
Prolog..
Di pagi hari. Rara sudah bersiap untuk pergi ke Cafe bersama suaminya yang kini sudah berpakaian rapih untuk pergi ke kantor. Rara tersenyum saat melihat dasi yang terpasang di kerah pakaian suaminya agak rapih di banding yang kemarin-kemarin.
Saat Rara sampai di depan Cafe sudah terlihat Cafe yang sudah buka sangat ramai dengan pengunjung. Seorang gadis berhijab terlihat bolak balik melayani pengunjungnya.
Yang di ikuti pelayan pria yang juga melayani pengunjung untuk berfoto-foto. Pintu masuk terbuka seorang gadis dengan pria di sampingnya menghampiri meja kasir
"Asalamualaikum," salam Rara berbisik kepada Dilla.
"Waalaikum salam Sayang, akhirnya kamu kembali kita sangat merindukanmu," Dilla memeluknya.
"Kamu saja yang rindu," celetuk Ken.
"Biarin," jawab Dilla menjulurkan lidahnya pada Ken.
"Ternyata kamu ku gajih untuk seperti ini ya" ucap Rendi dingin pada Ken.
"Saya Tuan," jawab Ken.
"Kalau begitu kamu gantikan saja Istriku disini!" Pinta Rendi kembali.
"Eeeeeh gak bisa seperti itu Sayang." Rengek Rara.
"Huh, mentang-mentang udah jadi suaminya seperti yang berkuasa saja," ledek Dilla.
"Hei gilla," bentak Rendi.
Dilla terdiam mengejek saat Rendi membentaknya. Ia juga membuatkan kopi panas untuk Ken.
"Dia memang udah berkuasa gila Sayang," bisik Rara.
Dilla menggidikan bahunya.
"Kamu bahkan ketularan Saudaraku ya, memanggilku gila huh," teriak Dilla.
"Maaf Sayang,biarkanlah suamiku ini ayo kembali," ajak Rara.
Rara meninggalkan Rendi dan Ken yang sedang minum kopi di meja depan kasir. Rara dan Dilla sedang di sibukan dengan para pengunjung yang semakin bertambah banyak. Raut wajah Rara dan Dilla terpancar senyum ramah di setiap pelayanannya
Mereka kembali beraktivitas seperti biasa di sibukan dengan para pengunjung dan pesananan setiap pelanggannya. Begitupula Rendi dan Ken kembali ke kantor mereka. Mereka menguruskan setiap ptoyek yang sedang berjalan lancar untuk saat ini.
Rendi di sibukan dengan setumpuk berkas laporan yang ia tinggal selama beberapa hari.
__ADS_1
Kalau bukan Ken yang sudah menghandle tidak tahu sebanyak apa dokumen-dokumennya saat ini.
Saat Rendi mendalami keseriusan dokumen yang ia periksa. Terdengar suara ketukan seseorang di luar pintu. Ketukan yang membuyarkan ke seriusan Rendi.
Ia mendongakan kepalanya dan ia terkejut dengan apa yang ia lihat.
Ada Nia yang sedang berdiri berpakaian sexsi belahan dada yang memperlihatkannya terbuka, juga belahan di paha kanannya ia menghampiri Rendi.
Kini ia sudah melahirkan ia terduduk di pangkuan Rendi dengan tidak tahu malunya.
"Bukankah kamu ingin tahu rasanya tubuhku?" Tanya Nia membelai wajah Rendi.
Rendi masih terdiam melihat kelakuan Nia yang tidak tahu malu.Ia mengerutkan dahinya tersenyum licik
"Marilah Sayang, kita bersenang-senang," goda Nia.
Rendi masih diam dengan tingkah Nia yang mencoba menggodanya.
Dulu mungkin Rendi tidak sadar jika pernah mencoba akan menyentuhnya. Tapi untuk kali ini ada bidadari di kehidupannya dia sudah tidak membutuhkan seorang Nia yang ada banyak di dunia ini.
Ia juga terbangun dan menjatuhkan tubuh Nia hingga tersungkur.
"Ternyata kamu masih sama seperti dulu menjijikan," ucap Rendi dingin.
"Kamu ... tidak takutkah Ayahku mengambil kembali sahamnya,aku ingin tahu wanita murahan mana yang berani menikahimu," teriak Nia.
"Plaakk...."
Rendi menampar Nia. Dengan segala kekesalannya selama ini juga hinaannya pada istrinya yang sering Nia lontarkan untuk istrinya.
