiap areanya.
"Ini tuan,sepertinya ada yang mematikannya sementara waktu saat kejadian. Sepertinya juga peristiwa terjadi hanya di detik berikutnya tidak lama matinya CCTV,"jelas Adam
"Apa kau tahu siapa yang punya kemampuan seperti itu?" Tanya Jason.
"Heh,kau pikir siapa?kalau bukan aku sendiri yang punya taktik seperti itu...aku hanya meberikan caranya pada Tuan Anggara dan tidak melakukannya," batin Adam.
__ADS_1
"Hmmm, Saya tidak tahu pasti tuan yang jelas hanya saya yg bisa melakukannya dan seseorang yang belum pernah saya temui orang itu Tuan,"jawab Adam.
"Hmmm ,baiklah kau bisa cari tahu siapa orang itu kan?" Ucap Jason.
"Saya belum tahu Tuan, justru karena keamanannya jauh lebih ketat dari keamanan saya tuan," ucap Adam.
Jason terdiam saat mengingat setiap kejadian ,ia teringat akan Anas. Ia merogoh saku celananya dan melakukan teleponnya pada Anas. Yang sekarang sedang di sibukan oleh Ken dan Rendi.
Pekerjaan beberapa tumpuk juga berkas yang banyak,Satu mejapenuh. Handpone Anas tidak jauh darinya, tapi panggilan yang masukpadanya di tolak otomatis oleh Handponenya. Karena mode penolakan dari handponenya yang tidak di sadari oleh Anas dan juga ia tidak punya waktu untuk menerima telepon untuk saat ini.
Anas tampak sibuk tanpa menyadari bahwa handponenya berdering dan menandakan ada panggilan masuk. Saking pintarnya Adam,ia bisa mengendalikan handponenya Anas dari jarak jauhnya.
Terpasang senyuman tipis di wajah Adam.
Jason yang geram dengan Anas yang tidak mengangkat teleponnya. Ia melempar handponenya dan mengumpatnya dengan nada yang keras.
"Sialan, apa yang sedang dia lakukan, sampai tidak bisa menerima panggilanku. Akan aku beri pelajaran dia jika masih tidak mengangkatnya," gerutu Jason .
Adam yang melihatnya ia tersenyum dan memgalihkan pandangannya dari melihat Jasonn. Ia melihat laptopnya yang kini sedang membuka semua dokumen dan emailnya dari kemarin.
Rendi memberikan beberapa dokumen setiap kejadian,antara perusahaan ayahnya dan juga keluarganya.
Adam tersenyum dengan hati bahagia, ia memandangi email yng ia terima daru tuan baru nya itu.
Walau belum pernah bertemu langsung, dengan tuan Anggara. Ia seperti sudah akrab dengan tuannya. Karena tuannya bersedia menolongnya dan perusahaannya.
Bahkan kini keluarganya memiliki tempat tinggal sendiri ,yang keamananya kini sudah terjamin. Jika suatu saat nanti Jason murka dan berkehendak untuk membantainuya.
Jason geram dengan dirinya sendiri. Yang msih belun tahu apa yang terjadi di balik ini semua. Ia melihat ke arha Adam yang sedang serius mencari informasi dari segala hal yang terjadi padanya.
"Adam, kau ikut aku besok ke area timur dan sekarang kita ke rumah ke dua," ajak Jason .
"Baik Tuan, saya akan mencari tahu juga apa yang bisa saya lakukan tuan," ucap Adam .
"Satu hal lagi apa kau tahu doni ada dimana? Harusnya dia bersamamu untuk mencari informasi bersama. Nanti aku telepon dia,agar cepat pulang untuk menyelesaikan ini semua jika tidak akan aku pastikan dia tidak akan selamat kali ini," ucap Jason.
Saat itu juga jason yang di ikuti adam sekertarisnya, juga beberapa anak buahnya. Mereka menaiki kendaraannya masing- masing menuju lokasi kekacauan yang sudah menimpanya.
