
Pagi ini Rara terlihat sibuk sekali menyiapkan putra putrinya untuk bangun dan berniat pergi ke pantai.
Bersamaan suaminya juga, Rendi hanya duduk melihat kesibukan istrinya yang mondar mandir kesana kemari, padahal jam masih menunjukan belum saat nya ayam bangun.
Rendi menaikan kakinya di topang kaki yang satunya lagi,ia memperhatikan istrinya yang terlihat menggemaskan baginya. Ia tersenyum senang melihat istrinya kesana kemari.
Rayn yang sudah terbangun dan sedang di pakaikan pakaian oleh ibunya, hanya terdiam membiarkan ibunya melakukan sesuatu yang menurutnya bagus,ibunya bahkan sudah berkali-kali mengganti pakaian untuk putranya.
Rendi masih dengan senyumannya melihat istrinya keluar kamar mandi yang hanya mengenakan handuk dan kepala di tutup handuk. Ia tidak langsung mengenakan pakaiannya tapi malah sibuk memakaikan pakaian untuk putranya.
Rendi bangun dari duduknya dan menghampiri istrinya yang sedang mengenakan pakaian untuk Rayn.
Saat Rendi mendekat di belakang istrinya, ia mencium harum tubuh segar istrinya yang masih berbalut handuk di dadanya.
Ia memeluk dari belakang dan mencium aroma tubuh harum istrinya.
Ia juga menelusuri leher jenjang istrinya yang menyegarkan baginya.
Rara yang mendapati tingkah suaminya yang mengagetkannya,ia mengerutkan dahinya dan juga membulatkan kedua matanya,karena suaminya menciumi lehernya dan membuatnya menutup kedua matanya, menahan tingkah suaminya yang membuatnya malu di hadapan putranya.
Rara membulatkan kedua matanya dan memukul tangan Rendi yang sudah mulai menggeraiangi tubuhnya.
Rendi tidak menghentikan aktivitasnya,ia malah membuat tangannya beralih pada bagian tubuh istrinya,turun ke bawah dan dengan senyum nakalnya .
Saat Rara sedang menahan segala hal yang bisa membuatnya tidak fokus. Rendi tersenyum dan tangannya yang kini berada di bawahnya di belakang tubuh Rara.
Ia tersenyum dan memukul bokong istrinya dan tersenyum penuh kemenangan.
Membuat Rara terkejut dan membulatkan kedua matanya. Ia geram dengan tingkah suaminya dan memukul tubuh suaminya perlahan.
Rendi malah tertawa mendapati pukulan dari istrinya,yang baginya sentuhan lembut dari istrinya.
Ia mengitari setiap sudut ruangan menghindari istrinya yang mengejarnya untuk memukuli nya.
Rayn yang melihat tingkah kedua orang tuanya, ia tidak memperdulikannya,ia menumpahkan bedak yang ada di hadapannya dan menjadikannya mainannya tanpa menghiraukan ibunya yang meneriaki ayahnya dengan kesalnya.
Rara masih mengejar sumainya yang tidak mau berhenti menghindarinya, begitupun dengan Rara yang tidak mau berhenti memukul dan berteriak pada suaminya itu.
Sampai pada akhirnya Rendi terjatuh di atas ranjangnya dan di ikuti istrinya yang juga terjatuh di atas tubuhnya,dengan handuk yang hampir merosot ke bawah.
Rendi tersenyum ketika mendapati istrinya yang ada di atas tubuhnya, dengan rambut terurai basahnya tatapan mata mereka berdua beradu wajah tanpa jarak,saat mereka saling memandang dengan lama,tersirat sebuah senyuman dari bibir mereka dan kedua nya tertawa bahagia dengan kelakuan mereka sendiri.
Rendi memeluk tubuh istrinya yang kini ada di atasnya. Rasa bahagia saat kebersamaan mereka rasakan.
Rara menempelkan hidung nya dengan hidung suaminya,kini matanya beradu tatap ia berbicara dengan bibir condong ke depan.
"Sayang kamu nakal,membuat aku malu di depan putramu juga memukulku," gerutu Rara.
Rendi malah tersenyum padanya.
"Hehe,itu hukuman untukmu yang berani menggodaku,kenapa kamu begitu sexsi dan cantik,makanya kamu sengaja menggodaku," jawab Rendi tersenyum.
