
Ken duduk di kursi penumpang sambil memainkan handphonenya. Ia melakukan panggilan kepada pada Adam, untuk menanyakan keberadaan Nia saat ini di Bandung posisi tepatnya. Setelah sambungan telepon diterima oleh Adam dengan wajah datarnya Ken berbicara tidak di teleponnya.
"Apakah sudah menemukan lokasinya?" tanyakan kepada Adam dengan tegas.
"Saat ini dia sedang berada di hotel xx dari tadi malam dia masih belum keluar dari hotel tersebut," jawab Adam menegaskan posisi Nia saat ini.
"Hmm...."
Ken mengangguk dan menutup panggilan suaranya pada Adam. Ken kembali fokus melihat jalanan yang datar, memandangi perkebunan teh yang panjang karena sudah memasuki Bandung. Setelah berbicara dengan Adam dan mengetahui lokasi di mana Nia berada. Ken beserta anak buahnya menuju ke sebuah hotel yang bernama Hotel xx.
Mereka mendatangi sebuah hotel mewah di Bandung. Dengan sebuah keamanan yang sudah terjamin di sana. Saat akan turun dari mobilnya semua para pelayan menatapnya dengan tatapan kagum. Mereka tampak terpesona melihat pemandangan seorang pria yang tampan dan berwibawanya dan juga dengan wajah datarnya penampilan rapih. Ken terlihat sangat tampan walau dengan wajah datarnya. Para pelayan dan penjaga di hotel tersebut memandang Ken tanpa memalingkan pandangan mereka.
Tapi setelah Ken menghampiri meja resepsionis. Ken dengan tegas bicara kepada resepsionis itu. Seorang wanita yang dengan penampilan dan pakaian formalnya, Ia membungkukkan kepalanya dan juga menyebut dengan hormat kepada Ken.
"Dimana kamar yang bernama Nia permasih?" tanya Ken tegas.
Ia bahkan mengedarkan pandangannya ke seluruh Hotel itu.
"Maaf Tuan, kami menjaga privasi setiap pengunjung Tuan!" jawab resepsionis dengan sopan.
"Apa kau yakin tidak mau memberitahuku?" ucap Ken dengan tatapan ingin membunuhnya menahan amarah dan kekesalannya terhadap resepsionis di hadapannya.
"Lancang!" teriak seorang pria paruh baya menghampiri Ken dan juga resepsionis itu. Ia berjalan dengan lantang menghampiri mereka. Setelah sampai di hadapan Ken. Pria paruh baya itu membungkuk memberi hormat pada Ken.
"Maaf Tuan, dia pekerja baru yang belum tahu Anda," ucap Pria paruh baya itu yang tak lain adalah Manager di hotel tersebut.
"Kenapa Manager malah memberi hormat padanya? Pria tidak sopan juga!" batin resepsinois mengerutkan dahinya.
"Apa yang bisaa kami bantu Tuan?" tanya Manager.
"Aku ingin Nia Permasih!" jawab Ken masih dengan wajah datarnya dan menatap resepsionis yang mengerutkan dahinya tidak suka melihat Ken.
"Baik Tuan," ucap Manager dan menuntun Ken berjalan menuju lift dan berjalan meninggalkan resepsionis yang terdiam melihatnya.
__ADS_1
"Kau pecat resepsionis yang tidak tahu apapun itu!" tegas Ken berjalan lebih dulu dari Manager itu. Pria paruh baya itu mengangguk sebagai persetujuan ucapan pemilik hotel tersebut. Ken adalah pemilik hotel terbesar di Bandung dengan segala campur tangan Rendi juga meminta agar Ken membeli sebuah hotel dimana istrinya berada.
Setelah mendapatkan jawaban dari Manager. Ken bergegas meninggalkan resepsionis yang melihat Ken yang sudah berjalan dan menuju ke sebuah lift bersama dengan beberapa anak buahnya dengan wajah datarnya dia menaiki lift. Ken berdiri di dalam lift juga masih dengan pikiran dan segala tujuannya ingin memberantas orang yang bernama Nia dan juga seseorang yang baru ia kenal Vincent. Ia semakin geram setelah berbicara dengan Adam.
