Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Tidak hidup tidak mati


__ADS_3

Prolog Rendi.


Rendi yang terbangun karena Rayn terbangun dengan memainkan tangan dan menyaut-nyaut seperti mengajak berbicara tanpa menangis. Rendi yang melihatnya ia terduduk dari tidurnya dan menggendong Rayn.


"Kenapa Sayang kamu haus?" Tanya Rendi.


Rayn hanya menyautnya,menendang-nendang di pangkuan Rendi.


"Kamu semakin pintar sayang,tidak menangis kalau mau minum susuPapa ambilkan dulu ya," ucap Rendi.


Rendi berdiri dan mengambil botol susu yang ada di pendingin,ia merendamnya dengan air hangat.


Sambil menunggu rendaman Rendi melihat ke arah Amira yang masih tertidur.


Ia berjalan menghampiri Rayn yang masih asik dengan tingkahnya.


"Apa kamu tidak menangis karena takut adikmu bangun,atau karena mamamu tidak ada jadi tidak mau merepotkan Papa ya Sayang anak lelakiku yang pintar," ucap Rendi mencium Rayn.


Saat Rendi memberi Rayn susu,terdengar suara sinyal hape berbunyi. Rendi meraih ponselnya yang tak jauh dari ia duduk.


"Secepat itu dia berada di Bandung?" Gumam Rendi.


Rendi melihat lokasi dimana sinyal handpone Raditya yang ia sadap,ia geram dan menelpon seseorang.


"Aku kirim lokasinya nanti aku akan kesana," ucap Rendi mengakhiri teleponnya.


Rendi melihat ke arah Rayn yang tertidur karena susunya sudah habis.


Rendi memindahkan anak-anaknya ke ranjang bayi.


Ia berggegas keluar kamar di depan pintu sudah ada dua pelayan yang menunggunya.


"Kalian tunggu anak-anakku !" Seru Rendi.


Rendi berjalan menghampiri kamar orang tuanya,ia mengetuk pintu hingga ibu Ratih membuka pintu.


"Mah, bisa jaga Rayn Amira?" Tanya Rendi.


"Hmmm,kamu mau pergi?" Tanya ibu Ratih mengangguk.


Rendi mengangguk mereka berjalan menuju kamar Rendi yang sudah ada dua pelayan di depan pintu kamar yang berjaga.


Rendi dan ibunya memasuki kamar, Rendi memakai jas mantelnya. Ia berpamitan dengan ibunya yang terduduk di hadapan keranjang bayi..


"Hati -hati Nak," ucap ibu Ratih.


Rendi mengangguk dan ia berjalan keluar kamar menuruni tangga.


Di luar rumah sudah ada dua penjaga yang menunggunya dengan mobilnya.


Rendi duduk di kursi penumpang dengan pandangan tanpa arah. Ia berharap sesuatu tidak terjadi hal buruk pada istrinya.


Rendi melihat handponenya ia mengerutkan keningnya.


"Dia bahkan tidak berpindah darisana, aku sudah pastikan dengan tepat sasaranku dari awal," gumam Rendi.


Hanya memakan waktu dua jam Rendi sampai di lokasi. Di tepi jalan sudah ada Ken, Mark dan Iyas menunggunya, Rendi menghampiri mereka.


"Apa sudah ada pergerakan?" Tanya Rendi.


"Kita menunggu aba-aba darimu," jawab Mark.


Rendi melihat kesebuah rumah yang luas tanamanya hampir sama dengan rumah Anggara,disana ada beberapa penjaga.


Rendi yang di belakangnya sudah ada anak buah yang Mark bawa dari Singapore. Ia mengisyaratkan untuk maju mengikutinya menghadapi langsung dengan kemampuan bela diri yang Rendi pelajari dari Mark begitupun Iyas juga Ken.


Anak buah Mark yang sudah terlatih, mereka mengerti bahasa isyarat dari tuannya. Kini Mark dan yang lain berkelahi melawan penjaga di depan rumah.


Sedangkan Rendi masuk dengan lancar. Rendi menelusuri setiap ruangan,tapi tidak ada tanda keberadaan orang yang ia cari dari handponenya.


Hingga sampai di belakang rumah itu,Rendi mendapati Raditya di seret oleh dua orang berbaju hitam,dengan badan kekar.


Rendi menghadang mereka dan menghajarnya hanya dengan tiga pukulanya mereka terkulai.


