Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Bandara


__ADS_3

Ke esokan harinya Jason sedang duduk di kursi penumpang dengan bersender ke belakang kursinya. Ia menutup kedua matanya dan membayangkan sosok wajah seorang wanita yang kini sudah ia ketahui namanya yang bernama Rara. Ia tersenyum tergoda saat mengingat tatapan tajam Rara saat berada di hadapannya,apalagi untuk saat ini ia sudah memiliki foto gadis itu yang bisa menemani dan melepas kerinduannya.


Jason membuka kedua matanya di luaran sudah terdapat beberapa anak buahnya yang berjaga bahkan anak buahnya ia tebar di seluruh bandara di Jerman untuk pencegahan penerbangan Rendi dan keluarganya kembali. Untuk kali ini ia keluar dari mobilnya dan berdiri di luar bandara yang di tuju oleh keluarga Anggara. Ia tersenyum dan anak buahnya sudah mendapati dan menangkap target yang di tuju.


Jason tersenyum penuh kebanggaan dan tidak sabar untuk bertemu dengan wanita pujaan hatinya. Saat ia berdiri di luar kendaraannya ia mendapat sebuah telepon dari anak buahnya dan mengangkat teleponnya.


"Bagaimana?" Tanya Jason.


"Kami sudah mendapatkan nya Tuan da saat ini kita sudah membawanya dan sekarang kita sedang di Markas ," ucap penelpon.


"Kau bodoh ! Kenapa tidak kau bawa dulu ke hadapanku hah?" Teriak Jason.


"Kami takut di kejar Tuan makanya kami inisiatip untuk kembali lebih awal dan membawanya," ucapnya.


"Kau jaga dia dan jangan sampai dia kabur lagi, ingat jangan pernah menyentuhnya," tegas Jason


Ia tampak kesal dan geram dengan cara kerja anak buahnya yang bertindak tanpa persetujuannya. Padahal Jason berharap agar dia yang pertama di lihat oleh gadis pujaannya dan membuatnya nyaman berada di hadapannya. Tapi semua tidak sesuai keinginannya. Tapi ia masih berbesar hati karena untuk saat ini gadis itu sudah ada di tempatnya. Ia tersenyum dan membuka pedal pintu kendaraannya. Saat ia hendak memasuki kendaraannya ia berhenti dan melihat ke arah anak buahnya yang berdiri di hadapannya.


"Suruh semua balik ke Markas," ucap Jason.


"Baik Tuan," jawab Anas.


Anas merogoh saku kanannya dan menekan nomor di handponnya ia menelepon semua anak buah yang sudah ia sebarkan di setiap sudut kota juga bandara yang ada di Jerman untuk menculik Rara istri dari Rendi Anggara yang sudah tersebar luas di setiap anak buahnya.


Ada senyum kebanggaan di balik wajah Anas yang sudah memberikan kesenangan yang di inginkan tuannya Jason. Ia berpikir akan mendapatkan hal yang jauh lebih membanggakan saat dirinya sudah bisa menangkap wanita yang di inginkan Jason saat ini. Kini semua anak buah yang di sebar di setiap daerah sudah berangsuran berkurang dan kembali ke markas baru Jason yang terdapat anak buah yang banyak.


Kendaraan Jason kini sudah melaju kembali menuju markas besarnya. Ada senyum bahagia di wajah Jason saat ia tidak sabar ingin sesegera mungkin sampai di tempat tujuan. Ia membayangkan wajah seorang Rara gadis yang ia ingin miliki bahkan ia sudah berjanji akan menjadikannya hanya istri satu-satunya jika gadis itu tidak mau menjadi istri keduanya.


Membayangkannya saja membuat hati Jason bergemuruh ingin menyentuh gadis yang ia dambakan dalam pandangan pertamanya.


"Aku bahkan tidak pernah merasakan hal ini saat bertemu istriku,tapi gadis ini membuatku tergila-gila ingin mencintainya memilikinya walau pertama kali bertemu ia menatapku dengan tajam tapi malah membuatku berdebar-debar dan menginginkannya," gumam Jason tersenyum.


Anak buahnya yang berada di kursi kemudi tersenyum tertahan saat melihat dan mendengar gumaman Jason di belakang kursi penumpangnya.