Setelah sampai di lantai paling atas. Ken berdiri di depan sebuah kamar hotel denga Manager yang sudah memberikan kunci kamar tersebut. Dengan jalan yang mudah, Ken meminta Manager tersebut membuka pintu kamar tersebut tanpa harus dirinya yang membukanya. Dengan wajah datar dan tegasnya Ken dan anak buahnya masuk ke kamar tersebut dan melihat Nia yang sedang duduk dengan beberapa pria dan wanita sedang pesta minum-minum. Mereka terkejut dan berhamburan kesana kemari karena melihat tatapan membunuh Ken.
"Sialan, kau Ken! Apa yang sedang kau lakukan hah?" teriak Nia tampak ketakutan melihat Ken menghampirinya tanpa berkata-kata.
Tanpa berbicara, Ken mengisyaratkan anak buahnya untuk menangkap Nia dengan cepat.
Mereka menangkap Nia yang berteriak memaki Ken dan juga teman-temannya yang di biarkan pergi begitu saja.
"Sialan kau Ken lepaskan aku! Apa yang kau inginkan?" teriak Nia memberontak mencoba lepas dari genggaman tangan anak buah Ken.
"Jika kau berani minta tolonglah pada priamu itu," ucap Ken dengan malas dan berjalan meninggalkan kamar tersebut yang di ikuti anak buahnya dengan Nia di tangan mereka.
"Dia akan datang menolongku dan membunuhmu Ken sialan!" teriak Nia berbicara dengan wajah merah oadamnya karena efek alkohol yang ia minum hingga membuatnya merancau.
"Heh, kau pikir pria yang baru di angkat anak mafia itu bisa apa? Dia hanya pria sexs bayaranmu saja sudah menggambarkan mentalnya kecil. Apalagi mau melawanku!" ucap Ken tersenyum licik tanpa melihat ke arah Nia yang terdiam mendengar ucapan Ken yang tahu akan Vincent Rvply yang ternyata baru di angkat oleh orang tuanya di Jerman yang sudah paruh baya menjadi mafia di dunia perjudian pemilik sahnya keluarga Rvply.
Di lain tempat di mana negara Jerman kediaman Vincent yang sedang tampak kesal mendengar kabar bahwa Nia ditangkap oleh Ken. Ia merasa geram dan memukul meja yang ada di hadapannya. Vincent mengedarkan pandangannya, melihat ke beberapa pengawalnya dan juga memerintahkan untuk menyiapkan pesawat untuk nya berangkat ke Indonesia. Di kediaman Vincent tampak sangat sepi, mengingat kedua orang tuanya kini tinggal dirumah yang berbeda dengannya. Saat Vincent tengah mengingat kekasih hatinya itu atau teman seksnya yang bernama Nia di Indonesia kini telah ditangkap oleh musuhnya. Musuh yang bahkan tidak pernah ia bayangkan, tetapi akhirnya menjadi musuhnya karena kekasihnya Nia sangat tidak menyukai Rendy.
Apalagi Ken karena bagi Vincent Nia adalah teman sex yang asik buat nya baginya dan berarti bagi perasaannya. Saat Vincent berdiri dan bergegas untuk keluar dari ruangannya. Terdengar baku tembak di ruang tengah di lantai bawah rumahnya. Ia tertegun dan sedikit geram juga terkejut ketika mendapati seorang pria dengan tatapan membunuhnya berjalan menghampiri Vincent.
Vincent terkejut ketika melihat seorang hacker internasional datang menghampirinya. Ia tidak menyangka Jika seorang Mark bisa datang ke kediamannya. Vincent tidak tahu jika Mark adalah teman Rendi yang selama ini sedang ia ganggu kehidupannya terutama Ia yang telah mencelakai Ibu mertuanya saat di Bandung.
"Kau ... untuk apa kau kesini?" tanya Vincent pada Mark dengan ragu.
Mark yang kini sudah berada di hadapannya. Ia bahkan tidak menjawab Vincent. Tapi ia menodongkan pistolnya ke hadapan Vincent yang kini terkejut. Bahkan terlihat ketakutan melihat Vincent yang dengan tatapan membunuhnya mengacungkan pistol di hadapannya tepat di atas keningnya.