"Sebaiknya mulut menjijikanmu ini kamu jaga,sekali saja kamu mendekati apalagi menghina istriku aku pastikan hidupmu akan sia-sia," ancam Rendi.
Rendi menekan telepon untuk menghubungi keamanan dan membawa Nia keluar dari ruangannya.
Tidak lama saat Nia mencoba untuk mendekatinya sebelum sempat untuk berbicara. Para penjaga keamanan sudah datang dan membawa paksa Nia untuk keluar.
"Kalian seret wanita sialan ini," Rendi singkat.
"Rendi kamu akan menyesal memperlakukanku seperti ini akan aku pastikan hidupmu tidak pernah bahagia," teriak Nia meninggalkan Ruangan.
Rendi tersenyum saat melihat kepergian Nia yang sudah di bawa petugas ke amanan. Ia mengambil handponenya menekan kontak yang bertulisan Bidadariku. Ia tersenyum sumringah saat mendengar suara istrinya yang sedang bertanya padanya.
"Sayang tolong aku ... " ucap Rendi tersenyum.
__ADS_1
Rara yang mendapat telepon dari suaminya ia terkejut. Ada apa dengan suaminya.
Ia bergegas menuju kantor suaminya yang tidak perlu waktu lama untuk sampai.
Hingga ia bertemu Ken yang tampak terlihat panik. Akibat dari kekonyolan tuannya Ken juga harus berpura-pura ikut khawatir melancarkan aksi konyol tuannya.
Rendi merebahkan kepalanya ke belakang kursinya. Ia tersenyum mendengar suara panik istrinya yang langsung menutup telepon dari nya.
"Dia pasti sudah berlari untuk kesini," gumam Rendi tersenyum.
Rendi berpindah duduknya memposisikan merebahkan tubuhnya di sofa ruangannya dan menutup kedua matanya. Tidak lama ia terbangun kembali dan mengambil handeponnya dan menelepon Ken yang ada di ruangannya. Ia menyuruh Ken agar antisipasi jika istrinya datang. Rendi berulang kali menelepon Ken ,juga untuk memerintahkan Ken agar ber akting menjalankan rencananya dengan lancar.
Dalam ke adaan berlari dengan nafas terengah-engah. Rara membuka pintu ruangan Rendi. Ia melihat Rendi terkulai memejamkan matanya di sofa Kantornya. Rara membulatkan kedua matanya berjalan menghampirinya.
"Ada apa Sayang, kamu kenapa,apa kamu sakit?" Tanya Rara.
Tidak ada jawaban,suaminya masih memejamkan matanya. Ia menahan senyumnya. Ada rasa sangat bahagia di hati Rendi melihat reaksi istrinya yang mengkhawatirkan dirinya.
"Sayang ada apa kamu kenapa jangan buat aku takut," lirih Rara.
Sigap Rendi mencium bibir istrinya dengan tangan menekannya.
Ia mencium istrinya dengan dalam. Tangannya merogoh kemeja istrinya.
Rara yang terkejut dan menyadari bawa ia di tipu suaminya. Dengan kesal Rara mendorong suaminya.
"Apa-apaan ini, kamu tidak sakit?" Tanya Rara.
"Sayang aku sakit disini, " rengek Rendi manja menunjukan dadanya.
"Kenapa bisa sakit apa kau terjatuh?" Tanya Rara polos.
"Aku sakit ingin memakanmu, " jawab Rendi tersenyum nakal.
Dengan senyuman nakalnya Rendi mencium kembali istrinya dan menekan istrinya ke sofa. Mereka berciuman dengan saling membalas.
"Nanti ada orang masuk," tanya Rara.
Rara melonggarkan pelukan suaminya menundukan kepalanya kepada suaminya yang tersenyum padanya. Ia mengangkat sebelah alisnya pada suaminya.
"Tidak akan," jawab Rendi.
Rendi melakukan aktivitas mereka di ruanganya. Mereka menghabiskan waktu dimanapun mereka berada desahan mereka tidak akan terdengar karena ruangan kedap suara.
__ADS_1
Ken berdiri di luar ruangan Rendi. Berjaga agar tidak ada hal yang membuat tuannya marah padanya. Ken yang tahu akan ada pertempuran di antara tuan dan nyonyanya. Ia memastikan menghimbaukan kepada siapapun dan para karyawannya untuk tidak pergi ke ruangan Direktur selama tidak di izinkan olehnya.