
Di dalam sebuah pesawat, Rendy dan Rara duduk bersama saling bersandar di bahunya dan menutup kedua mata mereka tertidur. Di dalam pesawat, di bangku lain bagian belakang, tak jauh dari Rendi dan Rara. Rayn sedang memainkan game di ponselnya dengan earphone di telinganya. Juga di sampingnya Amira dengan gaun warna peach kesukaannya. Amira menutup kedua matanya dan tidak menghiraukan kakaknya yang sedang bermain game.
Sebelum berada di dalam pesawat. Amira masih dalam keadaan tidur di pangkuan ayahnya. Ia duduk di samping kakaknya dan masih tertidur, tanpa menghiraukan kakaknya yang hanya diam ketika ada adiknya yang juga ikut duduk di sampingnya oleh ayahnya. Amira seorang gadis yang di manapun ia duduk atau bersender di tempat yang nyaman. Dia akan tertidur dengan pulas, meski banyak suara dan orang-orang mengganggunya Amira tidak akan terbangun. Rayn sebagai seorang kakak, ia sudah mengerti dan memahami tentang adiknya yang lebih banyak tertidur, daripada bermain seperti halnya dirinya bermain game online saat ini. Rayn sedang menggeluti game kesukaannya saat ini. Tapi di saat waktunya makan rayon selalu memperhatikan adiknya perempuannya itu.
Di kursi samping Rayn. Ken dan Dila duduk dengan Ken memangku putrinya yang kini berusia 3 tahun. Dilla tampak bahagia ketika mendengar keluarganya akan berkunjung ke rumah Mark di Singapura. Ada Adam dan istrinya beserta putranya yang kini berusia 1 tahun di pangkuan Nesa yang tampak dengan datarnya dia duduk di samping suaminya Adam. Untuk saat ini Adam lebih banyak memperhatikan anak dan istrinya dibandingkan bermain game, yang sudah ia gemari sejak kecil dan kini ia berikan game kesukaannya kepada tuan kecilnya Rayn yang saat ini kemampuan sudah melebihi batas dari usianya yang menginjak 7 tahun.
Rayn dan Amira saat di dalam pesawat mereka duduk dengan tenang tanpa banyak protes. Kedua menuruni sifat tenang kedua orang tuanya.
Rara terbangun ketika ia merasakan perutnya yang tidak enak lalu menoleh ke arah suaminya yang tertidur menutup kedua matanya. Rara mengangkat sebelah tangannya dan menusuk pipi milik suaminya dengan telunjuknya. Ia tersenyum ketika suaminya masih belum membuka kedua matanya Setelah berulang kali Rara melakukannya Rendi tak kunjung bangun juga. Pada akhirnya Rara mengecup bibir suaminya dengan lembut, hingga membuat guratan senyym di wajah Rendi. Ia ternyata berpura-pura tertidur saat istrinya menusuk-nusuk jarinya di wajahnya tadi.
"Sayang, aku lapar!" rengek Rara berbisik kepada suaminya.
__ADS_1
"Hmm, aku juga lapar ingin memakanmu!" godau Rendi tersenyum.
Rendi tersenyum dan menyusupkan kepalanya ke leher istrinya. Ia menaikan tangannya memeluk istrinya dan melihat istrinya yang kini memajukan bibirnya cemberut kesal kepada suaminya. Rendi tersenyum ketika melihat tingkah istrinya dan mengecup bibir Rara.
"Jika perutku kenyang, maka makanmu pun akan ikut kenyang," cetus Rara.
Saat Rendi terdiam dan mengerutkan dahinya mendengar ucapan istrinya. Rara tersenyum dan menjulurkan lidahnya. Rendy tersenyum kepada melihat tingkah istrinya yang masih saja terlihat manis. Walau saat ini Rara sedang mengandung 2 bulan. Ia masih terlihat sangat cantik dan terlihat segar. Rendy memanggil pramugari dan meminta makanan untuk dimakan oleh ibu hamil dan juga secangkir kopi untuknya. Saat mendengar makanan, Rara terlihat gembira.