"Aku penasaran gadis seperti apa yang membuat bos jatuh cinta dan mengerahkan semua anak buahnya untuk menculiknya,padahal cukup dua orang saja sudah dapat di culik tapi bos malah mengerahkan semua anak buahnya," batin Anak buahnya.


Kendaraan Jason kini sudah mendekati area Markasnya yang tempatnya sama jauhnya dari keramaian. Menelusuri pohon pinus di sepanjang jalan dengan daun yang berguguran. Jason sempat memperhatikan suasana jalanan yang tidak seperti biasanya ia merasa ada yang salah setiap ia lewati di jalanan tapi ia berpikir keras dan tidak ada hal yang mencurigakan yang dapat ia dapati untuk saat ini karena markasnya kali ini jauh dari jangkauan siapapun.


Jason tetap pada pandanganya menyusuri jalanan menuju markasnya yang kini sudah sampai di gerbang markas utamanya yang tampak tidak terawat di luaran dan terawat di dalamnya. Ia sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambut calon istri barunya Rara Permana yang ia dambakan. Jason keluar dari kendaraannya dengan gaya coolnya dengan mengenakan kaca matanya dan berjalan berwibawa memancarkan hati yang senang. Saat Jason memasuki markas dan pintu terbuka seluruhnya. Ia membuka kedua matanya lebar- lebar dan melihat ke arah seorang wanita berkerudung duduk di sofa bersama kedua anak buahnya yang berdiri di dekatnya menjaga gadis itu.


Jason tersenyum dan ia berjalan secepatnya untuk menghampiri wanita yang ia dambakan beberapa hari ini. Saat ia mendekati wanita yang sedang membelakanginya ia memperlambat langkah kakinya. Ia tersenyum dan mencoba berbagai cara berdehem agar memberi kesan pertama yang baik untuk berhadapan dengan wanita pujaan hatinya.


Jason berjalan kembali dan ia duduk di samping gadis itu yang wajahnya tertutupi kain hitam bekas tangkapan anak buahnya. Ia tersenyum dan membuka penutup kepalanya dan terbuka seorang wanita yang memakai penutul kepala di hadapannya.


Dengan hati yang senang dan bahagia Jason memutar pandngannya dan melihat wajah wanita pujaannya.


"Kau ... "


Jason menganga dengan tatapan mata membulatnya terkejut dengan siapa yang ia lihat untuk saat ini. Ia mendorong wanita itu dan menggeser duduknya. Ia terkejut dan murka dengan apa yang ia lihat seorang wanita yang memang berparas cantik memakai penutup kepala, tetapi bukan wanita yang ia maksud melainkan orang lain yang bahkan tidak ia kenali.


Jason berdiri dan berteriak pada anak buahnya yang sudah membuat kesalahan dalam penculikannya.


"Kau siapa hah?" Teriak Jason.


"Heh,kau bahkan tidak tahu siapa aku tuan Jason?" ucap wanita yang ada di hadapannya menyeringai.


"Kau ..."


Jason berdiam diri mengingat siapa wanita yang ada di hadapannya itu. Tapi sama sekali tidak ada gambaran wanita itu dalam ingatannya. Melainkan hanya gambaran kosong tentang wajah wanita itu.


"Apa kau lupa dengan seorang gadis yang kau buang di tepian pantai lima tahun yang lalu, kau bahkan tidak membiarkan tuanku untuk selamat," ucap Nesa berdiri mendekati Jason.


"Kau ... kau pengawal wanita Anggara," ucap Jason terbata.

__ADS_1


"Hahaha, ternyata kau ingat aku juga tuan Jason yang kejam,kau bahkan menarik nona Anisa ke dalam lautan hanya untuk menutupi kejahatan ayahmu yang bogoh itu," ucap Nesa lantang.


"Kau ... bagaimana kau tahu aku melakukannya saat itu tidak ada siapa-siapa kau pasti bercanda," ucap Jason mulai resah.


Nesa berjalan semakin mendekati Jason, tapi Jason mengeluarkan pistol yang selalu ia bawa kemana - mana. Ia menodongkannya ke hadapan Nesa yang bahkan tidak bergeming takut akan hal yang Jason lakuakan padanya.


"Heh, mau berapa kali kau membunuhku aku tidak akan mati di tanganmu," ucap Nesa meremehkan Jason.