Dalam perjalanan Jason tampak geram dengan semua yang terjadi.
"Ia pastri yang melakukannya aku harus bisa mendapatkannya sekarang juga," gumamnya Jason.
Sesampainya di rumah kedua.Jason di sambut oleh beberapa pengurus rumah, yang sedang berdiri di depan rumah. Dalam keadaan ketakutan karena tuannya ini tidak kenal ampun jika sedang amarahnya naik.
Mereka menundukan kepalanya memberi hormat pada Jason. Mereka yng melihat raut wajah amarah tuannya, tampak ketakutan di setiap berdirinya mereka.
Jason dengan asjah geram dan kesalnya ia memasuki rumah kedua
terbesarnya.
Saat memasuki ruangan pertama, ia terkejut dan mengerutkan dahinya melihat apa yang terjadi pada rumahnya yang ia bangun dengan susah payah nya itu.
Walau pun rumah kedua tidak kebih besar dari rumah utama, tapi rumah ini adalah rumah yg ia sediakan jika nanti ia menikah dan memiliki istri yg banyak.
Jason terkejut meliht dalam rumahnya benar- benar hancur tanpa tersisa seisi rumah. hancur tidak tersisa hanya tinggal kerangka rumah saja.
"Gila ini perbuatan orang yang tidak kenal ampun ," ucap Adam.
Ia menambah suasana hati Jason yang sedang menahan amarahnya.
Dengan senyum di bibirnya yang diam penuh kemenangan. Adam memancarkan aura kebenciannya tanpa orang lain sadari.
Jason masih dengan diamnya. Ia berjalan melihat- lihat puing-puing sisa isi rumahnya yg sudah tidak ada berbentuk rumah sama sekali.
"Tuan di area timur bahkan lebih parah dari ini, tuan," ucap sekertarisnya.
Jason yang sedang terdiam ia mendengar ucapan sekertarisnha yang membuyarkan lamuanan Jason.
"Baiklah,ayo kita kesana juga," ajak Jason.
Kini kendaraannya juga bertujuan untuk ke area timur pabrik terbesar kedua keluarga besar. Jason yang di kelola langsung oleh ayahnya. Tapi kini orang tua itu membuatnya geram dan kesal setelah apa yang ia lakukan pada perusahaaan ayahnya itu.
Ia tampak geram dan gusar dalam duduknya. Kendarannya kini melaju dalam kecepatan sedang.
Yang di ikuti Adam menggunakan motornya.
__ADS_1
Ia menaiki motornya Untuk mengikuti mobil Jason. Mereka akan melihat pabrik yangg hancur terbakar di area timur.
Di Kediaman Rendi Anggara.
Rara terbangun saat mendapati putrinya yang terbangun karena haus. Rara melihat ke samping ranjangnya ia mengeritkan keningnya bahwa suaminya tidak ada di sampingnya untuk tidur.
"Kemana suamiku,bukankah semalam dia tidur denganku" gumam Rara.
Rara terbangun dan berdiri menghampiri anak-anaknya yang sedang menangis di ranjang bayi.
Ia menggendong Amira terdahulu dan memberinya minim susu darinya.
Rayn terbangun dan berdiri menghampiri ibunya. Ia meronta- ronta minta minum susu dan di gendong oleh ibunya.
Tapi kaki Amira menendangnya ke bagian wajahnya. Rayn menarik kaki Amira. Rara tersenyum saat melihat tingkah kedua anakny. Ia memanggil pelayan yang ada di depan pintu kamarnya, untuk masuk dan menggendong du lu putranya rayn.
Rara tampak khawatir akan suaminya dengan apa yang terjadi sejak kepulangannya dari kantor tadi malam.
Saat ini Rara sedang mempercepat memberi anak nya untuk minum susu. Ia melihat Rayn juga,yang sedang bermain dengan pelayannya.
Ada senyum di wajah Rara. Kebanggaan tersendiri di balik wajahnya dan hati bahagianya. Akan apa yang ia miliki putra putrinya dan juga suaminya yang sangat ia cintai.
