Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Cerita Amira


__ADS_3

Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen yang banyak kak, favoritkan dan vote, Tip juga kak, Selamat membaca kak. Oh iya gabung group chat aku Kak ya, Emot senyum.


Naura tersenyum mendengar penuturan kekasihnya itu. Bukan tanpa alasan Rayn mengatakan dan menjaga seorang wanita. Tapi Rendi selalu berulang kali, bahkan sedari kecil mengingatkan Rayn siapapun itu, jika seorang wanita maka kewajiban kita sebagai pria menjaga, menghargai, menyayangi dan mengutamakan wanita.


"Ayo makan Sayang!" ajak Naura.


"Aku sudah kenyang dengan bibirmu Sayang," balas Rayn tersenyum.


"Apa kita mau pulang?" Naura tersenyum semakin menyayangi kekasihnya.


"Baiklah."


Rayn dan Naura kini bersiap untuk pulang ke rumah. Mereka berjalan memasuki lift sembari Rayn memegang pinggang Naura mereka bersitatap. Saat di dalam lift Rayn menatap lekat kearah wajah Naura yang membuat Naura menjadi salah tingkah.


"Ada apa? Kenapa kamu menatapku begitu Itu?" tanya Naura tampak acuh menatap ke arah pintu lift.


"Tidak ada, aku kok merasa ada yang beda ya sama kamu," jawab Rayn.


"Benarkah? Aku rasa tidak ada yang berubah denganku masih sama!" balas Naura melonggarkan pelukan kekasihnya itu sedikit mandul.


"Kenapa kamu malah menghindar?" tanya Rayn mengangkat sebelah alisnya.


"Tidak ada," jawab Naura.


Rayn tersenyum tipis, ia semakin ingin menggoda calon istrinya itu,Rayn mendekati Naura yang kini mundur sampai ia terbentur ke dinding lift. Naura tertegun ketika melihat Rayn yang kini berada tepat di hadapannya tanpa Jarak. Rayn tersenyum dan ia menempelkan dahinya bertemu dengan dahi Naura, yang menatap lekat ke arah Rayn.


Begitupun dengan Rayn, mereka saling bersitatap dengan deru nafas yang terasa satu sama lain.


"Apa kamu merasa takut sayang?" tanya Rayn terus senyum tipis saat berbicara kepada Naura.


Nafas sangat terasa panas di wajah Naura, ketika nafas dengan aroma rasa mint dari Rayn terasa sangat segar ketika berhembus berbicara tepat di wajahnya.


"Ada apa Sayang?" tanya Naura menatap Rayn yang kini tengah menatapnya tersenyum.


"Hanya menikmati cantiknya calon istriku," jawab Rayn tersenyum.


"Hmmn, gombal," balas Naura.


"Emmm."


Rayn mencium bibir Naura dengan rakus tanpa menunggu Naura bersiap terlebih dahulu. Keduanya kini tengah bertseteru dengan ciumannya satu sama lain. Sembari Naura kini merangkul pundak Rayn, sehingga berada tepat dengan adegan dimana keduanya berciuman.


Setelah pintu lift terbuka keduanya mengakhiri ciumannya, hingga kini Naura tersenyum lalu Rayn merangkul kembali pinggang kekasihnya itu hingga mereka berjalan bersamaan.

__ADS_1


"Karyawanmu disini semuanya sudah pulang yank? Apa tidak apa-apa jika kita hanya berjalan berdua saja di sini?" tanya Naura memegang dengan erat dengan Rayn.


"Memangnya kenapa sayang? Apa kamu takut?" tanya Rayn dia tersenyum tipis ketika mendapati pelukan erat dari Naura.


"Aku bukannya takut, hanya saja ini terlalu sepi," elak Naura masih memperalat pegangannya.


"Tidak akan ada yang terjadi ketika ada aku di sampingmu sayang," balas Rayn tersenyum dan mempererat pelukannya.


Keduanya berjalan sembari berjalan keluar dari kantornya, begitupun keduanya setelah sampai di depan perusahaan, kini mereka sampai di depan parkir lebih tepatnya kedua anak buahnya sudah berdiri membukakan pintu mobil untuk keduanya.


"Apa kita akan pulang?" tanya Naura.


"Tentu saja, Mamaku pasti sangat merindukanku," jawab Rayn tersenyum dan memasuki mobilnya.


"Kau pikir aku tidak merindukanmu!" balas Naura.


"Hmmm, tapi aku merindukan mamahku," ucap Rayn tersenyum tipis sembari merangkul pinggang Naura, hingga kini gadis itu duduk badan bertahan sangat dekat sekali dengan Rayn.


"Aku sangat bahagia dan senang sekali ketika melihat keluargamu hidup dengan damai berkumpul bahkan dengan keluarga yang sangat banyak," ucap Naura.


"Maka dari itu, aku tidak ingin melewati momen ataupun setiap waktu ketika bersama dengan keluargaku. Terutama mamahku. Dia adalah wanita yang paling aku cintai dan tidak bisa ada yang melebihi darinya," balas Rayn.


Rayn tersenyum ketika merasakan betapa dirinya sangat merindukan ibunya itu. Ia tersenyum sepanjang jalan begitupun dengan Aura yang sangat menyukai Rayn yang begitu menyayangi ibunya, tanpa dirinya yang berharap lebih dari apapun.