"Aku tidak menggodamu,aku," ucapan Rara terbata.
"Lalu ini apa sekarang juga kamu sedang dengan jelas menggodaku," ucap Rendi tersenyum.
"Aku tidak menggodamu," teriak Rara.
Rara mencoba untuk bangun dari tubuhnya yang menindih suaminya,tapi Tangan Rendi memeluknya dengan erat,yang membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Rara melihat ke arah suaminya dan membulatkan kedua matanya,karena suaminya menekan kepalanya dan mencium bibirnya dengan lembut. Ciuman dadakan dari suaminya yang membuatnya terkejut.
Rara membulatkan kedua matanya beserta dahi yang mengerut mendapat serangan ciuman dari suaminya.
Rendi semakin memperdalam ciumannya dengan tangan yang masih menekan kepala istrinya.
Begitupun Rara mencoba untuk bangun dari tubuh suaminya sampai Rara kehabisan akal dan menggelitiki suaminya yang tidak mau berhenti dengan aktivitasnya.
Pertama Rendi tidak bergeming ia masih asik dengan bibirnya yang menempel dengan istrinya. Rara tidak menyerah,ia menggelitiki suaminya tanpa henti hingga akhirnya Rendi membuka mulutnya dan melepas ciumannya,ia tertawa terbahak bahak saat istrinya menggelitikinya tanpa menyerah.
Rendi menahan tangan istrinya dengan sekuat tenaga,ia membalikan tubuhnya dan menindih tubuh Rara.Kini Rara berada di bawah tubuh suaminya.
__ADS_1
Rendi tersenyum menggoda karena istrinya terdiam setelah mendapati suaminya di atas tubuhnya.
Rendi tersenyum dengan pandangan menggodanya.
"Kamu sudah mulai menggoda dengan caramu ya,hmm..Sini aku gelitiki kamu juga," ucap Rendi.
Ia menggelitiki istrinya dengan Rara menjerit tidak tahan dengan tingkah suaminya yang tidak kenal lelah. Mereka tertawa dengan kerasnya menahan geli di tubuh mereka masing-masing saling menggelitiki dan berhenti ketika mereka merasa lelah.
Rara menghela nafas dengan berat karena lelah dengan tawanya.Ia melihat suaminya yang terdiam dengan ter engah -engah karena lelah tertawa dari tadi.
"Hehe,Sayang kamu mau lagi?" Ucap Rendi tersenyum.
"Tidak!..Aku menyerah sayang kamu ini paling jago kalau membuatku tertawa seperti tadi,aku mau menangis," teriak Rara terengah-engah.
Rendi tersenyum mendengar gerutuan istrinya yang lelah sehabis tertawa bersamanya. Ia merangkul istrinya dan mencium pucuk kepala Rara.
"Sayang,apa sudah bersih?" Tanya Rendi.
Rara menoleh ke arah suaminya dengan wajah merah padam karena malu,mendengar pertanyaan suaminya.
"Hmmm,aku masih belum." Rara terdiam tidak ingin mengatakannya karena merasa malu dan gundah.
"Hahaha,iya gak apa-apa kenapa wajahmu jadi malu begitu pada suamimu sendiri,aku tidak bermaksud hanya kamu dari tadi tidak memakai pakaianmu,jadi aku bertanya apa kamu mandinya sudah bersih,ko belum pakai baju juga kalo belum biar kita mandi lagi bersama," tawa Rendi.
Rara semakin menundukan kepalanya menahan malu,ia memukul tubuh suaminya pelan. Ia gemas dengan suminya yang menggodanya terus menerus pagi ini.
"Haha...sudah ayo bersiap nanti kita tidak jadi pergi kalau kita begini terus, tapi kalau kamu mau begini terus di dalam kamar aku tidak keberatan ," ucap Rendi.
"Iiih...Gak,bisa bisa kamu makin jadi kalau kita di kamar terus,ayo kamu mandi sana aku harus menyelesaikan pakaian Rayn untung dia gak nangis aku tinggal,kamu bangunkan Amira dan mandikan dia," gerutu Rara.
Rara bangun dari ranjangnya dan berjalan menghampiri putranya, yang sudah tidak berbentuk wajahnya karena penuh dengan bedak,begitupun pakaian juga rambutnya putih penuh dengan bedak yang ia tumpahkan di tubuhnya,juga wajahnya yang putih dengan bedak yang ia mainkan dari tadi.
