
Di tengah malam saat Rendi dan yang lainnya kembali ke kamarnya. Ken berjalan keluar dari rumah utama dan menelusuri halaman dengan berjalan kaki. Ia yang mengenakan pakaian formalnya ada banyak penjaga di sepanjang jalan dan setiap sudut rumah utama yang menyapa dan memberi hormat padanya, dengan wajah datarnya Ken hanya menganggukan kepalanya tanda membalas sapaan mereka.
Sesampainya ia di rumah belakang ia berdiri di depan pintu dan menarik nafas panjang dan memegang pedal pintu dan masuk ke dalam rumahnya.
Hati Ken yang bergemuruh saat istrinya mengatakan sesuatu tadi siang di ruang tamu, kini membuat tubuhnya jadi panas dingin kembali.
"Sayang ....kamu harus cepat pulang kita akan bergadang semalaman sepuasmu,aku akan memuaskannmu," bisik Dilla dalam pangkuan Ken dengan mata nakalnya.
Ia tersenyum gemas mengingat ucapan istrinya itu, Ken menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Kini ia berjalan menaiki tangga dengan langkah yang masih sama perlahan. Juga dengan wajah datarnya tanpa ekspresi yang tidak sesuai dengan perasaannya saat ini.
Ia memegang pedal pintu dan melihat ke arah ranjang. Ia membelalakan kedua matanya saat melihat punggung istrinya yang sedang tertidur membelakanginya.
Ken menghela nafas saat ia mendapati istrinya yang sudah tertidur lelap.
Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri, sekitar setengah jam ia di dalam kamar mandi, mengingat perkataan konyol istrinya yang semakin hari semakin menggemaskan baginya, ia tersenyum ia menyelesaikan aktivitasnya dan bergegas memasuki ruang ganti.
Saat membuka pintu ruang gantinya yang sulit untuk di buka. Ken terkejut saat melihat semua pakaian berserakan di bawah seperti ada pencurian.
Ken membulatkan kedua matanya dan menggelengkan kepalanya. Ia berjalan memasuki ruang ganti dan memakai pakaiannya.
Ken kembali ke tempat tidur dimana istrinya sudah terlelap. Ia memandangi istrinya yang membelakanginya juga mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya.Ken membalikan tubuh istrinya, ia terkejut saat melihat pakaian yang istrinya kenakan.
Sebuah dres malam yang khusus ke pesta dengan belahan dada yang sedikit terlihat. Ken mengerutkan dahinya menggelengkan dan tersenyum akan tingkah istrinya yang menurutnya konyol.
Ia mencium pucuk kepala istrinya menyentuh wajahnya hingga sampai bibirnya. Ia tersenyum dan merasa senang.
"Kau bahkan mengenakannya hanya untukku ya...Memangnya tidak gerah sayang.... Kamu wanita ternakal yang pernah aku temui istriku yang liar, setelah apa yang kau lakukan tadi kenapa kau malah tertidur pulas sekarang, sepertinya kau berusaha keras ya mencoba pakaianmu setiap hari," ucap Ken mengecup kembali kening istrinya.
Ken menutup kembali selimut istrinya bersama dengan dirinya untuk tidur.
Ia memejamkan matanya juga mencoba memeluk istrinya perlahan, mengingat Dilla kini usia kehamilannya yang mulai membesar.
Ken berguling-guling tidak nyaman dengan seseorang yang ia peluk dengan pakaian yang tidak seharusnya di pakai saat tidur tapi ia ingin memeluk istrinya.
Saat dengan gundahnya Ken membuang selimutnya kasar dan bangun dari tidurnya. Ia tampak kesal dengan dirinya yang malah tidak bisa tidur hanya karena pakaian yang istrinya kenakan.
"Kau bahkan tidur sangat nyenyak dengan pakaian seperti itu," gerutu Ken.
Ia terdiam saat memikirkan berbagai cara agar bisa tertidur, ia mencoba tidur di sofa tapi ia tidak bisa tertidur sama sekali. Ia melihat ke arah istrinya yang justru semakin nyenyak tidurnya karena luasnya ranjang yang ia kenakan membuatnya berguling kesana kemari.
"Biasanya aku tidur sendiri dulu,kenapa sekarang malah tidak bisa tidur?" Gerutu Ken.