Rendi tersenyum ketika melihat istrinya yang merajuk padanya karena ia menggodanya. Ia memeluk tubuh istrinya dan memegang wajah Rara dan kini wajah mereka saling bertatapan meski Rara masih dengan wajah kesalnya. Rendi tersenyum dan menempelkan bibirnya dengan bibir istrinya. Ia mendalami ciumannya dengan lembut dan menelusuri setiap rinci bibir istrinya yang merah ranum. Lain dari biasany, Rara kini menikmati setiap sentuhan bibir dari suaminya. Bahkan Rara tidak pernah menolak setiap sentuhan ataupun permintaan suaminya itu. Semakin Rendi memperdalam ciuman yang selalu membuatnya ketagihan. Rendi mengakhiri ciumannya ketika suara perut keroncongan milik istrinya terdengar jelas oleh mereka. Rendi melepas pautan bibirnya dan memandangi wajah istrinya yang merah padam karena malu.
"I love you istri tercintaku!" ucap Rendi tersenyum dan mengecup kembali bibir ranum istrinya.
__ADS_1
Seketika, Rara tersenyum dan menyusupkan wajahnya di dada milik suaminya. Ia memeluk erat tubuh tegap suaminya dengan hati dan kebahagiaan yang teramat tidak bisa ia katakan. Bahkan ucapan suaminyapun ia tidak bisa menjawabnya saking bahagianya ia menjadi seorang istri Rendi Anggara.
Rendi memeluk erat tubuh istrinya dan mengusap lembut punggung istrinya saat ini. Ia melihat seorang pramugari membawa nampan makanan dan ia mempersilahkan makanan tersebut kepadaRendi denga sopan.
Rendi mengangguk dan membiarkan pramugari itu untuk pergi.
"Sayang? Ini makanan yang kalian minta! Jika masih kurang, nanti kita ambil lagi!" ucap Rendi lembut.
Rara mengangguk dan tersenyum. Ia mengecup pipi kanan kiri suaminya. Rara tersenyum dan mengambil piring makanan yang harumnya menggoda perutnya. Ia makan dengan lahap, mengingat tubuhnya kini berbadan dua. Rara masih sama seperti hamil sebelumnya, tidak sering mabuk apalagi lemah. Ia hanya lebih manja dan tidak ingin berada jauh dari suaminya selama kehamilan ini. Maka dari itu, Rara lebih memilih selalu dekat suaminya di bandingkan dengan kedua anaknya yang sebelum ia hamil selalu tidak pernah jauh dari jangkauan Rara.
Rendi tersenyum melihat istrinya yang makan dengab lahap dengan mulut penuh. Rara melihat ke arah suaminya yang meminum kopi. Saat Rendi menyimpan cangkir kopinya Rara memasukan sesendok cake pada mulut Rendi dan Rendi terpaksa melahapnya dengan mata terbuka memandangi istrinya yang tersenyum padanya. Rendi mengunyah Cake yang sama sekali tidak ia sukai. Tapi demi istrinya yang selalu merengek apapun yang ia lakukan harus di turuti oleh Rendi. Begitupun makanan yang Rara makan harus Rendi makan juga. Lain denga kehamilan sebelumnya Rara yang malah selalu gampang marah padanya. Tapi kehamilan saat ini. Justru Rara selalu tidak pernah mau jauh dari suaminya itu.
__ADS_1
Bagi Rendi ada suka duka di ikuti istrinya selama masa kehamilan kali ini. Sukanya, Rara tidak pernah membantah apalagi berontak dan menolak jika Rendi merayap tiap malam ataupun tiap waktu selama Rendi mau. Itu membuat Rendi semakin betah dan bersemangat setiap waktunya. Dukanya, Rendi harus menuruti setiap ucapan dan keinginan istrinya apapun itu. Apalagi saat istrinya memakan makanan sebanyak mungkin, Rendi juga harus ikut memakannya. Padahal ada banyak makanan yang sasngat Rendi tidak sukai. Ketika Rara meminta makan buah Durian dan itu membuat Rendi muntah dan tidak mau makan nasi seharian karena di paksa makan oleh istrinya yang jika ia tidak mau, Rara akan menangis sejadi-jadinya. Apalagi saat Rendi membuat Rara menangis, kedua anaknya akan mengatakannya bahwa ayahnya pria yang tidak dewasa. Mengingat wibawa dan gengsinya yang tinggi. Rendi terpakasa menuruti keinginan istrinya, demi mempertahakan martabat kedewasaannya di hadapan kedua anak kembarnya yang malah selalu berbicara seperti orang dewasa.