Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Double Huneymoon


__ADS_3

Ditaman belakang rumah besar,Rara sedang duduk memakan buah-buahan di piringnya. Terlihat Rayn dan Amira sedang di gendong Kakek dan Neneknya,Rara melihat Mertuanya tampak bahagia dengan kedua cucunya yang kini berusia tiga bulan.


"Hmmm Mah biasanya di usia segini mereka sudah tengkurep ya Mah?" Ucap Rara.


"Rendi dulu dia tidak tengkurep dia justru sangat pemalas maunya di gendong terus,tahu tahu usia empat belas bulan ia sudah bisa jalan aja," ucap ibu mertuanya.


"Benarkah Mah wah lucu ya suamiku waktu bayi manja sekarang juga manja, "ucap Rara.


Rara tidak tahu kalau ucapanya membuat mertuanya juga para pelayan terkejut,karena Rendi yang manja untuk saat ini itu hal tidak mungkin.


Rara melihat wajah mereka yang terkejut dan diam termasuk mertuanya.


"Dia selalu manja hanya padaku mah," jelas Rara tersenyum.


Tuan dan ibu Anggara tersenyum mengerti penjelasan Rara. Mereka berbincang dengan candaan kepada Rayn dan Amira.


Hingga datanynya sebuah mobil silver yang di dalamnya ternyata Rendi.


Rendi menghampiri istri dan orangtuanya dan menyapa.


"Hmmm suamiku yang tercinta sudah pulang,bagaimana pekerjaanya sayang?" Ucap Rara.


"Aku tahu maksud dari ucapanmu ini sayang tidak bisakah kamu biarkan aku duduk dulu." Batin Rendi.


"Kamu tidak kelelahankan juga bagaiman Ken apa dia sudah kembali?" Tanya Rara kembali.


"Tuh kan kamu masih membahas itu saja," batin Rendi.


"Buatkan jus buat tuan muda ya, biar ia ada tenaga untuk berbicara," ucap Rara tersenyum pada suaminya.


"Uuuuuh bibir manisku ini ingin ku makan habis," batin Rendi.


"Kamu masih mau diam saja sayang atau perlu aku memakanmu dulu," bisik Rara menggoda.


"Sepertinya istriku semakin mahir saja"bisik Rendi .


Rara yang mendengar ucapan suaminya ia terdiam dan duduk di kursinya dan memakan buah-buahan kembali dengan mengembungkan pipinya.


"Dia semakin menggemaskan," batin Rendi.


"Kamu sudah membereskanya Rend?" tanya Tuan Anggara ia memberikan Amira kepada Rara.


Rara mengajak bercanda Amira dengan Amira yang sudah ada suara menyaut ibunya.


"Aaaaah Amira menyautiku Sayang," teriak Rara mengejutkan semua orang termasuk suaminya.


"Alhamdulillah Sayang mamah kira kamu cuek kaya papamu ini ternyata suaramu seperti berlian ya Sayang sangat membuat mamah bahagia," ucap Rara.


Semua orang tersenyum dengan ucapan Rara.


"Untuk membuatmu bahagia sesederhana ini ya Sayang," ucap Rendi.


"Hmmm aku sangat bahagia akhirnya Amira nyaut pembicaraanku.Aku pikir Amira gara-gara keseringan di pangku oleh papanya jadi sifatnya sama kaya kamu dingin dan cuek," ucap Rara.


Rendi terkejut bagaimana bisa istrinya berpikir seperti itu .


"Dasar konyol," ucap Rendi tersenyum.


"Saat Rayn menyaut terus aku senang tapi Amira sangat kaleem aku sangat senang," ucap Rara.


"Memang ada yang membuatmu tidak senang? Ucap Rendi.


"Ada kamu," jawab Rara memajukan bibirnya.


Rendi terkejut mendengar ucapan Rara.


"Benarkah sayang kamu tidak bahagia kapan aku pernah membuatmu tidak sesenang ini? " Tanya Rendi memeluk istrinya.


"Pantaai," ucap Rara tersenyum manja.


"Sayang kan sudah ada bulan madu" ucap Rendi.


