
Prolog Rendi Rara
Di malam hari ada dua pasangan yang sedang berdebat dengan hati dan pikirannya masing-masing.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka.Karena sebuah perdebatan yang menurut mereka sangat tidak bisa di pungkiri kenyataannya.
Rendi dan Rara masih bersiteru dengan pembicaraan mereka.
Rara yang tidak terima, Rendi berbohong padanya tentang pernikahannya.
Begitupun Rendi yang tidak bisa memungkiri semua ucapan Rara.
Di tengah perdebatan mereka berdua.
Mereka berhenti karena ada bunyi sebuah handpone.
Itu ternyata handpone Rara yang berbunyi. Saat Rara melihat handponenya tanda ada panggilan masuk yang ternyata dari ibu Rara di Bandung.
Rara memberhentikan perdebatan mereka dan mengangkat telepon ibunya.
"Asalamualaikum Ibu,gimana kabarnya ibu disana ada apa menelepon Rara biasanya kan Rara yang telepon, Bu," ucap Rara senang.
Rara mencoba menenangkan hatinya dan berbicara setenang mungkin.
"Waalaikum salam Ra,dasar anak nakal apa yang kamu pikirkan hah kamu bahkan menanggung semuanya sendirian saja hah, kalo bukan pamanmu yang memberitahu ibu mungkin sampai mati ibu tidak akan tahu," Bentak ibunya Rara.
Ibu Rara mengomeli Rara hingga membuat
Rara tampak terkejut mendengar perkataan ibunya.
Ia sampai berkaca-kaca air matanya akan tumpah.
Namun Rara tahan dengan mengusapnya.
Rendi memperhatikan Rara yang sedang menelpon dan ia menangis
Sebenarnya Rara bukannya menangis karena ucapan ibunya juga, tapi karena apa yang ia dengar dari Rendi yang air matanya Rara tahan dari tadi.
"Ibu tenang saja tidak ada yang tidak bisa Rara lewati Bu,Ibu tenang saja Rara baik-baik saja dan satu hal lagi Ibu jangan berbicara seperti itu lagi Rara sangat menyayangi Ibu," air mata Rara tumpah ia sudah tidak bisa menahanya lagi.
"Ibu tidak mau tahu sayang kamu harus bahagia biarkanlah lelaki yang telah menyia-nyiakanmu itu pergi, Ibu bersyukur kamu baik-baik saja Ibu hanya berharap kamu bertemu pria yang benar-benar menyayangimu," kata ibu Rara.
Seketika Rara melihat ke arah Rendi yang di sampingnya orng yang akan menyayanginya.
"Sebenarnya sudah ada Bu yang aku rasa aku menyayanginya tapi dia bukan milikku Bu,dia bahkan siuami orang lain," batin Rara menangis.
Rara terdiam melihat Rendi yang juga melihatnya dengan tatapan khawatirnya.
"Nak ... secepatnyalah kamu cari pria yang menurutmu baik,Ibu minta maaf karena kesalahan ibu kamu jadi menderita sekarang Ibu hanya bisa berdoa akan kebahagiaan yang kamu tentukan Nak," ucap ibu Rara.
"Baiklah Bu,oh iya Bu,lusa Rara akan pulang karena cafe akan tutup selama tiga hari Cafe sedang ada hari libur," ucap Rara girang.
__ADS_1
"Baiklah cepatlah pulang Sayang,Ibu menyayangimu," ucap ibu Rara.
"Aku juga sangat menyayangimu Bu," jawab Rara.
Rara mengakhiri sambungan teleponya, ia termenung dalam setiap ucapan ibunya.
Rara berbalik ke arah Rendi
mereka tidak berbicara sama sekali hanya saling menghadap dan menatap.
"Ingin sekali aku memeluknya," batin Rara.
"Ingin sekali aku menciumnya," batin Rendi.
Sampai Rendi mencoba memegang tangan Rara dan Rara menghindar.
"Rendi aku ingin tahu alasanmu ingin aku jadi istrimu?" Tanya Rara.
"Tentu saja karena aku suka kamu," ucap Rendi cepat dan juga ia langsung menatap Rara.
"Hmm, benarkah?"Jawab Rara mengangguk.
