Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Kejutan Keluarga Anggara


__ADS_3

Di tengah pesta keluarga besar Anggara mengadakan Acara peresmian perusahaan yang sukses di Singapore.


Kini keluarga Anggara tampak banyak tamu pengusaha-pengusaha besar dan ada juga yang datang dari Luar Negeri.


Rara tampak sedang asik memakan buah buahan yang di sediakan Doni koki andalanya khusus menyediakan buah-buahan untuk Rara.


Ia tampak tidak menghiraukan keramaian di rumah besar tanpa harus mencoba mengenali mereka.


Ada empat pasang mata yang memperhatikan Rara di kejauhan, tempat dimana Rara berada.


Ada Doni seorang Koki dan juga Ken yang di tugaskan untuk selalu memperhatikan Rara.


Doni tampak tersenyum memperhatikan cara nona mudanya yang dengan atau tanpa memperhatikan kebersihan dulu.


"Nona muda ini dia bahkan tidak memperhatikan apa yang ia masukan pada mulutnya untung aku sangat teliti memastikan kebersihanya tadi dia sangat cantik dengan wajah polosnya kenapa dia malah semakin manis ya apa wanita hamil memang semanis itu," gumam Doni.


Doni memperhatikan tanpa mengalihkan pandanganya. Ia tahu batasan juga dia hanya berpikir akan melindungi nona mudanya saat di rumah besar ini. Karena saat itu hanya nona mudanya yang bersikap baik dan menganggapnya manusia.


Makanya Doni tidak pernah luput mengalihkan pandanganya pada nona mudanya alih-alih ada yang di perlukan oleh nona mudanya itu.


Ken memperhatikan nona mudanya dengan seksama,ia bahkan berkhayal yang bukan-bukan. Karena Rara nona mudanya yang sangat polos di tengah keramaian pesta ini.


Padahal banyaknya tamu kalangan Elit. Rara yang menjadi menantu sekaligus istri pengusaha


tampak tidak berheming ia bahkan hanya memakai kerudung putih dan dres warna abu muda juga mengenakan syal silver.


"Nona muda sangat cantik dengan alaminya ia bahkan sangat manis, pantas tuan selalu ingin menciumnya seperti nya memang manis," batin Ken ia tersenyum.


Ken memperhatikan tanpa mengalihkan perhatianya ia mencoba akan mencegah sesuatu bila ada yang terjadi.


Tampak ada wanita muda yaitu Lola dan juga mamahnya Ita menghampiri Rara.


"Apa yang mau mereka lakukan disana?" Ucap Ken.


Lola dan mamahnya menghampiri Rara yang sedang asik memakan buah-buahan.


"Tampaknya ada seseorang yang tidak pernah menemukan makanan di asalnya," celetuk Lola.


"Ya sepertinya buah -buahan saja tidak mampu ia beli," jawab mamah Ita.


Rara menoleh ke arah mereka ia tersenyum.


"Dimana-mana orang yang doyan dan suka itu, berarti dia mampu membelinya dan itu sudah kebiasaanya, lain dari orang yang tidak menyukainya dari ia yang tidak suka bisa jadi karena ia tidak mampu memilikinya," ucap Rara.


"Apa kamu pikir aku tidak sanggup membelinya?" Bentak Lola.


"Memang ada bilang kamu?" Jawab Rara.


"Jelas sekali kamu tadi mengatakan aku tak mampu memiliki apa maksudmu?" Teriak Lola.


"Sebaiknya pelankan suaramu nanti akan ada senjata datang menusukmu," ucap Rara.


"Besar kepala sekali kamu hah, semua sedang sibuk termasuk suamimu jadi kalaupun kamu kenapa-kenapa tidak akan ada yang menolongmu," ucap Lola.


"Memang kalian berani buat apa padaku," ucap Rara.


"Kamu," Lola geram dan kesal padanya hingga mau menumpahkan jus buah pada Rara.


Tapi tanganya tertahan dan jusnya tumpah di baju Lola.


Doni yang mendahului Ken.Ken tampak heran dengan tindakan pelayan itu.


Doni yang menumpahkan jus pada Lola ia tersenyum dan beralih melihat Rara.


"Nona muda anda tidak apa-apa saya kemari ingin menanyakan apa anda masih memerlukan sesuatu?" Tanya Doni.


"Aku ingin semua buah-buahan yang ada di sini dan memakanya," ucap Rara tersenyum.


"Permintaan nona muda segera datang," ucap Doni tak menghiraukan Lola yang sedang kesal padanya, plakk suara tamparan keras pada Doni dari mamah Ita.


