
Rara merasakan dada yang sesak juga perut mencuak ingin keluar,ia membuka kedua matanya dan melihat ruangan yang tidak ia kenal.
"Dimana ini? Gumam Rara.
"Sudah bangun Sayang?" Tanya Rendi duduk di sampingnya.
"Sayang ini dimana,bukankah kita sedang tidur?" Tanya Rara.
"Kita di pesawat," jawab Rendi tersenyum.
"Hah,kenapa seperti itu kenapa tidak bangunkan saja,dan ini masih malamkan sayang?" Tanya Rara.
"Sebentar lagi kita mendarat,nanti aku jelaskan ya," jawab Rendi mencium bibir istrinya yang menganga.
"Anakku," ucap Rara.
"Mereka di belakang," jawab Rendi.
"Hmmm syukurlah, aku berasa di culik dan ini ko penerbangannya jadi lebih cepat sih sayang?" Tanya Rara.
"Hanya Ken yang tahu jawabannya," jawab Rendi.
"Lalu dia dimana?" Tanya Rara.
"Bersama istrinya," jawab Rendi mendekati istrinya ia membuka kancing pakaian istrinya. Rara masih bingung dengan yang terjadi ia celingak celinguk membiarkan tangan suaminya kesana kemari.
Rara merasakan sentuhan yang membuatnya mendesah,suaminya memainkan sesuatu di tubuh bagian atas istrinya.
Rara melihat ke arah suaminya yang tersenyum menggoda.
"Sesempat ini ya kamu Sayang menggodaku," ucap Rara mengecup bibir suaminya.
"Ayo kita lakukan disini !" Ajak Rendi.
"Tidak !" Jawab Rara menepis tangan suaminya.
"Kenapa?" Tanya Rendi.
"Kita harus menghargai diri kita sendiri Sayang,jangan sembarangan tempat," jelas Rara.
"Kalau begitu, turun nanti aku mau," goda Rendi.
Rara mengangguk tersenyum ia menyandarkan kepalanya pada bahu Rendi.
Rendi merangkulnya ia memegang dagu istrinya dan mengecupnya.
Mereka berciuman sepanjang penerbangan yang sudah Ken persiapkan lebih awal penerbangannya semua dalam prediksinya untuk keamanan tuan dan nonanya. Ia mempersiapkan segala sesuatunyaagar aman juga cepat tidak sesuai prediksi.
Di kursi belakang tak jauh di mana Rendi dan Rara berada terdapat sepasang suami istri yang duduk dengan istrinya yang bersandar di bahunya.
Ken terduduk di kursi belakang, ia menopang istrinya yang tidur walau terjadi kebakaran di rumahnyapun, Dilla tidak akan bangun sama sekali walau hanya dalam pangkuannya.
Untuk itu Ken lebih memilih membawanya dalam keadaan tertidur.
Ken sudah puas dengan aktivitasnya pada istrinya yang sedang tertidur ia menutup kembali penutup kepala istrinya dan merapihkannya kembali.
"Aku tinggalkan kepemilikanku di sini ya," ucap Ken meninggalkan tanda merah di leher jenjang istrinya yang terbuka.
Prnerbangan hanya memakan waktu beberapa jam kini mereka sudah mulai bersiap untuk turun dari pesawatnya.
Mereka kini sudah turun dari pesawatnya dengan berjalan beriringan di ikuti para pengawalnya.
Rendi dan Ken di belakang Rara dan Dilla yang berjalan keluar Bandara.
"Waah ... aku tidak tahu jika aku buka mata sudah berada di Jerman, suamimu itu sangat keren," ucap Dilla.
"Ini semua ulah suamimu," cetus Rara.
"Haha, iya suamiku juga keren,kenapa kamu cemberut begitu?" Tanya Dilla.
"Aku tidak sempat berpamitan dengan ibu mertuaku," jawab Rara.
"Kaya gak bakalan balik lagi aja kamu ini Ra," ucap Dilla polos.
"Hmm iya sih, kita disini hanya tiga hari ini," ucap Rara.
Rendi merangkul pinggang istrinya di ikuti pengawal juga babysister yang menggendong Rayn dan Amira.
"Sayang apa tidak apa kalau bisnis membawa keluarga?" Tanya Rara.
"Memang siapa yang akan melarang?" Jawab Rendi datar.
"Aku mau bawa oleh-oleh untuk semua yang di rumah, sebagai tanda permintaan maafku pada Mama," ucap Rara tersenyum.
__ADS_1
"Biar Ken yang carikan !" TegasRendi.
"Hah,ko seperti itu,aku kan mau mencarinya sendiri Sayang." Ucap Rara.
