Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Pengobat Rindu


__ADS_3

Rara menangis menjadi-jadi, rasa rindu dan harapan yang sempat ia simpan dalam dan bukan hanya sebuah do'a saja. Ternyata memang suaminya masih baik-baik saja. Lain dengan Rendi yang merasa salah karena membuat istrinya menangis sesedih itu. Rara bahkan tidak menyadari jika ada banyak mata yang memperhatikan dirinya yang sedang menangis seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu kesukaannya.


Mark, Iyas dan Adam memperhatikan tingkah Rara yang menangis memegang handphone. Mereka memperhatikan dengan cara pandang masing-masing juga dengan hati yang sedikit lega. Karena Rendi masih baik-baik saja.


"Wanita cantik, menangis seperti anak kecil seperti itu malah terlihat manis ya, juga menggemaskan," ucap Iyas tersenyum melihat Rara yang menangis seperti anak kecil di kejauhan.


"Kau jangan melihat terlalu lama nanti berbahaya," seru Mark berbalik meninggalkan Iyas yang mengerutkan dahinya juga dengan Adam yang ikut berjalan meninggalkan Iyas.


"Hei? Aku mana ada berpikir seperti itu, aku bukan seseorang yang cari kesempatan dalam saat genting juga," tangkis Iyas mengejar Mark dan Adam memasuki ruang kerjanya kembali.


"Sebaiknya kau diam!" seru Mark acuh pada Iyas yang berbicara sembarangan yang tertuju padanya.


Mark sempat mengagumi Rara yang terlihat cantik ketika tersenyum padanya di acara pernikahannya waktu itu. Mark menghindari hal yang tidak seharusnya dan tinggal di ruang kerja sepanjang malam untuk mengalihkan pikirannya pada Rara yang hanya pura-pura menjadi istrinya di muka umum.


Rara masih dengan tangisannya pada suaminya yang dari tadi membujuknya.


"Sayang? Aku tutup kalau begitu sambungannya ya jika kamu masih menangis," ucap Rendi.


"Jika berani, aku akan menghampiri Mark dan menciumnya!" teriak Rara kesal pada suaminya yang malah mengancamnya untuk menutup sambungan telponnya. Padahal kerinduannya belum terbayar sama sekali.


"Hehe, iya Sayang! Aku tidak akan menutupnya, kamu jangan mendekati pria itu ya, aku tidak mau," ucap Rendi merajuk pada istrinya yang sudah berhenti menangis dan memasang wajah kesalnya pada suaminya yang tidak peka akan kerinduannya.


"Jangankan menciumnya, aku juga akan melakukan hal lebih jika kamu belum pulang juga detik ini juga!" cetus Rara tersenyum di dalam hatinya mengatakan hal yang tidak ia pikirkan sama sekali untuk menggoda suaminya.


"Rara Permana! Apa yang kau katakan hah?" teriak Rendi dengan wajah mulai kesal sama istrinya. Mendengar ucapkan istrinya yang terbilang bodoh baginya.


"Kamu ...."


Rara terkejut ketika mendengar ucapan dan teriakan suaminya dengan nada kesal Rendi.


"Jika kamu berani menyebutnya dan bahkan berpikir seperti itu, akan aku pastikan kamu tidak akan bisa berjalan lagi bahkan turun dari ranjangpun kamu tidak akan bisa!" tegas Rendi tersenyum tipis melihat wajah istrinya yang berubah tertegun mendengar ucapan suaminya.


"Huh, aku tidak takut! Mau setiap saatpun akan aku lakukan buatmu," goda Rara tersenyum menggoda pada suaminya yang kini malah jadi semakin naik hasrat ingin mencium bibir istrinya yang merah ranum menggemaskan ketika berbicara.


"Apa kamu baik-baik saja sayang?" tanya Rendi tersenyum melihat istrinya yang kini sudah berhenti menangis dan tersenyum pada suaminya.

__ADS_1


"Kamu pikir aku selemah itu? Aku baik-baik saja apalagi anak-anakku!" seru Rara sedikit menggoda suaminya yang masih dengan senyum dan hati yang bahagia melihat dan mendengar suara istrinya.