*****


"Kak bagaimana saat Kakak hari pertama bekerja?" tanya Raisa.


Raisa sangat antusias ketika berada di pangkuan ayahnya di ruang tamu. Amira tersenyum ketika mendapati pertanyaan dari adiknya itu, begitupun dengan Rara dan Rendy keduanya sangat antusias ingin mendengarkan tentang cerita dari anak gadisnya itu. Dimana Amira saat ia melamar pekerjaan begitupun saat hari pertama dia bekerja.


"Kakak harus jawab dari mana dulu?" tanya Amira tersenyum kepada Raisa.


"Dari mana aja. Aku akan mendengarkan mu," jawab Raisa memajukan bibirnya.


"Ya kami pun juga ingin mendengarkan nya sayang!" tambah Rara dibalas dengan anggukan oleh Rendy.


Keduanya juga sangat penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh putrinya itu.


"Kalian itu ya, sangat kompak sekali. Jika mengintrogasi diriku ini!" seru Amira kini duduk dengan rapi menyimpan handphonenya juga.


"Tentu saja kami akan sangat kompak, apalagi mengenai dengan Amira. Mamah dan Papah itu sangat cemas pada dirimu yang suka kelayapan yang sangat bandel," balas Raisa dengan sangat tegas.


"Di sini itu sebenarnya yang dewasa itu siapa? Aku atau kamu sih!" seru Amira sembari sangat gemas kepada Raisa.

__ADS_1


Gadis 9 tahun itu cukup sangat pintar ketika ia bertanya ataupun berbicara kepada siapapun .


"Baiklah... aku akan mengatakanya menceritakannya tentang di mana aku berencana untuk bekerja," balas Amira.


Amira kini menaikkan kedua kakinya lalu mendekap kedua tangannya di dadanya, dia hendak menceritakan kepada kedua orangtuanya begitupun dengan adik kecilnya.


"Awalnya itu Amira hanya berharap bisa berbaur dengan orang lain, tanpa harus mengandalkan koneksi dari mama dan papa, namun Amira sangat menyukai ketika menaiki angkutan umum, begitupun saat melihat orang lain pergi bekerja dengan sangat bersemangat bahkan tulus pada hari itu Amira sangat menyukai sebuah pekerjaan, " jelas Amira.


"Hmmm," anggukan kedua orang tuanya diikuti dengan Raisa.


Amira tersenyum ketika mendapati keluarganya sangat terlihat lucu bahkan membuatnya semakin menyayangi mereka.


"Akhirnya Amira ingin bekerja deh, terus Kak Rayn mengajukan sebuah perusahaan untuk Amira pergi melamar pekerjaan, akhirnya Amira melamar pekerjaan di hari apa ya, Amira lupa. Nah pada akhirnya saat Amira melamar pekerjaan tiba-tiba ada semua mobil yang dengan kecepatan tinggi hampir saja menabrak Amira," jelas Amira.


"Apa!" teriak ketiganya bersamaan menatap lekat Amira.


Amira mengangguk membenarkan ucapannya.


"Kamu ini sayang? Kamu tidak apa-apa? Kamu itu kenapa bisa sampai seperti itu, apa kamu terluka sayang?" pertanyaan Rara begitu sangat khawatir ketika mendengar putrinya hampir saja tertabrak.


"Mama ... aku ini tidak apa-apa. Ini buktinya aku tidak apa-apa aku sehat-sehat saja!" jelas Amira.


Amira tersenyum ketika mendapati perhatian dari ibunya itu, yang sudah lama sekali sekitar satu minggu ia tidak merasakan betapa hangatnya ibunya.


"Tapi kamu sampai mau tertabrak Sayang," balas Rara khawatir.


"Aku tidak apa-apa Mama, lagipula tidak ada yang mengenai tubuhku," jelas Amira meyakinkan ibunya agar tidak terlalu khawatir kepada dirinya.


"Apa kamu tau siapa yang menabrakmu Sayang?" tanya Rara.


Rara begitu mencemaskan putrinya, setelah mendengar bahwa Amira hampir saja tertabrak oleh mobil. Rendy mengangguk ia membenarkan pertanyaan istrinya juga sangat penasaran kepada putrinya itu, yang masih dengan berbicara sangat tenang mengatakan bahwa dirinya hampir saja tertabrak oleh sebuah mobil.


"Kamu yakin tidak apa-apa? Lalu anak buah Papa jemana mereka?" tanya Rendi tampak kesal dan geram ketika mendengar penuturan Amiranya yang hampir saja tertabrak.


Amira terdiam sembari senyum tipis, melihat ayah dan ibunya selalu memperhatikannya.


"Papah akan tunggu ceritamu selanjutnya sayang!" tegas Rendy kini ia sangat penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh putrinya itu.


"Tidak ada lagi, Mira baik-baik saja. Lagipula Mira langsung bekerja disana Pah," bala Amira.


"Hmmn," Rendi tampak berpikir.


"Apa mereka yang di maksud Ken ya? Tapi dia terlalu berbahaya jika harus berurusan dengan anak muda itu," batin Rendi.

__ADS_1


__ADS_2