"Kamu tidak boleh jauh dari pandanganku walau saat rapat nanti!" Tegas Rendi.
Rara hanya terdiam,tidak mau membantah suaminya,ia hanya terdiam dan melihat ke luar jendela mobil.
"Waaah, pemandangan jalanan kota disini bahkan sangat indah tapi aku tidak tahu akan menikmatinya atau tidak,kalau belanja saja tidak boleh," batin Rara.
"Tidak perlu pasang wajah sedih begitu nanti tempat tinggal kita akan jauh lebih indah dan menarik dari pusat perbelanjaan yang kamu minta," ucap Rendi.
Tiga kendaraan memasuki sebuah pintu gerbang yang besar memasuki sebuah halaman rumah yang luas. Ada banyak penjagaan yang ketat di pintu depan setiap sudut ada penjaga.
Rendi keluar dari mobilnya. Semua penjaga yang berderetan membungkukan tubuhnya memberi hormat pada Rendi. Begitupun Ken yang ada di belakang Rendi dan Rara.
"Sayang, apa ini di istana president, kenapa banyak sekali yang bertubuh tinggi begini juga pakaiannya kaya pengawal president aja," ucap Rara kebingungan.
"Tuan, melebihi president Nona muda,ini belum seberapa Nona," batin ken.
Rendi menggandeng istrinya memasuki rumah besar. Rara hanya bisa menganga saat ia memasuki sebuah ruangan yang luasnya seperti lapangan sepak bola.
Ia menengadahkan kepalanya melihat kesana kemari dengan pajangan-pajangan benda antik bernuansa elegan warna ke emasan.
"Sayang, aku lelah hanya melihatnya saja,apalagi harus membersihkan rumah ini," ucap Rara.
Yang mendengar ucapan Rara menahan senyum. Rendi merangkul istrinya yang melonggar saat melihat luasnya tempat tinggalnya.
"Memang siapa yang menyuruhmu membersihkannya Sayang?" Tanya Rendi mencium kening Rara.
"Lalu ini rumah siapa,kenapa sebesar ini dan ini luas sekali apa ada banyak penghuni di sini?" Tanya Rara.
"Dulu hanya ada aku, tapi sekarang ada kamu juga anak-anak kita," ucap Rendi.
"Kamu serius,cuma kamu lalu mama papa,mereka tidak kamu ajak?" Teriak Rara.
"Mereka punya rumah sendiri Sayang," jawab Rendi.
"Tapi.." Ucapan Rara terhenti setelah Rendi menggendong istrinya berjalan menaiki tangga yang meninggalkan Dila dan Ken.
Rendi menggendong Rara sampai di sebuah pintu berwarna silver dengan pegangan pintu warna emas senada.
"Bawa mereka ke kamar mereka di sana! " Perintah Rendi kepada para pelayan dan babysister yang mengasuh Rayn dan Amira.
Setelah melihat para pelayan yang membawa anak-anaknya.Rendi memasuki kamarnya.
Rendi tersenyum dan mencium bibir istrinya.
Rendi menurunkan Rara di atas ranjang yang luasnya muat 4 orang juga.
"Ya ampun, ini kamar atau rumah,kenapa segede ini," ucap Rara menggelengkan kepalanya.
"Biar kita bisa melakukannya dengan banyak gaya Sayang," ucap Rendi tersenyum.
"Memang kamu mau melakukannya seberapa kali," cetus Rara.
"Setiap saat," ucap Rendi tersenyum.
"Hah ? Tidak mau, bisa masuk rumah sakit aku di buatmu," teriak Rara.
"Hahaha, itu tidak akan terjadi Sayang," tawa Rendi.
"Ini tuh rumah di dalam rumah,aku kasihan sama pelayan di sini harus bekerja keras membersihkannya," ucap Rara menggerutu.
Rendi hanya tersenyum mendengar dan melihat gerutuan istrinya,ia menghampiri istrinya yang melihat-lihat setiap sudut ruangan.
Rara melihat sebuah poto seorang pria naik sepedah berpose dingin tanpa ekspresi.
Rara mengambilnya.
"Apa ini serius suamiku?" Tanya Rara.
"Itu sebelum aku keren Mark mengambil potoku," jelas Rendi memeluk istrinya dari belakang.
"Suamiku di poto ini sangat keren juga sexsi,aku bahkan ingin mencium bibirnya yang tidak nakal ini," ucap Rara tersenyum.
Rendi membalik tubuh istrinya,ia merebut poto yang istrinya pegang dengan wajah kesal.
"Kamu bahkan berani mencium yang lain selain diriku hah," ucap Rendi dingin.
"Tapi dia sexsi," goda Rara.