Jason mencoba untuk mengancam Nesa tapi tidak membuat Nesa bergeming takut akan dirinya. Tapi sebuah tangan memegang bahu Nesa dan Nesa menepisnya. Anas berkelahi dengan Nesa dengan bela diri masing- masing yang imbang bahkan kebanyakan Anas menghindari setiap pukulan Nesa. Jason geram dengan kerjaan anak buahnya yang salah menculik mangsanya. Ia berbalik dan sudah ada tiga orang yang menghadangnya dari arah pintu.


Seseorang yang tidak pernah Jason bayangkan akan melihat wajahnya lagi.


"Kau ... bagaimana bisa kau tahu tempatku hah?" Teriak Jason yang kini sudah ada dua pengawalnya di sampingnya.


Rendi berjalan menghampiri Jason yang tak jauh dari mereka Nesa berkelahi dengan Anas yang masih imbang perkelahiannya.


Rendi mengisyaratkan Iyas untuk membantu Nesa yang masih belum mengalahkan lawannya. Kini Iyas yang melawan Anas.


Rendi menghampiri Jason yang berada di tengah-tengah anak buahnya yang bertubuh kekar di sampingnya.


"Kau mau apa hah, ini wilayahku dan negaraku kau tidak akan bisa seenaknya bertindak disini," teriak Jason.


"Benarkah?" Ucap Rendi tersenyum meremehkan Jason yang sudah tidak berkutik.


Jason berpikir bagaimana Rendi bisa memasuki markasnya sedangkan anak buahnya sangat banyak di tempatnya. Apalagi setelah melihat Rendi hanya datang dengan kedua temannya dan juga satu pengawalnya.


****


*Flashback on*


Di kediaman Rendi Anggara.


Di tengah malam saat semua terlelap tidur setelah melakukan aktivitasnya di siang hari dengan aktivitasnya masing-masing. Adam masih memainkan game di handponenya dengan Airpone di telinganya melingkar di kepalanya. Saat ia tengah serius memainkan gamenya dengan kepala menikmati musiknya mrlihat handpone gamenya. Ia melihat sinyal di alarm handponenya.


Adam melihat isinya dan terdengar suara sesrorang yang sedang merencanakan sesuatu di esok hari kepada tuannya. Adam tersenyum dan melepas airponenya, ia berdiri dan berjalan keluar kamarnya mengingat ia yang sudah menyadap handpone Anas dan merekam setiap percakapannya otomatis akan ada alarm di pengingatnya. Untuk mepermudah setiap gerakan Adam dalam hal yang tidak terduga seperti saat ini. Saat ia berjalan keluar dari kamarnya ada Nesa sedang berjalan di lorong rumah memeriksa setiap sudut ruangan walau saat di malam hari dengan terjaga.


Nesa mengerutkan keningnya dan mencoba bertanya saat bertatapan mata dengan adam dan menganggukan kepalanya. Menandakan bertanya ada apa pada Adam.


Adam tersenyum dan menjawab pertanyaan Nesa hanya dengan.


"Aku mau ke ruang tuan," jawab Adam.


Nesa mengeritkan dahinya dan Adam berjalan melewatinya tanpa menghiraukannya.


Adam berjalan dan tidak mengalihkan pandangannya walau ternyata Nesa mengikutinya dari belakangnya.


Sesampainya di depan pintu kamar Rendi. Adam melihat ada dua pelayan wanita yang berjaga di depan pintunya, ia berbalik dan berkata pada Nesa.


"Kau bangunkan Tuan," ucap Adam.


"Kau katakan ada urusan apa?" Tegas Nesa.


"Kalau begitu aku teroboa masuk," ucap Adam.


"Heh,lakukanlah,jika kau berani," ucap Nesa menyeringai.


Adam berbalik dan mendekati pintu tuannya dan mengambil kuda- kuda untuk mendobrak pintu kamar tuannya yang ada di hadapannya.


Nesa menghalanginya spontan dengan menyentuh tubuh dada bidang Adam mencegahnya agar tidak melakukannya.


Nesa beradu tatap dengan Adam, ia mengerutkan dahinya dan mencoba untuk mengerti sifat pria yang baru ia kenali. Nesa memahami jika tidak penting seseorang tidak akan berani mengganggu singa yang sedang tertidur di tengah malam begini.


