Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Ketangguhan


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Rayn mengangguk, ia memahami akan prinsip adik perempuannya itu, yang memang jika sekali apa yang diucapkannya, akan sangat sulit sekali untuk membantah ketentuan Amira. Meski pada dasarnya Raynlah yang selalu terbilang keras kepala dalam hal apapun. Apalagi ketentuannya, namun dia selalu memahami apa yang diinginkan oleh adik perempuannya itu. Dengan hati yang bahagia dan bersemangat, Amira berpamitan kepada Rayn dan Naura. Ia pergi menaiki mobil keluarga bersama dengan sopirnya untuk melamar pekerjaan.


"Apa aku harus pergi sepagi ini ya jika mau melamar?" gumam Amira.


Amira melihat ke jalanan yang cukup ramai di kota itu, ia memperhatikan para pejalan kaki yang berlalu lalang bolak balik. Ia tersenyum memperhatikan mereka yang hanya berjalan kaki untuk berangkat ke tempat kerjanya tanpa mengeluh sama sekali bahkan terlihat bersemangat.


"Maka dari itu aku sangat menyukai pejalan kaki dengan wajah berseri dan semangat mereka berangkat bekerja," ucap Amira.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam Amira kini berdiri di depan perusahaan, yang dimana perusahaan itu hanyalah sebuah cabang dari beberapa cabang yang berada di kota-kota lain. Karena mengingat Pusat perusahaan itu berada di di negara Jerman. Meski hanya sebuah perusahaan cadangan, namun perusahaan yang saat ini di mana Amira berdiri adalah perusahaan terbesar di kota itu.


Saat ia hendak berjalan menghampiri keamanan yang ada di samping perusahaan itu, tiba-tiba sebuah mobil menerobos masuk hampir saja menyerempet dirinya. Amira sangat terkejut ketika mendapati hal seperti itu terjadi kepada dirinya. Namun ia mengerutkan dahinya ketika mobil itu berhenti tepat di hadapannya. Ada seorang pria paruh baya keluar dari mobil itu dan menghampiri Amira. Dengan wajah kesalnya, Amira menggerutu di dalam hatinya


"Maaf Nona! Apa anda baik-baik saja? Saya tadi sedikit terburu-buru," ucap pria paruh baya itu yang tak lain adalah seorang sopir yang mengemudi mobil itu.


"Saya tidak apa-apa Pak, hanya saja jika itu orang lain mungkin anda sedang dalam masalah saat ini," jawab Amira .

__ADS_1


"Ya saya minta maaf karena, jika itu terjadi pada anda juga saya dalam masalah. Meski tidak terjadi apa-apa saya tetap bersalah kepada anda nona," ucap pria paruh baya itu.


"Tidak perlu! Anda mengulang kata maaf anda. Cobalah untuk menghemat ucapan maaf ya dan mengurangi kesalahan yang sama," balas Amira.


Setelah itu pria paruh baya itu kini pergi berpamitan kepada Amira dan menyalakan kembali mobilnya. Di dalam kursi penumpang, seorang pria memperhatikan gadis yang sempat hampir saja tertabrak oleh mobilnya. Pria itu tersenyum tipis ketika mendapati gadis itu, bahkan tidak marah sama sekali. Apalagi menghardik sopir yang yang sedikit kelelahan saat membawa mobilnya.


Saat turun dari mobilnya pria yang perawakannya tinggi dan kulit yang putih bersih. Ia berjalan menghampiri resepsionis dan berbicara kepadanya. Resepsionis itu membungkukkan tubuhnya dan memberi hormat kepada pria yang berstatus sebagai pemilik perusahaan.


"Kamu pastikan gadis itu bekerja disini! Dan bawa formulirnya ke ruanganku!" tegas pemilik perusahaan itu.


Saat mendapati perintah seperti itu resepsionis itu mengangguk, lalu melihat seorang gadis yang berjalan meninggalkan posko dan menghampiri meja resepsionis dengan pakaian formalnya, beserta dengan sebuah map warna coklat dan menghampiri meja resepsionis dan juga tersenyum ramah ke arah resepsionis itu.


