
Di taman belakang Rara sedang menelusuri tanaman strawberi,yang berada di tengah-tengah halaman.
Rara memetiknya dengan bahagia,ia selalu tersenyum sumringah.
Rara di ikuti satu pelayan juga Doni. Kini ia sedang asik memetiknya.
"Doni kamu bantu petik ya,yang bagus-bagus nanti bawa ke tempatku, aku sudah gak sabar ingin memakannya," ucap Rara.
"Baik Nona muda," jawab Doni.
"Cepat ya," teriak Rara.
Doni yang melihat Rara berlari meninggalkan kebun,ia tersenyum.
"Kenapa Nona muda sudah punya anak dua malah semakin muda,juga bertambah manis," batin Doni.
"Jangan lama-lama memandangnya, nanti akan memperpendek usia," ucap Pak Jun dari belakang Doni.
"Hahaha Paman ini,yang ada umurku bertambah muda Paman," ucap Doni.
"Apa Tuan muda Rendi akan membiarkannya," cetus pak Jun.
Doni terdiam dan mempercepat memetik strawberinya,ia baru ingat bahwa tuan mudanya akan melakukan hal yang di luar dugaan jika sesuatu terjadi pada nona mudanya.
Doni memberikan buah strawberi yang sudah ia bersihkan kepada Rara yang sedang bercanda dengan Rayn dan Amira yang di pangkuan nyonya Besar.
"Don nanti kamu antar aku ke luar ya," ucap Rara.
"Saya Nona muda?" Tanya Doni.
"Hmmm,aku harus ke Cafe sekalian antar strawberi ini untuk suamiku" ucap Rara.
"Ada supir yang akan mengantar Anda nona," ucap Pak Jun.
"Aku tahu Doni bisa bawa mobil biarkan saja dia yang bawa antar aku," tegas Rara.
"Sayang,kenapa harus Doni,bukankah akan lebih baik supir pribadi saja," ucap ibu Ratih.
"Kalo begitu Doni yang jadi supir pribadiku," ucap Rara.
"Kenapa, dia kan hanya koki Sayang? Tanya ibu Ratih.
"Karena aku maunya dia yang jadi supirku Mah," tegas Rara.
"Apa bisa seperti itu?" Tanya ibu Ratih.
"Bisa mah,lagipula Rara tidak akan lama juga,Rara akan ijin Rendi nanti sesampai disana," ucap Rara.
"Apa kamu benar bisa mengemudi? Tanya ibu Ratih kepada Doni.
"Iya Nyonya besar,saya punya surat izin," jawab Doni.
"Apa kamu tidak sayang nyawamu?" Tanya ibu Ratih.
"Rara yang akan menjaga nyawanya Mah," ucap Rara.
"Hmm ya sudah secepatnya kembali ya," ucap ibu Ratih.
"Iya Mah, Rayn dan Amira tinggal sama nenek ya," pamit Rara.
Rara pergi dengan Doni di belakangnya membawa keranjang buah.
"Apa anda keberatan Nyonya?" Tanya pak Jun.
"Dia gadis cerdas, dia tahu mana yang baik dan aman," ucap Nyonya besar.
"Anda bahkan ?" Ucap Pak Jun tertahan.
"Aku bahkan tidak berani melarangnya hahaha,karena aku sangat menyayanginya dan tidak ingin ia kecewa apalagi sedih,karena aku larang,biarkan dia tumbuh apa adanya di rumah ini," tegas ibu Ratih.
"Anda bahkan meluluhkan hati nyonya besar nona muda,setelah beku hampir seumur hidup," batin pak Jun.
Di dalam perjalanan,Rara sibuk dengan melihat handponenya.
Rara mengirim pesan pada suaminya dan ia mengerutkan dahi nya karena tidak ada balasan.
"Apa kamu takut Don?" Tanya Rara.
"Saya lebih takut menyakiti anda Nona" jawab Doni.
"Kalo begitu buktikan," ucap Rara.
"Baik Nona muda," jawab Doni.
Rara sudah sampai di Cafenya,ia keluar dari mobilnya dan.
Brukk..
Rara terdiam dan ia menengadahkan kepalanya.
"Apa anda mabuk Tuan?" Tanya Rara dingin.
"Heh,wanita disini bahkan sedingin ini juga ya," ucap pria yang menabrak Rara.
