Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Rindu


__ADS_3

Di Mansion Dirga Group.


Seorang gadis uring-uringan pada ibunya di dalam kamar. Ia menangis manja kepada ibunya yang tersenyum melihat tingkah manja putrinya.


"Ma, aku mau dia ma, tapi Papa malah mencegah aku bahkan malah membunuhnya Ma," rengek Nisa di pelukan ibunya.


"Kenapa Papamu membunuhnya? Dia jelek?" tanya Ibunya.


"Dia sangat tampan ma, tapi dia dingin dan juga acuh bahkan aku sama sekali tidak di liriknya, ketampanannya dan bibir yang manisnya aku suka, ma," jelas Ana.


"Pria tampan tidak mungkin belum mempunyai wanita sayang, kamu sebaiknya cari yang lain," ucap Dirga memasuki kamar menghampiri anak dan istrinya.


"Papa jahat, malah membunuh pria yang aku suka," cetus Ana.


"Ada pria yang satunya yang juga tampan kok," jawab Dirga menghampiri putri semata wayangnya yang masih terbilang muda dan manja.


"Siapa?" tanya Ana.


"Ken," jawab Dirga.


"Tampankah, Pa?" tanya Ana tersenyum sumringah memegang tangan ayahnya.


Dirga mengangguk dengan senyum di bibirnya yang terlihat menyayangi putrinya.


Dirga memeluk erat putrinya dan tersenyum kepada istrinya yang juga tersenyum lembut kepadanya.


Dirga keluar dari kamar putrinya dan mengedarkan pandangannya melihat seseorang sedang berdiri di ruang tamu. Dengan pakaian formalnya. Dirga tersenyum dan menyapa Ken yang juga berbalik melihatnya dan juga menyapanya. Seperti pertemuan seorang teman kolega yang sudah lama tidak bertemu.


Ken bahkan terlihat alami memainkan perannya. Begitupun Dirga yang tersenyum licik ketika ia sudah mendapatkan kepuasannya selama ini. Selain Rendi yang sudah mati baginya. Perusahaan dan semua milik Rendi kini hancur lebur oleh sahabat dekatnya sendiri Ken. Bagi Dirga itu jauh lebih menyenangkan di bandingkan kematian yang mengenaskan. Tapi yang di alami Rendi lebih mengerikan di khianati dan di bunuh oleh orang terdekatnya sendiri. Tawa di dalam hati Dirga sangat menggema. Karena orang yang saat ini duduk di hadapannya mudah untuk di tipu hanya karena sebuah ancamannya.


"Apa kau sudah tahu dimana istri Rendi?" tanya Dirga tersenyum licik.


"Bukankah anda tahu jika rumah Rendi bahkan hancur lebur, bagaimana bisa akan ada yang selamat dari hal seperti itu?" jawab Ken datar tapi dalam hati ia ingin sekali membunuh pria yang ada di hadapannya.


"Haha, aku memang tidak tahu jika istri dan anaknya mati atau tidak, tapi aku puas karena kau memasang boom waktuku di rumah besar itu," tawa Dirga menggema.


Ken terdiam datar tanpa sebuah tanggapan pada tawa Dirga yang sudah tidak masuk akal. Ken sudah menduga akan hal ini walau dia tidak memasang peledak disana. Mark akan jauh lebih mengerti dalam situasi.


Ia menghancurkan rumah besar Rendi agar tidak ada yang tahu jejak keluarga Rendi dengan teliti.


Dalam media saja hancurnya perumahan elit milik Rendi Anggara. Hancur lebur dan ada banyak korban disana. Semua korban tidak jelas identitasnya karena mereka semua terbakar dan tidak menentu mayatnya. Meski sebenarnya mereka semua adalah anak buah Dirga dan juga Jason yang terlebih dahulu Mark bantai.


Ken masih duduk mendampingi Dirga yang meminum secangkir kopi.


"Kau menikahlah dengsn putriku," ucap Dirga.

__ADS_1


"Saya tidak berminat," tegas Ken datar.


"Apa yang kau minta akan aku berikan Ken! " tegas Dirga kesal akan jawaban Ken yang terbilang singkat tanpa pemikiran panjang dahulu mengingat ini adalah tentang putri kesayangannya.


