
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
"Nek! Itu kamu seriusan sedekat itu sama Rayn? Kalian bisa terlihat seakrab itu Nek!?" cerocos Aris berjalan menghampiri Amira yang tidak menghiraukannya.
"Ra? Ra? Gimana, kamu pacaran dengannya?" tanya Aris kembali.
Sembari berjalan mengikuti Amira yang pergi ke ruang kelasnya. Aris masih berbicara tanpa henti pada Amira.
"Ra? Ayolah kamu tadi dekat sekali dengan pria tampan sekampus loh! Apa aja yang kalian bicarakan Ra?" tanya Aris.
Di tengah perjalanan memasuki ruang kuliahnya. Amira berhenti berjalan hingga Aris menabrak punggung Amira yang keras dan berhenti tiba-tiba.
"Aduuh ... Ra! Kenapa kamu berhenti tiba-tiba sih? Sakit tahu!" ringis Aris mengusap hidungnya dan melihat ke arah Amira yang sedang berdiri di hadapan Siska and the gengs.
"Anak gadis miskin ini berani sekali mendekati gebetanmu Sis!" ucap gadis yang berada tepat di samping Siska.
"Hmm, sepertinya gadis tidak tahu diri ini sedang mencari muka di depan Rayn!" ucap Siska tersenyum licik.
Amira tersenyum tipis ketika melihat dan mendengar ucapan Siska dan teman-temannya itu. Namun ia tidak menjawab ucapan Siska, yang menurutnya tidak masuk akal. Apalagi tidak penting jika ia harus meladeni ucapan gadis-gadis yang ada di hadapannya itu.
Namun saat Amira mencoba melewati mereka, tiba-tiba Siska menghalangi jalan Amira dengan kakinya sebelah, mencoba untuk membuat Amira terjatuh. Akan tetapi bukan Amira yang ahli karate, jika ia terjatuh hanya dengan tersandung saja. Ia justru malah menendang kaki Siska, hingga kini gadis itu tersungkur, berjungkir balik ketika mendapati tendangan dari Amira.
Semua teman-teman Siska terkejut, bahkan Siska menjerit dan meringis kesakitan, ketika mendapati perlakuan dari Amira. Amira tersenyum tipis dan juga Aris yang lebih terkejut lagi, ketika melihat aksi sahabatnya itu menghadapi gadis terpopuler di kampus, kini tersungkur tepat di bawah Amira.
"Apa yang kamu lakukan Amira? Kenapa kamu begitu kejam kepadaku?" rengek Siska tersenyum di dalam hati, mencoba untuk mencari perhatian pada Rayn yang berdiri tepat di belakang Amira.
Amira mengerutkan dahinya ketika melihat ekspresi Siska yang berubah total dari sifat kejamnya tadi, menjadi berubah seketika ketika ia bahkan terjatuh karena ulahnya sendiri. Namun saat tidak mendapat tanggapan dari Amira ataupun Rayn yang justru malah berjalan melewati mereka tanpa menghiraukan apa yang sedang dilakukan oleh Amira dengan Siska.
Siska membulatkan kedua matanya ketika melihat Rayn yang terkenal dengan ketampanannya dan juga koneksi terbesar di kampus. Rayn malah pergi tanpa menghiraukan Siska. Apalagi memperdulikan tentang Amira yang begitu kejam kepada Siska.
Siska tampak kesal, lalu ia mencoba untuk berdiri dan mendorong Amira, namun Amira mengelak dan menghindari dorongan Siska hingga kini Siska tersungkur, sampai dia terbentur ke pintu ruangan, untuk yang kedua kalinya. Siska kini tersungkur dan membuat lututnya sedikit memar dan tergores. Amira mengangkat sebelah alisnya, dia berjalan mendekati Siska.
"Aku rasa ... kamu memang tidak perlu uluran tangan ya Siska? Kamu lebih terbiasa diabaikan seperti beberapa tahun yang lalukan!" ucap Amira.
Dia tersenyum dan pergi meninggalkan Siska yang kesal, kini Amira memasuki ruangan tanpa menghiraukan Siska yang tampak kesal dan geram kepadanya. Amira berjalan bersama diikuti oleh Aris sahabatnya yang tersenyum penuh kemenangan, melihat kearah Siska yang tersungkur dan terluka begitu saja. Amira kini duduk di kursinya sama dengan Aristi sampingnya.
