
"Apa mamah akan lama disana?" tanya Amira.
"Kalo anak mamah mengijinkan, mamah mau sekitar semingguan boleh sayang?" jawab Rara tersenyum pada putrinya.
"Hmm, kok Mira yang harus nentuin? Kan mamah dan papa yang akan kesananya," ucap Amira mengerutkan dahinya.
"Haha, iya. Kan kamu putri mamah. Apapun pendapatmu akan mama terima. Gimana, bagaimana menurutmu?" tanya Rara.
"Hmmm, Amira sih apapun semua yang mama papa lakukan Mira setuju aja, asal cepat pulang dan hati-hati," jawab Amira.
"Baiklah, putri mama emang yang terbaik. Lima hari saja gak apa-apakan?" ucap Rara.
"Hehe, makasih mah, Mira gak mau lama-lama jauh dari mamah," seru Amira memeluk Rara.
Anak dan ibu itu saling memeluk satu sama lain penuh kasih sayang dan bahagia. Rara memeluk lembut putrinya yang teramat ia sayangi itu.
"Mah, Mira tidur dengan mamah ya?" tanya Amira.
"Eh, anak gadis mama kenapa jadi manja gini?" tanya Rara tersenyum.
"Aaaaah, Mira belum pernah berada jauh dengan mama dan papa," rengek Amira mempererat pelukannya pada ibunya.
"Hahaha, iya iya. Nanti biar papamu tidur di kamar lain ya," ucap Rara tersenyum.
"Eh, gak! Papa juga mau tidur disini!" timbal Rendi memasuki kamar dan duduk di tepi ranjangnya.
"Hmm, Rayn juga!" sambung Rayn menghampiri ibunya dan duduk di samping Rara.
"Semuanya gak boleh! Hanya Raisa yang boleh sama ibu dan Kak Mira!" balas Raisa berlari dan menggeser Rayn.
Rayn mengerutkan dahinya, namun terdengar gelak tawa Rara yang menyaksikan sikap anak-anaknya dan juga suaminya.
Suami dan anak-anaknya tersenyum tipis melihat tawa Rara yang terdengar nyaring dan terlihat manis.
Moment yang selalu mereka sukai dari Rara. Ketika melihat sang Rara tertawa dengan lepas dan tanpa beban. Membuat hati damai tentram.
'Aku harap ini akan tetap bertahan tawamu yang seperti ini mah," batin Rayn, Amira dan Raisa bersamaan tersenyum melihat Rara.
__ADS_1
Ketiga anaknya dan juga Rendi tersenyum melihat tawa manis Rara yang terdengar dan terlihat indah dan sangat berarti bagi mereka.
Pada akhirnya malam ini mereka tidur di satu kamar utama. Rara tidur dengan dekapan kedua putrinya dan Rendi tidur dengan putranya Rayn di bawah lantai dekat ranjang. Meski keduanya acuh, namun saling mengerti situasi satu sama lain. Merekq tertidur setelah berbincang malam dan mempersiapkan apa yang akan di bawa esok hari.
Rara tampak tersenyum bahagia mendekap kedua putrinya. Dengan karakter anak-anaknya yang jauh lebih dari sewajarnya. Tapi bagi Rara mereka tetaplah anak-anaknya yang manja dan sangat ia sayangi. Kini mereka terlelap tidur dengan hati dan senyum bahagia di hati mereka.
****
"Apa masih ada yang tertinggal?" tanya Rendi melihat ke arah istrinya yang kini berpamitan dengan Dilla.
"Sepertinya tidak ada," jawab Rara.
"Titip salam untuk paman dan tante, aku harap semua baik-baik saja. Kedua orang tuaku juga," ucap Dilla.
"Iya bawel!" jawab Rara tersenyum dan memeluk Dilla.
"Mah? Jangan lupa pulang ya mah!" tambah Amira.
Rara tersenyum dan memeluk putrinya Amira. Mereka kini sudah berada di depan rumah dengan segala persiapan untuk ke Bandung. Rara memeluk kedua anak kembarnya dan berpamitan untuk berangkat menuju Bandung.
"Sepertinya kamu bersiap untuk keluar Dek?" tanya Rayn.
"Mira mau keluar Kak, sebenarnya Mira mau mencari pekerjaan buat alasan, bahwa Amira bukan orang berada boleh nggak Kak?" ucap Amira ragu-ragu.
Rayn mengerutkan dahinya sedari mendengar ucapan adik kembarannya itu.
"Apa kamu kekurangan sesuatu? Katakan memang apa yang tidak bisa kamu dapatkan sekarang?" tanya Rayn.
