
Di malam hari.
Rara menghampiri suaminya dan duduk sedang memakan makan malamnya.
Mereka tidak ada perbincangan di saat makan.
Hanya Rendi yang semakin asik tak henti-hentinya memandangi istrinya itu sampai membuat Rara salah tingkah.
"Apa kamu selalu seperti ini dengan mantan suamimu dulu?" Tanya Rendi.
Rara mendongak dengan pertanyaan Rendi dan ia hanya tersenyum melanjutkan makannya.
Rendi yang mendapat jawabanya seperti itu mendapati hatinya yang geram dan kesal rasanya ia mau mematahkan sesuatu.
"Kamu bahkan tersenyum di saat aku bertanya tentang mantan suamimu itu," batin Rendi geram.
Setelah makan malam mereka selesai Rara membereskan dan mencuci piring. Lain dengan Rendi ia yang hanya mengenakan kaos putih dan celana hitam pendek
Rendi berdiam diri menonton tv dengan hati kesalnya karena jawaban istrinya tadi.
Rendi tidak memperhatikan istrinya yang melihatnya heran.
Rara lebih memilih pergi ke pinggir kasur dan memainkan handponenya tidak menghiraukan suaminya yang sedang marah padanya.
Rendi yang tidak mendapat bujukan dari istrinya.
Ia kembali ke kamar dan ia melihat istrinya sedang memainkan handponenya.
Rendi duduk di samping Rara berharap istrinya membujuknya.
Ia memainkan handponenya juga dengan serius.
Rara menghampiri Rendi mendekatinya samapi wajah Rara menyentuh bahu Rendi yang diam.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Rara.
"Apa kamu tidak melihat aku sedang apa," jawab Rendi dingin.
"Ada apa denganya kenapa jawabanya seperti itu," batin Rara.
"Apa kamu belum mengantuk?" Tanya Rara kembali.
"Belum." Rendi masih dingin dengan suasana kesal di hati.
"Hmm baiklah," ucap Rara
Rara berpindah dari duduknya menuju ke pinggir kasur menarik selimutnya dan ia hendak tidur.
Rendi yang kesal pada istrinya ia segera menarik selimut yang istrinya pegang dan ia menarik istrinya sampai menindihnya.
"Ada apa?" Tanya Rara.
Rara yang di tindih suaminya wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja yang membuat jantung Rara semakin menderu kencang.
Rendi yang sepertinya memanas di dadanya saat ia menghirup harum tubuh istrinya ia berkata.
"Mari kita lakukan malam yang tertuda," ucap Rendi
Rendi memandang Rara seperti ingin memakan sesuatu saja ia memandang Rara dengan deru nafas berat.
__ADS_1
"Aku aku ... " Sebelum Rara menyelesaikan perkataanya
Rendi menutup bibir istrinya dengan bibirnya.
Rendi mencium bibir istrinya namun tidak ada balasan dari istrinya.
Ia tetap menciumnya tanpa henti sehingga nafas mereka habis. Rendi melepas ciumannya.
Mereka saling pandang dan Rendi seperti menunggu jawaban dari istrinya.
Rendi berharap istrinya berkata sesuatu.
Rara tersenyum melihat suaminya dan ia mengerti maksud suaminya.
"Bismillahirohmanirohim karena ini kewajiban bagi kami yang sudah sah suami istri," batin Rara.
Saat mendapat persetujuan dari istrinya Rendi kembali melakukan ciumannya pada istrinya.
Kini Rara mencoba untuk membalas ciuman suaminya meski kaku.
Ia merasakan dan mendengar debaran jantung istrinya yang menggebu terdengar debarannya yang kencang. Begitupun Rara mendengar deruan nafas suaminya yang terengah-engah dengan panas membara di dada.
Mereka berpadu kasih sepanjang malam walau sebenarnya masih ada dalam benak Rendi memikirkan tentang istrinya saat ini yang kenyataannyamengharukan baginya.
"Apa ini, dia masih perawan?" Batin Rendi terkejut.
Rendi melihat ke arah istrinya yang memejamkan kedua matanya
Rendi menyesali apa yang ia pikirkan tadi terhadap istrinya dan sempat geram padanya.
Ia sempat berpikir bahwa istrinya sudah berpengalaman dalam hal ini.
Jauh lebih baik dari mantan suaminya itu.
Karena di saat acara keluarga kemarin, Nia bahkan menuturkan bahwa Rendi tidak memuaskanya sama sekali.