"Tapi kapan?" Tanya Rara manja.


"Ken kembali besok jadi kita tunggu dia mengerjakanya," ucap Rendi.


"Uuuuhmm Double huneymoon,aku suka dan sangat bahagia Sayang," ucap Rara tersenyum sumringah.


"Kamu senang sekarang apa aku tidak membuatmu tidak senang lagi? Tanya Rendi.


"Buktikan dulu baru aku akan katakan," ucap Rara tersenyum.


"Hmuuuuuah baiklah cup." Rendi mengecup pucuk kepala istrinya.


Mereka bahkan tidak menghiraukan orang-orang yang ada disana.


Rayn dan Amira di bawa ke dalam karena sudah mulai gelap.


Rendi dan Rara masuk ke rumah utama. Mereka makan malam bersama keluarga besar.


Rendi yang sedang membuka laptopnya. Rara yang membuka handponenya ia memeriksa keuangan dan juga tabungan pribadinya.


Rara terkejut saat melihat nominal tabunganya. Ia terbangun dan menghampiri suaminya,duduk di pangkuan suaminya tanpa permis.


"Sayang kamu tau angka segini namanya apa? Tanya Rara tanpa melihat ke arah suaminya.


"Hmmm," jawab Rendi.


"Ini berapa jumlahnya ?Tanya Rara masih bingung.


"Mungkin tiga triliun atau lebih," ucap Rendi masih melihat laptopnya yang di peganag sebelah tangan.


"Apaaaa!" Teriak Rara membuat Rendi memegang telinganya.


"Kamu bisa jumlah gak sayang ini berapa?" Teriak Rara.


"Itu yang aku tahu Sayang," jawab Rendi.


"Tapi kenapa bisa segini?"Ucap Rara.


"Memang kenapa?" Tanya Rendi.


"Cafe ku tidak mungkin ada segini sayang hasilnya tuh di bagi tiga Aku Dilla dan modal dan bagianku tidak mungkin segini Sayang," jelas Rara.


Rendi tersenyum melihat tingkah istrinya biasanya wanita selalu bahagia melihat tabungnya melambung bahkan selalu mengeluh kurang.


Tapi lain dengan istrinya Rara justru harus terperinci dalam hal keuangan, harus jelas asal usulnya.


"Aku tanya Dilla dulu," ucap Rara berdiri tapi di cegah Suaminya malah di cium oleh suaminya intens.

__ADS_1


"Aku serius sayang kamu jangan ganggu aku," ucap Rara melepas ciuman suaminya.


Tapi Rendi tetap menahanya dan tersenyum.


"Itu gajihku yang aku kirimkan padamu Sayang," ucap Rendi pada istrinya.


"Kenapa,lalu sebesar itu gajihmu?" Tanya Rara.


"Tidak gajihku hanya sepuluh juta aku mengirimnya selama pernikahan kita," ucap Rendi.


"Apanya yang selama pernikahan kita baru nikah kurang lebih dua tahun sayang kamu pikir aku g bisa menghitung hah," teriak Rara memegang pipi suaminya.


Rendi tersenyum dengan sifat istrinya yang harus serba jelas.


"Itu bonus atas kerjamu Sayang," ucap Rendi.


"Kerja apa? Tanya Rara.


"Kerjamu yang selalu membuatku mencintaimu dan menjadi istriku tercinta," ucap Rendi mengecup bibir istrinya.


"Suamiku atas cinta dan apa yang aku lakukan itu ikhlas dengan segala ketlusan hati kamu cukup jadi Suami ayah yang hebat dan baik itu sudah sangat membahagiakan bagiku karna aku milikmu," ucap Rara.


"Hmmm, karna miliku termasuk uangku bahkan semua ini milikmu dan untukmu," tegas Rendi.


"Lalu harus aku apakan uang sebanyak ini? Tanya Rara.


"Sesukamu Sayang," jawab Rendi tersenyum memeluk Rara.


"Sayang," ucap Rara.


"Hmmm." Rendi


"Terimakasih atas semua kebahagiaan yang kamu berikan padaku," ucap Rara.


