
Prolog Rara.
Sepertiga malam Rara membuka kedua matanya ia melihat langit-langit di ruangan itu.
Ia tampak sedang kebingungan di saat Rara melihat kesamping ada seorang wanita paruh baya di sampingnya yang tertidur menggenggam tanganya.
"Astagfirullooh, apa ini kenapa aku disini dan kenapa tante ini ada di sampingku sampai tertidur dimana Rendi?" Batin Rara.
Rara menggerakan tanganya membangunkan wanit itu Rara terkejut.
"Maaf Tante, Saya membangunkan Anda," ucap Rara.
"Kau sudah siuman?" Tanya Ibu paruh baya tersenyum.
"Hm ... jam berapa ini?" Tanya Rara.
"Ini menjelang pagi Nona." Jawab Pak Jun menghampiri Rara.
"Ya ampun, bagaimana ini bisa-bisa aku di marahi suamiku lagi karena tidak pulang," batin Rara.
Rara beranjak dari tempat tidur sempoyongan.
"Mau kemana?" Tanya Ibu itu.
"Saya harus pulang tante bisa-bisa Suami Saya marah, kalo Saya tidak pulang," jawab Rara gelisah.
"Tunggu matahari naik, baru kamu pulang sekarang kamu makan dulu saja ke bawah kasian bayi kamu nantinya," ucap Ibu itu.
"Apa bayi ... bayi siapa?" Tanya Rara terkejut.
"Anda hamil lima minggu Nona," jawab Pak Jun.
"Hah aku hamil? Alhamdulillaah seneng banget, ko aku tidak merasakan apa-apa yah? Aku bahkan tidak tahu kalo ada bayi di perutku," ucap Rara sumringah ia tampak bahagia.
Dengan ini Rara ada alasan untuk bertemu keluarga suaminya. Rendi tidak akan menolaknya lagi.
Rara tampak tersenyum berseri-seri membayangkan kebahagiaanya bersama keluarga suaminya dan juga keluarganya .
"Dia tersenyum bahagia, senyumannya manis sekali seperti dia tersenyum polos berseri-seri,kalau saja dia belum menikah mungkin aku akan menikahkanya dengan putraku," batin Ibu itu.
Rara melihat ke arah ibu itu dan memeluknya.
Rara sampai ingin sekali memeluk seseorang di setiap ia bahagia. Rara tampak tidak sabar menunggu pagi hari. Ia ingin secepatnya memberi tahu suaminya tentang kehamilanya.
Rara turun dari lantai atas menuju lantai bawah disana sudah ada banyak orang yang sedang melihatnya terheran-heran bertanya siapa dia.
"Hah, ada acara apa ini kenapa banyak sekali orang-orang disini dan ini rumah apa istana, mewah sekali sepertinya aku akan kesasar bila berjalan seirang diri," batin Rara.
"Kemarilah makan !" Ajak Ibu yang Rara kenali.
__ADS_1
Rara mengangguk dan tersenyum.
Rara duduk di sebuah meja makan yang panjang ada terdapat delapan orang.
Yang duduk di ruang makan itu. Rara sampai membulatkan kedua matanya tidak percaya hanya tersisa dua bangku kosong disana yang lainya sudah ada.
"Seperti in kah keluarga besar itu? Aku pikir keluargaku paling banyak orangnya, ternyata disini jauh lebih banyak, juga ada banyak sekali yang memakai baju seragang berlalu lalang," batin Rara.
"Ini baik untukmu," ucap Ibu itu memberikan makanan ke piring Rara ia hanya mengangguk.
"Siapa gadis itu ia bahkan di layani oleh kaka?" Batin seseorang di meja makan terkejut melihat pemandangan langka itu.
Ternyata Ibu paruh baya itu adalah nyonya besar di rumah itu sampai membuat semau isi rumah segan padanya.
"Nyonya terimakasih atas perawatan andapada Saya.Anda sangat baik sekali saya sampai tidak rela pergi meninggalkan Anda," ucap Rara tersenyum kepada Ibu itu.
"Kenapa se formal itu, kamu bisa memanggilku seperti biasa aku sangat senang bersamamu aku berasa bersama putriku," ucap Ibu itu.
"Anda jangan sedih aku memang putri Anda semenjak Anda merawat Saya Tante," ucap Rara tersenyum.
"Apa Saya boleh memeluk Anda lagi?" Tanya Rara.
Semua orang terkejut dengan apa yang gadis itu pinta benar-benar berani.
"Lancang ...!" Ucap seorang wanita di belakang mereka.
Ibu itu melirik ke arah wanita itu dan ia terdiam dan tertunduk.