Padahal Rendi juga belum pernah menyentuh wanita manapun,termasuk mantan istrinya Nia.
Tapi ternyata Rendi salah telak terhadap istrinya bahwa Rara masih perawan dan sangat suci.
Rendi terdiam sejenak dan mencium kening istrinya ia mencoba untuk tidak menyakiti istrinya.
Dalam hal ini Rendi tidak ingin menyakiti istrinya apalagi meninggalkan kesan buruk pada istrinya. Sesudahnnya
Rendi memandangi wajah istrinya yang sudah tidur terlelap kelelahan.
"Aku sungguh beruntung dan bahagia memilikimu bidadariku," batin Rendi.
Rendi tersenyum ia berkali-kali mencium kening istrinya.
Rendi memeluk istrinya dan menutup mereka dengan selimut.
Mereka tidur setelah aktivitasnya di karenakan lelah.
Terdengar dering telepon dari meja pinggir ranjang Rendi.
Ia yang baru saja memejamkan matanya untuk tidur terbangun kembali karena sebuah telepon yang mengganggunya di malam hari.
"Jika tidak penting akan aku bunuh siapapun yang meneleponku," gerutu Rendi.
__ADS_1
Rendi mengambil handponenya dan mengangkat teleponnya dengan wajah mengantuknya.
"Hmm," ucap Rendi menerima telepon.
"Aku akan kesana dalam tiga hari ini apa perlu aku membawa berkasnya secepatnya?" Tanya Mark di sebrang teleponnya.
Rendi terduduk ia membulatkan kedua matanya dan berdiri mendekati jendela kamarnya dan membukanya.
"Apa kamu serius? Pastikan dengan teliti," ucap Rendi.
"Semua sudah sesuai ke inginanmu,bagaimana apa aku perlu secepatnya kesana?" Tanya Mark.
"Tidak perlu ! Lakukan sesuai rencanamu saja, nanti aku akan menemuimu jika sudah sampai," ucap Rendi menutup teleponnya.
Tanpa menunggu jawaban dari sebrang teleponnya.
Rendi menutup sambungan teleponnya.
Ia memasang senyum di wajahnya setelah menerima telepon dari sahabatnya Mark.
Mark yang dari Singapore sahabat lamanya Rendi saat ia tinggal di Jerman bersama Ken.
Mark yang mengajarkan Rendi segala kemampuan dalam bela diri hingga Rendi malah berbalik menjadi lebih kuat dari Mark dan menjadi panutan Mark.
Rendi terdiam merenungkan setiap rencana menyerang balik akan kelakuan seseorang terhadapnya di masa lampau.
Rendi tinggal di Indonesia hanya untuk mengalihkan perhatian seseorang padanya.
Rendi tersenyum licik saat mengingat kejadian yang menimpah seseorang.
Rendi yang sedang duduk di kantornya melihat berita bahwa kelurgaa pengusaha terbesar internasional.
Telah terpecah belah hanya dalam satu malam mereka saling beradu kekuatan walau dengan saudara sedarah juga.
Dalang di balik ke hancuran keluarga tersebut adalah Rendi yang duduk manis di Indonesia.
Ada senyum di balik ingatanya saat Rendi mengingat berita tersebut.
Rendi mengingat akan raut wajah seseorang yang menjijikan baginya.
Orang yang telah merusuhkan keluarga Rendi sebelum Rendi mampu berdiri sendiri dengan usahanya.
Setelah satu jam lamanya Rendi terdiam dengan bayangannya.
Ia melihat ke ranjang dimana wajah polos lembut istrinya sedang tertidur lelap karena dirinya.
Rendi berjalan menghampiri istrinya berada dan dudukk di sampingnya.
"Kamu sangat manis Sayang,bisakah kamu selalu ada di sampingku ? Aku yang tidak baik untukmu ini. Walau ada banyak bahaya yang mengelilingiku aku akan pastikan kamu aman sayang," gumam Rendi.
Rendi mengusap pucuk kepala istrinya.
Ia berulang - ulang mencium kening istrinya.
Rendi masih memandangi wajah damai istrinya dengan pandangan mengagumi kecantikan dan kelembutan istrinya ini.
Rendi menarik selimutnya menutupi tubuhnya juga tubuh istrinya dan tertidur memeluk istrinya
hingga trik matahari dari sela jendela menyinari mereka.
__ADS_1