Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Mencoba Bertahan


__ADS_3

Prolog Rendi Rara


Di tengah malam angin malam sudah menjadi dingin bagi tubuh Rara.


Ia mengusik tubuhnya dari bahu Rendi setelah lama tertidur,ia merasa tidak nyaman dengan sandaran kepalanya.


Ia membuka kedua matanya, ia juga menengadahkan kepalanya melihat suaminya masih tertidur.


Ia tersenyum melihat wajah suaminya yang damai dalam tidurnya.


Rara melepas pelukannya pada Rendi perlahan agar tidak membangunkan suaminya membuat posisi suaminya nyaman tanpa bersandar padanya.


Rara melihat ke sekeliling ia memperhatikan Ken yang masih terjaga dengan posisi awalnya ia tersenyum padanya.


"Apa yang Anda perlukan nona?" Tanya Ken.


Rara masih menggosok kedua matanya dan membenarkan jaket switer yang ia kenakan karena udara malam sudah mulai dingin.


Rara mencoba membuat dirinya benar dan tenang setelah ia terbangun dari tidurnya. Rara menyentuh perutnya.


"Ken jam berapa ini, aku lapar," ucap Rara.


"Ini spertiga malam Nona biar saya carikan makanan untuk Anda"ucap Ken.


Ken meminta ijin untuk pergi mencari makanan.


Rara mengangguk dan melihat kesekeliling di lorong rumah sakit yang sepi.


Hanya ada perawat yang berjaga ia melihat suaminya,setelah itu ia melihat di sebelahnya ada seorang pria paruh baya yang sedang tertidur di samping Rendi tertidur dengan pulasnya.


Rara membuka switernya dan menyelimuti pria di samping suaminya.


"Kenapa wajahnya mirip dengan Rendi ya apa dia ayahnya?" Batin Rara.


Rara mengerutkan dahinya ia melirik seksama lekat wajah mereka.Ia melihat kesamaan wajah mereka berdua dengan menopang bahunya.


"Apa kalian Ayah dan Anak? Lalu kenapa ada yang beda ya? Hmmm, sudahlah, aku tidak tahan lapar sekali," lirih Rara menyentuh perutnya.


Rara mencoba mengalihkan pandangannya ke segala arah di setiap sudut rumah sakit di ruangan tersebut.


Tidak ada bnyak orang di malam hari Rara menggosok lengan tangannya yang mulai kedinginan juga memegang perutnya yang lapar.


Kini pandangan Rara beralih ke arah Ken yang sudah datang membawa kantung plastik yang ia bawa dari luar


berjalan menghampiri Rara.


Tidak butuh waktu lama untuk Ken kembali dengan membawa nasi goreng yang panas ia membeli 3 bungkus.


"Wah ... wangi sekali aku laper kamu makan juga !" Ajak Rara.


"Saya tidak perlu Nona, saya sudah makan tadi," ucap Ken.


Ken berbohong padahal dari acara pesta dia belum sempat makan apapun.Biasanya ia makan di Cafe store tapi terlalu banyak insiden hari ini.


"Makan saja kamu pasti belum makan,"ucap Rara.


Rara berbicara nyaring hingga bisa membangunkan Rendi yang sedang tertidur.


Ia menggerutu kesal dengan apa yang membuatnya terbangun.

__ADS_1


Tapi Rendi tidak membuka kedua matanya.


"Tidak ada yang mati karena tidak makan sehari," celetuk Rendi .


Rendi membuka matanya dan melihat istrinya.


Rara melihatnya dan tersenyum


Rendi melirik ke sampingnya ternyata Ayahnya di selimuti sweter istrinya


Rendi tersenyum dengan sifat istrinya yang selalu mengutamakan orang lain, di banding dirinya sendiri.


Rara yang melihat suaminya terbangun ia duduk di samping suaminya.


"Kamu mau makan ?" Tanya Rara.


"Ini ada tiga buat Ken saja," ucap Rara kembali .


"Dia tidak mau tadi apa kamu tidak dengar?" Tangkis Rendi.


"Terserah ini ken makan kalau tidak kamu makan biar Suamiku tidur sendirian selamanya," cetus Rara.


Rara memberikan bungkusan nasi pada Ken.


Rendi terkejut dengan apa yang ia dengar.


"Ken cepat kamu makan itu, awas kalau tidak habis," perintah Rendi.


