Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Rencana kembali


__ADS_3

Rendi dan istrinya sedang duduk di gubuk kecil dengan saling memegang tangan kaki ke bawah bergerak-gerak kedepan ke belakang. Mereka melihat ke arah orang-orang yang sedang memanen padinya bersama ayah Rara yang kini sedang melihat para petaninya.


Ada senyum di wajah Rendi saat melihat wajah berseri istrinya yang sedang bahagia menikmati moment bersama suaminya di lingkungan keluarganya beserta pedesaan.


Lain dengan Adam yang kini sedang melihat Nesa yang memandangi pesawahan yang luas di hadapannya. Memancarkan senyuman mengagumi alam yabg ia lihat saat ini.


Adam tersenyum dengan hati menyukai moment saat ini dimana melihat seorang gadis tajam di hadapannya kini terlihat anggun.


Nesa menyadari ada yang memperhatikannya. Ia menoleh ke arah sampingnya dan melihat wajah Adam berada di dekatnya sedang tersenyum padanya.


"Apa? " Tanya Nesa.


"Tidak ada, " jawab Adam.


"Huh dasar pria bodoh, " cetus Nesa.


Adam hanya tersenyum mendengar ucapan Nesa yang sudah terbiasa ia mendengarnya beberapa hari ini. Nesa mendecak kesal saat Adam hanya tersenyum menanggapinya tanpa melihat ke arahnya. Nesa mencoba bangun dari duduknya dan berdiri, namun saat ia mencoba melangkah ia terpeleset karena jalanan sedikit licin dan membuat jalannya tidak seimbang dan ia hampir terjatuh. Adam dengan sigap menangkap tubuh Nesa hingga membuat tatapan mata mereka bertemu tanpa jarak. Adam tersenyum mendapati Nesa yang terdiam saat ia tangkap dan malah asik dengan pikirannya sendiri.


Nafas mereka saling bersahutan. Nesa tertegun saat menghirup nafas Adam yang berasa segar seperti mint karena Adam memang selalu mengunyah permen rasa mint setiap saat.


Adam memandangi wajah wanita di hadapannya dengan senyum dan hati mengaguminya.


Nesa tersadar dan mendorong Adam. Kini Nesa merasa malu dengan apa yang terjadi. Wajahnya berubah memerah mengingat hal barusan yang terjadi. Ia melihat ke arah tuan dan nonanya yang ternyata tidak menyadari hal itu. Mereka sedang sibuk dengan pandangan mereka melihat ke arah para petani. Nesa merasakan panasnya deru nafas Adam saat berada di dekat wajah Adam tadi membuat jantungnya berderu kencang. Ia memalingkan tatapannya dan berdehem. Membuat Adam menjadi salah tingkah.


"Lain kali jangan sembarangan sentuh tubuhku, " cetus Nesa.


"Lalu aku harus sentuh yang mana jika kamu terjatuh lagi? " Tanya Adam.


"Kau tidak perlu sentuh aku, " gerutu Nesa.


"Jadi aku harus biarkan kamu jatuh kesana, " ucap Adam datar.


"Kau... " ucapan Nesa terhenti mengingat setiap ucapan Adam yang baginya terdengar konyol tapi apa adanya.


Nesa berjalan meninggalkan Adam yang kini sedang melihat punggung tubuh Nesa yang meninggalkannya di tengah sawah.

__ADS_1


"Heh, wanita itu biasanya mau sekali aku sentuh tapi dia ini malah nyolot dan terdengar manis, " gumam Adam.


Adam berdiri bersender di tanah pesisian sawah dengan wajah tersenyum mengingat Nesa yang selalu terdengar pedas padanya. Sejak pertama bertemu Nesa memang menunjukan ketidak sukaannya pada Adam. Tapi lain dengan sifat Adam yang pembawaannya kalem. Ia lebih memilih selalu menggoda Nesa di bandingkan harus berdebat kesal karena sifat gadis itu sendiri.


Nesa berdecak kesal karena hal yang konyol Adam yang selalu ia lakukan padanya.


Rara melihat ke arah Nesa yang menggerutj dan mengerutkan dahinya.


"Ada apa Nesa, sepertinya kamu bahagia sekali, "tanya Rara.


Nesa mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan pertanyaan nona mudanya.


"Ada apa dengan Nona ini,memangnya aku terlihat sedang bahagia apa," gerutu batin Nesa.


Rara mengerti dengan tidak pahamnya Nesa akan candanya Rara.


"Heh, Nesa ayo kita pergi kesana. Kita pulang sebentar lagi bersama suamiku saja, " ucap Rara.


Nesa mengangguk. Ia memilih untuk mengikuti nona mudanya yang kini sudah berjalan kembali ke arah suaminya yang masih memperhatikan Rara.