"Kau ingin aku menjawabmu atau pistolku ini yang menjawabmu? "ucap Mark dingin dengan tatapan membunuhnya.
Wajah datar, tangan Mark dan juga pistol yang masih mengacung ke arah kening Vincent. Vincent membulatkan kedua matanya ketika mendengar ucapan dingin dan acuh Mark di hadapannya. Ia tidak pernah membayangkan jika hacker sekaligus pembunuh yang paling kejam di Singapura. Kini datang menghampirinya bahkan menodongkan pistol kepadanya dengan ucapan yang sangat membuatnya merasa ketakutan.
__ADS_1
Vincent mengedarkan pandangannya berharap ada anak buahnya yang menolongnya. Tapi hal itu sangat tidak mungkin karena seisi rumah, saat ini sudah dikepung oleh anak buah Mark dan juga Iyas.
Yang kini berada di bawah dan anak buah Vincent sudah bersih termasuk tempat perjudian milik keluarga Vincent sudah diobrak-abrik oleh Mark dan Iyas terlebih dahulu. Sebelum mereka pergi ke kediaman Vincent Reply. Vincent tampak geram ketika mendapati musuh yang tidak ia duga yaitu seorang Mak yang terkenal dengan kekejamannya bahkan tanpa bernegosiasi dengan siapapun itu.
"Jika tahu seperti ini aku tidak akan pernah mau membantu Nia, aku tidak tahu jika Mark adalah sahabat Rendy yang terkenal kejam itu," batin Vincent yang nampak lemah saat anak buah Mark menangkapnya.
Selain Ken yang selalu bersikap dingin dan kejam itu. Ada Mark yang juga tidak pernah menahan kemampuan membunuhnya kepada musuh-musuhnya. Mark adalah seorang mafia di Singapura menjadi kalangan-kalangan yang sangat disegani oleh para mafia. Vincent tampak pasrah ketika mendapati beberapa anak buahnya yang menangkap dirinya. Vincent tampak geram ketika mendapati seluruh anak buahnya bahkan tidak ada disana. Setelah mendapati Vincent. Mereka turun dari tangga dengan Vincent yang tangannya diikat ke belakang bersama juga dengan Mark yang tampak wajah membunuhnya. Ia menuruni tangga.
Iyas tersenyum melihat Mark sudah menangkap Vincent. Yang kini anak muda itu terlihat sudah pasrah dibawa oleh anak buahnya. Mark yang kini sudah duduk di ruang tamu kediaman Vincent. Setelah mendapati Vincent. Mark dan Iyas kini keluar dari kediaman tersebut dan memasuki mobilnya bersama anak buahnya. Vincent bahkan kepalanya ditutup oleh kain. Dalam perjalanan Mark merogoh saku celananya untuk melakukan panggilan kepada Ken. Setelah sambungan telepon tersambung, diangkat oleh Ken. Mark berbicara dengan wajah datarnya kepada Ken yang di seberang teleponnya.
"Bawa wanita itu ke Singapura! Kita akan buat mereka tahu apa resikonya mengusik kehidupan Rendy," ucap Mark dingin.
Setelah mendapat jawaban dari Ken yang kini sudah menuju ke Singapura, menggunakan pesawat pribadinya dan Mark kini berada di sebuah pulau yang bahkan makhluk hidup pun tidak ada di sana.
Setelah sekitar 2 jam rombongan Ken beserta dengan Nia di tangan mereka. Kini Ken memasuki sebuah gedung yang di mana Mark dan Iyas berada. Setelah masuk Nia histeris melihat keadaan Vincent yang kini sudah babak belur. Dengan pandangannya ia melihat teman seksnya itu. Kini tidak nampak ketampanannya lagi, malah berlumuran darah bahkan melihat seseorang yang tidak pernah ia duga yaitu seorang Rendy yang nampak di layar besar melihat mereka.
"Lelaki sialan! Apa yang kalian lakukan pada Vincent?" teriak Nia melihat kekasih hatinya itu terluka di sekujur wajahnya.
