Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Rumah besar


__ADS_3

Setelah membiarkan istrinya untuk tidak banyak bergerak dan bekerja. Kini Rara hanya duduk manis setelah Ken yang mengambil alih pekerjaannya di Cafe.


Rendi kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih belum ia selesaikan.


Menjelang sore hari Rendi memeriksa setumpuk berkas yang harus ia tanda tangani.


Sesekali ia melihat ketempat dimana istrinya berada.


Ia melihat istrinya mondar mandir melayani para pengunjung setelah itu Rara terduduk kelelahan.


Rendi mengerutkan dahinya.


"Bukankah, aku sudah menyuruh Ken untuk menanganinya," gumam Rendi.


Ia berdiri dan keluar dari ruanganya dengan pandangan tanpa ekspresi Rendi menghampiri meja sekertarisnya Nina.


"Dimana Ken?" Tanya Rendi.


"Sedang menemui klien yang dari perusahaan Surya Tuan," jawab Nina.


Rendi mengangguk ia baru ingat bahwa hari ini ada pertemuan klien yang di serahkan pada Ken pagi ini.


Karena Rendi sangat lelah setelah olahraga paginya tadi


Rendi menuruni lift khusus direktur dan menuju Cafe Rara. Disana ia melihat istrinya terduduk melihat kedatanganya. Rara berdiri dan di tahan oleh isyarat tangan Rendi.


"Diamlah, kamu ini bos disini kenapa terlihat kamu yang jadi pelayan disini," ucap Rendi dingin.


Rendi geram dan duduk di hadapan istrinya yang sedang duduk istirahat.


Melihat wajah lelah istrinya membuat dirinya kesal.


"Apanya sayang aku tidak apa-apa ko. Dilla itu kerepotan kan dia yang membuat pesanan dan juga keuangan lagipula aku suka kok," jawab Rara memeluk lengan suaminya tersenyum.


"Aku akan menyuruh Ken mencari pegawai baru kamu jangan sampai kelelahan dan ini juga sampai berkeringat," ucap Rendi mengusap keringat istrinya.


Disebuah meja ada para siswi memperhatikan Rendi dan Rara mereka tersenyum mengagumi apa yang mereka lihat.

__ADS_1


"Waaaaah so sweeet banget, aku mau suami seperti itu," ucap salah seorang gadis itu.


"Kamu harus jadi pelayan dulu baru bisa dapatkan suami seperti itu," celetuk gadis lain.


"Hah, seriuskah dia beneran pelayan?" Ucapnya keheranan.


"Huss bodoh! Kamu tidak dengar tadi suaminya bilang kalau wanita itu pemilik cafe ini tapi dianya aja yang mau menjadi pelayan," tangkis gadis lain.


Rendi dan Rara tidak menghiraukan ucapan dari pengunjung yang masih pelajar itu. Mereka malah masih dengan perdebatannya membicarakan tentang Rara yang tidak boleh terlalu lelah.


"Kamu diam disini bersama suamimu ini aku akan menyuruh karyawanku yang melakukanya, " ucap Rendi.


Saat Rara memasang pipi kembungnya karena perkataan suaminya yang dominan melarang keras baginya untuk bekerja kembali. Rara bahkan tidak menyadari bahwa suaminya melihatnya dengan senyum tertahannya yang gemas dengan melihat bibir istrinya memaju juga pipi mengembung kesal padanya.


Setelah selang beberapa menit ada dua pria ber kemeja rapih dengan badan tinggi tegak menghampiri Rendi memberi salam dan hormat padanya.


"Kalian bantu melayani para pengunjung timbal dua kali lipat !" Ucap Rendi meneri perintah.


Mereka mengangguk tanpa protes mereka pergi bekerja sesuai apa yang tuanjya katakan. Mereka melakukan apa yang semestinya di lakukan para pelayan di Cafe. Mereka tampak sangat bersemangat di saat mendengar dua kali lipat raut wajah mereka sumringah. Tidak ada terlihat enggan dalam melakukan pekerjaannya mereka masih bekerja melayani dengan sikap ramahnya walau badan setinggi dan kekar itu.


"Kamu tidak perlu tahu kamu cukup diam tidak boleh melakukan aktivitas apapun dan mencintaiku," jawab Rendi.


"Lalu apa yang aku lakukan?" Tanya Rara.