Rendi tersenyum dan merangkul pundak istrinya. Senyumannya tidak terhenti saat istrinya merengkuh tangannya.


"Baiklah ... apa Ayah tidak akan langsung pulang? " Tanya Rendi.


"Ayah harus memperhatikan petani untuk memanen. Dia sudah terbiasa jam segini belum saatnya untuk kembali ke rumah, " jelas Rara.


Rendi mengangguk. Ia melihat ke arah Nesa dan juga melihat Adam yang masih duduk di pesisian sawah.


Rendi memanggilnya dan memerintahkan untuk segera pulang.


Adam mengangguk dan kini mereka sudah berjalan beriringan. Setelah berpamitan pada Ayah Rara.


Rendi menuntun tangan istrinya dalam perjalannya. Berjalan mendahului Adam dan Nesa yang terlihat canggung. Nesa ingin sekali berjalan paling belakang agar ia tidak merasa di perhatikan oleh seseorang yang saat ini berada di belakangnya memperhatikannya dengan ekspresinya yang tidak menentu. Bagi Nesa terkadang Adam menyebalkan dengan segala ucapannya. Ia juga menyebalkan dengan tingkahnya.


"Kenapa pria idiot ini harus ada di belakangku sih? " Batin Nesa.

__ADS_1


Adam berjalan mengikuti Nesa yang sudah terlihat gundah dalam cara berjalan dan berdirinya saat ini. Sesekali ia tersenyum kepada Nesa yang selalu melihat ke arah belakang melihat Adam.


"Wanita ini terlihat lucu saat ia salah tingkah dengan sifatnya yang jauh lebih tidak jujur dari reaksi tubuhnya," batin Adam.


Rara tersenyum dengan tangan di genggam erat oleh suaminya saat ini.


"Sayang, bisakah nanti kita selalu berkunjung kesini? " Tanya Rara.


"Tentu." Jawab Rendi.


Rara tersenyum. Ia mempererat rangkulannya pada lengan suaminya dan kini mereka berjalan menelusuri perkebunan teh yang terbilang jauh dari arah rumah utama Permana.


Rendi merasa kasihan pada istrinya. Tanpa aba-aba. Ia merangkul istrinya dan berjalan menuju rumahnya.


Rara terkejut saat mendapati perlakuan suaminya. Ia meronta dan merasa malu mengingat masih ada Nesa dan Adam di belakang mereka. Meski istrinya protes. Rendi tidak menghiraukan nya dan tetap menggendong istrinya berjalan pulang ke rumah mertuanya.


"Sayang kamu tidak malu, aku bisa berjalan sendiri, " ucap Rara.


"Lalu kau ingin aku menggendong siapa hingga menggendong istriku saja membuatku malu?," Tanya Rendi.


Rara terdiam, ia tifak bisa berkata-kata lagi mengingat tingkah suaminya yang sudah mulai tidak bisa terbaca olehnya. Ia lebih memilih diam dan merangkul pundak suaminya. Menyusupkan kepalanya dengan hati senang karena di manjakan oleh suami yang selalu mencintainya.


Nesa terkejut sekaligus senang melihat moment di hadapnnya saat ini terlihat romantis. Untuk kali ini ia tahu tentang rasa cinta yang sangat manis baginya. Melihat tuan mudanya teramat menyayangi dan memanjakan istrinya.


Ia tersenyum tanpa henti melihat adegan tuan mudanya menggendong istrinya dan berjalan semakin menjauh dan sudah berjarak sekitar tiga meter darinya.


"Apa kau menjadi semakin gila nona pria? " Ucap Adam tersenyum.


"Kau yang idiot tidak bisa melihat kebahagiaan tuannya sendiri yang sedang memanjakan istrinya, " jawab Nesa berdecak kesal pada Adam yang masih tersenyum padanya.


"Apa ku berharap aku juga menggendongmu?" Tanya Adam dengan senyumnya yang masih teelihat tipis menggoda.


"Cih ... aku tidak pernah mau bermimpi di gendong pria seperti orang lumpuh saja, " cetus Nesa.


"Apa ku berani mengatakan Nona muda lumpuh?" Ucap Adam.

__ADS_1


Nesa membulatkan kedua matanya dan mengutuk mulutnya yang berani mengatakan hal itu tentang nona mudanya. Ia melihat ke arah Adam yang sedang tersenyum padanya. Nesa berdecak kesal. Ia menginjak kaki Adam dan berjalan lebih cepat mengejar tuannya yang sudah berjarak jauh mendahului mereka.


Adam tersenyum saat mendapati kekesalan Nesa. Apalagi saat kakinya di injak dengan tenaga yang banyak. Tidak membuatnya meringis merasakan sakit tapi malah tersenyum melihat kekesalan wanita di hadapannya saat ini.


__ADS_2