"Bagaimana dengan gadis kecilku? Aku merindukannya," ucap Rendi tersenyum bahagia mengingat putri kesayangannya yang terlihat cantik dan manis.


"Kau tidak merindukanku?" cetus Rara mengerutkan dahinya melihat suaminya yang malah tertawa padanya. Rara tersenyum bahagia melihat dan mendengar tawa dan suara suaminya untuk kali ini.


Baginya segala kerinduannya selama beberapa minggu ini sangat menyiksanya.


"Kau kemana saja selama ini? Kenapa tidak pulang? Asal kamu tahu rumah kita sudah hancur lebur tak tersisa sayang," ucap Rara sendu mengingat rumah yang di bangun suaminya yang terbilang penuh kenangan masa lalu suaminya juga bersamanya.


"Maaf ya sayang, aku akan secepatnya pulang! Apa kamu merindukanku?" goda Rendi tersenyum bahagia melihat tingkah manja istrinya yang merajuk padanya.


"Aku mau sekarang!" ucap Rara memajukan mulutnya kedepan merajuk pada suaminya.


Rendi tertawa saat melihat wajah istrinya merajuk dengan bibir memaju ke depan. Rendi memajukan mulutnya menggoda istrinya yang kini tertawa melihat tingkah suaminya yang lucu dan sudah mulai menggodanya. Rendi mengakhiri panggilan videonya dengan istrinya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia tersenyum mengingat wajah dan tingkah manja istrinya.


Rendi memejamkan kedua matanya dengan senyum di wajahnya yang berseri. Ia tidak membayangkan jika suara dan tawa senyum wajah istrinya begitu sangat mujarab untuk dirinya.


Ken menghampiri Daren yang sedang duduk di ruang tunggu depan kamar Rendi. Ia bahkan lebih datar dari yang Daren duga. Ken duduk di hadapan Daren dengan segala tatapan tajamnya.


"Bagaimana dengan tuan? Apa dia sudah istirahat dengan baik? Apa tempatnya kurang nyaman? Apa aku perlu melakukan hal lain agar dia merasa nyaman?" pertanyaan Daren sama sekali tidak Ken jawab.


"Kau siapkan penerbangan satu jam lagi, jika ingin di akui oleh tuan!" ucap Ken berdiri dan meninggalkan Daren yang terkejut mendengar ucapan Ken yang malah pergi bahkan tidak menjelaskan hal lain.


Daren berdiri dari duduknya dan mengikuti Ken yang berjalan memasuki lift dan masih dengan acuhnya tanpa menoleh ke arah Daren yang dari tadi berbicara panjang lebar padanya. Bagi Daren ada satu Ken saja bisa membuatnya gila, apalagi ada banyak.


"Tuan, apa anda punya istri?" tanya Daren masih mengikuti Ken yang memasuki restoran di hotelnya.


"Aku punya seorang bayi perempuan," ucap Ken acuh duduk di meja privat yang tertutup.


"Waaah! Anda hebat juga ya tuan, sudah memiliki istri dan putri. Mereka pasti sangat beruntung memiliki anda Tuan," ucap Daren. Ia berbicara simpang siur hanya untuk mendapatkan perhatian dari Rendi. Ia harus mendapatkan orang terdekatnya Rendi terdahulu terutama orang yang bernama Ken.


"Sebaiknya kau fokus mempersiapkan penerbangannya," tegas Ken acuh.


"Baiklah Tuan, semua akan tersedia dalam waktu setengah jam, Anda hanya perlu bersiap. Karena penerbangan akan lepas landas sesuai yang anda inginkan," jelas Daren tersenyum sambil memanggil pelayan untuk membawakan makanan untuk seorang Ken.

__ADS_1


Setelah memesan makanan. Ken justru berdiri tanpa menunggu makanan.


Daren mengerutkan dahinya, ketika melihat Ken yang malah berdiri dan hendak pergi setelah ia memesan makanan pada pelayan tersebut.


"Anda mau kemana Tuan? Bukankah makanan akan segera sampai?" ucap Daren mengerutkan dahinya.