"Dasar pelayan busuk,kau berani menumpahkan jus di baju putriku hah dia nona mudamu," teriak mamah Ita.


"Saya tidak menumpahakan jus pada nona lola, nyonya anda tidak melihat gelas jus itu bahkan di pegang oleh nona Lola," ucap Doni.


"Kamu bahkan membantah aku akan memecatmu saat ini juga," ucap Mamh ita.


"Siapa yang akan berani tante?" Ucap Rara.


"Kamu pikir aku tak berani," ucap mamah Ita.


"Atau Anda, ingin saya mengatakan kalau anak anda mencoba menyiram saya tadi?" Ancam Rara.


"Siapa yang akan mendengarkanmu?" Bentak mamah Ita.


"Saya bisa jadi saksi," ucap Ken dari belakang ibu Ita.


Lola dan mamahnya terkejut dengan perkataan Ken. Yang tiba-tiba datang mereka terdiam dan pergi dengan wajah kesal Lola yang dalam keadaan basah gaunnya.


Rara melihat ke arah Ken dan Doni ia tersenyum bisa ada dua pria tampan muda yang berdiri di hadapanya.


"Masih tampanan suamiku," batin Rara tersenyum.


"Nona anda tidak apa-apa?" Tanya Ken yang terlihat tersenyum bukanya tertekan ia tetap santai tanpa merasa takut.


"Memang aku kenapa ada kalian mana berani aku kenapa-napa," ucap Rara tersenyum .


Dari kejauhan Rendi yang sedang berbincang dengan para pengusaha. Sekali-sekali ia melihat istrinya yang tadi ia tinggalkan terduduk di dekat arah kamar mandi. Karena itu yang Rara minta karena ia sering buang air akhir-akhir ini.


Di kala Rendi melihat istrinya sedang berhadapan dengan dua pria sekaligus. Ia malah tampak tersenyum pada pria itu yang tak lain adalah Ken dengan jas hitamnya dan juga Doni dengan pakaian memasaknya,yang di ikat di bawah pinggangnya.


Doni yang memakai kaos putih dan kemeja yang di ikat di pinggang.


Rendi merasa risih ia bergegas menghampiri Mereka apalagi di saat Rara tersenyum manis pada mereka.

__ADS_1


"Sayang apa kamu lapar?" Tanya Rendi yang tiba-tiba saja ia menyelip di antara mereka bertiga duduk dan merangkul bahu istrinya.


"Memang apalagi yang belum aku masukan untuk anakmu ini aku seperti tidak kenal kenyang memasukan makanan terus makanya aku padukan dengan buah-buahaan agar ia tak merasa bosan," ucap Rara cemberut.


"Uuh, ingin ku cium kamu Sayang," batin Rendi ia tersenyum gemas melihat pipi istrinya dan bibirnya yang kembung.


Doni dan Ken yang melihat itu memilih pergi dari sana tapi tidak mengalihkan perhatianya pada tuan dan nona muda mereka.


"Sebaiknya jangan dekat-dekat dengan Nona muda!" Ancam Ken.


"Kalau Nona muda yang mendekatiku," jawab Doni.


"Jangan besar kepala kau anak muda," ucap Ken geram.


"Hahaha,yang pasti aku akan tetap berada di dekatnya," ucap Doni tertawa dan menjauhi Ken.


"Dia tampak tidak beres," ucap Ken.


"Kamu juga tidak beres," tangkis Dilla dari belakang Ken.


"Kenapa ?" Tanya Ken.


"Karena sampai saat ini kamu tidak melamarku," ucap Dilla


mengembangkan pipinya.


"Hhmmm tunggu waktu yang tepat," ucap Ken.


"Kapan?" Tanya Dilla.


"Kamu mau nikah mau apanya,tidurnya denganku?aku siap?" Tanya Ken tersenyum.


"Iiiih kamu mesum aja aku hanya tidak mau berlama-lama pacaran saja karena itu tidak baik," jelas Dilla.


"Nanti aku usahakan secepatnya kamu tetap wanitaku Dilla," ucap Ken.


Dilla yang mendengar itu ia tersenyum sumringah.Ia tahu betul sifat kekasihnya itu. Jadi Dilla hanya harus menunggu sebentar saja untuk mencapai puncak kebahagiaanya.


Rendi yang menemani Rara saat ini kahawatir terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil tua ini.


Ia tampak memandang istrinya tanpa teralihkan ia senyum senyum, terkadang menusuk pipi istrinya yang sedang memakan buah-buahan.


Sebenarnya Rendi lebih khawatir lagi jika ada seorang Doni lagi yang mendekati istrinya ini.