"Kalau begitu selesaikan urusanmu dengan istrimu, lagi pula aku masih masa idah tunggulah sampai satu minggu berlalu baru kamu lamar aku," ucap Rara.
Sontak Rendi terkejut bahagia dengan ucapan Rara padanya untuk saat ini ia tersenyum.
"Benarkah Ra bisa,tapi aku masih membutuhkanmu untuk saat ini kan kamu sudah janji mau menambahnya," pinta Rendi memelas.
Rendi juga mengangguk bahagia rasanya ia ingin berteriak kepada semua orang tentang kebahagiaannya saat ini juga.
"Aku pasti akan menyelesaikan semuanya Sayang,pasti," batin Rendi.
Rendi selalu iri dengan panggilan Dilla pada Rara yang selalu melebihi sepasang kekasih itu.
Ucapan sayang selalu mendominan di antara mereka dan Rendi tidak suka itu sampai ia sangat mengharapkan dua bulan cepat berlalu.
Rendi memandang ke arah Rara yang tersenyum padanya.
Saking tidak tahannya Rendi menyentuh dagu Rara dan ia mencium bibir Rara.
Untuk kali ini Rara tidak menolaknya
Ia memejamkan matanya karena mungkin ini yang Rara harus dapatkan membuka hatinya untuk lembaran baru.
Rendi mencium bibir Rara dengan lama, sampai ia menekan kepala Rara untuk memperdalam ciumannya.
Setelah perdebatan yang panjang yang di akhiri ciuman di antara mereka berdua.
Di tengah malam Rara dan Rendi kembali.
Mereka sepakat untuk menjalankan hubungan dengan pelan-pelan.
__ADS_1
Sampai dimana saatnya tiba mereka akan membicarakan kelanjutan hubungan mereka.
*****
Hari ini Rara dan Dilla naik mobil online menuju Bandung.
Dimana disana ada orang tua mereka.
Hanya butuh waktu dua jam perjalanan.
Untuk mereka menuju kampung halamannya.
Setelah mobil terparkir di jalan besar Rara dan Dillapun sampai di tujuan dengan selamat.
Disana mereka sudah di sambut oleh keluarga besar Permana. Mereka yang tahu kabar tentang Rara dan akan kembali langsung berkumpul di rumah Permana.
Rara dan keluarga tampak bahagia saling melepas kerinduan mereka.
Ada banyak pertanyaan yang ingin mereka sampaikan pada Rara yang saat ini sedang tertawa bersama mereka.
Tapi mengingat Rara yang saat ini sudah bisa tersenyum bahagia tanpa ada kesedihan.
Tidak ada yang berani bertanya membahas tentang apa yang Rara alami.
Termasuk kedua orang tua Rara mengurungkan niat mereka untuk bertanya karena putrinya sudah baik-baik saja sudah lebih dari cukup.
*******
Prolog Rendi.
Di perjalanan sudah ada sebuah mobil yang berisi kedua pria yang tak lain adalah Rendi dan Ken.
Entah mau kemana mereka tujuanya mereka tampak memasang wajah sumringah dengan membawa mobil dan menyetel musik yang alunan melodi santai.
Ken melaju dengan kecepatan sedang dan Rendi ia menutup matanya yang dalam pikiranya sudah membayangkan tempat yang akan ia tuju.
Rendi memikirkan cara dan membayangkan wajak kekasihnya Rara yang selama ini mengisi hari- harinya.
Tampak ada sebuah senyuman di balik wajah dinginnya Rendi.
Ken dengan pandangan datarnya mengemudikan kendaraannya, dengan kecepatan sedang tanpa harus mengganggu tuannya tertidur.
"Tunggu aku Sayang,aku akan menemuimu dan melamarmu aku akan pastikan pulang nanti kamu sudah jadi istrikku," batin Rendi tersenyum.
Rendi berencana untuk meyakinkan Rara beserta keddua orang tuanya agar bisa menikahi Rara secepatnya.
Bahkan Rendi sudah mempersiapkan segalanya untuk mendapatkan Rara seutuhnya.
Untuk kali ini Rendi tidak meminta pendapat siapapun termasuk Ken.
Ia mencoba yakin sendiri dalam hal memperjuangkan ke inginan hatinya untuk memiliki hati Rara seutuhnya.
__ADS_1