Rara terkejut saat melihat keadaan putranya yang sudah berantakan, dengan mainan bedaknya sampai tumpah tak tersisa.
"Hmmm,kamu sudah bersenang-senang ya Sayang,sampai kamu setampan itu wajahmu dandan sendiri," ucap Rara menusuk pipi Rayn yang terlihat menatap ibunya yang sama sekali tidak memarahinya.
Rendi tersenyum melihat tingkah manja putranya saat merajuk pada ibunya, dengan membuat Rara merasa gemas padanya.
Rendi turun dari ranjangnya dan berdiri,ia berjalan hendak ke kamar mandi.
"Sayang,nanti dulu aku harus memandikan Rayn dulu,nih dia belepotan begini," teriak Rara pada suaminya yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
Rara bergegas menggendong putranya yang berantakan rambutnya penuh dengan bedak,ia menggerutu ketika hendak ke kamar mandi.
Rara mendudukan putranya di bathroom dan memandi kannya.
Rendi mengikuti istrinya memasuki kamar mandi dan membuka pakaiannya bediri di bawah sower.
"Ya ampun Sayang,kamu ini gimana sih kenapa kamu masuk dan malah berdiri di situ tanpa busana?" Teriak Rara
yang masih menggosok rambut Rayn.
"Hmm,bukankah kamu menyuruhku mandi Sayang?" Ucap Rendi tersenyum.
"Huh,kan aku sudah bilang aku mau memandikan Rayn dulu,kamu nanti belakangan," gerutu Rara.
"Kamu tidak bilang begitu tadi,"jawab Rendi polos.
"Hmmm,ya sudahlah terserah kamu,aku udah cape berdebat sama kamu," gerutu Rara.
"Kenapa Sayang,kamu mau mandi lagi sini biar aku yang mandikan,kamu mandikan Rayn aku mandikan kamu," goda Rendi.
"Tidak...!Sudah sana mandi nanti kita telat," teriak Rara.
Rendi tersenyum,ia mengedipkan sebelah matanya pada putranya yang hanya terdiam melihat kedua orang tuanya bertengar semanis itu.
Ia kembali berdiri di bawah sower dan mandi dengan senyuman di wajahnya tanpa menghiraukan gerutuan istrinya yang masih mengomelinya.
Rara keluar dengan membawa Rayn yang sudah bersih kembali dan berbalut handuk,ia menyiapkan dan memakaikan pakaian putranya sampai selesai dan membiarkan Rayn diam di bawah alas dekat sofa dan ranjang tidurnya.
Rara melihat ke arah dimana suaminya kini sudah berdiri di luar pintu kamar mandinya,dengan handuk di bawah pinggang dan dada telanjang menunjukan dada bidangnya.
__ADS_1
"Hmmm,dasar suami nakal," senyum Rara.
"Apa kamu bilang sayang,kamu mau lagi seperti tadi?" Goda Rendi.
"Iiih enggak,ayo pakai bajunya nanti bangunkan Amira buat dia mandi," ucap Rara melepaskan pelukan suaminya.
"Amira jangan di bangunkan biar nanti aku gendong dia,dia lagi bobo cantik biarkan saja," ucap Rendi.
"Kamu ini,putrimu ini kebanyakan tidur malah di biarin," gerutu Rara.
"Biarkan dia tidur sebentar lagi kamu siap-siap saja jangan ganggu putriku," tegas Rendi pada Rayn yang bahkan hanya duduk di lantai.
"Eeh,,jangan ancam putraku," cetus Rara memasuki ruang ganti yang di ikuti suaminya dari belakang meninggalkan Rayn yang sedang berjalan ke arah Amira yang sedang tidur.
Rayn menusuk-nusuk pipi adiknya walau tanpa bergeming adiknya tidak terbangun juga. Setelah itu ia berbalik melihat ibunya yang sudah keluar dengan pakaian jeans juga blousenya.
Rara tersenyum ke arah putranya dan mengarahkan telunjuknya ke bibirnya mengisyaratkan Rayn agar tidak mengganggu adiknya. Rayn berjalan menghampiri ibunya yang tersenyum padanya dan menggendongnya.
"Putra mama gak boleh nakal,harus melindungi adiknya,yaa," tegas Rara.