Saat Nia melihat ke layar besar yang terdapat di ruangan tersebut, ia melihat Rendy yang dengan wajah datarnya melihat kearah mereka. Nia mengingat Rendi yang selalu lembut padanya dulu. Ia tersenyum licik dan berbicara menghadap layar tersebut, dimana Rendi berada.
"Rendy, aku sangat mencintaimu! Apa yang kau lakukan padaku saat ini bukankah kau sangat mencintaiku? Ambilah tubuhku ini Rendy!" teriak Nia melihat ke layar dan ditanggapi dengan acuh oleh Rendi.
Dan tampak Rendi melihat dengan jijik kepada Nia berteriak. Vincent setengah sadar ia terkejut mendengar ucapan kekasih hatinya itu yang pernah diucapkan kepadanya.
Vincent bangun dan ia memandangi Nia yang kini ini tampak kacau duduk dilantai memandangi kekasihnya yang sudah menipunya itu.
"Bukan kah perkataan itu kau hanya ucapkan padaku?" tanya Vincent setengah berteriak kepada Nia Nia menoleh kearah Vincent yang kini sudah babak belur Melihat ke arahnya.
"Kau pikir siapa yang mau dengan pria yang sudah tidak punya apa-apa saat ini!" jawab Nia acuh pada Vincent. Padahal di dalam hatinya Ia hanya berpura-pura agar bisa lepas dari genggaman Mark dan Ken saat ini.
Tapi lain dari dugaan Vincent merebut pistol yang berada di tangan anak buah Mark. Dengan Hati yang kesal dan geram ia merebut pistol tersebut dan menembakkannya kepada Nia tepat di atas kepalanya dan kini Nia tergeletak. Setengah sadar Nia melihat ke arah Vincent yang dengan tatapan kosongnya menembak kekasih hatinya itu Nia. Lalu Nia menutup kefua matanya dan mati ditangan kekasihnya sendiri. Saat melihat Nia sudah tidak bernyawa Vincent dengan pandangan tanpa arahnya. Ia melemah tidak percaya pada dirinya sendiri bahwa dia telah membunuh kekasih hatinya itu. Saat setengah sadar Vincent tertunduk. Terdengar suara tertawa dengan segala kekuasaannya Ken berbicara kepada Vincent.
"Hahaha, pria bodoh! padahal wanita ini sedang menolongmu, agar bisa lari dari genggaman kita. Tapi ternyata anak muda memang selalu terlihat bodoh! Bahkan bertindak seperti dirimu, membunuh langsung ketika tersakiti! Kau tidak tahu jika Nia berbicara seperti itu kepada Tuanku, agar kau bisa selamat dari genggaman kami," jelas Ken tertawa licik melihat Vincent yang kini terkejut mendengar penjelasan Ken.
__ADS_1
Bahwa kekasihnya sedang membelanya. Vincent kalang kabut dia menembak ke segala arah dengan amarah yang tinggi dan memuncak. Mark dan Iyas bergerak cepat dan menembak tepat di kepala Vincent. Vincent tergeletak tepat di dekat mayat kekasihnya yang sudah tidak bernyawa tadi. Sejetika suasana menjadi Hening ketika Vincent Dan Nia mati mengenaskan di ruangan tersebut. Di balik layar penuh Rendy yang menyaksikan video tersebut, ia tersenyum puas ketika menyaksikan langsung adegan Di mana Nia dan Vincent Rvply mati mengenaskan dan memuaskan hati Rendi.
Apalagi setelah Rendy mengetahui jika Ibu mertuanya terjatuh, oleh tangannya Nia sendiri entah apa yang dipikirkan wanita jahat itu ketika sangat tega mencelakai seorang ibu. Di mana ibu mertua Rendy dalam keadaan sakit saat itu. Tapi dia masih dengan teganya mendorong Ibu Rara saat di dalam kamar mandi. Hingga saat ini mertua Rendy masih belum sadarkan diri dari komanya, setelah hampir satu bulan ini. Akan tetapi dia sudah merasa lega ketika mendapati Nia dan juga kekasihnya mati mengenaskan. Bayaran setimpal untuk penderitaan Ibu mertuanya.