"Anda terlalu percaya diri tuan, Anda bahkan menipu saya ketika kedua orang tua saya, bahkan tidak kau lepaskan meski saya sudah membunuh Rendi," ucap Ken datar dengan hati semakin berkejolak ingin membunuh orang yang ada di hadapannya.


"Akan aku pastikan aku yang akan membunhmu Dirga, selain menipuku kau juga telah membuat tuanku terluka dan berada jauh dari keluarganya, bahkan aku saja harus jaga jarak dengannya, akan aku buat kau tidak mau mati juga tidak mau hidup," batin Ken geram.


Dirga terdiam ketika Ken yang mulai menjawab setiap ucapannya. Tanpa mempertimbangkannya.


"Kau harus ingat Ken, jika aku masih punya kedua orang tuamu dan juga adikmu yang masih kecil," ucap Dirga.


"Apa maksudmu? " tanya Ken mengerutkan dahinya dengan pandangan tidak percaya pada Dirga yang masih meminum kopinya.


"Heh, jika kau mau bersama putriku akan aku pastikan mereka baik-baik saja," ucap Dirga tersenyum licik.


"Saya tetap tidak akan mau, tapi jika kau masih memaksa, aku beri kesempatan putri Anda untuk mendekati saya selama satu bulan, tapi jika dia tidak bisa mendapatkan hati saya, terpaksa saya tidak akan mengikuti kemauan Anda," tegas Ken mengalihkan semuanya pada waktu yang berjangka cukup untuk mengetahui semua tentang Mansion dan keberadaan keluarganya. Dari itu juga Ken akan membuat sesuatu untuk menghancurkan Dirga group sesuai kesenangannya dan juga rasa kesalnya pada seseorang yang saat ini duduk di hadapannya dengan senyum penuh kemenangannya.


"Heh, itu terlalu lama bagi putriku jika hanya untuk mendapatkanmu Ken," ucap Dirga tersenyum licik meremehkan Ken yang kini sudah berdiri untuk kembali ke tempatnya.


"Ingat, jika dia tidak bisa mendapatkan hati saya, Anda akan mendapatkan apa yang anda mau Tuan," ucap Ken berbalik dan pergi keluar dati Mansion dengan Dirga yang menatapnya tersenyum tipisnya.


Ken berjalan dengan pandangan ingin membunuh seseorang hingga sampai di depan kendaraannya. Di depan pintu mobil Ken mengedarkan pandangannya melihat besar mansion milik Dirga. Ia juga akan bergerak memeriksanya perlahan setelah mendapatkan dan membuat alat untuk mendeteksi suatu tempat dengan rinci.


Di dalam mobil, Ken duduk di kursi kemudi dan melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Ia berpikir akan suatu cara untuk mengalihkan pandangan para pengikut Dirga untuknya dan memilih untuk pergi ke alun-alun kota di keramaian. Ken bertukar tempat duduk dengan anak buahnya yang ada di belakang kursi penumpang dan Ken turun di keramaian mengalihkan kewaspadaan anak buah Dirga hingga kini mereka masih mengikuti mobil Ken. Tetapi Ken tertinggal jauh di alun-alun kota. Ia kini berjalan mendekati sebuah mobil milik anak buahnya dan melaju menuju rumah dimana ada Rendi yang sedang sakit disana.


"Jika ada Mark atau Adam pasti akan jauh lebih mudah, tapi kali ini aku harus berpikir lebih jauh jika harus melibatkan mereka, nona muda sudah dalam perlindungan keamanan merekapun aku sudah bersyukur," ucap Ken berbicara pada dirinya sendiri.


Mengingat seorang gadis anak Dirga, Ken mengingat istrinya Dilla dan juga putrinya yang masih bayi. Ia tersenyum mengingat tingkah konyol istrinya yang selalu memintanya untuk mengatakan cinta seperti makan tiga kali sehari.


Ken tersenyum licik, ketika mengingat ucapan Dirga dengan percaya dirinya. Jika putrinya akan dengan mudah mendekatinya. Ken tersenyum licik mengingat rencananya akan menghancurkan berawal dari putri kesayangannya yang terbilang masih bodoh. Ken berpikir lama merancang segala rencananya hingga sampai di sebuah rumah dengan dan tanpa penjagaan yang ketat. Tapi keamanan senjata bertebaran di rumah tersebut.