Rendi menghampiri Raditya yang setengah sadar.


"Dimana Rara?" Tanya Rendi.


Raditya mendongak dengan wajah berlumur darah babak belur oleh adiknya sendiri.


"Kamu akan terlambat jika bertanya padaku," lirih Raditya.


"Sial !" Ucap Rendi melemparkan Raditya dan berlari menuju sebuah ruangan,ada dua penjaga yang berjaga di sebuah pintu,Rendi menghampirinya.


Rendi berkelahi dengan dua penjaga tersebut hingga terkapar.


Rendi mencari cara agar pintu bisa terbuka. Ia kebingungan hingga melihat sebuah goresan di sebuah tembok seperti tombol masuk dan Rendi membukanya.


Rendi terkejut dan berlari setelah mendengar teriakan istrinya memanggil namanya. Ia menghampiri orang yang ada di ruangan tersebut yang ternyata Rara,


Rendi dengan geramnya buas,ia memukul tanpa henti wajah Bari.

__ADS_1


Tubuhnya membara mendengar teriakan istrinya. Rendi seperti tidak ingin berhenti memukulnya.


Sampai terdengar orang berlari mau memasuki ruangan.


Rendi mencegah mereka masuk,agar mereka tidak melihat keadaan istrinya yang pakaianya sudah tidak jelas. Karena kemejanya di robek tercombang cambing di setiap bagian walau,ia tetap mengenakan celana jeansnya.


Rendi tidak mau lebih banyak orang lagi yang melihat tubuh istrinya.


Ia berteriak hingga membuat Mark Iyas dan Ken berhenti. Mereka membalikan badan setelah memukul habis anak buah Bari,mereka hanya menunggu di depan pintu.


Rendi melihat istrinya tertunduk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia membuka jas mantelnya dan menutupi kepala juga menutupi tubuh istrinya.


Rendi mendekap istrinya hatinya terasa sakit.Saat melihat istrinya menangis juga dengan tubuh gemetar memegang tubuh Rendi.


Rendi memancarkan aura ingin membunuh bagi yang sudah menyakiti istrinya. Hingga ia mendengar teriakan Bari yang mengatakan Rara wanitanya. Ia sangat murka dan merogoh pistol yang ia siapkan dari berangkas ruang kerjanya,sebelum berangkat. Ia mempersiapkanya jika di butuhkan,hingga akhirnya ia menembakanya saat melihat wajah Bari yang dengan lantang menyebutkan bahwa istrinya wanitanya. Rendi menatap Bari yang tersungkur dengan tatapan membunuhnya.


Rendi menggendong istrinya setelah ia melangkahi tubuh Bari yang tergeletak dengan bersimbah darah.Ia mengisyaratkan pada Mark dan yang lainya untuk membereskan semuanya.


"Pastikan tidak ada jejak sama sekali termasuk seisi rumah ini sebelum menjelang pagi," suara Rendi menggema di telinga Mark dan anak buahnya.


Rendi yang di ikuti Ken. Ia berjalan keluar dari ruangan tersebut,dan melihat Raditya yang terkapar bersama kedua penjaga tadi.


"Biarkan dia tidak hidup juga tidak mati," ucap Rendi dingin pada Bari dan Raditya.


Rendi berjalan kembali tapi kemudian ia berhenti dan berkata.


"Kirim dia kepada anaknya yang ada di Amerika," ucap Rendi lagi.


Ken tercengang dengan perintah tuanya yang berubah dengan cepat.


"Padahal hatimu akan sangat baik bila mereka membuat aman diri mereka sendiri,tapi dengan kalian mengusik nona muda siapapun itu tidak akan bisa meredakan amarah tuan," batin Ken.


Ken berbicara pada anak buahnya yang berjaga di depan rumah,dan dengan cepat membereskan rumah tersebut tanpa sisa.


Rendi kini berada di kursi penumpang dengan istrinya,yang duduk di pangkuanya menundukan kepalanya.


Rara tertidur dengan tangan memegang erat pada Rendi.


Rendi menyelipkan rambut yang menutupi wajah istrinya,ia menciumnya dan memeluk erat istrinya.


"Aku akan pastikan kamu selalu aman sayang,maafkan aku yang terlalu lengah,padahal orang yang aku takutkan tidak terlibat sama sekali," gumam Rendi.


