Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Singapura


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen dan vote yach... Selamat membaca kak.


Setelah sampai di depan. Iyas lalu membuka pintu mobil dengan tergesa. Namun ia mengingat sesuatu dan melirik kearah kursi penumpang yang ternyata Lina masih tertidur di mobil tersebut. Iyas menepuk memukul jidatnya.


"Gadis bodoh! Tidur masih saja pulas, tidak waspada sama sekali," ucap Iyas.


Lalu Ia berjalan dan dengan cepat ia membuka pintu mobil belakang dan menggendong Lina yang masih dalam keadaan tidur, Iyas mengerutkan dahinya. Saat ia menggendong tubuh Lina yang bahkan sangat ringan. Yang mungkin tahu pasti beranggapan pada Iyas yang sangat manis dan romantis. Ia seperti seorang pangeran menggendong kekasihnya.


Ia keluar dari mobil dengan Lina di pangkuannya dan meninggalkan sopir taksi dengan ramahnya. Iyas berpamitan pada pria paruh baya yang tersenyum dan mengangguk ke arah Iyas. Iyas berjalan memasuki bandara dengan Lina pangkuannya. Ia mengerutkan dahinya ketika melihat wajah polos yang masih tertidur pulas, bahkan sama sekali tidak terbangun saat dirinya bahkan menggendongnya.


Sampai di depan jet pribadinya. Yang sudah ada dua anak buahnya. Anak buahnya memberi hormat dan membukakan pintu pesawat untuk Iyas. Iyas masuk dengan Lina yang masih di pangkuannya. Setelah duduk di dalam pesawat Iyas memasangkan airphone kepada Lina dan dirinya.


Pada akhirnya kini ia melakukan perjalanan menggunakan pesawat jet pribadinya kembali ke Singapura dengan gadis pendiam bernama Lina di pangkuannya. Seorang gadis yang sangat polos tertidur pulas di pangkuan Iyas di dalam pesawat jet pribadinya. Iyas teringat akan suatu peristiwa yang pernah terjadi di masa lalunya.

__ADS_1


Dirinya dengan pacarnya dulu. tanpa memperhatikan gadis yang ada di pangkuannya. Ia teringat Ines yang kini sudah tiada. Gadis masa kecilnya itu pasti akan protes dengan wajah manjanya jika melihat Iyas seperti ini. Seperti dulu saat ia sedang menggendong kekasih masa kecilnya, yang kini sudah tiada. Perjalanan Iyas untuk kembali ke Singapura hanya beberapa jam saja.


Sesampainya di bandara Iya kini merasa kram di bagian pahanya dan juga lengannya karena cukup lama ia menggendong Lina di pangkuannya. saat hias mencoba untuk bergerak tiba-tiba gadis yang ada di pangkuannya itu terbangun dan mengerjapkan tubuhnya hingga terbentur dengan dagu iya.


"Aw ... aw..." teriak Lina mengaduh.


Begitupun dengan Iyas meringis kesakitan ketika dagunya terbentur dengan kepala Lina.


"Apa yang kau lakukan gadis bodoh?" tanya Iyas menyentuh dagunya.


Namun saat Lina mulai sadar dari bangunnya. Ia mengedarkan pandangannya, melihat ke arah isi pesawat jet pribadi Iyas dan ia sedikit mundur dari tubuh Iyas yang berada di hadapannya. Ia membulatkan kedua matanya ketika mengingat dirinya berada di tempat yang salah.


"Ini di mana?" tanya Lina sedikit heran.

__ADS_1


"Singapura !"jawab Iyas singkat.


"Apa?" teriak Lina membulatkan kedua matanya.


Iyas yang mendengar teriakan Lina. Ia membulatkan kedua matanya dan menutup kedua telinganya.


"Kau menculikku?" tanya Lina.


Dia mundur semakin menjauh dari Iyas hingga hampir, ia keluar dari pintu pesawat. Namun Iyas menarik tangan Lina, hingga kini Lina berada di dalam pelukan Iyas.


"Dasar gadis ceroboh! Bagaimana jika kau terjatuh dan terluka nanti!" teriak Iyas memarahi Lina.


Lina terdiam dia juga takut akan hal itu terjadi, dan tubuhnya gemetar ketakutan. Mengingat kecerobohannya hampir terjatuh dari pesawat. Iyas menarik Lina dan memeluknya dengan erat ketika Lina ketakutan. Setelah Iyas menjelaskan kepada Lina. Apa yang terjadi kini Lina mengangguk dan terdiam.

__ADS_1


Iyas membiarkan Lina untuk berpikir sejenak, namun mengingat hari masih gelap. Iyas menarik Lina keluar dari pesawat dan berjalan menuju mobil mereka. Yang kini sudah ada anak buahnya yang menunggunya di depan bandara. Lina hanya mengikuti Iyas yang menuntunnya, dengan pegangan yang erat dan lembut. Tangan seorang pria yang memegang erat tangan Lina. Seperti sebuah magnet Lina menuruti setiap ucapan yang dikatakan Iyas.


Apalagi saat ini, ia berada di negara yang bahkan bermimpipun, Lina tidak pernah. Mengingat negara Singapura karena baginya adalah hal yang tidak mungkin untuk seorang Lina bisa berada di Singapura. Faktor ekonomi yang tidak memungkinkan dirinya untuk sekedar membayangkannya saja. Ia hanyalah seorang pegawai Cafe dan juga anak kosan.


__ADS_2