
Prolog
Rara masih terdiam dari awal ia masuk dan berdiri setelah setengah jam berlalu di dalam sana.
Lain dengan Dilla ia sudah memilih banyak pakaian yang ia sukai.
Tampak senyum bahagia di wajah Dilla dalam memilih setiap pakaian yang ia lihat.
"Ini lebih bagus dari toko di kamarku," ucap Dilla tersenyum.
Pelayan yang melayaninya sekitar lima orang,bahkan tidak ada yang nganggur dari kelimanya mereka masing-masing di sibukan dengan melayani Dilla.
"Nyonya silahkan anda duduk atau nyonya mau memilih sesuatu?" Tanya pelayan yang berpakaian rapih.
"Tidak usah aku akan kembali," jawab Rara.
Ucapan Rara membuat Dilla terkejut.
Ia berdiri dan menghampiri Rara.
"Sayang kamu mau kemana,ini mubajir tahu kalau kita tidak memilih salah satu dari yang terpajang disini," teriak Dilla.
"Kamu sepuasnyalah saja,aku lelah hanya dengan melihatnya saja," jawab Rara malas.
Rara berbalik untuk pergi dari tempat yang bahkan tidak pernah ia mimpikan.
Tampak wajah kesal Rara terpancar saat ia meninggalkan tempat dimana Dilla sedang asik mencoba sepatu-sepatu yang ada di sana.
"Aku tidak mau pergi," teriak Dilla.
"Diamlah sesukamu, " jawab Rara.
Rara berjalan yang di ikuti oleh pelayan yang membawanya tadi.
Rara tampak termenung sendiri tanpa berbicara ataupun berhenti dari langkahnya.
Rara berjalan memasuki ruang utama, yang dimana ada Rendi dan Ken beserta anak-anaknya sedang berbincang.
Rara tidak menghampiri ke ruang tamu.Ia malah berbelok menelusuri setiap sudut di rumah yang baru ia datangi.
"Rumah sebesar ini saja aku pusing,apalagi harus ada pusat perbelanjaan,suamiku ini benar-benar keterlaluan memang ada seberapa banyak uangnya sampai bisa punya ini semua?" Gumam Rara.
"Tuan memindahkan setiap isi pusat perbelanjaan nyonya sebelum kedatangannya kemari dari seminggu yang lalu," ucap pelayan yang mengikutinya.
"Sepertinya suamiku ingin aku di buat gila olehnya. Pusat perbelanjaan di kampungku saja jarang aku kunjungi, ini malah dia borong semua," ucap Rara.
Rara berjalan dengan gerutuannya yang tidak suka dengan apa yang di lakukan suaminya. Ketika melihatnya membuatnya pusing hanya dengan melihat dan membayangkannya saja.
Rara berbalik menoleh ke arah pelayan yang menunjukan arah jalan kepadanya.
"Hmmm, siapa namamu?" Tanya Rara.
"Saya Nera, Nyonya," jawab Nera.
"Hmmm ,Nera apa kamu tahu aku?" Tanya Rara kembali.
"Tentu,Anda nyonya Rara permana istri tuan Rendi Anggara," jawab Nera.
"Hahaha, kamu tidak perlu se detail itu Nera," tawa Rara.
"Ya ampun, Nyonya manis sekali tawanya juga menggema lepas,"batin Nera.
"Nera berapa usiamu?" Tanya Rara.
"Saya 31 tahun Nyonya," jawab Nera.
"Uuuh ya ampun kamu ko tidak terlihat setua itu sih?"Tanya Rara terkejut.
Nera hanya tertunduk saat nyonya mudanya berbicara.
Ada kedamaian di perasaan Nera saat nyonya mudanya berbicara padanya.
Biasanya jika Nera menghadapi tuan rumahnya selalu dengan suasana hati tegang karena aturan di rumah ini tidak ada toleransi dalam sebuah kesalahan.
"Ayo antar aku ke tempat yang tenang aku merasa bosan dan pegal melihat semua ini," ucap Rara.
"Mari Nyonya, saya antar ke taman belakang,di sana sejuk Nyonya bisa membuat hati tenang," ucap Nera.
"Hmmm ayo biarkan Suamiku dan Ken di sibukan mengurus si kembar biar tahu rasa mereka," gerutu Rara.
Nera hanya tersenyum tertahan. Ia berjalan di samping Rara.