Rendi memberi isyarat pada Ken untuk memakanya dengan ancaman istrinya tadi.


Ia meraih tangan istrinya dan bersandar ke bahu istrinya.


"Serius," jutek Rara.


"Lalu kamu akan tidur dengan siapa nanti kalo aku harus sendir?" Rendi masih bicara.


"Aku tidur dengan Dilla," cetus Rara.


Rara berbicara dengan tangan mengaduk nasi dan menyuapi Rendi yang masih merajuk padanya.


Sesekali suapan Rara pada dirinya juga suaminya.


"Lalu aku buat anak dengan siapa?" Rengek Rendi.


Jleb.


Rara memasukan se sendok nasi goreng kepada suaminya dan Rendi mengunyahnya begitu saja.


Dengan istrinya yang mengaturnya Rendi tidak bisa membantah suapan istrinya kali ini.


"Ini satu lagi buat siapa?" Tanya Rendi.


"Untuknya," ucap Rara menunjuk pada orang di samping Rendi.


"Dia masih tidur buatku saja ya," pinta Rendi.


"Tidak kamu ini saja," Rara menyuapi suaminya lagi.


Rendi dengan senyum mengembang bahagia istrinya menyuapinya mereka makan sebungkus berdua.

__ADS_1


"Ciuman yang kenyang," batin Rendi tersenyum


"Apa Ibumu sudah bisa di jenguk Rend?" Tanya Rara.


"Nanti saja pagi biar Dokter yang menentukan," jawab Rendi.


Mereka berdua berbincang sesudah makan bahkan saling mencubit, terkadang memukul tapi tak bersuara hanya saling berbisik.


Mereka tidak menyadari ada orang yang di samping Rendi yang mendengar ucapan mereka.


Sebenarnya tuan Anggara sudah bangun dari tadi, tapi ia berpura-pura tidur hanya karena tidak ingin mengganggu putra dan menantunya bersama.


"Rend,apa aku boleh tahu siapa dia kenapa wajahnya mirip denganmu?" Tanya Rara.


"Dia,Papaku," jawab Rendi.


"Apa kamu serius,kenapa dia lebih tampan darimu?" Goda Rara.


Rara menggoda suaminya dengan senyum tertahannya,melihat ekspresi kesal suaminya saat mengatakan bahwa Ayahnya jauh lebih tampan darinya.


"Apanya yang tampan jelas sekali aku lebih tampan darinya bahkan aku sangat tinggi darinya," jelas Rendi pada istrinya.


"Ya ... kamu memang tinggi saking tingginya tidak bisa aku cium," timbal Rara menggoda suaminya.


Rendi yang melihat dan mendengar ucapan istrinya ia tersenyum dengan hati senang.


"Apa kamu mau menciumku,aku akan merendah agar kamu bisa menciumku nih," ucap Rendi menyodorkan pipinya.


"Huh, kamu mesum." Rara cengengesan.


"Kamu menggodaku ya?" Teriak rendah Rendi.


Rendi mengerutkan dahinya dan ia menggoda istrinya juga menggelitiki Rara.


Mereka tertawa saat Rendi tidak mau berhenti menggoda Rara.


Ada kesejukan dan kebahagiaan di hati Ayah Rendi, saat mendengar candaan dan melihat kebersamaan anaknya bersama istrinya.


Ia bahagia putranya bisa bahagia ada seorang wanita yang Rendi cintai.


Dan juga membuat Rendi tertawa seperti itu.


Tak terasa air mata ayahnya Rendi terjatuh.


Ia merasa terharu tapi ia tetap dalam posisi pura-pura tidur.


Saat ia mencoba mempertahankan menutup matanya tiba-tiba saja ada sebuah tangan lembut yang mengusap air matanya.


"Eeh, sepertinya Paman bermimpi buruk sampai meneteskan air mata," ucap Rara.


"Itu air mata tidur tidak usah berperasaan," ucap Rendi dingin.


Rara mengangguk ia duduk dengan Rendi.


Ia sempat memperhtikan Ayah Rendi yang meneteskan air matanya.


Ia membayangkan akan kehangatan Ayah Rendi jika hanya dengan melihat kebersamaan mereka saja membuatnya bisa menangis.


Rara tersenyum ia merangkul tangan suaminya ia bersandar di bahu Rendi dan mencoba tertidur kembali.

__ADS_1


__ADS_2