Nesa melonggarkan tubuhnya dan berbalik ke arah pintu dan mengetuk pintu kamar tuannya dengan tegas.

__ADS_1


Rendi yang terbangun dari tidurnya karena sebuah ketukan di arah pintunya. Ia mengerutkan dahinya dan mengucek matanya yang berat untuk bangun.


Ia duduk dari tidurnya dan melihat ke arah istrinya yang tertidur lelap setelah bekerja keras dengannya.


Ia tersenyum dan mengecup pucuk kepala istrinya yang tertidur dengan menghadap ke arahnya.


Rendi turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Dengan wajah yang sangat mengantuk dengan suasana sedikit kesal di bangunkan di saat pulasnya tidur. Ia memegang pedal pintu dan membuka pintunya .


Sudah ada Nesa bersama Adam di belakangnya yang berdiri di depan pintu.


"Ada pergerakan dari Jason," ucap Adam.


"Benarkah?" Ucap Rendi terkejut.


Nesa mengwrutkan dahinya tidak mengerti sifat Adam yang tidak bersikap basa basi sama sekali, saat berbicara dengan tuannya bahkan menyapa pun tidak ia lakukan.


"Setidaknya kau ucapkan selamat malam dulu pada tuanmu ini kalau memang kau merasa jadi bawahannya," ucap batin Nesa.


Nesa menatap tajam tidak menyukai Adam yang bersikap sok akrab pada tuannya yang sudah lama ia ikuti.


Adam menyadari tatapan tidak suka dari Nesa, tapi ia tidak menghiraukannya dan tetap bertujuan berbicara pada tuannya.


"Kau ada rencana?" Tanya Rendi.


"Bisa berbicara di lain tempat Tuan?" Ucap Adam.


Rendi mengangguk dan berjalan keluar dari kamarnya, ia melihat ke arah kedua pelayan yang menunggu di depan pintu kamarnya.


"Jika Nyonya kalian bangun dan menanyakan aku, segera beritahu aku, dan jangan biarkan dia turun dari atas," tegas Rendi.


Rendi berbalik ke dalam kamar membuka pintunya kembali khawatir istrinya terbangun dan melihat istrinya yang masih tertidur pulas. Ia tersenyum dan berbalik keluar kamar. Ia berjalan mendahului Adam dan Nesa yang mengikutinya dari belakang.


Nesa masih dalam pikirannya heran dengan tingkah pria yang berada di sampingnya yang bahkan tanpa ekspresi dengan tingkah konyolnya.


Sesampai di ruang kerja Rendi duduk di kursinya dengan Adam dan Nesa berdiri.


Setelah Nesa menelpon Ken. Tidak lama saat Rendi duduk Ken sudah sampai di ruangan dengan tetap mengenakan pakaian formalnya.


Dulu sempat bertanya dalam pikirannya Rendi, kenapa Ken bisa secepat itu datang dan dengan pakaian formalnya walau di malam hari tapi setelah terbiasa. Ia tidak menghiraukannya lagi.


Setelah semua berkumpul bahkan Mark Iyaspun sudah berkumpul di hadapan Rendi dengan pakaian santai mereka yang sepertinya juga bangun tidur.


"Apa rencanamu?" Tanya Rendi.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang tuan?" Ucap Ken.


"Hmm, kau siapkan semuanya termasuk istrimu," ucap Ken serius.


Ken mengangguk dan merogoh ponselnya untuk mempersiapkan semuanya.


"Apa saya boleh saran Tuan?" Tanya Adam.


"Hmm," jawab Rendi.


"Sebaiknya kita alihkan perhatian mereka karena saya yakin dengan sifatnya dia tidak akan mungkin hanya mengerahkan sedikit pengawal Tuan, saya yakin dia akan menyebar anak buahnya," Ucap Adam.


"Hmm,kalau begitu aku bagi tugas pada kalian," ucap Rendi.


Rendi berbicara dengan serius bersama teman-temannya termasuk pengawal rumahnya Nesa, yang berjaga di rumahnya untuk mengantisipasi situasi darurat saat ini. Dan mencegah hal yang buruk terjadi pada mereka selama masih di daerah Jerman.


Bersambung dulu ya kak 😊😊😊😊


Tinggalkan jejak donk buat dukung

__ADS_1


Authornya likes, rate dan Vote.


Terimakasih kak sehat selalu kak.


__ADS_2