"Kalau anda tidak mabuk berarti anda buta," cetus Rara.
__ADS_1
"Haha ,hei gadis cantik kenapa harus sepedas itu, kamu tidak tahu aku siapa?" Ucap pria itu.
"Heh,Norak," ucap Rara meninggalkan pria itu.
Saat berjalan tiba-tiba saja hijab Rara di tarik oleh pria itu,hingga terbuka hijab Rara dan rambut terurai Rara terekspos,tertiup angin lembut.
Pria yang melihat Rara yang tanpa hijab memelotot memanga,tidak berbicara. Ia terkejut dengan apa yang ia lihat. Tidak lama Rara di tutup sebuah jas hitam dari Doni.
Pria yang sedang melihatnya kesal dan memaki pria yang memberikan jasnya untuk menutup kepala Rara.
"Kenapa di tutup itu sayang bila di abaikan," teriak pria tersebut.
Bruk ..
Pukulan terlontar pada wajahnya.
Doni memukul pria itu.
"Sialan akan ku hajar kau," teriak pria itu.
Doni memukuli pria itu sampai tersungkur dan datanglah para pengawal pria tadi yang menolong pria tadi.
"Hajar dia jangan sampai dia bisa hidup," teriak pria itu.
Kini Doni berkelahi melawan lima pengawalnya,hingga pria itu memerintahkan untuk kabur. Tapi Doni tetap utuh dengan wajah tersenyum berseri.Ia menghampiri Rara yang terjongkok.
Doni mengambil kerudung Rara dan membopong Rara masuk ke Cafe.
Rara duduk di kursi dalam ruangan kosong,ia memakai kembali kerudungnya.
"Huh sampai seperti ini penampilanku bertemu orang gila," ucap Rara.
Rara keluar dari kamar itu, ia menghampiri Doni yang sedang duduk di kursi meja kasir.
"Nona muda sangat cantik tadi saat tidak memakai penutup, pantas aku harus kehilangan nyawa jika dekat denganya," batin Doni tersenyum.
"Apa otakmu terkena pukulan tadi?" Tanya Rara.
"Tidak nona apa anda baik-baik saja" Tanya Doni.
"Aku baik-baik saja,hanya saja kamu sudah melihatnya,sebaiknya kamu harus selalu ada di dekatku karena kalau tidak siapa tahu kamu akan menyebarkanya," tegas Rara tersenyum tipis.
"Hahaha tidak akan nona muda,saya sayang nyawa," ucap Doni.
"Bagus kalau kamu masih peduli dengan nyawamu itu," ucap Rendi tiba-tiba menghampiri Rara.
Rendi mengisyaratkan seisi Cafe untuk keluar begitu juga Doni.
"Sayang kamu disini?" Tanya Rara.
"Siapa yang menyuruhmu kesini hah, bukankah seharusnya kamu bawa pengawal, kenapa tidak memberitahuku," teriak Rendi geram.
"Apa kamu bodoh, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tak di inginkan tadi,kenapa tidak teriak dan untuk apa ke sini, aku akan menghancurkan tempat ini jika itu membuatmu sebodoh ini," teriak Rendi.
Rara yang mendengar teriakan Rendi ia mundur dari duduknya hingga membentur ke dinding.
"Akuu," ucpan Rara terpotong.
"Apa kurang uang yang aku berikan padamu hah,sehingga kamu masih harus mengurus tempat ini,bahkan tidak mengabariku,apa sebegitu mudahnya kamu dekat dengan orang lain hah, apa kamu ingin terlihat menarik di mata lelaki lain ,kamu bahkan hanya membawa Doni yang selalu kamu bela,apa sebegitu menariknya dia selain aku?" Teriak Rendi.
Rara terkejut dengan ucapan Rendi.
Ia terdiam semua ucapan Rendi terngiang di telinganya,Rara menutup telinganya. Ia membayangkan ketika Radit yang mengatakan dia membosanka,juga Rendi yang mengatakan Rara yang seperti ini dengan ingin menarik perhatian orang lain.
Rara menangis berjongkok ia bahkan tak tentu arah pandanganya,suara dan teriakan Rendi menggema di telinganya bahkan suara tawa pria tadi dan wajah mata keranjangnya terbayang di pikiran Rara.
Rara menangis tanpa bersuara,ia menutup telinga dan menundukan kepalanya pada lututnya.