Membiarkan Rara berjalan di depannya.
Rara melihat sebuah taman dengan nuansa serba hijau. Ada taman angggur yang menjadi atap tamannya.
Di tengahnya juga ada kolam ikan.
Ada juga tempat duduk yang di pinggirnya tanaman sayuran.
"Waaaaah, indah sekali ini benar-benar impianku waktu aku sekolah dulu. Duduk di bawah atap hijau memberi makan ikan," teriak Rara sumringah berlari ke arah ayunan di pinggir kolam ikan.
Nera yang terkagum melihat nyonya mudanya berlari menduduki ayunan dengan senyum terpancar di wajah Rara.
Nera menganga tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Seorang wanita yang bahagia hanya menemukan tempat seperti taman belakang ini.
"Sangat jarang wanita yang mengabaikan pakaian bermerek seperti yang tuan sediakan,nyonya justru malas dan pegal melihatnya. Tapi bahagia hanya dengan taman belakang yang bahkan hanya tukang kebun yang selalu berkunjung ke sini," batin Nera.
Rara tampak senyum bahagia duduk di ayunan yang teduh dengan atap anggur di atasnya.
Nera berdiri di samping di mana Rara berayunan disana.
"Nera, kamu sudah berapa lama disini?" Tanya Rara.
__ADS_1
"Saya sejak usia 10 tahun disini Nyonya, mengikuti mendiang ayah saya,dari awal saya hanya mengikuti perintah ayah saya yang harus menjaga tuan Rendi," jelas Nera.
"Kenapa harus di jaga badan segede itu?" Tanya Rara mengerutkan dahinya.
"Hmmm, mungkin untuk berjaga-jaga saja Nyonya," jawab Nera.
"Apa kamu sudah menikah?" Tanya Rara kembali.
"Saya tidak ada waktu untuk itu nyonya," jawab Nera.
"Kenapa seperti itu, kamu itu seorang wanita yang cantik juga berbadan seperti model aku sebagai wanita saja mengagumimu," ucap Rara.
Nera hanya tersenyum mengangguk berdiri di samping Rara yang sedang asik berayunan. Rara juga berselonjoran di ayunan, menyenderkan kepalanya dan menutup matanya dengan wajah tersenyum damai.
Nera yang memperhatikan nyonya barunya itu,ia tersenyum mengagumi sosok Rara yang kedepannya ia akan menemani Rara kemanapun selama berada di Jerman.
Nera adalah wanita bergaris keturunan Jerman asli.
Ia berpostur tinggi tegap dengan tinggi badan 170cm berkulit putih rambut pendek warna hitam.
Nera membiarkan Rara tertidur di ayunan taman dengan ia berdiri di sampingnya.
Prolog Rendi.
Setelah berdiskusi dengan Ken.
Rendi yang menggendong Amira sudah merasa kelelahan begitupula Ken yang menggendong Rayn.
"Kemari kalian ajak main Amira di kamarnya juga Rayn," ucap Rendi.
Kedua pengasuh Anak-anak Rendi menghampiri Rendi dan mengambil alih memangku Amira dan Rayn.
"Apa istriku sudah puas dengan pemberianku?" Tanya Rendi.
"Maaf Tuan, Nyonya tidak ada di sana,"jawab penjaga yang Rendi panggil.
"Apa,kenapa dia tidak ada disana hah bagaimana kalian menjaganya?" Teriak Rendi.
Rendi berdiri dari duduknya dengan wajah kesalnya.
"Disana hanya ada Nona Dilla tuan yang sedang berkeliling," jawab penjaga lagi.
"Sudah ku duga Dilla pasti sedang sibuk menata habis semua pakaian di sana," batin Ken.
Rendi tampak geram dengan jawaban dari penjaga yang di khususkan untuk mengikuti Rara.
"Kemana istriku?" Bentak Rendi.
"Nyonya pergi dengan pelayan Nera Tuan," jawab penjaga.
"Kemana?" Bentak Rendi.
"Sepertinya ke taman belakang Tuan," jawab penjaga kembali.
"Ken sebaiknya kamu lihat istrimu dia sedang hamil jangan sampai dia kelelahan," ucap Rendi.
"Aku akan mencarinya sendiri," jawab Rendi.
Ken mengangguk setelah Rendi pergi terdahulu di ikuti pengawalnya.