"Aku jauh lebih sexsi,apa masih kurang tubuhku ini untukmu," ucap Rendi menyimpan potonya di atas lemari.
__ADS_1
"Kenapa di simpan aku kan belum menciumnya," teriak Rara.
"Akan aku bunuh siapapun yang berani kamu cium," ucap Rendi dingin.
"Hahaha, kamu mau bunuh diri Sayang,nanti aku di ambil orang lain loh kalau kamu bunuh diri," tawa Rara melihat suaminya yang tanpa ekspresi.
Rendi terdiam ia mengingat bahwa yang di poto itu dirinya sendiri,kenapa juga ia harus membunuh dirinya.
Rendi menghampiri istrinya yang tertawa lepas.
"Kamu berani mempermainkanku ya hah," ucap Rendi mencium istrinya.
"Hmmm." Rara melepas ciumannya.
"Tentu saja, kalau bisa aku bertemu denganmu dari dulu jadi aku akan menciumu yang seperti di poto itu kamu sangat keren," ucap Rara mencium bibir suaminya dan tersenyum.
Rendi tersenyum bahagia ia mencium kembali bibir istrinya,mereka berciuman dengan intens dalam posisi berdiri Rara yang sudah membuka penutup kepalanya. Rendi mencengkram rambut Rara mengusapnya.
Mereka beraktivitas berdua di dalam kamar dan setelahnya mereka tertidur karena kelelahan dengan luas ranjang yang muat dengan beberapa orang.
****
prolog
Dilla juga sama seperti Rara menganga hanya tidak banyak bicara.
"Tutup mulutmu itu nanti masuk lalat di makan anakku," ucap Ken.
Dillla menutup mulutnya,ia membulatkan mata dan mengembungkan pipinya saat suaminya meledeknya.
"Dasar suami gila," cetus Dilla berjalan.
Tapi Ken menariknya.
"Kamu mau kemana istrinya lelaki gila?" Ucap Ken.
"Yaaa masuklah, kamu ini gimana sih,dan lagi kamu saja yang gila aku tidak," bentak Dilla.
"Baiklah,ayo balik tempat kita bukan di sini !" Ajak Ken menuntun istrinya yang tidak rela meninggalkan tempat rumah mewahnya.
"Ken,kenapa kita malah keluar dan berjaan hah,ini juga kenapa jalanan panjang sekali," gerutu Dilla.
Ken menggendong istrinya yag menggerutu sepanjang jalan.
"Ken malu tahu, lihat disana banyak penjaga mereka melihat kita," teriak Dilla.
"Mereka tidak akan berani," jawab Ken datar.
Para penjaga yang berjejeran sepanjang Kompleks tidak ada yang menengadahkan kepalanya. Mereka hanya menunduk mengerti akan kehadiran Ken.
Ken memasuki sebuah rumah yang tak jauh dari rumah utama Rendi.
Mereka masuk ke rumah itu.
Luas dalamnya tidak seluas rumah utama.
Dari dulu ini tempat tinggal Ken, makanya ia tetap mempertahankan ke asrian setiap inci rumah yang di beri Rendi untuknya.
"Waaaah, ini juga bagus tapi yang tadi jauh lebih bagus sangat luas,tapi aku suka," ucap Dilla.
"Kamu tidak suka juga tetap harus disini," ucap Ken datar.
"Huh, memang mau berapa hari di sini," cerus Dilla.
"Seminggu," jawab Ken.
"Apa ... kamu serius Ken katanya tiga hari doang,kenapa?" Teriak Dilla.
"Ada hal yang harus tuan Rendi selesaikan hingga membutuhkan waktu yang lama," jelas Ken.
"Tapi aku hanya menyiapkan pakaian sedikit Ken," teriak Dilla.
"Nikmati liburanmu dan jaga bayi kita," ucap Ken.
"Ken,koperku mana?" Tanya Dilla.
"Tidak ada," jawab Ken.
"Apa,kamu serius tidak membawa mereka lalu baju gantiku," teriak Dilla.
"Pergilah kesana,dan cari apa yang kamu butuhkan,nati bila ada yang kurang minta pada pelayan,aku istirahat dulu," jawab Ken,membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Ken, kamu tidak ke tempat tuanmu lagi?" Tanya Dilla.
__ADS_1
"Dia masih tidak memerlukanku untuk saat ini,satu jam lagi aku akan menemuinya," ucap Ken menutup matanya tertidur.
Dilla membiarkan suaminya beristirahat, ia tahu bahwa suaminya sangat jarang istirahat jika berurusan dengan Rendi,Dilla menuju ruang ganti yang Ken tunjukan padanya.