"Duh aku harus ketolilet dulu Sayang," ucap Rara mengaduh.


"Aku antar ya," ucap Rendi cemas.


"Tidak usah kau pria masa pipis saja aku harus diantar," bantah Rara.


"Tapi kamu bisakan?" Tanya Rendi.


"Bisa," ucap Rara ia berdiri dan berjalan perlahan seperti berat melangkah Rara pelan -pelan ia masuk ke toilet.


Rara yang menyadari ada bercak bening di pahanya ia mengusapnya dengan tisu.


"Ko seperti ini pipisnya?" Gumam Rara.


Terdengar ketukan dari luar pintu itu suaminya.


Rara membereskan pakaianya dan berjalan kembali. Kali ini ia memegang tangan suaminya seperti ada yang menjalar di perutnya ia menahan dan meremas tangan Rendi.


Rara berkeringat Rendi yang melihat istrinya seperti sedang menahan sesuatu ia cemas.


"Sayang kamu kenapa apa ada yang sakit?" Tanya Rendi.


"Hmmm perutku sakit sekali apa ini mau lahir?" Ucap Rara terengah seluruh tubuhnya berkeringat.


Dengan cepat Rendi memanggil Ken dan juga pengawal agar mendorong istrinya ke mobil dan pergi ke rumah sakit.


Rendi yang mulai cemas melihat istrinya yang sedang meringis walau Rara tidak histeris tapi tampak jelas. Bahwa Rara sedang menahan sakit dari raut wajahnya dan keringat yang bercucuran.


Keluarga besar yang mendengar itu termasuk nyonya besar bergegas pergi ke rumah sakit.


Didalam sana Rara sedang membaca Doa agar persalinanya lancar.


Begitu pula Dilla di luar ruangan ia berdoa dengan cemas ia meremas tangan Ken yang sedang diam disana juga ada Doni yang tadi ikut mengangkat Rara.


Rara yang sudah memakai pakaian pasien dan rambut yang di gelung ke atas di sampingnya sudah ada suaminya yang menemani Rara meminta agar melahirkan normal.


"Mari Nyonya bersemangat jangan di tahan ya bila sudah mulas anda tarik nafas dalam dan buang ," ucap Dokter wanita yang menginstrukskan pada Rara .


Rendi yang menemani Rara tampak cemas gemetar ia cemas melihat wajah istrinya yang semakin berkeringat.Ia tampak bersemangat untuk segera mengejan dan menarik lengan suaminya.


Sekali Rara mengejan masih belum terlihat hingga Rara menggigit lengan suaminya.


Sampai yang ketiga kali baru terdengar suara tangisan bayi yang melegakan.


Rendi yang mendengar suara tangisaan anaknya ia terjatuh dan pingsa.


Tentu saja semua orang di dalam ruangan terkejut dengan apa yang terjadi. Mereka terkejut karena ternyata malah suami pasien yang pingsan.


Rara yang melihat suaminya pingsan ia terkejut.


"Apa aku mengigitnya hingga kehabisan darah yah dia sampai pingsan," ucap Rara.


"Uuuuh Dokter kenapa aku sakit lagi?" Tanya Rara.


Dokter yang mendengar itu memeriksa kembali Rara. Dokter itu terkejut ternyata masih ada bayi di sana.


"Mari Nyonya satu kali lagi, ternyata masih ada satu bayi lagi," ucap Dokter itu tersenyum senang .


Rara yang mendengar itu semakin bersemangat kembali. Ia harus menyambut anak keduanya ini yang membuat Rara tambah bahagia.

__ADS_1


Nyonya Ratih yang duduk dengan cemas ia memegang tangan suaminya dengan raut wajah yang tidak hentinya berdoa.


Dokter keluar dan menghampiri keluarga.


"Dok bagaimana menantu saya dan bayinya?" Tanya ibu Ratih.


"Semua berjalan lancar," jawab Dokter tersebut.


Ken yang duluan masuk bersamaan keluarga utama nyonya Ratih dan tuan anggara.


Mereka mendekati Rara yang sedang tersenyum ke arah mereka dan melihat Rendi yang tertidur di sofa.


"Rendi ini masih sempatnya dia tidur," ucap ibu Ratih.


"Dia tidak tidur tapi pingsan," ucap Rara lesu.


"Apa?" Teriak semua orang termasuk Ken.


Ia tak percaya tuannya yang gagah bahkan dia lebih tinggi darinya kini pingsan.


"Badan segede ini pingsan?" Ucap Dilla.


"Dia pingsan saat mendengar tangisaan bayi," ucap Rara.


"Kamu pasti lelah Sayang istirahatlah," ucap ibu Ratih.