"Terimakasih Tante, Saya sangat bahagia sekali," ucap Rara mengeratkan pelukanya.
Rara berpamitan ia tampak bahagia. Ia menaiki mobil milik rumah besar itu dan mengantarkan Rara ke Cafe.
Rara berpikir bahwa suaminya pasti sudah ada di kantornya.
Rara tidak pergi ke Cafe ia melanjutkan langkahnya ke kantor suaminya hingga sampai di meja Resepsionis ia bertanya.
"Permisi apa Tuan Rendi ada di kantor?" Tanya Rara.
"Ada ... anda siapa dan ada keperluan apa sudah ada janji?" Tanya Resepsionis tersebut.
Resepsionis yang baru bekerja dua hari di sana, jadi ia tidak tahu bahwa Rara adalah istri atasanya.
"Hmm ... aya belum ada janji tapi bisa Anda telepon tanyakan padanya untuk menjemput Saya !"Pinta Rara kembali.
"Siapa wanita ini enak sekali minta di jemput sama Direktur segala, dia pasti mau menggoda Direktur dengan penampilan polosnya ini," batin Resepsionis.
"Gimana bisa?" Tanya Rara kembali.
"Silahkan Anda tunggu di sana saja Nona, nanti akan saya beri tahu jika Direktur sudah bisa di hubungi saat ini Drektur sedang rapat penting," ucap Resepsionis kembali.
__ADS_1
Rara mengangguk mengerti dan ia duduk di ruang tunggu. Rara sampai bosan bolak balik menunggu suaminya kalau saja handponenya tidak mati mungkin ia sudah menemui suaminya.
Rara berdiri bolak balik ia gusar.
"Uuuhhhh lama sekali sih? Aku harusnya tadi ke rumah saja tapi aku ingin bertemu Rendi," ucap Rara.
Dua jam berlalu Rara menunggu, sampai ia melihat siapa yang datang dari lift seseorang yang ia tunggu dari tadi.
Rara berhenti melangkah, ia menutup mulutnya dengan tangan.
Rara melihat Rendi bergandengan dengan wanita yang berpakaian sexsi dan Rendi tersenyum pada wanita itu.
Rendi berjalan kearah luar kantor. Ia di hampiri oleh Resepsionis tadi dan berbicara.
"Maaf Pak Direktur, ada yang menunggu Anda dari tadi pagi, ia bersikukuh untuk menemui Anda," ucap Resepsionis itu.
"Siapa dimana?"tanya Rendi.
Rendi berbalik melihat siapa yang menunggunya tapi tidak ada siapa-siapa disana.
"Apa-apaan kamu ini mencoba menggoda Direktur yah ?" Teriak wanita di samping Rendi.
"Siapa namanya?" Tanya Ken.
"Saya tidak tahu Tuan, tapi penampilanya acak-acakan ia memakai penutup kepala," ucap Resepsionis itu.
Rendi berhenti melangkah ia terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Apa kamu bilang, dia memakai penutup kepala Ken periksa," teriak Rendi panik.
"Rendi ayolah, kamu kan mau mengantarku ke depan, ayo kita makan dulu mungkin hanya wanita penggoda saja yang iseng," rengek Wanita itu.
Ken menghampiri Rendi dan memberitahukan apa yang ia lihat. Sontak Rendi menggebrak meja di depanya, ia berdiri dan berteriak.
"Pecat Dia ...!" Hanya itu yang iya ucapkan dan Ken mengangguk
"Apa Tuan ... apa salah Saya Tuan? Saya tidak bermaksud menyinggug Anda Tuan, maafkanlah Saya Tuan," teriak resepsionis itu histeris.
"Huh wanita penggoda," ucap Wanita sexsi itu.
"Kau pergi !" Ucap Rendi melirik Wanita di sampingnya tadi.
Rendi bergegas keluar kantor ia berharap istrinya tidak jauh darinya.
Rendi melihat kesekeliling juga menghampiri Dilla berharap ada Rara disana ternyta dia masih tidak ada.
"kamu kemana Sayang ? Cepat cari di sepanjang jalan !" Teriak Rendi pada Ken.
Rendi mengendarai mobilnya dari parkiran. Ia melihat di depan ada wanita yang sama sekali tidak ingin ia temui berdiri di luar perusahaanya dengan seorang pria.
__ADS_1
Rendi berhenti sejenak dan tidak lama ia keluar, bermaksud untuk menghampiri wanita itu.Rendi bahkan menggerutu sendiri.
"Apa yang sedang dia lakukan disini dia bahkan tidak memberitahuku," gumam Rendi.