"Aku tidak bilang akan makan!" jawab Ken acuh.


"Tapi...."


Daren berhenti berbicara dan melihat Ken yang sudah berjalan meninggalkannya tanpa menoleh kembali padanya yang masih tertegun dan juga mengerutkan dahinya.


"Lalu, apa yang dia lakukan? Turun dari atas menghampiri restoran jika tidak mau makan apapun? Dia jauh lebih menjengkelkan dari rumor," guamam Daren melihat pesanan makananya sudah datang dan tertera di meja. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan pergi meningalkan restoran tersebut menaiki lift dan kembali ke ruangannya.


Ken menaiki lift menuju lantai paling atas, untuk menghampiri ruangan istirahat Rendi dengan hati mulai berbinar berencana akan pulang saat ini juga.


Sesampainya di depan pintu ruangan tersebut, Ken membuka pintu tersebut. Karena Ken yang memegang kunci kamar tersebut jika terjadi sesuatu pada tuannya. Kewaspadaan Ken jauh dari apapun di bandingkan cctv yang terpasang di ruangan tersebut. Ken memasuki kamar tersebut dan melihat Rendi sedang tertidur di atas ranjang dengan pakaian formalnya.


Ken memilih untuk duduk di sofa dan menunggu tuannya terbangun dari tidurnya. Ia berencana membangunkan Rendi satu jam nanti. Karena akan ada penerbangan satu jam lagi. Ken memilih lebih efisien di bandingkan menanggung Rendi yang selalu merajuk jika keinginannya belum tersampaikan. Apalagi kerinduan Rendi pada istrinya teramat dalam dalam satu minggu ini. Apalagi Rendi selalu bermanja pada istrinya setiap waktu.


Setelah di rasa sudah cukup, Ken mencoba membangunkan Rendi. Saat ia berdiri dan berjalan mendekati Rendi. Ken terdiam, ketika melihat Rwndi terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke arah Ken dengan tatapan tajamnya.


"Kau sudah siapkan semuanya?" tanya Rendi acuh.


"Sudah Tuan, saatnya kita berangkat," hjawab Ken.


Rendi mengangguk, ia berdiri dan berjalan memasuki kamar mandi dan membersihkan diri di bawah shower air di kamar mandinya. Rendi tersenyum, mengingat wajah berseri istrinya yang merajuk . Ia juga sangat merindukan istrinya yang menggemaskan . Rasanya ia ingin sekali Rendi memeluk dan mencumbu istrinya yang begitu menggemaskan baginya.


Rendi berada di kamar mandi srkitar 30 menit dan keluar di kamar mandi dengan handuk di bawah pinggang. Ia berjalan menghampiri atas ranjang. Sudah tersedia pakaian yang akan ia kenakan di atas ranjang.


"Penerbangan akan segera dalam setengahnya Tuan," ucap Ken memandangi tuannya.


Rendi mengangguk dan mengenakan pakaian yang sudah di sediakan Ken tadi. Rendi mengenakan pakaiannya dengan cekatan dan rapih di kenakannya. Kemeja warna hitam dengan dasi warna abu muda. Ia tampak berseri ketika mengenakan dasinya dengan perlahan. Wajah istrinya yang ia banggakan. Tampak senyum di wajahnya. Mengingat wajah manja istrinya dan berbalik melihat Ken yang masih terduduk di sofa tanpa memperhatikan Rendi yang kini sedang berseri di depan cermin.


"Apa dia akan tetap mencintaiku? Diakan sudah menikah dengan Mark?" tanya Rendi pada Ken yang masih dengan koran di tanganya yang kini ada poto Rara bersama Mark yang menjadi berita hangat di media masa dan juga koran di pagi hari ini. Ken melipat koran tersebut dan melirik ke arah Rendi yang sudah bersiap.

__ADS_1


"Mari kita berangkat Tuan!" ajak Ken dengan koran di belakangnya.


Rendi mengangguk dan berjalan mendahului Ken yang di belakangnya. Rendi keluar dari kamarnya dan menuruni lift khusus yang hanya mereka berdua yang keluar masuk lift tersebut.


__ADS_2