Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Tak terduga


__ADS_3

Prolog Rendi Rara


Sekitar pukul tiga sore sebuah mobil memasukki perkebunan teh. Dengan jalanan berkerikil mereka memasuki pedesaan. Rendi sempat mengingat kejadian saat pertama kali bertemu Rara yang sedang berlari dengan wajahh polosnya. Rara yang berkeringat juga dengan Rendi yang wajahnya acak -acakan karena prystasi bagi Rendi. Saat itulah yang harus ia abadikan pertama kali bertemu seorang gadis gila yang mengisi setiap bayangannya.


Akhirnya Rendi dan Ken sampai di sebuah villa yang sudah ia sewa sebelum keberangkatan mereka. Saat ini di tengah perkebunan teh


Rendi berjalan menghampiri ken yang sedang memarkirkan mobilnya .


"Ayo," ajak Rendi.


"Tidak istirahat dulu Tuan?" Tanya Ken heran .


"Nanti saja?" jawab Rendi.


Rendi dan Ken berjalan kaki menelusuri jalanan perkebunan teh mereka masing -masing terbawa pikiranya.


Rendi yang mesem-mesem membayangkan Rara yang terkejut saat melihat kedatanganya.


"Bagaimana reaksimu sayang saat kamu tahu aku datang untuk melamarmu," gumam Rendi terkekehh.


Ken hanya menggeleng- ggelengkan kepalanya melihat tuannya yang tersenyum dengan pemikirannya sendiri itu.


Rendi dan Ken berjalan menelusuri jalan perkebunan teh menuju pedesaan yang dimana rumah Rara berada.


Setelah berjalan agak lama Rendi dan Ken akhirnya sampai di gerbang pedesaan. Ada sebuah post di depan mereka. Rendi dan Ken mencoba duduk beristirahat di san.


Dari dalam desa ada beberapa gadis yang menghampiri mereka.


"Aa teh orang mana atuh meni kasep pisan"(Kakak kamu orang mana kenapa ganteng banget)" ucap seorang gadis.


Rendi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan gadis tersebut.


Beberapa gadis itu malah tersenyum sumringah saat mendapati Rendi tersenyum pada mereka.


Mereka tampak ingin berkenalan dengan Rendi juga Ken.


Seorang gadis menghampiri kerumunan dan menerobos masuk pada mereka.


"Ih maraneh teh teu nyaho si aa teh teu ngartieun bahasa maneh.(Kalian tuh tidak tahu bahw dia tidak mengerti bahasa kamu)" teriak Ayu yang menghampiri mereka.


Rendi tercengang saat ada seorang gadis lain yang membentak gadis-gadis lainnya.


Saat mereka berdebat Rendi dan Ken mencoba berbalik dan berjalan meninggalkan kerumunan gadis-gadis tersebut.


Mereka berbalik ke perkebunan teh lagi untuk menghindar dari kerumunan gadis-gadis itu.


Ada tawa di wajah Rendi dan Ken setelah kabur dari kerumunan gadis-gadis desa. Mereka berdua tampak bahagia saat mendapati hal seperti itu.


Prolog Rara


Di sebuah gubuk di tengah pesawahan milik Ayahnya Rara.

__ADS_1


Kini Rara sedang bersenandung sambil melihat ayahnya yang sedang menelusuri pesisian jalanan sawah yang setapak.


Ia melihat bahwa padi sudah siap panen


Ayah Rara menghampiri Rara dan mereka berbincang.


"Ra ... kamu yakin tidak ada yang kamu suka dari para pemuda disini?" Tanya Ayah Rara.


"Ayah tenanglah ayah, Rara sedang menunggu janji seseorang dan setelah ia menepati janjinya nanti pasti akan Rara perkenalkan pada Keluarga kita," jawab Rara tersenyum.


"Baiklah jika memang itu sudah maumu nak,ayah tidak akan memaksamu lagi , ayah menyesal atas apa yang ayah lakukan padamu," ucap Ayah Rara sendu.


"Ayah jangan khawatir Rara malah bersyukur kalau tidak ada kejadian seperti ini mungkin Rara tidak akan tahu kehidupan yang sesungguhnya mungkin Rara hanya akan menjadi perempuan yang tahunya main di kebun teh paman saja," ucap Rara.


"Tapi kamu tetap Rara Ayah yang nakal,dan kesayangan ayah," ucap Ayah Rara memeluk anak semata wayangnya itu.