Ia duduk di sofa dengan kegundahan dan keinginannya tidur di pelukan istrinya.
Tapi ia tidak mau mengganggu tidur istrinya yang sudah nyenyak. Ia berdiri dan berbolak balik kesana kemari di depan sofa,ia juga mengusap wajahnya yang tidak berkeringat.
Ken memilih membuka laptopnya juga dengan handponenya. Ia memilih mencari persiapan untuk besok berlibur ke pantai menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan. Ia kirim semua keperluan itu pada Nesa tanpa harus bertemu besok. Setelah itu Ken masih tidak bisa tidur walau sudah menutup matanya berulang kali.
Ia memilih untuk mendengarkan musik melodi, mengenakan handset di telinganya, menyenderkan tubuhnya dan menengadahkan kepalanya ke atas dan mencoba menutup matanya.
Saat berguling kesana kemari Dilla menyadari bahwa di sampingnya kosong melompong saat tangannya merebah ke samping kasurnya. Ia mengerutkan dahinya dan membuka kedua matanya. Dilla terkejut saat melihat suaminya terduduk di sofa dengan memejamkan matanya mendengarkan musiknya.
Ia bangun dan duduk di kasurnya.
"Kenapa dia malah tidak tidur..lalu kenapa malah di sana?" Gumam Dilla.
Dilla bangun dari ranjangnya berdiri dan berjalan menghampiri suaminya.
Yang sedang mndengarkan musik dan tidak menyadari istrinya yang terbangun.
Dilla mendekati suaminya yang hanya mengenakan celana pendek kaus putih.
Ia melihat wajah tampan suaminya dan tersenyum.
Dilla duduk di pangkuan suaminya dan merangkul leher Ken yang terkejut akan tindakan istrinya.
Dilla tersenyum merangkul dan mengecup bibir suaminya yang masih mengerutkan dahinya.
"Kenapa kamu tidak tidur...malah disini?" Tanya Dilla menyondongkan bibirnya.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Ken.
"Kenapa?" Tanya Dilla.
__ADS_1
"Aku risih dengan baju malammu," jawab Ken.
"Ada apa dengan bajuku?" Tanya Dilla.
"Bajumu membuatku tidak bisa tidur," jawab Ken.
"Kamu kan bisa geser tidurnya,toh ranjang kita besar," jawab Dilla mengerutkan dahinya.
"Aku tidak mau," jawab Ken.
"Kenapa?" Dilla heran.
"Aku tidak bisa memelukmu jika pakai baju seperti itu," ucap Ken.
"Hahaha,kamu ini Ken ketularan tuanmu ya manja begitu,biasanya juga tidur sendiri," tawa Dilla.
Ken yang melihat tawa istrinya ia mencium bibir istrinya untuk diam.
"Ish,kamu ini main cium cium saja,ayo tidur," ajak Dilla.
"Tidak mau," bantah Ken.
"Ayo...kamu ini udah gede gak usah manja," tegas Dilla.
"Kamu tidur saja dulu aku disini saja," ucap Ken.
"Hmmm...baiklah aku ganti pakaiannya tapi awas ya kalau nanti tidak tidur juga kamu diam di luar saja," tegas Dilla.
Ken mengangguk ia tersenyum melihat istrinya memasuki ruang ganti.
Dilla memasuki ruang ganti dengan perlahan karena susah untuk melangkah.
"Ini aku kenapa bisa segila ini sih membuat berantakan kamar sendiri," gerutu Dilla.
Setelah berganti pakaian mengenakan dres tidur yang transfaran Dilla berjalan kembali ke arah Ken yang masih duduk di sofa.
Dilla duduk kembali di pangkuan suaminya yang masih mendengarkan airponenya.
Ken tersenyum mendapati istrinya sudah berganti pakaian dan membuatnya nyaman. Ken mencium bibir istrinya begitupun dengan Dilla membalasnya. Mereka menikmati setiap kecupan di bibir mereka dan melepasnya saat sudah kehabisan nafasnya.
Ken tersenyum bahagia dengan tingkah istrinya, ia mengangguk dan menggendong istrinya yang masih berada di pangkuannya. Ia berjalan dengan memandangi wajah istrinya yang tanpa jarak dengan wajahnya mereka tersenyum bahagia.