Ken keluar dari mobilnya dan memasuki rumah tersebut melihat Rendi yang kini sudah mulai berjalan dan duduk di ruang tengah.


Rendi melihat Ken yang menghampirinya dan tersenyum tipis padanya.


"Apa kabar Tuan?" tanya Ken membungkukan tubuhnya memberi hormat pada Rendi.


"Kau lihat sendiri keadaanku, jauh lebih baik tapi hatiku tidak baik Ken," jawab Rendi datar.


"Anda tenang saja Tuan, saya hanya butuh waktu satu bulan saja untuk mendapatkan semuanya dan anda agar sehat dengan benar Tuan," ucap Ken yang ikut duduk di samping Rendi.


Rendi mengangguk membenarkan setiap rencana Ken yang sedang mencari cara agar semua tuntas dengan sendirinya oleh Ken tanpa ada yang terluka sedikitpun.


Mereka berdiskusi seharian merencanakan hal selanjutnya yang akan mereka lakukan untuk melawan Dirga yang kekuasaannya melebihi siapapun. Dirga terlalu sewenang-wenang dalam kekuasaannya. Hingga membuat siapapun yang jauh lebih mencolok darinya. Akan di incar olehnya hingga akarnya. Untuk dari itu Rendi mengambil resiko yang teramat berat baginya harus jauh dari istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


Setelah membicarakan hal selanjutnya. Ken berpamitan untuk kembali ke kediaman Dirga. Karena jika Ken berlama-lama untuk tinggal di luar. Dia tidak akan sempat untuk mengintai setiap sudut rumah dan seluk beluk milik Dirga. Bahkan membutuhkan waktu sangat lama bagi Ken satu bulan untuk hanya menolong kedua orang tuanya saja. Ia sempat geram ketika di wilayah Dirga. Ken tidak bisa bergerak leluasa karena penjagaan Dirga teramat ketat. Hingga membuatnya harus sedikit waspada demi keamanan tuannya dan juga kelancaran rencananya. Ken juga berniat menghancurkan Dirga hingga ke akarnya termasuk putrinya. Karena mengingat Dirga juga menghancurkan keluarganya terdahulu hingga membuatnya harus berda jauh dan terpisah dari keluarganya terluntang lantung dari keluarganya karena ulah Dirga.


Setelah mendapatkan informasi dari Adam tentang seorang wanita yang ia cari ternyata adalah ibunya sendiri juga ayahnya yang di sandra selama puluhan tahun. Ken bahkan tidak tahu penyebab ia berada di tengah jalan berhari-hari. Karena saat ia terbangun. Ia sudah berada di tengah jalanan dengan keramaian yang teramat membuatnya sedikit terinjak jari tangannya dan tersenggol oleh orang-orang yang berlalu lalang.


Mengingat itu semua Ken semakin mematangkan tekadnya untuk membuat Dirga menderita dahulu baru jika ia mau Ken akan membunuhnya. Tapi jika tidak ia hanya akan membuat Dirga segala senggan.


Mati tidak mau hiduppun dia tidak ingin.


Di Malam Hari


Rara berdiri di depan jendela memandangi langit malam yang berbintang. Rara menahan setiap kerinduannya akan kehadiran suaminya. Ia mearsakan sakit di dalam dadanya mengingat saat ini. Ia bahkan tidak bisa menangis tentang kerinduannya dan bahkan belum ada hal baik yang terdengar olehnys setelah satu minggu anak buah Mark mencari keberadaan Rendi. Hanya terdapat bangkai pesawat yang berhambursn di atas lautan.


Rara meyakinkan dirinya bahwa suaminya masih dalam keadaan baik-baik saja. Hanya tinggal bertahan menunggu kembalinya suaminya saja. Rara tersrnyum getir dalam diamnya. Ia bahkan sangat tidak berminat untuk tertidur malam ini. Ia masih ingin sekali mendapati suaminya yang pulang dalam kerinduannya setiap kali pulang bekerja.