Rara membawa Rayn duduk di depan meja rias dengan putranya di pngkuannya. Ia berdandan tipis dengan putranya yang duduk dengan diam memperhatikan ibunya beraktivitas.
Rendi keluar dri ruang gantinya dan menghampiri Rara yang sedang berdandan.
"Kamu tidak ganggu gadisku kan?" Tanya Rendi mengambil Rayn di pangkuan ibunya.
Ia menciumnya dan menggesekan hidungnya ke hidung Rayn.
"Ayo kita duduk dulu,biarkan mamamu bersiap dulu hari ini kita akan jalan-jalan," ucap Rendi.
Ia duduk di sofa bersama putranya yang turun dari pangkuannya dan memainkan bola yang di sampingnya.
****
Kini mereka sudah bersiap di dalam mobil mereka masing-masing.
Ken di kursi depan kemudi bersama istrinya di sampingnya.
"Ya ampun suamiku ini,sepertinya aku ini harusnya datangnya di musim dingin,agar dia puas sesuka hati memakaikanku pakaian sesuka hatinya,biar aku susah bergerak kemanapun," gerutu Dilla.
Dilla menggerutu membenarkan pakaian tebal yang ia kenakan,ia juga mengenakan syal yang di pakaikan suaminya tadi pagi.
Ken tidak menghiraukan gerutuan istrinya yang saat ini sedang mengembungkan pipinya bersama mulut yang condong ke depan.
Ken tetap memandang ke arah depan tanpa ekspresi.
Mereka menaiki mobil bersama Mark,Iyas dan Adam juga.
Mereka menaiki mobil dengan atap terbuka,lain dengan Rendi menaiki mobil tertutupnya.
Iyas tertawa senang dengan merentangkan kedua tangannya,saat mobil mereka mulai berjalan mengikuti kendaraan Rendi yang berada di depan mereka.
"Ayooo kita refresing guys....huuuh," teriak Iyas.
Iyas berteriak dengan gaya coolnya. Ia berteriak tanpa menghiraukan orang yang berada di kendaraan lain yang memperhatikannya.
Ada Adam yang sedang asik dengan handpone yang ia pegang dengan memainkan game,ia duduk di kursi penumpang dengan kaki di naikan dan di topang kaki yang satunya,ia mengenakan pakaian serba hitamnya bersama jaketnya dengan syal melilit di lehernya. Ia bersikap acuh tanpa menghiraukan teriakan Iyas yang sengaja di kencangkannya.
Mark yang duduk di samping Iyas hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.
Mereka tampak antusias dan bahagia mengingat hari ini mereka akan berlibur ke pantai,untuk ke sekian kalinya bersama sahabat lamanya yaitu Rendi. Apalagi kini mereka tidak hanya berempat melainkan bersama istri dan putra putrinya.
Ada senyum bahagia di hati mereka masing-masing senyum kebahagiaan yang tidak bisa di pungkiri setelah sekian lama sahabat mereka terpuruk dan terkurung dari kejamnya dunia bisnis begitu juga dunia Mafia yang kini mereka geluti juga.
Mengingat hal itu Mark berpikir dalam diamnya,mencari cara agar memperketat keamanan untuk ke depannya.
Ia bahkan berpikir untuk mendiskusikannya hanya bersama sahabatnya Iyas agar Rendi tidak terlalu banyak berpikir lagi,karena sahabatnya yang satu itu sudah jauh dari kesibukannya. Mendirikan berbagai perusahaan agar bisa memiliki segalanya,dengn alasan demi keluarganya dan juga orang-orang sekelilingnya.
Kendaraan mereka yang berjumlah tiga mobil, kini menelusuri jalanan satu arah di atas tebing yang di kejauhan sudah terlihat lautan pantai biru,yang memancarkan ke indahan yang tidak bisa hanya di utarakan keindahannya.
Rara yang memandang lautan di balik jendela kaca mobilnya ia tersenyum sumringah memegang tangan suaminya yang duduk di sampingnya. Dengan pandangan melihat reaksi istrinya yang gembira walau hanya melihat lautan dari kejauhan.
__ADS_1
Rendi tersenyum penuh kebanggaan bisa mengajak istri dan anak-anaknya untuk berlibur ke pantai memenuhi keinginan istrinya.Dalam pikirannya,ia akan berusaha selalu mengabulkan setiap apapun yang membuat istrinya tersenyum bahagia seperti saat ini.