
Pagi ini Iyas berada di Indonesia. Setelah melakukan penerbangan tadi malam atas perintah Rendy kepadanya. Ia bertemu dengan klien tanpa didampingi siapapun. Bahkan Ken dan Adam menawarkan diri untuk menemaninya, tapi Iyas menolaknya.
Ia tidak ingin perjalanannya semakin lama. Jika ada banyak orang yang ikut pergi, maka di acara pesta di keluarga Mark tidak ada yang berjaga. Iyas memilih untuk melakukan penerbangan sendiri dan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
Siang ini Iyas tampak sibuk di dalam kantornya, memeriksa berkas-berkas yang yang disetujui oleh klien yang baru saja ia temui di sebuah kafe. Mengingat tentang sebuah cafe, ia teringat akan kafe milik istri Rendy yang sangat membuatnya penasaran akan keberadaan kafe tersebut. Ia sangat penasaran dengan usaha yang digeluti oleh istri Rendy yang bahkan saat Mark ingin menghancurkan cafe tersebut. Rara berani untuk memarahi Mark dan memilih untuk tidak memiliki apapun.
Iyas keluar dari kantornya dan membereskan semua berkas-berkas yang sudah ia periksa. Iyas membawanya untuk ke Singapura. Sesampai di lantai bawah, Iyas mengerutkan dahinya, ketika melihat seorang wanita yang sedang duduk di meja. Iyas menghampirinya dan berbicara kepada wanita itu.
" Hai cantik? Apa kau tahu di mana Cafe Story?" tanya Iyas dengan senyum manisnya gadis yang berpakaian formal itu tampak tersenyum tipis.
Setelah mendapatkan jawaban dari pegawai di kantornya itu. Iyas berjalan keluar dari kantornya dan melihat sebuah cafe yang cukup ramai pengunjungnya berseberangan dengan kantornya. Iyas tersenyum tipis dan berjalan menghampiri kafe tersebut. Dengan gaya coolnya, Iyas masuk ke dalam kafe tersebut. Lalu ia duduk di kursi meja paling ujung. Namun, ia tidak langsung memesan makanan atau minuman. Akan tetapi ia melihat pemandangan.
"Ternyata kafe ini ramai pengunjung juga ya! Pantas saja, Rara mempertahankan kafe ini dengan suasana yang hangat dan romantis bagi pasangan yang datang ke kafe ini," gumam Iyas menopang dagunya dengan sebelah tangannya.
Tidak jauh dari meja kasir. Seorang gadis memanggil gadis yang satunya lagi. Hingga gadis yang yang dipanggilnya itu menghampirinya.
"Kamu itu di sini tuh untuk kerja! Bukan untuk melamun. Sana pergi! Tuh ada pengunjung baru. Jika kau tidak bisa membuat dia memesan makanan yang banyak. Lebih baik kau tidak usah datang lagi!" tegas gadis kasir itu
__ADS_1
Gadis dengan rambut sebahu. Ia mengenakan dress warna coklat lugu, desain sederhana yang ia kenakan. Seperti biasanya membuatnya bersemangat setiap kali mengenakannya, hari ini khusus untuk hari pertama ia bekerja. Lina berjalan menghampiri Iyas yang berada di meja paling ujung dengan sedikit ragu dan pelan. Ia berjalan menghampiri meja tersebut dan memberanikan diri untuk berbicara kepada pengunjung pertamanya.
Karena untuk pertama kalinya Lina bekerja di kafe tersebut, sebagai pelayan yang sesungguhnya. Setelah sampai di meja tersebut, Lina menarik nafas dalam mencoba untuk memberanikan dirinya berbicara kepada Iyas.
"Permisi Tuan, Apa yang akan anda pesan?" tanya Lina dengan ragu, ketakutannya jauh lebih besar saat bertanya, dibandingkan ia harus berjalan di tengah malam.
"Hmmm," jawab Iyas singkat menanggapi Rina.
Lina semakin ragu dan takut untuk mengulangi pertanyaannya. Tapi demi pekerjaan pertamanya, ia memberanikan diri untuk berbicara lagi.
"Ternyata kau seorang gadis masih muda ya bekerja di sini?" tanya Yas berbalik bertanya kepada Lina.
Lina malah bergetar seluruh tubuhnya, ketika mendapatkan pertanyaan balik dari pelanggannya. Tubuhnya berkeringat dingin, mengingat pertama kalinya, ada pria berbicara padanya. Apalagi pria itu tampan Lina sama sekali tidak pernah berbicara panjang lebar apalagi dengan pria.
Alih-alih menjawab pertanyaan Iyas. Lina malah terdiam tanpa menjawab pertanyaan Iyas. tubuhnya semakin gemetar menjawab pertanyaan Iyasa. Lina malah terdiam tanpa arah.
"Nona, apakah saya sudah bisa memesan?" tanya iyas kembali.
__ADS_1
Lina semakin diam, bahkan tidak menjawab pertanyaan Iyas. Iyas justru memesan makanan kepada Lina.
Cukup lama Lina masih terdiam memikirkan apa yang harus ia jawab. Dengan perasaan takutnya. Ia masih berdiri dengan kakinya yang sedikit dingin tubuh yang gemetar. Iyas bertanya kembali kepada Lina.
"Nona cantik, aku pesan kopi latte saja dan biskuit," tambah Iyas.
Lina masih tidak menjawabnya. Dia mengedarkan pandangannya tanpa arah. Gadis kasir yang berada di meja kasir memperhatikan Lina, yang hanya berdiam diri tanpa menjawab pertanyaan pelanggan. Gadis itu berjalan menghampiri Lina kesal.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sakit jantung? Pelanggan bertanya saja kamu tidak mampu menjawabnya!" bentak gadis itu.
Lina terkejut mendengar atasannya. Lina hanya berdiam saja.
"Maaf, saya sedikit melamun!" jawab Lina ketakutan.
"Hahaha ...kau ini gadis cantik untuk apa melamun! Apa kau melamun kan aku yang tampan?" tawa Iyas membuyarkan Lamunan Lina.
Kenapa pria ini tahu jika aku memikirkan dia?
__ADS_1