Di pertengahan kebun teh dipedesaan banyak orang-orang berkerumunan yang saling berbicara dengan nada tingginya.


"Masya Allaah mni kasep pisanya jigana mh lain orang die"(masyaAllaah ganteng banget sepertinya bukan orang sini)" ucap percakapan pemetik teh yang melihat ke arah dua pria yang berjalan menuju arah Desa.


"Raa ... " teriak Dilla.


"Rara ... " ulang Dilla.


Rara yang sedang duduk beranjak berdiri melihat ke arah suara.


Ia melihat Dilla yang berlari di pesisian sawah karena sudah terbiasa bagi kami tidak akan terjatuh. Mungkin saking sudah terbiasanya Dilla sudah dekat sekitar tiga meter dari Rara berdiri.


"Raa ... " teriak Dilla.


"Gawat Ra, mereka mau membawa mereka," ucap Dilla ngos ngosan.


"Ada apa mereka siapa dan apa mereka mereka kenapa?" Tanya Rara penasaran.


"Ih Sayang jelas saja kekasihmu itu," ucap Dilla.


Sontak Rara terkejut apalagi Ayah Rara yang juga menghampiri Dilla.


Rara mengerutkan dahinya memprediksi ucapan Dilla.


"Apa dih kamu ini gilla bicara sembarangan," tangkis Rara.


Rara menyangkal takutnya ayahnya curiga dan ikut menelusuri sampai panjang. Apalagi ayahnya malah seperti penasaran dengan ucapan Dilla saat ini.


Rara menghampiri Dilla dan berbisik.


"Jangan sembarangan ngomong ada ayah gila," bisik Rara.


"Oh oke,ayo jangan sampai mereka di embat Ayu tadi dia sangat ganjen aku lihat," ucap Dilla kembali.


"Ayu mau apa dia bukanya dia sudah mau kawin sama si Agus?" Tanya Rara.

__ADS_1


Mereka berbicara sambil berjalan menuju Rumah


Ayah Rara akan menyusul setelah memadamkan api yang ada di gubuknya.


"Ayo cepat," ajak Rara dan Dilla malah terhenti berjalanya .


"Rara ... " teriak Dilla.


Dilla berdiri dengan pipi kembungnya dan menyilang tangan di dada.


"Apa?" Tanya Rara heran.


"Kamu dari tadi memanggilku gila terus," teriak Dilla.


Rara terkejut dengan ucapan Dilla yang sudah sadar akan ucapannya dari tadi.


Dilla mengejar Rara yang berlari sambil tertawa mereka saling kejar-kejaran dan malah saling menggelitiki satu sama lain.


Rara bahkan lebih banyak tertawa di bandingkan membalas kelakuan Dilla.


Mereka tidak berhentinya bercanda sepanjang perjalanan.


Mereka tidak sadar ada empat mata yang memperhatikan kelakuan mereka dengan wajah sumringah.


Rendi menghampiri Rara dan Dilla yang tidak memperhatikan mereka sampai Rara menabrak seseorang disana.


Buuukk .....


"Upss." Rara menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan berbalik siapa yang ia tabrak itu.


"Sepertinya pacarku bahagia sekali ya sampai tidak menghiraukan kekasihnya disini?" Ucap Rendi tersenyum.


Mata Rara membulat melihat sosok yang ia lihat apalagi saat ia mendengar ucapan pria tersebut dia bahkan menyebut pacar dan kekasih.


"Apa aku bermimpi La?" Tanya Rara.


Rara tak mengalihkan pandanganya pada Rendi yang sedang tersenyum padanya.


Ken dan Dilla hanya memperhatikan tingkah sahabat dan bosnya itu dengan tertawa.


"Aww ... " ringis Rara kesakitan di cubit Dilla.


"Apa yang kamu lakukan padanya?" Bentak Rendi pada Dilla.


"Kenapa kamu membentaku aku menjawab pertanyaan Sodariku," jutek Dilla memelotot.


"Sayang sepertinya ini memang mimpi dia bukan kekasihmu yang lembut itu," ucap Dilla garang.


Dilla menarik tangan Rara yang masih termenung .


"Hei mau kemana kalian?" Tanya Rendi mengikuti Rara dan Dilla.

__ADS_1


Dilla menuntun Rara tanpa mendengar teriakan rendi di belakangnya.


__ADS_2