"Silakan tinggalkan formulir anda nona dan anda bisa menunggu di tempat tunggu," jawab resepsionis itu juga tersenyum ramah.


Amira mengangguk, lalu ia berjalan menuju ruang tunggu. Meski ia tidak tahu jika melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan harus menunggu meski tidak tahu apa yang tengah Iya tunggu.


"Siapa gadis itu? Kenapa Direktur Utama bisa meminta ku untuk menerima gadis itu?" batin resepsionis itu.

__ADS_1


Setelah melihat Amira berjalan ke kursi tunggu, resepsionis itu pergi membawa map berisi resume Amira menaiki Lift. Ia menuju ruangan Direktur Utama, dimana Bosnya itu yang baru saja datang berkunjung ke perusahaan untuk pertama kalinya. Setelah sampai di ruang direktur resepsionis itu tersenyum ramah dan memberikan formulir milik Amira, kepada direktur utama yang sedang duduk memeriksa dokumen.


"Maaf Tuan, ini data gadis yang yang tadi Tuan maksud," ucap Resepsionis.


Resepsionis yang menyodorkan sebuah map berwarna coklat ke arah direktur. Setelah menerima formulir itu, direktur utama yang bernama Leo. Ia mengangguk dan memerintahkan resepsionis itu untuk kembali, Leo yang baru saja tinggal di Indonesia bahkan mungkin akan cukup lama ia tinggal di Indonesia.


Selama keberadaan ibunya masih belum bisa ia temui, saat dia melihat resume milik gadis yang sempat ia temui di bawah tadi. Ia mengerutkan dahinya ketika melihat resume seorang gadis yang cukup cantik bahkan, gadis itu mengenakan hijab yang sangat rapi dan membuatnya tersenyum hanya karena isi resumenya yang seperti anak orang kaya. Namun ia berniat untuk bekerja di perusahaan kecil seperti saat ini. Saat mencoba untuk memeriksa data gadis itu di komputer Leo mengerutkan dahinya ketika mengingat wajah seseorang yaitu sahabatnya yang hampir sama di wajah foto gadis itu, ia mengerutkan dahinya namun ia menggelengkan kepalanya


"Hal yang tidak mungkin. Oh iya bukannya adiknya juga mau melamar ke sini ya? Tapi kapan," ucap Leo.


Setelah menunggu cukup lama Amira mengeluarkan handphonenya Iya melihat waktu lama ia menunggu sekitar 1 jam.


"Ternyata lama juga ya aku menunggu disini? Tapi sebenarnya apa yang aku tunggu di sini suruh interview? atau aku langsung bekerja?" gumam Amira.


Setelah ia sedikit merasa kesal, tiba-tiba resepsionis tadi, datang menghampiri Amira dan mempersilahkan Amira untuk naik ke ruangan Direktur Utama. Meski yang merah tidak memahami apa yang dimaksud oleh resepsionis itu, namun ia hanya mengangguk dan menuruti apa yang diucapkan oleh resepsionis itu, yang kini Amira berada di dalam lift. Tujuannya untuk masuk ke ke ruangan Direktur Utama. Meski dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya, namun ia tetap melangkah apalagi selama dirinya benar, ia tetap berani melangkah apapun itu resikonya.


"Tapi kenapa perusahaan ini malah memanggilku ke ruangan direktur utama? Apa ada yang salah?" gumam Amira.

__ADS_1


Kini pintu lift terbuka Amira berjalan hingga ia kini berada tepat di sebuah pintu yang tertuliskan Direktur Utama. Amira membuang nafas kasar, lalu ia mengetuk pintu itu. Saat mendapati sahutan dari dalam, Amira mencoba untuk membuka pedal pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. Amira sangat terkejut ketika ia melihat sebuah ruangan yang sangat besar, bahkan bernuansa dengan warna elegan serba putih dan mengagumkan. Bagi siapapun yang melihatnya.


"Apa kamu mau berdiri saja?" ucap seorang pria yang duduk di kursi utama menatap lekat ke arah Amira yang masih berdiri berpaling melihat kearah sumber suara.


__ADS_2