
Rara membuka kedua matanya di sepertiga pagi,ia terkejut saat suaminya menopang kepalanya tersenyum memandangnya.
Rara menyentuh pipi suaminya juga keningnya.
"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Rara.
"Hmm." Rendi tersenyum.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Rara.
"I love u istriku," bisik Rendi.
Membuat jantung dan dua mata Rara ingin melompat bahagia terkejut.
"Apa kamu sakit,Suamiku?"Tanya Rara.
"Aku sangat mencintaimu,aku tidak mau kamu pergi ke Bandung," rengek Rendi manja.
"Kenapa aku harus ke Bandung?" Tanya Rara.
"Gak boleh..! Aku mau kamu di sini bersamaku bersama anak-anak kita aku mau kamu selalu ada setiap saat denganku," ucap Rendi mencium kening istrinya.
"Iiih, kamu sepertinya sudah gila," ucap Rara berdiri.tiba-tiba Rendi memeluk pinggang istrinya.
"Aku memang gila karena sangat mencintaimu," ucap Rendi.
"Apaan sih, aku udah tahu kamu mencintaiku apa kamu tidak malu tuh anak-anakmu melihat," ucap Rara.
"Biarkan mereka tahu dalamnya cinta papa mereka pada mama mereka " ucap Rendi tersenyum.
Cup...
Rara mencium suaminya.
"Tidak perlu dengan kata-kata aku sudah tahu dan merasakannya Sayang, jadi tidak perlu mengatakannya," ucap Rara.
"Tapi aku mau selalu mengatakan aku cinta padamu," ucap Rendi manja.
"Hahaha, kamu lucu Sayang, sangat lucu menggemaskan aku sembahyang dulu ya nanti kita lanjutkan,kamu juga nanti sembahyang jaga dulu Rayn, dia sudah mulai aktip di tempat tidurnya," ucap Rara pergi ke kamar mandi.
Rendi tersenyum mengangguk hatinya berbunga-bunga saat mendengar istrinya yang sangat ia cintai.
Jantung Rendi semakin berdetak kencang membayangkan ucapan istrinya akan kata kita lanjutkan.
Rendi tersenyum-senyum sendiri menghampiri Rayn yang sudah berdiri di keranjang bayinya.
"Waaah, putra Papa sudah mau berlari nih,kamu harus jadi pria sejati yang menyayangi istrimu ya Sayang," ucap Rendi mencium pipi Rayn.
Rara keluar dari kamar mandi,ia bergegas ke ruang ganti dan bersembahyang disana.
Rendi melihat istrinya yang segar kelluar dari ruang ganti.
"Nanti kita lanjutkan ya," ucap Rendi mencium istrinya.
Rendi pergi ke kamar mandi ,ia juga bersembahyang juga bersiap untuk pergi ke kantor.
Rara menggendong Rayn. Ia melihat suaminya keluar dari arah ruang ganti.
"Nanti lusa aku harus ke Jerman," ucap Rendi.
"Kenapa,apa harus menginap? Tanya Rara.
"Iya,kita akan berbulan madu di sana saja kalau begitu," jawab Rendi.
"Loh,memang bukan urusan bisnis?Tanya Rara.
"Menentukan kerja sama saja tidak akan lama,tapi kita bisa sambil bulan madu di sana," jelas Rendi.
"Apa bisa, bukankah anak kita masih kecil sayang?" Tanya Rara.
__ADS_1
"Kita akan menjaga mereka," jawab Rendi.
"Hmmm, kamu yakin mengajak aku?Tanya Rara mengingat kejadian bulan madu kemarin yang gagal.
"Tentu saja," jawab Rendi tersenyum.
"Kita berangkat nanti subuh," ucap Rendi kembali.
Rara dan Rendi di sibukan dengan kegiatan masing-masing,Rara menyusui anak-anaknya. Rendi bersiap untuk ke kantor.
Rendi dan Rara turun dengan masing-masing mengendong anaknya.
"Nanti aku akan ke Cafe ya sudah lama aku tidak berkunjung," perkataan Rara membuat Rendi membulatkan kedua matanya dan menatap tak suka.
"Aku akan pergi dengan supir," ucap Rara tersenyum.
"Kalau begitu pergi denganku! " Tegas Rendi.
"Aku pergi nanti siang," ucap Rara.
"Aku tunggu," jawab Rendi tak menghiraukan istrinya.
"Baikklah aku tidak akan ke sana," ucap Rara mengalah.
Rendi terdiam saat melihat wajah istrinya yang pelu.
"Ken sudah menghandle Cafe mu itu kenapa kamu harus ke sana juga? Ucap Rendi.
"Iya, aku tidak akan pergi," jawab Rara.
"Sayang kamu marah?" Tanya Rendi.
"Tidak." Jawab Rara.
"Baiklah, baik-baik di rumah ya aku akan pulang cepat,kita akan bersiap berangkat nanti," pamit Rendi mencium kening istrinya.
Rara tersenyum mengangguk dan menyalami suaminya mencium punggung tangan Rendi.
"Kita harus ngapain Sayang,ayo kita ke taman belakang nenekmu pasti ada di sana," ucap Rara menggendong Rayn.
Dengan Amira yang di bawa pengasuhnya.