"Kemana istriku ini kenapa dia tidak ada di sana?" Batin Rendi cemas.
Rendi berjalan menelusuri lorong rumah utama menuju taman belakang yang di tunjukan penjaga yang mengikuti Rara tadi.
Rendi berjalan dari kejauhan ia melihat seorang wanita bergaun putih dengan penutup kepala warna peach. Bersama seseorang yang berbaju hitam berdiri di sampingnya dengan Rara yang berselonjoran di ayunan.
Tersirat senyuman di wajah Rendi ketika semakin mendekati istrinya yang sedang tertidur di ayunan taman belakang dengan udara sejuk bagi yang duduk di taman.
Rendi memberi isyarat kepada Nera dan penjaganya untuk pergi dari sana dan Rendi yang menemani Rara yang sedang tertidur.
Rendi berjongkok menghadap istrinya yang menutup matanya.
"Astaga adegan macam apa ini aku baru kali ini melihat tuan muda berjongkok menghadap seorang wanita yang hanya wanita biasa," batin penjaga.
Nera dan penjaga itu pergi agak jauh dari tempat dimana Rendi dan Rara berada tapi tidak mengurangi pengawasan mereka terhadap tuannya.
Rendi memandangi wajah istrinya yang lembut damai dengan tidurnya walau tempat yang tiduri bukan tempat yang nyaman untuk tidur.
Rendi tersenyum baginya melihat istrinya tertidur damai adalah kecantikan alam yang harus ia nikmati untuk pandangannya.
"Aku kira kamu sedang sibuk memilih baju sayang,makanya aku tidak mengganggumu sayang tapi kamu malah tidur cantik disini sangat cantik dan manis," batin Rendi.
Rendi berjongkok menghadap Rara dengan menopang dagunya melihat wajah istrinya yang terlihat damai dalam tidurnya ia tersenyum.
Rendi menusuk-nusuk pipi istrinya hal yang selalu Rendi lakukan pada istrinya jika Rara tertidur pulas.
Rendi semakin tersenyum gemas saat Rara malah menepisnya.
"Sayang, kamu manis sekali walau sedang tidur," gumam Rendi.
Rara membuka kedua matanya bangun terduduk ia terkejut melihat suaminya yang berjongkok tepat di hadapannya.
Rara memukul bahu suaminya krena ia terkejut di buat suaminya.
Rendi hanya tertawa mendapati pukulan dari istrinya.
Nera dan pengawalnya sempat terkejut saat Rara memukuli tuannya
Tapi mereka urungkan karena perintah tuannya agar menjauh dari tuan dan nyonyanya.
Rara memukuli Rendi yang malah tertawa terhadapnya.
Rendi menahan tangan istrinya dan mengecup bibir istrinya.
Rara terdiam dengan perlakuan suaminya.
__ADS_1
"Kamu ini mengagetkan aku saja Sayang,bagaiman kalau aku kena jantungan nantinya," gerutu Rara.
"Aku akan mengobatimu jika itu terjadi Sayang," jawab Rendi.
"Iiiih, aku tidak mau kamu mendo'akan aku sakit," bentak Rara.
"Hahaha, tidaklah kesehatanmu penting bagiku Sayang," jawab Rendi.
"Ada apa kamu kesini?" Tanya Rara.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu Sayang," jawab Rendi.
"Kenapa?" Tanya Rara heran.
"Karena kamu tidak ada bersama Dilla," jawab Rara.
"Hmmm, aku sebel sama kamu," cetus Rara.
"Kenapa apa ada yang salah denganku Sayang?" Tanya Rendi.
"Aku gak suka apa yang kamu lakukan itu kenapa juga harus membeli itu semua?" Jawab Rara malas.
"Aku menyediakannya untukmu Sayang," jelas Rendi.
"Suamiku Sayang,memang aku minta hal itu?" Tanya Rara.
Rendi menggelengkan kepalanya.
"Memang aku kekurangan pakaian?" Tanya Rara.
Rendi masih menggelengkan kepalanya.
"Lalu untuk apa itu semua?" Tanya Rara.
"Bukankah wanita selalu suka dengan berbelanja sayang?" Ucap Rendi.
"Tidak setiap wanita selalu suka dengan hal yang umum di sukai wanita sayang apalagi tentang hal yang mubazir seperti itu,"jelas Rara.
