Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Persetujuan


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Amira kini duduk di dalam bus yang ia tumpangi dengan headset di telinganya yang ditutupi oleh hijabnya. Ia melihat kearah jalanan, saat ia teringat akan keluarganya yang ia rindukan. Ia melihat handphonenya dan melakukan panggilan kepada ibunya yang kini berada di Bandung.


Saat panggilan teleponnya terangkat terdengar seorang gadis kecil berbicara kepadanya.


"Ada apa ka Mira kamu kangen ya sama Raisa?" teriak Raisa di seberang telponnya.


Amira tersenyum mendengar suara adik kecilnya itu, yang memang ia juga merindukanya.


"Iya ... Kakak sangat rindu padamu tapi kakak lebih rindu, rindu, rindu, rindu kepada Mama di mana dia?" jawab Amira kepada Raisa.


"Kenapa? Tidak ada! Mama hanya buat Raisa saja!"Jawab Raisa.


Amira tersenyum mendapati jawaban dari adik kecilnya itu, namun ia tidak pernah mau mengalah kepada adik perempuannya itu.


"Tapi kak Amira milik Mama," ucap Amira tersenyum menanggapi ucapan adiknya.


"Huh, tidak mau ngalah sama adik sendiri!" gerutu Raisa.


"Mana mamah! Kakak merindukannya!" tegaa Amira.


"Papa tidak rindu?" sambung Rendi menjawab ucapan Amira.


"Hehe, pah, tentu saja Mira rindu juga sama papa. Tapi Mira kangeeeen sama mama," jawab Amira tersenyum tertahan.


"Hmm, baiklah kalo begitu tidak ada ijin untuk bicara dengan istriku!" ucap Rendi tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tidak perlu ijinmu! Aku juga merindukan anak gadisku," bantah Rara merebut handphone yang ada di tangan Rendi.


Rendi tertegun dan tersenyum mendengar dan melihat istrinya yang melakukan panggilan video pada putrinya. Rendi dan Raisa kini duduk di samping Rara ikut mendengarkan Amira yang sedang berbicara pada mamanya. Namun mereka terkejut ketika melihat keberadaan Amira yang di belakangnya ada begitu banyak orang terduduk dan juga terlihat sempit.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa kamu ada disana? Kenapa tidak meminta kakakmu atau anak buahnya mengantarmu Amira!" ucap Rendi mengerutkan dahinya dengan wajah kesalnya.


Amira melupakan dirinya sedang berada di dalam bus yang pastinya sangat tidak di sukai oleh ayahnya. Ia menjadi salah tingkah dan takut.


"Amira tutup ya telphonenya," ucap Amira ragu.


"Amira!" tegas Rendi.


"Iya, pah," jawab Amira.


"Hmm," Rara mencium pipi marah Rendi.


"Tapi anak gadisku tidak melakukan kesalahan kenapa kamu harus marah?" balas Rara.


"Tapi dia berada di dalam bus sayang, dia anak gadis kenapa harus ada di bus? Bukannya ada Rayn dan anak buahku?" bantah Rendi.


"Tapi aku yang mengijinkannya untuk menaiki bus sayang," lerai Rara.


"Hah, tapi ...."


Rendi terdiam ketika bibirnya di kecup oleh Rara yang tersenyum menatapnya. Rendi tertegun dan diam mendapatkan ciuman pagi dari istrinya. Apalagi mengingat ada dua anak gadis di antara mereka berdua.


"Apa? Raisa tidak melihatnya kok," ucap Raisa menatap Rendi.

__ADS_1


"Mira juga tidak," tambah Amira.


"Hihi, kalian memang anak-anak mama yang sangat pengertian, mama sayang kalian," ucap Rara terkekeh melihat tingkah kedua putrinya dan juga suaminya yang kini tersenyum.


"Baiklah, Amira minta ijin dari papa! Mulai hari ini dan kedepannya Mira akan naik bus untuk ke kampus, lagipula sudah dapat ijin kakak Rayn kok, boleh ya pa?" ucap Amira tersenyum melihat ayahnya yang masih terdiam.


Rendi masih terdiam merajuk. Namun Rara mendaratkan kembali kecupan di bibirnya dan tersenyum pada Rendi yang kini pipinya memerah malu.


"Hah, anak gadis papa yang satu ini memang paling tau kelemahan papa. Ya sudah, tapi ingat anak buah papa akan mengikutimu setiap saat!" jawab Rendi tegas.


"Hah, tapi pa ...."


"Tidak ada bantahan!" tegas Rendi memotong ucapan Amira.


Amira memajukan bibirnya, namun ia mengangguk menanggapi ucapan ayahnya. Begitupun Rara mengisyaratkan putrinya untuk tidak membantahnya. Rara dan Amira begitupin Rendi dan anak bungsunyaberbincang dengan melakukan panggilan video selama perjalanan di Amira ke kampus menaiki bus.


"Ingat kamu harus jlbisa jaga diri sayang," ucap Rara.


"Dan jangan lengah sedetikpun!" tambah Rendi.


"Iya, mah, pah, miss u," jawab Amira.


Amira memajukan bibirnya mencium ayah dan ibunya di kedua jari tangannya.


Rara dan Rendi tersenyum begitupun Raisa yang ikut tertawa kepada kakak perempuannya. Yang untuk pertama kalinya Amira melakukan hal yang konyol seperti itu.


"Kak Mira gila," ledek Raisa tertawa.

__ADS_1


__ADS_2