"Nek! Kira-kira si Rayn itu, akan tidak suka sama kamu gak? Setelah kamu melakukan hal seperti itu kepada Siska? Tapi sepertinya Rayn tidak memperdulikan hal itu, bahkan seperti menyukai kamu!" ucap Aris tersenyum dengan senangnya ia berbicara kepada Amira.
__ADS_1
"Nek, kamu bicara apa saja sih, tadi sama si tampan itu? Kok bisa seakrab gitu?" tanya Aris lagi.
Aris terkejut ketika melihat tanggapan Amira yang menatap tajam ke arahnya, lalu Amira sesekali mengerutkan dahinya ketika semakin dekat, ia menatap Aris yang kini merasa ketakutan ditatap oleh sahabatnya Amira. Meski Aris sudah terbiasa dengan tatapan tajam dan keacuhan Amira. Namun jika dimarahi oleh Amira. Aris akan jauh lebih takut kepada sahabatnya itu yang sangat jago dalam berkelahi.
"Kenapa Nek?" tanya Aris sedikit ragu.
"Sejak kapan aku jadi nenek Kamu?" tanya Amira dengan tegas kepada Aris.
Aris terkejut dan mengurutkan dahinya ketika mendapati pertanyaan dari sahabatnya itu, yang justru diluar dugaannya, ia mengira bahwa Amira akan marah padanya. Namun ternyata tidak sesuai dengan Perkiraannya sahabatnya itu bahkan bertanya hal yang konyol kepada dirinya.
"Entahlah! Aku suka memanggilmu seperti itu Nek," jawab Aris tersenyum. Lalu dia sedikit tertawa menanggapi Amira yang terheran-heran mendengar jawaban Aris.
"Kenapa kau memanggilku Nenek!?" tanya Amira menekan.
"Lalu aku harus memanggilmu apa Mira?" jawab Aris.
"Hmmm, panggil aku Kakak!" tegas Amira tersenyum tipis.
"Hah? Hei gadis? Usiamu denganku tuh lebih tua aku tahu! Harusnya kamu yang panggil aku Kakak!" balas Aris tersenyum dan mencubit pangkal hidung Amira.
Rayn melihat adegan dimana Amira dan Aris begitu dekat, ia tampak geram dan kesal hingga pada akhirnya ia melempar gulungan kertas dan melemparnya ke arah Amira dan Aris yang sedang berbicara.
'Berisik!'
Saat Amira dan Aris melihat tulisan di dalam kertas itu, mereka saling melihat satu sama lain dan melihat ke arah Rayn yang kini memasang wajah acuhnya, namun tidak mengurangi ke tampanannya. Saat keduanya saling menatap satu sama lain, keduanya tersenyum dan tertawa terbahak-bahak tidak mengurangi tawa mereka yang nyaring. Keduanya sengaja melakukan hal yang bersifat larangan.
Rayn yang mendengar dan melihat itu, tampak kesal dan geram mendapati balasan dari adik perempuannya yang malah menertawakannya.
'Gadis nakal! Lihat saja akan kakak kasih hukuman kamu!' batin Rayn.
Saat melihat Rayn tersenyum tipis, Amira berhenti dari tawanya bersamaan dengan Aris dan juga mereka ketika melihat Rayn yang terlihat tersenyum penuh rencana dan kelicikan. Saat melihat kearah kakaknya Amira tersenyum tipis dan memasang bibirnya maju ke depan ia mengecup kakaknya dari kejauhan. Membuat Rayn membulatkan kedua matanya mendapati tingkah adiknya itu.
'Tidak akan tergoda olehmu!' batin Rayn acuh. Mencoba bertahan tidak luluh oleh adiknya.
Saat Aris melihat reaksi Amira yang seperti itu, bahkan Amira tersenyum tertahan melihat tanggapan kakakny. Aris sangat terkejut bahkan terdiam, karena untuk pertama kalinya Amira melakukan hal yang konyol seperti itu. Ia tidak mencoba untuk bertanya lagi untuk menghindari protes dari Amira yang selalu berdalih dalam tuduhannya tentang hubungannya dengan Rayn.
