Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Kejelasan


__ADS_3

Setelah semua siap, Mark memerintahkan anak buahnya untuk membangunkan semua orang yang akan ikut ke Singapore dan berangkat saat ini juga menggunakan pesawat dan pergi menuju bandara saat ini juga.


Masih di malam yang sama, Rara kini sudah berada di dalam pesawat dengan Amira di pangkuannya juga Rayn yang duduk di sampingnya. Rara duduk dengan pandangan tanpa arah di dalam pesawat yang hanya ada mereka saja tanpa orang lain. Tujuannya adalah ke Singapore. Rara masih memikirkan tentang segala hal yang di miliki suaminya. Perusahaan yang di bangun olehnya juga rumah yang di modifikasi oleh Rendi yang sangat memanjakannya.


Rara teringat sesuatu tentang Cafenya yang di tinggal di Indonesia dan meminta Mark untuk menjual Cafe tersebut untuk kebutuhannya nanti. Tapi Mark menolaknya dan tidak menghiraukan Rara sama sekali. Rara sempat kesal mendapati tanggapan Mark yang seperti itu padanya. Lain dengan Rendi yang selalu menuruti keinginanya.


Rara menyadari jika dirinya bukanlah siapa-siapa saat ini. Ia lebih memilih untuk diam dan menunggu semua baik-baik saja. Ia melihat anak-anaknya yang kini tertidur. Rara melihat Dilla juga yang tertidur bersama bayinya di pangkuannya.


Menjelang pagi, Mark dan rombongannya sudah mendarat di bandara Singapore. Tampak Rara mengedarkan pandangannya ke sekitar bandara dan ia bahkan sangat merindukan sosok suaminya yang dua hari ini tidak berada di pandangannya. Sempat Rara ingin bertanya tentang suaminya pada Mark. Tapi Mark malah tidak menghiraukannya berulang kali. Hingga membuat Rara kesal sendiri mendapati tingkah Mark yang malah semakin acuh padanya.


"Aku rindu kamu Sayang, kamu dimana?" batin Rara sendu mengingat wajah tampan suaminya dengan segala kenakalannya dan manja.


Rara mengikuti Mark dan yang lainnya yang berjalan di depannya. Ia bahkan masih berharap ada suaminya saat ini daj memeluknya erat. Tapi itu hanya sebatas keinginan yang hampa baginya. Entah berapa lama ia harus menunggu tapi semua hanya bisa berharap dan berdo'a.


Sesampainya di depan bandara Rara memasuki mobil yang sudah Mark sediakan dengan supir pribadinya.


Rara bahkan duduk bersama dengan Mark dan juga kedua anak-anaknya. Rara tertegun ketika mendapati Mark yang duduk di sampingnya dan tidak berbicara apa-apa.


"Hmm ... kenapa kamu duduk di mobil ini?" tanya Rara memberanikan bertanya pada Mark yang masih berdiam diri dengan pandangan datarnya acuh.


"Bukannya ada banyak mobil yang lain?" tanya Rara kembali.


Rara terdiam dan memutar arah pandangannya memilih melihat pemandangan jalanan tanpa melihat Mark yang kini beralih pandangannya dan melihat Rara yang sedang memandangi jalanan.


"Sialan! Apa ini yang harus aku lakukan? Kenapa si Rendi brengsek itu malah pergi sih? Pake acara rencana b, sebenarnya apa maksudnya kenapa harus rencana b?" batin Mark kesal mengingat Rendi yang mengatakan rencana b yang ia maksud.


Kendaraan mereka kini sudah memasuki rumah besar Robert milik Mark yang besar.


Rara berjalan memasuki rumah tersebut dengan hati yang sedikit kacau juga. Ia berjalan mengikuti pelayan yang Mark panggil untuk mengajaknya memasuki kamarnya yang di sediakan Mark. Begitupun Dilla dan bayinya memasuki sebuah kamar yang juga sudah di sediakan oleh Mark untuk masing-masing.


Saat Rara berjalan, ia mendengar suara tangis seorang anak di sebuah kamar dan melihat seorang balita duduk di pangkuan seorang pelayan menangis. Rara tersenyum dan menghampiri anak tersebut dan menggendongnya.

__ADS_1


"Kemari Sayang, kamu kok menangis? Mana mamahmu?" ucap Rara menggendong anak perempuan yang berpakaian biru muda tersebut dan berhenti menangis ketika Rara mengajaknya berbicara.