"Saya akan pastikan tidak ada kali keduaTuan," ucap Ken di balik kemudi.


"Jangan biarkan nyawa mereka terbebas begitu saja," ucap Rendi dingin.


Rendi mengusap pipi istrinya,yang sembab karena tangisan mata yang bengkak.


"Dia bahkan berani membuka penutup kepala istriku,buat dia menderita dulu jangan sampai dia hidup apalagi mati," ucap Rendi kembali.


Mobil Rendi kini sudah tiba di Jakarta, Rendi tidak kembali ke rumah besar ia menaiki lift,menuju Apartmentnya, Rendi tidak ingin keluarganya tahu kondisi istrinya saat ini,apalagi sudah menjelang subuh,pasti semua orang sudah terbangun termasuk orang tua Rendi.


"Bawakan pakaian," ucap Rendi memasuki Apartementnya.


Ken mengangguk dan pergi meninggalkan Rendi yang sudah masuk ke dalam Apartmentnya.


Rendi menggendong istrinya,ia menidurkan istrinya tapi tangan Rara tidak bisa lepas dari peganganya pada Rendi.


Ia mengusap rambut dan mencium kening istrinya mencoba melepas pegangan Rara ia mencium pipi istrinya dan berbisik pada Rara.


"Sayang kamu sudah tenang ya aku akan selalu ada di sampingmu," bisik Rendi mengecup pipi istrinya.


Rara melonggarkan peganganya hingga lepaskan tanganya.


Rendi membuka pakaian istrinya dan mengelap seluruh tubuh istrinya dengan kain hangat perlahan.


Setelah membersihkan tubuh istrinya Rendi menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut tebal. Rendi mencium kening istrinya yang sudah segar bersih,ia berdiri dan membersihkan tubuhnya di kamar mandi dengan cepat ia takut istrinya terbangun dan mencarinya,Rendi mendekati istrinya,


ia membuka selimut istrinya dan duduk disamping istrinya.


Rendi mengusap puncak kepala istrinya dan berulang-ulang mencium kening istrinya.


Rara berbalik dan memeluk tubuh suaminya erat Rendi tersenyum dan ia tertidur bersama istrinya mendekapnya erat. Begitupun Rara mempererat pelukanya pada suaminya.


Di luar Apartment Ken sudah berdiri di balik pintu Apartment Rendi. Tapi Ken tidak mengetuk pintu. Ia justru duduk menyimpan bawaanya, mendekapkan tangannya di dadanya. Ia berjaga karena sebentar lagi matahari sudah menampakan dirinya. Ken memilih membiarkan tuannya istirahat dahulu setelah mengalami insiden tadi.


Sementara Ken berjaga di depan Apartment Rendi.


Mark dan Iyas berlaju menuju dimana Rendi berada.


Setelah membereskan kediaman rumah Bari yang kini di depan pagar rumahnya terpampang tulisan DISITA.


Raditya yang di kirim oleh pesawat pribadi Mark menyusul putranya,yang mungkin sudah sampai saat itu juga.


Ken melihat ke arah lift yang terbuka, Mark dan Iyas menghampirinya duduk dan berbincang dengan Ken.


Tidak ada yang mencoba mengetuk pintu.


Mereka hanya duduk dan berbincang.


Rara mengerjapkan kedua matanya yang gelap ia merasa sesak, ia mendongakan kepalanya melihat wajah suaminya yang tertidur memeluknya,Rara berasa bermimpi buruk tadi malam tapi kini berada di dekapan suaminya.

__ADS_1


Mengingat mimpinya Rara memeluk Rendi dan menangis kencang di dada suaminya.


Rendi yang terkejut dengan suara tangis istrinya,ia terbangun melihat istrinya yang tertunduk di dadanya sesegukan.


"Sayang kamu kenapa menangis,ada apa?" Tanya Rendi berbicara seperti tidak terjadi apa-apa agar Rara menganggap itu semua hanya mimpi.


Rendi memegang wajah istrinya yang berurai air mata dan mencium bibirnya.


"Hmmmm masih sangat manis," goda Rendi tersenyum sesudah mencium Rara.


"Aku aku." Ucapan Rara terbata.


"Kamu kenapa Sayang, bangun tidur kok nangis?" Tanya Rendi.


"Rendi aku aku aku." Rara tidak menyelesaikan ucapanya ia malah menangis kembali.