***
Prolog.
Rendi sudah berada di ruangananya dan memeriksa Dokumen yang sempat tertunda kemarin. Karena ia harus bergegas kembali ke rumah.
"Aku harus memastikan Rara aman, dia pasti sudah tahu tentang istriku," gumam Rara menutup Dokumennya.
Seseorang yang Rendi cemaskan, sepertinya masih jauh dari jangkauannya bila harus melawannya.
Rendi hanya harus memastikan keluarganya aman.
Ken memasuki ruangan Rendi,ia melihat tuannya sedang melamun.
"Kita masih jauh dari jangkauannya Tuan dan juga anda tenang saja semua pasti baik-baik saja," ucap Ken membuyarkan lamunan Rendi.
"Ajak istrimu besok, karena kita akan menambah kunjungan kita dua hari untuk berlibur," ucap Rendi.
"Baik Tuan," jawab Ken.
"Apa kau sudah berbaikkan?" TanyaRendi.
"Dari mana Anda tahu Tuan?" Tanya Ken heran.
"Karena wajahmu sudah tidak kusut lagi," jawab Rendi datar.
"Benarkah apa terlihat jelas degan hanya melihat wajah saja,Dilla memang berubah sejak kembali dari rumah besar kemarin,ia lebih memastikan aku selalu terlihat olehnya walau ia harus mual muntah melihatku," batin ken.
__ADS_1
Ken memberikan berkas juga menekan sebuah remote.
"Dia sudah bukan siapa-siapa lagi sekarang tuan,terkecuali masih ada yang berani membantunya ia akan kehilangan sahamnya," ucap Ken.
"Yah itu lebih baik,siapapun yang membuat istriku menangis harus menderita," ucap Rendi dingin.
Ken yang melihat ekspresi benci dari tuannya,ia mengerti apa maksud tuannya.
"Apa Nona muda mengetahuinya, semoga tidak terjadi ke ricuhan antara tuan dan nona muda," batin Ken.
"Dia bahkan sangat peka dalam setiap hal,aku tidak ingin itu terjadi lagi," ucap Rendi dingin.
"Baik Tuan," jawab Ken.
****
Prolog.
Sekitar jam delapan malam Rendi dan Rara duduk di balkon kamarnya. Setelah menidurkan anak-anaknya.
Rara duduk di pangkuan suaminya.
"Aku harus menyiapkan pakaian untuk kita bawa besok," ucap Rara.
"Biar pelayan yang menyiapkan,kamu tidak perlu repot,cukup bawa kebutuhan si kembar saja," ucap Rendi menarik pinggang istrinya yang memakai dres hitam dada belah kesukaan suaminya.
"Lalu kita?" Tanya Rara.
"Ken yang urus," jawab Rendi mencium lekuk leher istrinya mnciuminya setiap inci dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Rendi menggendong istrinya memasuki kamarnya. Ia membaringkan istrinya menggeser rambut yang menutupi kening istrinya. Ia tersenyum lembut menatap wajah istrinya.
Rara melihat lekat wajah suaminya,ia tersenyum dan memeluk suaminya
"Mandi dulu sebelum tidur Sayang," ajak Rara.
Rendi menggendong istrinya. Mereka membuka pintu kamar mandi bersama memasuki kamar mandi.
Setelah selesai mandu Kini mereka tertidur saling memeluk, setelah melakukan aktivitas rutin setiap malamnya.
***
Prolog Ken.
Dilla tampak sibuk sedang melipat pakaian yang akan ia bawa, Dilla merapihkan pakaiannya ke dalam koper yang berjejeran di depannya.
Ken membuka pintu kamarnya dan menghampiri istrinya.
"Sebenarnya kamu ini mau liburan atau mau pindah rumah?" Tanya Ken melihat koper-koper yang berjejeran.
"Ini semua punyaku keperluanku, punyamu nanti aku siapkan," tegas Dilla.
"Ini bahkan tidak ada ruang untuk pakaianku?" Ucap Ken menggelengkan kepalanya.
"Iya nanti aku siapkan," cetus Dilla.
"Sebaiknya kamu minum susumu,dan istirahat besok pagi harus langsung berangkat," tegas Ken.
Ia duduk di sofa dan membuka laptopnya.
"Aku masih belum selesai," rengek Dilla manja.
"Kalau tidak kamu tidak perlu ikut," ucap Ken datar. Ia tetap fokus pada laptopnya.
"Huh,, kamu jadi sombong gara-gara mengajakku ke Jerman," cetus Dilla.
"Bukan aku yang ajak, tapi tuan Rendi," ucap Ken datar.
"Iya, iya, tuanmu itu memang paling baik dari pada kamu,dia tahu mengajakku dari pada kamu," ucap Dilla meminum susu dan ia tertidur.
__ADS_1
Setelah larut Ken menutup laptopnya,ia melihat istrinya yang sudah tertidur lelap,Ken tersenyum dan membaringkan tubuhnya tidur di samping istrinya dan memeluknya.
Ken tampak lelah setelah menyiapkan keperluan untuk keberangkatan mereka ke Jerman. Setiap hal Ken siapkan dengan teliti walau tentang keperluan nona mudanya ia siapkan.