"Dimana bayimu Ra?" Tanya Dilla.


"Mereka disana," jawab Rara.


"Apa maksudmu mereka?" Tanya Dilla.


"Ya mereka berdua bayiku," jawab Rara tersenyum.


"Anakmu kembar Sayang, Alhamdulillaah aku kira karena kamu tunggal dan Rendi juga satu kamu tidak akan bisa melahirkan kembar," ucap Dilla.


"Alhamdulillah terimakasih sayang, mamah sangat bahagia kamu mengabulkan doa mamah yang selama ini tidak mungkin terjadi mamah tidak mau cucu satu," tangis ibu Ratih ia sangat bahagia.


"Alhamdulillaah Mah, ini kejutan dari Allaah mah karn Rara selalu meminta lebih dari dua anak agar keluarga kita ramai," lirih Rara.


"Kamu memang yang terbaik Sayang," ucap ibu Ratih.


Mereka melihat ke tempat dimana si kembar berada. Sungguh kejutan yang sangat besar yang pernah di berikan seorang menantu bagi keluarga Anggara dua bayi kembar cewek cowok yang sangat cantik dan tampan.


Ken memperhatikan tuanya yang sedang pingsan. Ia menggunakan minyak angin agar tuannya bisa sadar, tapi ternyata tidak berhasil. Ia melihat lengan tuanya berdarah dan membalutnya dengan hati-hati.


Kini Rara yang melihat Ken sangat memperhatikan tuannya itu. Ia melihat ke arah Dilla dan mertuanya yang tampak bahagia melihat anaknya. Rara memejamkan matanya ia merasa lelah dan tertidur.


"Raaaa kamu kenapa ra," teriak Dilla.


"Raraa." Dilla menangis.


"Kamu berisik aku mau istirahat," bentak Rara.


"Hah, kamu masih hidup, oh Rara sayang jangan mengagetkanku aku takut," ucap Dilla memeluk Rara.


"Justru kamu yang membuatku mati," cetus Rara.


kini Rara tertidur ia tampak kelelahan Rendi yang masih belum terbangun Ken masih berusaha membangunkanya.


Rara yang sepertinya teringat sesuatu ia terbangun dan berteriak.


"Hei Rendi Anggara kalau kau tidak bangun dan mengadzankan anakmu akan aku cium Doni dan menikah denganya," teriak Rara.


Semua orang yang ada di dalam tampak terkejut mendengar ucapan Rara.


Rendipun terbangun mendengar itu saat mendengar nama Doni.


Rendi sangat sensitip karena hanya Doni yang selalu Rara bela ia tidak mau kalau Rara selalu mengutamakan Doni yang bukan siapa-siapanya.


"Sayang jangan Sayang, aku janji tidak akan memecatnya kamu jangan pergi dan juga jangan menciumnya ciumlah aku sesuka hatimu aku rela dan ikhlas," teriak Rendi.


Teriakan Rendi membuat semua orang tertawa terkecuali Ken ia tampak cemas dengan keadaan tuanya itu.


"Apa di ancaman tuan?" Batin Ken.


Rendi berdiri dan ia terkejut bahagia bahwa ternyata bayinya dua,ia sangat bahagia hingga menangis ia mengadzani anak pertamanya dan yang kedua.


Rendi menghampiri istrinya mencium dan memeluknya.


"Kamu memang bidadariku sayang, terimakasih aku sangat sangat mencintaimu jangan pernah meninggalkan aku," lirih Rendi.


Rara yang tidak pernah periksa kandungan tentang mengandung kembarnya juga. Ia bahkan tidak ingin tahu jenis kelamin bayinya. Di sela ia periksa kandunganya ia tampak bahagia melihat mertuanya enggan pergi pulang .


Mereka hanya menemani Rara dan si kembar di sana.


Dilla dan Ken menunggu di luar ruangan Doni yang masih terduduk di luar ia berdiri dan bertanya tentang nona mudanya.


"Bagaimana Nona muda apa mereka baik-baik saja?" Tanya Doni.


"Ya kau boleh kembali," ucap Ken.


"Aku akan berjaga disini," ucap Doni.


"Tidak perlu sudah ada penjaga," jawab Ken.


"Tapi aku akan tetap menunggu disini sampai Nona muda pulang," tegas Doni.


"Kamu ambilkan makanan buat nona mudamu makan dia kelihatan tak bertenaga," ucap Ken.


"Benarkah baiklah aku akan bawakan makanan untuknya agar cepat sembuh," ucap Doni bahagia dan ia bergegas kembali kerumah besar.


Ken yang melihat Doni pergi tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2