Rayn mengerutkan dahinya tidak memahami apa yang dimaksud oleh adik nya itu.
"Amira hanya mau mandiri dan tidak mau memberitahukan kepada dunia bahwa Amira seorang anak dari keluarga yang kaya," jawab Amira.
"Kakak tidak setuju! Untuk apa seperti itu? Kakak membiarkan kamu bersikap seolah-olah bukan anak orang kaya, tapi bukan berarti kamu boleh lakukan apapun yang kamu mau. Apalagi kamu harus kerja, kakak tidak setuju!" tegas Rayn.
"Tapi Amira perlu pekerjaan untuk menjawab segala pertanyaan teman-teman Amira, yang mempertanyakan dari mana Amira bisa mendapatkan uang bisa berkuliah," jelas Amira.
"Diam di rumah! Nanti biar Kakak yang cari solusi yang terbaik buat kamu! Jika kamu melanggarnya Kakak tidak akan pernah segan untuk memerintahkan anak buah papa agar selalu berada dekat denganmu!" tegas Rayn.
__ADS_1
Amira terdiam dan mengangguk atas ucapan Kakak laki-lakinya itu, apapun yang diucapkan Rayn, itu akan sangat sulit bagi Amira jika harus membantahnya. Rayn bersifat seperti ayahnya, yang hanya sekali ucapan. Bagi siapapun harus dimengerti.
Setelah berbicara kepada kakaknya, Amira berjalan menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Ia berdiam diri di dalam kamar, memikirkan apa yang akan dilakukannya kedepannya, mengingat kakak laki-lakinya, begitu tegas dalam bertindak.
Rayn melihat Amira berjalan menuju kamarnya, ia masih berdiri dan mengerutkan dahinya tidak memahami apa yang diinginkan oleh adik perempuannya itu.
"Tuan muda! Jika ingin nona Amira tetap berada dalam pengawasan tuan, tuan bisa merekomendasikan nona Amira di perusahaan tuan besar! Namun tuan harus bisa memenangkan proyek yang akan dibawa oleh Adam, sebaiknya nya untuk ikut bersama Adam ber presentase," ucap Ken menepuk pundak Rayn.
Rayn mengerutkan dahinya, ia mengerti maksud pamannya Ken, namun demi adik perempuannya itu Rayn mengangguk dan menyetujui apa yang disarankan oleh pamannya adalah jalan yang tepat.
"Kapan proyek itu dimulai?" tanya Rayn.
"Nanti sore, Adam akan datang dan bisa jadi dia akan langsung berangkat ke kota B, untuk melakukan presentasi di Pagi harinya," jawab Ken.
"Tapi Amira bagaimana dia bisa sendiri di rumah?" tanya Rayn.
Ia mencemaskan adik perempuannya yang bisa tinggal sendirian di rumah.
"Apa Tuhan tidak ingat! Bahwa ada anak istri saya di sini? jawab Ken dengan datar.
Rayn terdiam dan mengangguk, ia menyetujui apapun yang dikatakan oleh pamannya Ken. Setelah berbincang dengan pamannya Rayn kini menaiki tangga dan memasuki kamar adik perempuanya. Saat Rayn memasuki kamar kembarannya itu, dia melihat Amira sedang terdiam di balkon kamarnya. Ia tersenyum tipis dan menghampiri Amira adik kesayangannya itu.
"Apa yang kau lihat?" tanya Rayn membuyarkan Lamunan Amira.
"Entah kenapa, Amira malah sudah merindukan mama dan papa," jawab Amira menopang dagunya.
"Mama dan papa, mereka mau melepas kerinduan kepada nenek dan kakek," ucap Rayn lembut.
"Ya, Mira juga sangat merindukan mama dan papa, begitupun nenek dan kakek pasti sudah sangat merindukan anaknya. Oh ya kah katanya Naura akan datang kapan itu?" tanya Amira tersenyum bahagia.
"Katanya sih sekitar 2 harian lagi! Nanti biar anak buah Papa untuk menjemputnya," jawab Rayn.
Rayn tersenyum tipis dan menarik adiknya untuk duduk di sampingnya. Ia tersenyum dan mengelus pucuk kepala adik kembarannya itu dengan lembut.
"Sepertinya, nanti malam kaka akan pergi ke kota B. Untuk menjalankan proyek besoknya dan nanti jika berhasil. Kakak akan merekomendasikan kamu untuk bekerja di perusahaan," ucap Rayn.
"Benarkah Kak? Terima kasih Kak. Kamu memang yang terbaik," balas Amira tersenyum bahagia.
__ADS_1