Aris mencoba untuk berhati-hati untuk kali ini, tentang mencari tahu tentang Amira bersama Rayan. Meski ia sangat penasaran kepada sahabatnya itu, yang semakin hari semakin dekat dengan Rayn. Pria tampan di kampus mereka, namun Ia urungkan sebelum mendapatkan kejelasan tentang hubungan Amira dan Rayn. Saat Amira melihat kearah Aris, ia mengerutkan dahinya ketika sahabat prianya itu terdiam menatap lekat ke arah Amira.
__ADS_1
"Ada apa dengan pemikiran di otakmu lagi Aris?" Apa kamu gila?" tanya Amira tersenyum tipis.
"Apaan sini Nek? Yang gila itu bukan aku tapi kamu! Kecupan apa itu yang kamu berikan kepada Rayn?" balas Aris.
"Itu bukan kecupan, tapi itu ledekan!" jawab Amira.
"Mana ada ledekan berakhir dengan kecupan yang sangat manis seperti itu," balas Aris.
"Ya itu terserah pemikiran kamu saja yang berlebihan. Aku tidak ada hubungan apa-apa kok sama dia! Hanya saja antara kita berdua ada hubungan bisnis kecil-kecilan," ucap Amira tersenyum tipis.
"Benarkah? Tapi aku merasa kalian ada hubungan khusus yang tidak bisa dijelaskan namun terlihat jelas," ucap Aris.
"Oh iya. Apa kamu mau ikut kemping nanti denganku?" tanya Amira.
"Kemping ke mana? Tentu saja aku akan ikut apalagi selama ada kamu. Aku pasti ikut," jawab Aris.
"Nih, kamu lusa datanglah ke alamat ini!Nanti akan ada seseorang yang akan menjemput kamu," ucap Amira.
Amira memberikan sebuah kertas berisikan alamat yang ditentukan kepada Aris. Sahabatnya itu tersenyum, saat ia mendapati sebuah alamat, yang selama ini memang tidak pernah harus mengetahui tentang alamat Amira ataupun tempat tinggalnya.
Meski Aris berulang kali mencoba untuk bertanya kepada Amira, namun gadis itu tidak pernah memberitahunya sekalipun meski Aris mencoba untuk mengikutinya, bahkan melacaknya melewati koneksi orang tuanya. Namun itu adalah hal yang tidak bisa ia lakukan selama ini, namun Aris tampak bahagia ketika Amira memberikan sebuah alamat saat ini kepada dirinya.
"Apakah ini alamatmu Nek?" tanya Aris.
"Nanti kamu datang saja ke situ! Tidak perlu bertanya!" jawab Amira.
"Ya ampun Ra ... kamu itu pelit sekali sih cuman ngasih tahu bahwa ini alamat kamu. Memangnya ada apa sih dengan alamat kamu?" protes Aris.
"Kalo tidak mau sini kembalikan!" jawab Amirah.
"Baiklah, aku turuti apapun menurutmu Nek karena kamu adalah sahabat yang terbaik," balas Aris tersenyum.
Aris bahagia dan ia mencoba untuk merangkul Amira. Saat Aris mencoba untuk merangkul Amira sebuah tangan memegang tangan Aris, sehingga tertahan. Aris melihat ke arah belakangnya, ia melihat tatapan tajam dari Rayn yang mencoba untuk untuk mencegah harus menyentuh Amira.
"Astaga ... Kamu terlihat menyeramkan sekali Rayn," ucap Aris tertegun ketika melihat tatapan tajam dari rangkaian.
Rayn menetap Aris, lalu menghempaskan tangan Aris yang sempat mencoba untuk merangkul Amira. Amira hanya tersenyum tipis, ia bahkan senyum tertahan ketika melihat reaksi sahabatnya itu. Bersama dengan kakaknya yang posesif meski kepada dirinya.
__ADS_1
Bagi Amira itu adalah bentuk kasih sayang kakaknya kepada dirinya, meski terlihat sangat di luar dugaan. Namun memang Amira sudah terbiasa mendapati sifat kakaknya itu. Jika ada teman atau seseorang yang mencoba untuk mendekati dirinya.
Bahkan dulu sempat Rayn mengancam seorang pria yang mencoba untuk mendekati Amira. Walaupun Amira begitu ahli dalam karate, namun perlindungan dari kakaknya tidak pernah membuatnya risih ataupun mengurangi kewaspadaannya. Amira selalu menuruti apapun yang dikehendaki oleh Kakak laki-lakinya itu sekaligus kembarannya.