Rendi yang melihat reaksi Rara yang menangis ia tersadar akan ucapanya.
"Apa aku bodoh, kenapa berkata seperti itu," ucap Rendi mengacak rambutnya.
Rendi mendekati istrinya dan menyentuhnya tapi di tepis oleh Rara.
"Sayang,aku minta maaf aku khilap aku takut,aku takut kamu kenapa-kenapa tadi aku emosi,aku minta maaf Sayang," ucap Rendi ia menyentuh tubuh Rara yang bergetar menahan tangisnya.
"Sayang aku minta maaf,aku tidak bermaksud," lirih Rendi.
Rara bangkit dan ia melihat Rendi.
"Sebaiknya jauhi aku yang hina ini jika kamu pikir aku menjual diri aku akan melakukannya," ucap Rara.
Rendi terkejut dengan ucapan dan tatapan Rara yang memerah.
"Asal kamu tahu,tanpa menikah dengan siapapun hidupku jauh lebih cukup dan baik,tanpa menarik perhatian orang lainpun aku cukup di hargai,tanpa uangmupun semua terpenuhi oleh orang tuaku,apa sebegitu rendahnyakah aku di matamu,tuan Rendi Anggara?" Ucap Rara bergetar dengan Amarahnya.
Saat Rendi mendengar kabar dari karyawan Cafenya, dan menceritakan insiden yang terjadi pada istrinya.
Rendi murka, ia bahkan meninggalkan ruang rapatnya dan bergegas menghampiri Rara. Yang sedang duduk berbincang dengan Doni seperti tidak terjadi apa-apa.
Rendi semakin murka saat melihat Rara masih bisa tersenyum pada Doni,hingga semakin membuatnya menahan amarah .
Rendi terdiam dan bergetar tubuhnya, saat Rara mengatakan bahwa ia baik-baik saja walau tanpa dirinya.
"Sebaiknya menjauhlah dariku,karena aku menjijikan bukan,saat kamu biasa saja dengan tangan wanita sexsi di sampingmu,dengan pakaian terbelah kamu bahkan menikmati momentnya.
__ADS_1
Tapi kamu menjadikanku hina di matamu saat hanya rambutku yang terurai," tegas Rara.
"Jika kamu sentuh Doni akan aku pastikan semua tidak akan dalam kendalimu termasuk aku," tambah Rara meninggalkan suaminya.
Rendi terdiam melihat Rara yang berlalu,dan pergi meninggalkanya memasuki mobilnya dengan Doni.
"Kenapa aku sebodoh ini,kenapa aku se emosi ini, apa aku gila," ucap Rendi geram ia membanting gelas yang ada di meja.
Ken memasuki Cafe,ia melihat Rara keluar dengan wajah penuh amarah mata yang memerah tanpa tangisan.
"Tuan Doni memukul mereka sampai babak belur tuan begitupun Bari Tuan" ucap Ken.
"Siapa Bari?" Tanya Rendi geram.
"Dia Bari,adik dari Raditya mantan suami Nona muda Tuan," jelas Ken.
"Kau cari tahu dia,dan hancurkan kehidupanya," ucap Rendi dingin.
"Sepertinya Nona muda sudah yakin akan kemampuan Doni Tuan,makanya Nona memintanya menemaninya,apa tuan?" Ken tidak menyelesaikn ucapannya setelah Rendi pergi dengan keadaan marah.
Rendi tidak ke rumah utama,ia terdiam di ruanganya tanpa siapapun ia termenung dalam pikiranya mengingat wajah istrinya dan tatapan kebencian darinya. Ia melihat handponenya yang berisi pesan dari istrinya pagi tadi,yang belum sempat ia baca,lalu membantingnya.
"Aku saking takutnya kamu di sentuh orang lain,apalagi di lihat orang lain sampai segila ini Sayang,tapi aku semakin gila saat melihatmu marah dengan kata-kata telakmu padaku," gumam Rendi.
Ken bahkan tidak berani memasuki ruangan tuannya,ia menghandle semua berkas yang harus tuanya tangani.
"Untuk kali ini aku tidak bisa melakukan apa-apa,karena sifat nona muda tidak bisa di tebak oleh siapapun," gumam Ken.