Rara masih dengan kesalnya pada suaminya yang membiarkannya untuk berdiam saja tanpa melakukan pekerjaannya.


"Kamu cukup melihat wajahku saja," ucap Rendi tersenyum.


"Tapi aku tidak ada kerjaan," rengek Rara.


"Kamu cukup bekerja di kamar saja," goda Rendi.


"Huh mesum." Rara cuek


"Sayang kamu sedang hamil kamu tidak boleh kelelahan, " bujuk Rendi.


"Kalau begitu aku mau ke rumah besar sekarang,"jelas Rara.

__ADS_1


"Kita tunggu nanti malam ya biiar semua sudah kumpul Papa juga pasti sudah pulang juga pada saat itu," jelas Rendi.


"Benarkah? Baiklah aku akan menunggunya," ucap Rara tersenyum.


Di rumah besar ibu Ratih sedang termenung di tempat duduk taman belakang. Ia tampak sedang membaca sebuah buku. Tapi dia ia baca hanya untuk mengalihkan pikirannya yang sedang gundah karena pikirannya tertuju pada Rara gadis yang ia kagumi ternyata istri putranya.


Yang tak lain adalah menantunya yang selama ini ia hina dan mencoba membuatnya untuk bercerai dengan putranya itu.


Ia termenung dalam pikiranjya sendiri tanpa ekspresi sedang cemas. Ia tetap memasang wajah datar dinginnya. Terdengar drink handponenya yang membuyarkan lamunannya membuatnya mengerutkan dahinya juga berubah mengangkat sebelah alisnya saat melihat siapa yaang meneleponya.


"Mah...aku akan kerumah nanti malam bersama Rara," ucap Rendi yang di sebrang telepon.


"Baik," jwab ibu Ratih singkat.


Ia tampak mengangkat bibirnya ke atas tersenyum mendengar ucapan Rendi di sebrang teleponnya.


Betapa bahagianya hati ibu Ratih saat mendengar bahwa putranya akan berkunjung bersama istrinya Rara.


Ia terdengar dingin saat menjawab teleponya padahal hatinya sangat senang mendengarnya. Apalagi baru kali ini putranya meneleponya duluan biasanya selalu Pak Jun yang menelepon Rendi duluan .


Setiap ada keperluan dan Rendi tidak pernah berkunjung tanpa alasan.


Apalagi kini ia membawa Rara istrinya yang sempat ibu Ratih ingin menjodohkanya. Tapi ia urungkan karena tahu bahwa Rara sudah punya suami.


Dulu di saat Rara berkata bahwa dia sangat mencintai suaminya yang rese itu. Ia bahkan mengatakan suaminya itu singa badai. Mengingat gerutuan Rara membuat perubahan ekspresi padanya mensiratkan senyuman di wajah ibu Ratih mengingat itu semua.


Setiap gadis itu berbicara membicarakan suaminya. Nyonya besar selalu tersenyum tertahan dengan cara penyampaian kekesalan Rara yang menurutnya lucu. Bagi siapapun yang melihat Rara berbicara banyak panjang lebar pasti akan merasa bahwa gadis itu manis dengan senyum ucapan bahkan tawanya juga menggemaskan baginya.


Pak Jun yang memperhatikan nyonya besarnya tersenyum tertahan ada kebahagiaan di hatinya. Saat melihat nyonya besarnya tersenyum tipis saat menerima telepon dari seseorang.


Bahkan Pak Jun tahu siapa yang membuat nyonya mudanya tersenyum dengan senyuman tak tertahannya.


Selain tuan mudanya yang menjadi alasannya untuk bersikap dingin pada siapapun itu termasuk tuan besar.


Ada seorang gadis yang mampu membuat nyonya besar membuatnya tersenyum saat di danau. Ia melihat nyonya besarnya berbincang dengan seorang gadis dengan senyum tertahannya. Melihat tingkah polos gadis itu tertawa terbahak lepas di depan nyonya besar. Saat nyonya berperan sebagai seseorang biasa tidak menjadi nyonya besar yang ia lihat sekarang.


Pak Jun mencoba menghampiri nyonya besarnya untuk mencari tahu apa yang membuatnya tersenyum bahagia. Bahkan wajahnya bersinar setelah menutup telepon yang baru saja ia terima.

__ADS_1


__ADS_2