"Dia putriku," ucap Mark membuat Rara terkejut ketika mendengar ucapan Mark yang tiba-tiba di balik pintu.


"Hmm, anakmu cantik sekali, kemana mamahnya?" tanya Rara menciumi Naura anak Mark.


"Dia di surga, kau tidak usah repot menggendongnya, sudah ada pengasuhnya," ucap Mark acuh.


"Astagfirullooh maaf ya Mark aku tidak bermaksud," Rara berhenti berbicara ketika Mark pergi tanpa berbicara padanya.


Rara mengerutkan dahinya dan melihat Mark yang keluar meninggalkannya. Naura berada di pangkuannya dan tertidur.


Malam ini semua yang datang dan tinggal di rumah Mark sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing. Rara masih terdiam dalam duduknya menghadap langit malam di balkon kamarnya. Memandangi langit yang gelap tanpa bintang. Ia ingin menangis tapi tidak mau, seperti ada hal yang mengharuskannya menjadi wanita kuat.


DI Malam hari.


Di tempat lain di sebuah rumah sedang, terdapat seorang pria yang terbaring dengan perban di perutnya. Ia menutup kedua matanya dan beristirahat di dalam tidurnya karena tidak bisa bangun dari tidurnya karena luka yang dalam di bagian perutnya.


Ken membantu Rendi untuk duduk dari tidurnya perlahan.


"Maafkan saya Tuan, karena harus berbuat sekejam ini padamu," lirih Ken sendu.


"Kau bekerja dengan baik, apa kau akan pergi kembali pada mereka?" tanya Rendi tersenyum melihat Ken yang kini juga ikut tersenyum melihat Rendi di hadapannya.


"Saya sudah ijin untuk pergi ke luar dan akan menyempatkan waktu untuk datang menemui anda Tuan," jawab Ken khawatir pada Rendi yang terluka karenanya.


"Bagus, lakukan sesuai yang menurutmu baik," ucap Rendi tersenyum pada Ken yang kini sudah mulai datar kembali tanpa sebuah kebencian dari tuannya saat ini.


Awalnya Ken sempat ragu berbicara pada Rendi ketika mendapat ancaman, dari Dirga jika kedua orang tua Ken yang sebenarnya telah di tangkap olehnya dan syarat untuk bertemu dengan mereka yang di sandra oleh persatuan hitam Dirga group.


Ken menceritakan semuanya pada Rendi sebelum perjalanan menuju kota C. Saat Ken mendapatkan informasi tentang kedua orang tuanya. Ken tertegun karena ada kemiripan dari fhoto yang di tunjukan oleh Dirga jika kedua orang tuanya di sandra olehnya. Ken sempat kalap mendengar hal itu dan ingin membunuh siapapun yang berada di hadapannya. Tapi Ken urungkan karena mengingat kedua orang tua yang sangat ingin ia temui kini dalam bahaya karena terdapat banyak boom waktu di tempat duduk kedua orang tuanya yang kini sedang di sandra oleh Dirga group.

__ADS_1


Lain dari biasanya Dirga justru menguji Ken untuk sekali ini. Dirga membuat syarat agar Ken membunuh Rendi Anggara ancaman besar bagi para mafia dunia yang kini sudah ada di tangan Dirga penguasa persatuan hitam. Dirga memiliki musuh bebuyutan dari sejak kakek Rendi maka dari itu Dirga juga sangat geram ketika Rendi menjadi lebih mencolok di dunia mafia melebihi dirinya yang menjadi penguasa yang nyata di dalam persatuan mafia.


Ken merasa ragu ketika mendengar permintaan Dirga yang sangat tidak mungkin Ken lakukan, tetapi Ken juga tidak mau jika kedua orang tuanya tidak terselamatkan. Akhirnya Ken menceritakan semuanya dan Rendi setuju dengan kemauan Dirga agar dia membunuh Rendi.


Ken sempat protes akan keputusan Rendi yang terbilang berbahaya. Tapi Rendi sudah mempersiapkan semuanya. Ken memakaikan pakaian anti tembus pisau dan juga sekantung darah yang sudah di siapkan oleh Ken ketika keluar dari ruang istirahat Rendi di tempat pelelangan. Ken juga memberitahu Rendi jika di dalam Jetnya sudah di pasang kamera oleh Dirga tanpa sepengatahuan Ken dan Rendi. Hingga Ken mempersiapkan semuanya dengan Rendi.