Tingkah manja Rwndi selalu terbayang di ingatannya. Ia tersenyum mengingatnya hingga air matanya menetes tanpa srbuah peringatan.


"Aku tahu kamu berada di suatu tempat dalam keadaan baik-baik saja sayang, cepatlah pulang jika memang kau merindukanku, aku sangat merindu dan itu tak berarti apa-apa jika aku hanya menangis seperti ini," ucap Rara sendu. Ia menutup wajahnya dan terduduk dalam dekapannya kedua kakinya. Rara menangis menunduk. Rasa rindu dan tidak percayanya jika suaminya benar-benar pergi meninggalkannya begitu saja.


Duduk di balkon depan jendela di bawah langit malam yang berbintang. Rara menangis, menangisi kerinduannya pada suami tercintanya. Ia masih berharap jika semua ini hanya rekayasa dan tidak berlangsung lama. Dengan rambut tak terawat Rara menangis tanpa henti untuk mengurangi segala beban kerinduan yang teramat dalam pada suaminya yang terbayang wajah manjanya di benak Rara.


Lain dengan Rara. Dilla masih terdiam dalam duduknya tanpa arah ia memikirkan suaminya yang masih belum jelas keberadaannya. Bayi yang kini sudah tertidur. Dilla baringkan di atas ranjang tidurnya. Ia bahkan tidak ingin bertanya pada siapapun tentang suaminya.


Baginya, beratnyapun tidak ada gunanya. Jika memang mereka sudah menemukan mereka yang hilang. Sebelum menemukan Ken pastinya harus sudah menemukan Rendi terdahulu. Tapi kenyataannya Tidak ada di antara mereka yang menemukan jejak Ken ataupun Rendi.


Dilla berjalan menghampiri meja rias. Ia membuka penutup kepalanya dan kembali ke tempat tidurnya. Dilla membaringkan tubuhnya dan melihat langit-langit kamar yang terlihat putih bersih milik rumah Mark yang terdapat beberapa kamar yang dapat di tempati beberapa penghuni.


Dilla tersenyum getir dalam diamnya. Ia memikirkan suaminya yang dengan wajah datar dan merasa konyol jika seorang Ken merindukannya.


"Haha, hal yang tidak mungkin si pria dingin itu merindukanku, aku saja tidak tahu apa dia mencintaiku atau tidak, tapi aku hanya tahu jika aku sangat mencintainya dan merindukannya untuk saat ini, apa dia masih hidup ya? Kenapa aku tidak merasa sesedih drama sinetron jika di tinggalkan suaminya? Apa aku benar-benar mencintainya? Kenapa masih tidak menangis?" gumam Dilla terkekeh dengan segala pemikirannya mengalihkan hatinya yang sebenarnya sangat merindukan suaminya hingga tidak mau ada banyak orang yang mengetahui perasaannya.


Di malam yang sama mereka saling terdiam dalam tempat yang berbeda dan juga kerinduan yang sama. Rendi yang terduduk di atas tempat tidurnya merindukan istri dan anak-anaknya. Ken yang di dalam bathroom merendam tubuhnya mengingat wajah istrinya yang konyol dengan kerinduan yang tidak biasa Ken rasakan.


Untuk kali ini Ken merasa ingin sekali bertemu dengan Dilla dan memeluk erat istrinya juga mengucapkan cintanya setiap waktu tidak perlu menunggu srtiap jam makan siang. Mereka terbawa suasana kerinduan di malam hari dengan Rara dan Dilla yang meneteskan air mata juga Rendi dan Ken yang hanya tersenyum tipis mengingat wajah dan tingkah istrinya yang teramat membuat kerinduan mereka semakin meronta-ronta ingin secepatnya bertemu. Lain dengan Ken yang ingin secepatnya membantai Dirga yang membuat semua menjadi seperti ini.


NTR Kak. Like, Koment, Favorite dan Vote ya ka terimakasih dari ikis.


Ada karya Author sebelah yang bagus juga kak. Karyanya romantis juga dan dia saudariku terlove. Ikut baca dan ramaikan dukungannya ya kak


Nih di bawah sinopsis covernya kak.


Nama Author : Kertia


Judul :Maried With My Enemy


__ADS_1



__ADS_2