"Jadi kamu tidak suka pemberianku sayang?" Tanya Rendi.
"Bukannya tidak suka tidak ada wanita yang tidak suka dengan pemberian suaminya hanya tidak harus dengan menghamburkan uang kalau hanya untuk kebahagiaan saja sayang,"jelas Rara.
"Tapi semua milikku adalah untukmu?" Ucap Rendi.
"Aku lelah hanya melihatnya saja apalagi mengenakannya," ucap Rara bersender pada bahu suaminya yang ikut duduk di samping Rara.
"Hmmm, lalu apa yang kamu suka dan kamu inginkan Sayang?" Tanya Rendi.
"Aku mau selalu dalam perhatian kasih sayangmu juga keutuhan keluarga kita," jawab Rara.
"Kalau itu semuanya sudah kamu miliki sayang,"jawab Rendi.
"Hmmm, aku bersyukur untuk itu semua," ucap Rara tersenyum.
"Hmmm, kenapa kamu tidur disini sayang?" Tanya Rendi.
"Ini waah, aku suka tempat ini sayang sangat sejuk hingga lelahku saja hilang setelah aku berada disini,"jawab Rara.
"Tapi ini hanya taman kecil sayang apanya yang bagus?" Ucap Rendi.
"Suatu tempat akan nyaman jika hati kita menyambutnya dengan hati yang tulus sayang kenapa juga harus besar jika tidak ada kesejukan dan kedamaian di sana," ucap Rara.
"Jadi apa aku perlu membuatnya luas lagi?" Tanya Rendi.
"Tidak perlu Sayang, ini sudah cukup," ucap Rara memeluk lengan Rendi tersenyum.
"Kamu yakin Sayang? Tanya Rendi.
"Heeh sayang, ini jauh lebih bagus dan asri,"jawab Rara tersenyum.
"Baiklah apa perlu aku hilangkan pusat perbelanjaan itu?" Tanya Rendi.
"Jika sudah terlanjur di beli lebih baik kita pasarkan saja nanti hasilnya kita sumbangkan pada panti saja karena itu tidak akan menjadi mubazir lagi jika kita sumbangkan untuk saudara kita,"jelas Rara.
Rendi mengangguk tersenyum dengan ucapan istrinya yang apa adanya.
Rara yang selalu mensyukuri apapun yang ia miliki tanpa menginginkan hal yang lebih dari kemampuannya.
Setiap ucapan istrinya terasa damai di hati Rendi.
Terpancar kebahagiaan di wajahnya memeluk istrinya berayunan berdua melihat ikan yang berkerumun bersama.
"Anak-anaku dimana?" Tanya Rara.
"Mereka bersama pengasuhnya," jawab Rendi.
"Apa mereka baik saat bersamamu tadi sayang?" Tanya Rara tersenyum.
"Tentu saja mereka patuh hanya kamu yang selalu tidak patuh padaku,"jawab Rendi tersenyum.
Rara melonggarkan sandarannya dan mendongakan kepalanya melihat suaminya dengan kening berkerut.
"Apanya yang gak patuh memang apa yang belum aku kasih untukmu Sayang?" Tanya Rara.
"Hahaha, ini nih kamu yang selalu marah padaku karena tidak ada yang berani memarahiku sayang kamu segalanya untukku," tawa Rendi memeluk istrinya.
"Aku hanya tidak suka hal yang berlebihan yang kamu belikan itu sayang,aku lebih suka apapun itu jika di dasari dengan cinta kasih Sayang," ucap Rara tersenyum.
"Iya apapun itu akan aku lakukan hanya untukmu Sayang,nanti akan aku pastikan semua atas kesukaanmu ya maaf ya jika itu terlihat berlebihan bagimu," jelas Rendi.
"Hmmm, aku mencintaimu dengan segala hal yang tulus dalam hatikku untukmu sayang,jadi berikan aku cinta dan kasih Sayang itu sudah cukup untuku," ucap Rara.
Rendi mengangguk tersenyum ia memeluk istrinya dengan hati bahagia.
Rara yang tulus mencintainya
__ADS_1
Lain dengan wanita lain yang selalu senang dengan segala hal yang bermerek.
Tapi istrinya Rara malah tidak menyukainya karena perasaannya menerima Rendi perasaan tulus dari lubuk hatinya.