Ketika Rendi mendapatkan email dari Adam yang mengatakan jika Ken sedang dalam pencarian kedua orang tuanya dan kini sedang bersekongkol dengan pihak lain. Rendi tidak memberontak apalagi melawan Ken yang sedang menusuknya berulang kali. Ken bahkan sudah menentukan tempat dimana Rendi akan terjatuh di tengah lautan yang di bawah sana sudah ada anak buah Ken yang menyelam menunggu jatuhnya Rendi dan menolongnya. Hingga kerusakan di dalam pesawatnyapun Ken sendiri yang membuatnya. Ken juga ikut terjatuh saat pesawat meledak dan terjatuh mendarat di kapal yang dimana Dirga berada di dalam kapal dan menyaksikan pesawat Rendi meledak lewat kamera yang ia pasang di pesawat.


Sesampainya Ken mendarat, Dirga tertawa dengan bangga dan menghampiri Ken. Tapi lain dari dugaan Dirga masih belum mempertemukan Ken dengan kedua orang tuanya sama sekali sebelum Dirga mendapatkan istrinya Rendi juga. Ken sangat kesal ketika mendapati Dirga yang menipunya. Ken menatap Dirga dengan aura ingin membunuhnya. Ia bahkan sempat berpikir jika rencana itu akan sesuai dengan keinginannya. Tapi untungnya Ken jauh lebih cerdas dari dugaan Dirga. Ia sudah tahu jika Dirga tidak akan semurah itu melepaskan sandranya.


Setelah mendapat kepercayaan Dirga. Ken masih tidak bisa untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Begitupun Rendi yang kini sudah di rawat oleh anak buahnya.


Ken keluar dari markas Dirga dan mencoba untuk menghapal setiap sisi ruangan tersebut. Ia bergegas pergi dan menuju Rendi di rumah yang anak buahnya beritahukan keberadaan Rendi saat ini.


Ken sangat khawatir ketika Rendi terluka satu tusukan darinya. Padahal ia sudah memastikan jika Rendi tidak akan tembus karena pisau yang ia gunakan hanyalah pisau yang tidak tajam. Setelah Rendi terselamatkan Ken sangat lega ketika melihat Rendi yang masih sadar bahkan sudah bisa makan dalam beberapa hari ini.


Ken terduduk dan memberikan obat untuk Rendi yang sangat susah meminum obat. Tapi kali ini Rendi mau meminumnya dan ingin sesegera mungkin untuk kembali pulang menemui anak dan istrinya yang teramat ia rindukan. Apalagi kali ini anak gadisnya sudah pandai berbicara bahkan kalimat pertama yang keluar adalah panggilan papanya.


Rendi melihat Ken yang memberikan obat untuknya. Kini Rendi meminumnya tanpa protes. Ken tersenyum tipis ketika melihat Rendi yang berjuang untuk sembuh.


"Aku tahu Tuan pasti ingin segera pulang dan bertemu dengan istrinya, makanya dia mau minum obat agar cepat sembuh," batin Ken tersenyum.


Ken merasa konyol karena telah melukai tuannya dan dia bahkan harus merawatnya agar tidak terlalu lama berbaring di atas ranjang.


"Ken, apa kau tahu, Amira sudah bisa berbicara dan aku yang pertama ia panggil," ucap Rendi tersenyum mengingat putri dan wajah istrinya yang cemberut padanya yang terlihat sangat manis baginya. Ia juga melihat ke arah Ken yang juga ikut tersenyum padanya.


"Maafkan saya Tuan, karena saya Tuan harus terbaring dan berada jauh dari Nyonya," ucap Ken sendu.


"Kau bodoh! Bukankah ini juga menguntungkanku, aku sudah tahu dalang di balik perusahaan Papaku, aku akan melakukan hal yang sama jika kedua orang tuaku di usik apalagi di sandra dengan jangka waktu yang sangat lama, aku akan membantumu Ken, kau jangan Khawatir," jelas Rendi tersenyum dan menepuk pundak Ken yang kini juga merasa lega karena Rendi bahkan tidak membantah jika Rendi sangat hal yang tidak mungkin baginya untuk menghianatinya.


Rendi duduk di tepi ranjang memandangi langit malam yang gelap tanpa bintang dan membayangkan wajah istrinya yang saat ini merindukannya dengan segala kemanjaan istrinya memintanya untuk segera pulang.

__ADS_1


Rendi tersenyum dalam mengingat wajah istrinya. Begitupun Rara tersenyum mengingat wajah dan tingkah manja suaminya.


__ADS_2