Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Special


__ADS_3

Prolog Rendi Rara


Setelah membujuk istrinya dengan merayunya. Akhirnya Rendi berhasil menuntun Rara keluar dari Cafenya memasuki mobilnya. Rendi berniat mengajak Rara bergegas menuju pusat perbelanjaan mereka naik kendaraan dengan cepat.


Rendi yang tahu bahwa ken belum duduk di kemudi ia mengembangkan senyumanya melihat istrinya.


"Kenapa kamu duduk di belakang sana bawa mobilnya kita harus cepat," ucap Rara.


"Hmm." Rendi hanya tersenyum saja.


"Sayang."


Cup.


Rendi mencium bibir istrinya yang tidak berhenti bicara.


Apalagi saat Rendi mengingat bibir cemberut istrinya tadi. Ia seperti di puncak kesabaranya ingin menciumi habis bibir istrinya itu dari tadi.


Yang berasa manis sekali bila Rendi setiap kali mencium dan menciuminya dalam.


Rendi memperdalam ciumanya sampai memegang leher istrinya oleh kedua tangan Rendi.


Rara yang tahu ciuman suaminya pasti lama bila tidak di balas ia membalas ciuman suaminya dan mereka menikmati setiap intensnya ciuman mereka.


Sampai pada saat Ken membuka pedal pintu mobil depan. Rara mendorong suaminya mengakhiri aktivitas mereka. Rendi dan Rara merapihkan keadaan mereka.


Ken yang tahu apa yang terjadi tidak melirik ataupun bersuara sama sekali. Ia duduk di bangku kemudi dan menyalakan kendaraanya dan ia tetap fokus mengemudi seperti tidak tahu apa-apa .


Ken malah tersenyum mengingat apa yang di katakan Dilla tadi padanya.


"Aku akan jadi kekasihmu, istrimu, ibu dari anak-anakmu dan kamu suamiku yang akan aku cintai seumur hidupku," ucap Dilla.


Begitu ucapan Dilla yang membuat Ken tidak bisa menahan wajah bahagianya dan tersenyum tiada henti.


Ken tidak tahu ada yang melihat perubahan ekspresinya dari kursi penumpang.


"Ken apa kamu jadi gila setelah jadi kekasih Saudariku?" Tanya Rara heran melihat Ken.


Ken mengangguk mengiyakan saja pertanyaan istri tuannya yang pasti sama cerewetnya dan tidak akan ada berhentinya bertanya.


"Baguslah kali ini aku merestui kalian karena kalian sama-sama gila." Rara tersenyum menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Rendi yang mendengar penuturan istrinya melihat kearah istrinya dan mencubit pipinya.


"Apa yang barusan tidak cukup?" Tanya Rendi.


Rara menggeleng ia membulatkan kedua bola matanya dan tangannya memegang tangan suaminya.

__ADS_1


Rara mendorong wajah suaminya yang semakin mendekati wajahnya.


"Maksudmu tidak cukup?" Tanya Rendi lagi.


"Enggak Sayang, aku mana ada mau berhentinya bila kamu menciumku seperti tadi," bisik Rara pada Rendi.


Rendi yang mendengar itu pipinya memerah dan ia tersenyum sumringah melihat tingkah istrinya.


"Kalau bukan sedang di jalanan mungkin sudah aku makan kamu Sayang," goda Rendi.


"Apa kamu mau mencobanya di sini?" Bisik Rendi.


"Malu...Nanti auratku terlihat orang lain dan juga tidak sopan pada tubuh sendiri masa melakukan kebahagiaan di tempat yang seperti ini kita lakukan nanti saja ya di tempat yang khusus untuk kita," ucap Rara terdengar oleh Ken juga.


Ken terbatuk mendengar penuturan Rara yang sangat vulgar tapi mengundang kekaguman tersendiri.


Ken melirik ke kaca depan melihat tingkah manja Rara pada suaminya ia terkagum dan bahagia tuannya memiliki istri yang sangat special.


Rendi yang mendengarkan perkataan istrinya ia tersenyum bahagia. Istrinya benar-benar memiliki aturan pada dirinya sendiri.


Juga untuk lingkunganya bahkan membuat orang-orang di sekelilingnya mengikuti aturan pendirianya.


Rendi melihat Ken yang masih tersenyum karena kali ini Ken tersenyum karena bahagia melihat tuanya memiliki istri seperti Rara.


"Kamu menertawakan istriku?" Tanya Rendi dingin.