Ken membaringkan istrinya di tempat tidur perlahan.Mereka tidak melepas senyum mereka saling menatap lekat wajah masing-masing.
Ken mengecup bibir istrinya.
"Besok kita berlibur di pantai,"ucap Ken tidak merubah posisinya masih di atas Dilla dengan wajah tanpa jarak di antara mereka.
"Benarkah...bukankah katamu tuanmu itu tidak suka pantai ya?" Tanya Dilla.
"Hmmm, sepertinya dia mulai mencoba untuk membahagiakan keinginan nona muda," jelas Ken.
"Hmm...baguslah aku juga tahu bahwa Rara menyukai pantai tapi suaminya malah tidak suka pantai , karena jodoh mereka saling mengisi," ucap Dilla tersenyum.
"Hmm...ayo tidur aku ingin di peluk kamu,bersama anak kita," ucap Ken.
"Tidak biasanya kamu seperti ini,ada apa?" Tanya Dilla mengerutkan dahinya.
"Tidak tahu, aku mau saja tidur di pelukanmu," ucap Ken.
"Baiklah...karena kau membawa kabar baik dan juga suamiku,sini aku peluk anak manja mau di peluk tidurnya," ucap Dilla tersenyum.
Dilla merentangkan tangannya dan memeluk suaminya dengan wajah Ken menghadap di dada Dilla. Ken tersenyum dan memeluk istrinya.Dilla tersenyum ia memejamkan matanya dan menepuk tubuh suaminya yang kekar tapi dalam pelukannya. Dengan mata terpejam saling memeluk mereka tertidur dengan lelapnya.
K**ediaman Jason**.
Lain dengan kediaman Rendi Anggara tertidur dengan damai dan lelap setelah ketegangan yang terjadi karena sempat istri Rendi di culik.
Kini Jason sedang menggebrak anak buahnya yang sedang mmembereskan setiap puing-puing yang hancur tak tersisa, markasnya yang selama ini tersembunyi jauh dari jangkauan keramaian hancur begitu saja saat Rendi bertindak.
"Sialan ....Sebenarnya siapa si Anggara ini..dia bahkan berani menghancurkan markasku,dia hanya tikus kecil dulu, sekarang dia sudah menjadi singa ternyata,kalian cepat bersihkan dan tinggalkan tempat ini," ucap Jason.
Dengan perasaan geram dan kesal Jason pergi dari markasnya yang sudah hancur lebur. Ia mendirikannya dengan usaha yang lama berdiri bertahun-tahun kini hanya karena seorang wanita.
"Heh,tapi aku tidak akan pernah menyerah karena siapapun yang aku mau ..apa lagi wanita akan aku dapatkan walau harus mengorbankan apapun itu,wanita yang bernama Rara istrimu tuan Anggara aku akan pastikan dia jadi milikku," ucap Licik Jason.
__ADS_1
Jason kembali naik kendaraannya di kursi penumpangnya menuju kediamannya.
Dalam diamnya Jason membayangkan wajah Rara yang sedang menatapnya dengan tajam.
Baginya tatapannya Rara adalah sebuah daya tarik tersendiri untuknya. Jason bahkan tidak sabar ingin melihat gadis itu lagi sampai pada akhirnya ia berdecak kesal.
Kini Jason bahkan tidak memikirkan tentang perusahaannya yang sedang guncang karena kekacauan yang ia buat. Rendi bahkan memblokir semua koneksi setiap perusahaan yang bekerja sama dengannya.
Ia malah bersikeras dengan lamunannya ingin memiliki istri Rendi Anggara yang ia anggap seorang yang bahkan tidak bisa berkutik untuk kembali ke Indonesia.
Jason berpikir untuk menggagalkan kepulangan Rara ke Indonesia kembali.
Karena jika sudah pergi ke negaranya sudah tidak bisa bernegosiasi jika sudah berada di luar negeri.
Kendaraannya kini menuju kediamannya yang ternyata sama sibuknya seisi rumah yang sedang panik akan keadaan perusahaan yang harga saham yang jatuh tanpa aba-aba.
Jason bahkan membiarkannya begitu saja tanpa menghiraukan keluarganya yang sedang cemas akan kondisi keluarganya.
kediaman Rendi Anggara.
