Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Kemana Dia


__ADS_3

Prolog Rendi.


Rendi yang di tinggalkan Rara dalam keadaan menangis. Ia tampak mondar mandir dan mengacak rambutnya. Rendi mencoba menenangkan dirinya. Ia bersiap untuk pergi ke Kantornya walau tidak berangkat dengan istrinya yang lebih dulu pergi.


Rendi melajukan mobilnya menuju perusahaanya.


Rendi memasang wajah dan suasana hati kacau, yang tidak suka setiap melihat karyawannya yang memberi hormat padanya.


Bahkan banyak karyawan yang tidak di hiraukan olenya. Sebagai jawabannya ia hanya melotot pada siapa saja yang berani bertanya padanya. Mereka merasa bagaikan akan ada badai di kantor mereka.


Ken yang melihat ekspresi tuannya mencoba mendekatinya. Ia berjalan di samping Rendi.


Ia bahkan tidak bersuara di samping Rendi berjalan menuju ruangannya. Rendi masih tidak menghiraukannya meski sudah berada di sampingnya dan masuk ke ruangan kantornya.


Setelah sampai di kursinya ken berdiri di samping meja tuannya. Rendi mengobrak ngabrik mejanya hingga berjatuhan dan berserakan di lantai ia seperti tak terkendali.


"Ada apa dengan suasana hati tuan pagi ini kenapa sepagi ini sudah tidak baik Tuan? Batin Ken.


"Bodoh bodoh..!" Teriak Rendi.


"Ada apa Tuan?" Tanya Ken.


"Kau bodoh ... !" Bentak Rendi.


"Iya Tuan," ucap Ken.


"Apanya yang iya ?Dasar bodoh ...!" Bentak Rendi.


Rendi duduk di kursinya kembali. ia terdiam dengan wajah penuh amarah.


Ken yang sudah merasa bosnya tenang ia memberikan segelas air putih kepada bosnya.


Rendi tidak langsung meminumnya.


Mereka berdua terdiam lama sampai Rendi memulai berbicara.


"Kenapa dia sangat ingin bertemu wanita kejam itu? Kenapa juga aku mengatakan hal itu dan sekarang dia kemana?" Teriak Rendi prustasi.


Ken mengerutkan dahinya. Dengan sikap tuannya yang mudah terpancing amarahnya. Ken harus bisa menerka apa yang terjadi pada suasana hati tuannya. Saat ia sudah menduga apa yang terjadi. Ia mencoba memulai berbicara pada tuannya.


"Mungkin ini tidak akan seburuk yang tuan bayangkan," ucap Ken.

__ADS_1


"Apa maksudmu kamu bahkan tahu bagaimana wanita itu mengusir semua wanita yang mendekatiku dan dengan sesuka hati menikahkanku dengan ancaman dan tekanan yang ia berikan padaku. Aku takut Rara akan mengalaminya bila sudah bertemu denganya dan kini Rara pergi dengan kesal padaku ,bagaimana keadaanya?" Tanya Rendi.


Ken yang mengerti maksud tuannya. Ia mengangguk dan berpikir bagaimana caranya agar amarah tuannya cepat reda. Ia menoleh melihat ke sebrang berharap ada nona mudanya yang hanya bisa mereda amarah tuannya itu. Ken mengerutkan keningnya.


"Saya tidak melihat keberadaan Nona, Tuan," ucap Ken.


"Apa ... ?" Teriak Rendi terkejut.


"Ya Tuan, Saya baru saja dari sana dan tidak melihatnya saat ini," tambah Ken.


Rendi mengerutkan dahinya mulai cemas tentang istrinya yang sebenarnya sudah keluar rumah satu jam yang lalu. Tidak perlu waktu lama bila hanya untuk sampai ke Cafe.


"Pergi kemana dia ? Ken cepat cari !" Perintah Rendi.


Rendi mengenakan mantelnya ia keluar dengan tergesa-gesa bersama sekertarisnya Ken.


Mereka menuju Cafe dimana seharusnya Rara berada dan menanyakannya pada Dilla. Tapi Dilla bahkan berbalik khawatir akan saudarinya. Dilla bahkan tidak tahu karena Rara tidak menghubunginya sama sekali.


Rendi mengerutkan dahinya ketika mengetahui bahwa istrinya bahkan tidak pergi ke Cafe mencari ke tempat perbelanjaan.