"Lalu apa?" Tanya Rendi.


"Mungkin dia gilla Sayang," tambah Rara tersenyum.


"Ken?" Bentak Rendi.


"Perkataan Nona benar Tuan," ucap Ken.


"Jadi kamu gila?" Tanya Rara teriak.


Ken hanya mengangguk meng iyakan perkataan nona mudanya dari pada meladeninya. Ia tetap fokus mengemudi.


"Aku rasa aku akan gila beneran bila menghadapi kalian yang sedang gilla cinta.Kenapa untuk saat ini aku berharap sekali Dilla ada. Mungkin Rara akan ada teman untuk meladeni ke gilaanya ini," batin Ken.


Rendi yang masih tidak mengerti dengan tingkah Ken dan istrinya. Ia tampak kesal dan mengerutkan dahinya dan tetap bertanya pada sekertaris pribadinya itu.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku?" Bentak Rendi.


"Saya hanya menyukai Nona, Tuan," jawab Ken.


"Apa ? Kamumenyukai istriku?" Tanya Rendi teriak.

__ADS_1


"Tuhkan salah lagi astaga bisakah aku bersembunyi saja menghadapi kegilaan mereka ini," batin Ken.


"Apa kamu tidak mampu menaklukan Dilla hingga kamu malah ingin merebut istri bosmu hah." Rendi tegang keras.


"Hah, memang Dilla apaan harus di taklukan dia tidak serumit itu kok," tambah Rara yang semakin membuat Ken bingung.


"Ken berhenti apa maksudmu hah kamu menyukai istriku?" Tanya Rendi teriak.


Ken sudah tidak bisa menjawab pertanyaan menyudutkan tuan dan nona mudanya lagi. Dengan malas Ken memberhentikan kemudinya dan menjawab tuanya yang super bodoh ini.


"Tuan maksud Saya....Saya menyukai perkataan Nona tadi yang lebih menghargai dirinya...Bukan berarti saya ingin merebut istri Tuan," jelas Ken.


"Mana berani saya berebut dengan anda Tuan," batin Ken..


"Kalau hanya itu lalu kenapa kamu tersenyum tidak henti-hentinya," ucap Rendi lagi.


"Itu karena Dilla akan menjadi satu-satunya istri yang saya cintai," jawab Ken ia terkejut dengan ucapanya .


Ken merutuki dirinya sendiri karena ia salah berbicara pada tuan dan nona mudanya yang selalu membuatnya serba salah.


Rendi dan Rara yang mendengar itu mereka menahan tawanya. Hingga Rara sudah tidak bisa lagi menahan tawanya dan ia tertawa dengan menggema di dalam mobilnya.


Mereka juga melihat ekspresi Ken yang terkejut atas ucapannya.


"Apa kamu merekamnya Sayang?" Tanya Rendi .


"Tentu saja," jawab Rara mereka tersenyum.


Ken terkejut dengan apa yang ia dengar. Ternyata tuan dan nona mudanya sedang mengujinya.Ken terdiam menghela nafasnya kasar. Ia mengerutkan dahinya saat melihat kelakuan tuan dan istrinya Ken hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dan ia tidak percaya lepas kendali dan mengatakan yang harusnya ia katakan pada Dilla tapi malah mereka dahulu yang tahu.


Dengan menggerutu di dalam hatinya mengingat akan kelakuan konyol sepasang suami istri yang sedang gila cinta.


Ken menghidupkan kembali kemudinya dan mempercepat kemudinya karena jika ia masih meladeni tuan dan nona mudanya bisa tidak akan sampai di pusat perbelanjaan.


Rendi dan Rara masih asik memutar ulang lerkataan Ken yang sedangmenyatakan cintanya untuk Dilla.


Rara samapi berkaca-kaca karena hal yang di ucapkan Ken ini adalah hal yang tidak mungkin seorang Ken ucapkan.


Suaminya yang melihat itu memegang wajah istrinya memberhentikan tawa istrinya. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangannya.


"Sayang jangan terlalu tertawa nanti kamu menangis ni air matamu sangat berharga jangan menangisi Ken ya," ucap Rendi.


Rara yang mendengar perkataan suaminya tersenyum gemas pada suaminya.


"Sepuasnyalah kalian tertawa nanti akan aku tandingkan kalian dengan calon istriku itu kegilaan kalian dengannya," batin Ken.

__ADS_1


__ADS_2