Rara menyimpan Amira saat ia tertidur kembali. Ia juga memberikan Rayn untuk minum susu sebelum tidur. Dengan hati gundah gelisah tidak melihat keberadaan suaminya yang belum kembali juga. Rara tampak cemas takutnya suaminya masih marah padanya. Karena tadi malam ia tidak bisa memenuhi ke inginan suaminya yang sedang menginginkannya.
Rara menempelkan jari tangannya pada bibir rayn dan melepas pautannya yang memberikan minum susu pada putranya dan terlepas dari pautannya. Rara menidurkan Rayn dan menidurkannya di ranjangnya.
Setelah itu Rara berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya berjalan keluar.
Rara melihat ke arah pelayan yang ada di depan pintunya.
"Kalian melihat suamiku?" Tanya Rara.
"Tuan di ruang kerjanya Nyonya,"jawab pelayan.
"Hmmm,ada apa dengannya kenapa harus ke ruang kerja,setelah pulang larut malam dan ini tengah malam kenapa masih ke ruang kerja juga," gumam Rara.
Rara berjalan meninggalkan kamarnya,yang di ikuti kedua pelayannya.
"Kalian tunggu di depan pintu saja biar tahu keadaan putra putriku," ucap Rara.
"Saya saja yang mengikuti nyonya muda," ucap Pelayan satunya.
Rara mengangguk,ia berjalan menelusuri ruangan menuruni tangga.
Ia perlahan berjalan dengan mencari -cari ke sekeliling berharap ada suaminya di sana. Ia berharap ada suaminya yang ia cari. Pelayan yang mengikutinya ikut berhenti saat Rara menghentikan langkahnya dan mengerutkan keningnya.
Rara melihat di depan ruang kerja suaminya,ada tiga penjaga yang berjaga di sana. Saat melihatnya membuat Rara menghentikan langkahnya.
"Kenapa banyak sekali penjaga di depan pintu ruang kerja suamiku itu," gumam Rara.
Pelayan yang di belakangnya memberanikan diri untuk menjawabnya.
"Mungkin ada tamu di ruang kerja tuan,Nyonya," jawab pelayan.
"Jam segini ada tamu untuk bertemu suamiku?kenapa,ada apa,kenapa tidak tunggu nanti pagi saja?" Tanya Rara.
Rara berjalan kembali menghampiri ruang kerja suaminya kembali,setelah mencoba melangkah menghampiri ruang kerja suaminya.
Rara hanya berdiri dan tidak berani untuk mengetuk pintu ruangannya. Para penjaga yang melihat nyonya mudanya menghampiri nya . Mereka membungkukan badannya memberi hormat padanya.
"Nyonya muda ,Anda kemari?" Tanya salah satu penjaga.
"Apa suamiku ada di dalam,apa sedang ada tamu di dalam. kenapa dia belum keluar dari ruang kerjanya?" Tanya Rara.
Ketiga penjaga itu terkejut dengan nyonya mudanya yang banyak bertanya. Biasanya seorang nyonya itu sangat jarang dalam hal berbicara pada bawahannya,apalagi pada seorang penjaga seperti mereka.
Salah satu dari mereka maju menghadapi nyonya mudanya. Mencoba untuk berbicara dengan benar,ia menjawab nyonya mudanya.
Rara tampak menampilkan kecantikannya dengan balutan gaun panjang warna orange muda,lengan panjang pwnutup kepala asal pakai.
"Nyonya,Tuan sedang ada tamu ,mungkin masih lama untuk selesai apalagi keluar,karena tamunya baru saja masuk Nyonya," ucap salah satu penjaga.
"Tamu wanita apa pria?" Tanya Rara.
"Dua pria nyonya,juga ada tuan Ken,"jawab penjaganya.
__ADS_1
Rara terdiam,ia memikirkan siapa yang menemui Rendi di tengah malam begini.