Rara yang terdiam di kursi penumpang, ia memandang ke arah jendela tanpa arah,Doni yang melihat dari spion. Ia menduga bahwa tuannya membuat nona muda marah hingga tidak bisa meluapkan amarahnya nona mudanya memilih diam.
"Aku lebih takut melihat orang terdiam,tanpa suara apalagi tangisan," batin Doni**.
Sesampai di rumah besar,Rara masuk dan bergegas naik ke kamarnya,karena Rayn dan Amira di taman belakang dengan mertuanya.
Rara menangis dengan deras air matanya,ia bahkan mengingat setiap apa yang ia lakukan,dan kejadian di masa lampau,ia bahkan mengingat dulu yang tampak memalukan di depan mantan suaminya. Dan sekarang suaminya sendiri yang menghinanya.
"Aku bahkan tidak melakukan apapun, aku bahkan sudah minta ijin padanya, tapi dengan mudahnya dia memandang rendahku setelah selama ini," gumam Rara sesegukan.
Terdengar ketukan dari balik pintu kamar Rara ia bangkit dan membuka pintunya.
"Nona,Tuan muda kecil sepertinya ingin minum susu Nona," ucap pelayan.
"Baiklah,aku akan mandi dulu sebentar,kamu beri dia botol susu yang ada di pendingin dulu," tegas Rara.
Pelayan itu mmengangguk dan pergi .
Rara mandi dengan deras air mata yang mengalir di matanya,ia mempercepat aktivitas nya karna putranya menunggunya.
Rara menuruni tangga dengan dres tertutup warna putih ia berdandan untuk menutupi mata sembabnya.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
Rara seceria biasanya di depan seisi rumah,hanya Doni yang menyadari sesuatu.
Rara menyusui anak-anaknya dengan senyum bahagia di wajahnya, berbincang dengan ibu mertuanya dengan canda tawanya.
"Nona bahkan lebih pintar menutupi semuanya,sifat nona di luar dugaanku dia lebih tangguh dari yang aku bayangkan," batin Doni**.
Rara sedang menidurkan Rayn setelah Amira tertidur. Rara bahkan menutup jendela dan melihat langit malam yang sudah gelap.
Ketukan pintu membuyarlan lamumnanya.
"Saatnya makan malam Nona," ucap pelayan.
Rara keluar membuka pintu.
"Tunggulah di luar sini ,jaga mereka takutnya mereka terbangun," pinta Rara.
Pelayan itu mengangguk,Rara pergi menuruni tangga,ia melihat sudah ada kedua mertuanya di meja makan. Semenjak Rara pindah ke rumah besar, keluarga yang lain tinggal di rumah belakang ,dengan pasilitas yang di atur oleh nyonya utama.
Makanya yang tinggal di rumah besar hanya keluarga utama,tidak dengan saudara-saudaranya lagi.
"Apa suamimu belum pulang sayang?" Tanya ibu mertuanya.
"Katanya masih ada urusan mah,kita boleh makan duluan," jawab Rara tersenyum.
"Baiklah kita makan,biar tidak biasanya bocah itu pulang tidak tepat mungkin klien barunya memberinya tugas baru," ucap tuan Anggara.
Rara makan seperti biasa, ia lahap tanpa beban di pikiranya,hingga tidak membuat orang lain khawatir padanya. Doni masih dengan pikiranya yang memperhatikan nona mudanya.
"Apa yang terjadi sampai kamu memperhatikan Nona mudamu itu? Tanya Pak Jun mengagetkan Doni.
"Tidak ada Paman, hanya saja saya baru sadar saya harus menyayangi nyawa saya Paman," jawab Doni tersenyum.
"Ingat nyawamu tergantung langkahmu," tegas pak Jun.
Doni mengangguk dan membawakan nampan berisi potongan buah-buahan, yang ia siapkan untuk nona mudanya.
Ia memberikanya pada nona mudanya,begitupun Rara menjadikanya makanan penutup seperti biasa.
Setiap malam sebelum tidur ia memakan potongan buah-buahan. Walau kedua mertuanya yang sudah kembali ke kamar mereka, Rara membawa piring buahnya dan memakannya.
"Dia bahkan tidak pulang saking tidak inginya melihatku," gumam Rara.
Doni yang mendengarnya mengerutkan keningnya, apa yang ia dengar tidak bisa ia pahami.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin nona,tuan muda tampak sangat mencintai Anda," batin Doni.