Sementara keluarga Jason sedang sibuk dengan perosotan saham dan perusahaan yang jatuh.
Rendi menopang dagunya di atas kasurnya tersenyum dengan tubuh tengkurapnya, ia memandangi istrinya yang sedang memberi minum susu putra putrinya yang terbangun di sepertiga pagi. Yang satu minum susu di pangkuan ibunya yang satu lagi berjalan kesana kemari di hdapan ibunya.
Rara memperhatikan putranya yang kesana kemari berjalan di hadapannya dengan bola di tangannya.
Rara menyingkirkan mainan yang berserakan di hadapannya agar tidak membuat putranya terjatuh nantinya.
Rendi memperhatikannya tampak bahagia dan nyaman saat melihat adegan seorang ibu dengan sabar dan senyuman tulusnya menghadapi anak- anaknya.
"Kamu bahkan tidak marah atau mengomelinya saat kamu sedang sibuk mengurus yang lainnya sayang,"ucap Rendi.
Rara melihat ke arah suaminya yang bergumam di atas tempat tidur. Ia tersenyum saat melihat wajah tampan suaminya yang terlihat kebahagiaannya melihat istri dan anak- anak yang sedang bercengkrama.
"Tidur lagilah Sayang nanti biar mereka aku tidurkan," ucap Rara.
"Aku akan menemanimu,agar kamu tidak merasa jenuh," jawab Rendi.
"Aku ini bagaimana mau jenuh ada putra tampanku yang selalu menemaniku bermain dan bercanda kamu tidur saja,nanti aku menyusul tidur lagi," ucap Rara.
Rendi terduduk berjalan dan menghampiri istrinya yang sedang melihat ke arahnya.
Ia duduk di samping istrinya yang sedang memangku Amira yang sedang minum susu.
Ia memiringkan kepalanya dan mengecup bibir istrinya dengan cepat.
Rara membulatkan kedua matanya,ia tidak bisa mendorong suaminya yang sedang menciumnya.
Rendi melepas ciumannya dan tersenyum senang.
"Kamu ini malu tahu pada anak-anakmu," cetus Rara.
"Haha...mana mereka setuju kok," tawa Rendi.
"Sana tidur," ucap Rara.
"Aku tidak bisa tidur jika tidak di sampingmu sayang," rengek Rendi menyenderkan kepalanya di pundak istrinya.
Rara mendecak dan menggelengkan kepalanya, pandangannya tidak pernah lepas dari putranya yang aktip mondar mandir kesana kemari tanpa lelah.
"Sayang...kenapa kali ini kamu setuju untuk ke pantai...aku tidak mau kamu mengingat masa sedihmu sayang,lebih baik tidak usah," ucap Rara.
"Tidak apa-apa aku sudah bertekad untuk selalu membuatmu bahagia,jangankan sebuah pantai seisi alam akan aku berikan untukmu sayang," ucap Rendi.
"Hahaha perkataan gombal apaan itu... yang ada biasanya tuh ya yang gombal itu,akan ku petik bintang di langit untukmu," tawa Rara.
"Aku tidak mau memetik bintang di langit,toh aku sudah cukup bercahaya terang untukmu," ucap Rendi.
"Iya saking terangnya kamu membuatku semakin mencintaimu, apalagi nih sekarang kita punya dua putra putri yang tampan dan juga cantik, mereka bahkan mengisi satu sama lain , aku terkadang selalu tidak percaya akan apa yang aku miliki,punya kamu,putra putriku, Aku suka dan sayang pada kalian," ucap Rara menggesekan hidungnya pada hidung suaminya yang menatapnya.
Rendi tersenyum dan merangkul istrinya juga putranya yang menghampirinya dan di pangku oleh Rendi.
Mereka asik dengan obrolan mereka beserta putra dan putrinya yang berada di tengah-tengah mereka berdua.
Pembicaraan tentang masa lalu juga masa depan yang mereka bicarakan. Tentang rencana kedua anak mereka untuk menjadi yang terbaik dari yang baik.
__ADS_1
Dan tidak tersa sudah menjelang pagi mereka berbincang. Rayn tertidur di pangkuan ayahnya dan Amira tertidur di pangkuan ibunya.