"Sayang kamu pms ya,ko nangis lagi?" Tanya Rendi mencoba membuat istrinya teralihkan.


Rara terdiam dengan semua pertanyaan suaminya.


"Apa benar semua hanya mimpi buruk tapi itu terasa nyata," batin Rara.


"Kenapa Sayang?" Tanya Rendi tersenyum.


Rara masih terdiam bingung dengan apa yang terjadi tadi malam dan pagi ini.


Rara melihat tubuhnya yang hanya di selimuti selimut tebal di tubuhnya,ia masih bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.


"Sayang?" Tanya Rendi membuyarkan kebingungan istrinya.


"Rendi aku aku kemarin," ucapan Rara terhenti karena Rendi menutup bibir Rara dengan bibirnya dan menciumnya dalam.


Setelah Rara merasa tenang Rendi melepas ciumanya,ia memegang wajah istrinya tersenyum mencium pipi kening hidung bibir istrinya dan berkata.


"Apapun yang terjadi,kamu tetap istri tercintaku sayangku bidadariku,tidak ada yang berubah sayang kamu tetap baik-baik saja," ucap Rendi mencium bibir Rara kembali.


Setelah melepas ciumanya Rendi melihat kembali istrinya yang mulai tenang dan tersenyum,Rara memeluknya kembali.


"Maafkan aku Rend,aku tidak tahu kenapa aku bisa ada di sana?" Lirih Rara.


"Sudah jangan di bahas lagi yaa,aku akan pastikan kamu selalu aman Sayang,untuk kali ini dan kedepanya akan aku pastikan yang terbaik untukmu," ucap Rendi membuat Rara tenang.


"Hmm apa mau melanjutkanya Sayang?" Goda Rendi.


"Lanjut apa?" Tanya Rara.


"Itu." Ucap Rendi melihat ke arah dada Rara.


Rara yang terkejut ia mundur dari duduknya,ia mempererat selimutnya.


"Haha Sayang cepat mandi,kita harus menemui mamah juga anak-anak kita," ucap Rendi


Rendi tersenyum ia bangun dari kasurnya,ia mengecup kening istrinya berdiri berjalan menuju pintu ruangannya dan membuka pintu dengan telanjang dada.


Ken, Mark dan Iyas yang melihat ke arah pintu yang terbuka. Mereka


Refleks berdiri dan melihat Rendi yang berdiri di tengah pintu dengan hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada.


"Apa secepat itu mereka melakukannya?" Batin mereka bertiga.


Rendi yang melihat ke arah mereka yang berdiri tanpa berbicara sudah paham apa yang ada dalam pikiran mereka.


"Jangan jorok," ucap Rendi acuh.


Mereka bertiga beralih pandangan salah tingkah.


"Mana yang aku minta?" Ucap Rendi datar.


Ken memberikan bingkisan yang tersimpan dari tadi,tanpa berpindah dari pertama ia simpan di samping ia duduk.


"Diam disini," ucap Rendi acuh ia berlalu kedalam dan menutup pintunya kembali.


Ken yang terdiam dengan tingkah tuanya,juga Mark Iyas yang tak habis pikir dengan temannya itu mereka memilih kembali duduk.


"Pantas dia sangat murka kita saja bahkan tidak di ijinkan melihat ruangan di dalam sana," ucap Iyas berdecak.


"Tuan bahkan melarangku membunuhnya," ucap Ken dingin.


"Kematian hanya akan mempermudahnya,yang sudah membuat Rendi di luar kendali,sudah lama aku tidak melihatnya semurka itu setelah kejadian pemuda yang menghina ibunya," ucap Mark datar.


Ken dan Iyas mengangguk membenarkan ucapan Mark,memang Rendi selama ini hanya bergelut dalam dunia bisnis saja,saat ia tahu bahwa kemiskinan membuat keluarganya di hina.


Rendi bahkan berurusan dengan polisi karena memukuli anak pejabat di singapore ,hingga ia memilih meninggalkan dunia Mafia di Singapore dan Jerman.


Ia lebih memilih meneruskan perusahaan kecil milik orang tuanya turun temurun hingga berjaya kembali.


Rendi yang selalu cuek acuh tak acuh, ia hanya fokus pada dunia bisnisnya dan mengutamakan keluarganya.


Meninggalkan dunia yang ia gemari


masa mudanya di habiskan di perusahaan yang kini berdiri tegak di Asia.

__ADS_1


__ADS_2