Ia duduk di kursi mobil dengan wajah prustasi ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia mengingat kembali perkataan bodohnya yang membuat istrinya menangis dan pergi meninggalkannya. Bahkan tidak meninggalkan Apartmennya untuk pergi ke Cafenya untuk bekerja.


Rendi mengira istrinya pergi bekerja karena menurut Rendi perkataannya hanya perkataan biasa karena kepada setiap orang termasuk Ken ia memang selalu berbicara kasar.


"Sayang kamu dimana aku akan mengajakmu bertemu dengan mereka bahkan mereka aku suruh bersujud padamu ,kamu dimana Sayang," lirih Rendi .


Ken yang melihat keadaan tuannya dari spion kemudi. Ia sangat khawatir dengan apa yang terjadi pada hubungan mereka berdua. Ia mengendarai mobilnya perlahan dan melihat lihat di sepanjang jalan berharap menemukan nona mudanya.


Rendi bahkan mengerahkan anak beberapa anak buahnya yang berada di Jakarta untuk mencari istrinya.


Hingga menjelang malam Rendi belum menemukan kabar dari istrinya. Ia yang berdiam diri di dalam kantornya. Dalam keadaan prustasi Rendi mmmerebahkan tubuhnya di atas sofa. Berharap anak buahnya ada yang menemukan istrinya yang pergi.Rendi mencoba menghubungi istrinya. Handpone Rara bahkan tidak bisa di hubungi terakhir posisinya di taman tapi Rara tetap tidak ada.


Rendi kembali ke Apartment berharap istrinya sudah kembali.


Tapi disana tidak ada siapapun,Rendi terduduk ti atas kasur ia teringat istrinya yang selalu mengomel manja juga cengeng. Ia tersenyum mengingat itu semua dan bersedih.


Rendi mengacak-acak rambutnya karena kebodohannya istrinya jadi pergi tanpa tahu kemana istrinya pergi sekarang.


Ken menemani tuannya dalam keadaan seperti ini .


Ken tidak pernah mau meninggalkan tuannya karena ia khawatir akan hal yang di luar dugaan.

__ADS_1


******


Prolog Rara.


Dokter sedang memeriksa Rara yang terbaring di atas tempat tidur ia belum sadar dan langsung di periksa oleh Dokter.


"Hmm... ini normal bagi wanita hamil di usia muda emosinya tidak stabil ia hanya butuh istirahat dan tidak banyak pikiran saja," ucap Dokter.


"Jadi dia sedang hamil?" Tanya Ibu paruh baya yang membawanya.


Dokter itu tersenyum dan mengangguk Dokter pribadi yang sering bolak balik ke rumah besar untuk pemeriksaan kesehatan Tuan dan Nyonya Di rumah besar ini. Untuk pertama kalinya ia memeriksa orang lain.


"Baiklah Saya berikan vitamin untuknya ya," tambah Dokter memberikan obatnya.


"Berapa usia kehamilanya?" Tanyanya lagi.


"Baru lima minggu dan ia sehat," jawab Dokter tersenyum.


"Kenapa dia belum sadar?" Tanya Ibu itu.


Ibu itu mendekati Rara dan mengusap pucuk kepalanya.


"Ini pengaruh depresi saja dia hanya istrahat saja kemungkinan besok pagi ia akan sadar," jawab dokter.


Dokter berpamitan kembali wanita paruh baya yang menemaninya berharap Rara cepat sadar hingga ia tertidur di samping Rara.


****


Prolog Rendi.


Rendi tidak bisa tidur karena istrinya yang tidak ada kabar bahkan keseluruh kota ia cari tapi tidak menemukanya.


Rendi menduga-duga kemana perginya istrinya.


Ia sempat berpikir bahwa Rara pegi ke rumah orang tuanya.


Rendi mengambil air minum dari kulkasnya ia menengguk botol minumnya dengan sekali tenggak.


"Kamu kemana Sayang, apa aku harus mengerahkan semua kemampuanku untuk mencarimu cepat pulang sayang?" Lirih Rendi.


Rendi teringat dan terbayang akan wajah tawa istrinya yang selalu terpancar ceria kepadanya.

__ADS_1


Rendi bahkan tak menghiraukan Ken yang berada di Luar Apartement menunggunya.


__ADS_2