"Karna bahagiamu adalah kebahagianku Sayang," ucap Rendi.


"Apa jadi bulan madunya?" Tanya Rara.


"Kamu masih keras kepala ya sayang, tentu saja jadi," ucap Rendi tersenyum.


"Hmmm aku mencintaimu suamiku, aku ingin cepat-cepat besok aku mau tau kita mau kemana?" Ucap Rara bahagia.


"ken cepatlah kembali aku sudah tidak tahan godaan istriku ini dia sangat manis," batin Rendi.


Rendi mencium istrinya dengan dalam.


Rendi menurunkan ciumanya pada leher jenjang istrinya. Hingga sampai di buah dada istrinya yang dari tadi Rara sembulkan ke wajah suaminya untuk menggodanya.


Rara membiarkan suaminya yang melihat istrinya yang semakin menggoda ia melanjutkan aktivitasnya menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya.


Rendi bekerja keras malam ini, ia bahkan melakukanya berkali -kali selalu ingin memuaskan istrinya.


Bukan tak beralasan Rendi selalu mengutamakan istrinya,ia tidak mau seperti dulu ucapan mantan istrinya yang mengatakan bahwa Rendi tak mampu memuaskanya.


Untuk itu Rendi akan mempertahankan sebaik mungkin apalagi urusan ranjang.


*****


Prolog .


Dilla&Ken


Mereka sudah berpamitan dengan orangtua Dilla. Meski sempat di larang oleh mertuanya Ken meyakinkan orangtua Dilla agar bisa pergi untuk malam ini juga karena paginya harus berada di rumah besar.


Ken memegang kemudi,ia melihat ke arah istrinya yang kini sudah tertidur lelap. Setelah dari tadi ia marah-marah karena kesal pada suaminya yang tidak mendengarkanya hanya mendengarkan tuanya.


Kini Dilla kesal hingga tertidur.


"Maaf ya Sayang karena hanya dia yang harus aku perjuangkan yang terbaik untuknya aku harap kamu mengerti dan asal kamu tahu kalau bukan karena dia aku tidak akan pernah mempertimbangkan untuk bersamamu," ucap Ken.


Ken melihat pesan masuk yang tuanya kirim.


Ken membacanya tanpa membalasnya.


Ken melihat istri ia tersenyum bahagia, saat mendengar tuannya akan membicarakan tentang bulan madu.


"Kamu sangat bahagia tadi saat aku mengatakan bulan madu seingin itukah kamu sayang?" Ucap Ken.


Ken masih fokus mengemudi jalanan yang sepi mempercepat laju kendaraan Ken hingga pukul tiga pagi Ken sampai di Apartmentnya.


Ken menggendong istrinya dan membaringkanya di atas kasur.


Ken mencoba memejamkan matanya ia beristirahat sebentar.


Sepertiga pagi Dilla terbangun ia melihat suaminya yang tertidur dengan posisi duduk.


"Ken bangun kamu tidurnya jangan duduk tidurlah yang benar," ucap Dilla


"Hmm iya," ucap Ken .


Bukanya tidur Ken malah bangun dan pergi ke kamar mandi.


Dilla yang melihat terkejut dengan tingkah suaminya.


"Aku menyuruhnya tidur kenapa dia malah ke kamar mandi sampai mandi lagi," gumam Dilla.


Ken kini sudah segar dengan balutan handuk di pinggang bertelanjang dada.


Dilla yang melihat suaminya ia komat kamit dan bergegas ke kamar mandi ia juga bersembahyang.


Dilla menghampiri suaminya yang sudah rapih di pagi buta.


"Kamu mau kemana?" Tanya Dilla .


"Ke rumah besar," jawab Ken.


"Ke rumah besar di pagi buta begini, mereka justru masih nyenyak tidur Ken," ucap Dilla.


"Kamu mau ikut?" Ajak Ken.


"Baiklah aku ingin krtemu si kembar," teriak Dilla.


"Bersiaplah kita akan berangkat sekarang." Ucap Ken.


"Harus sepagi ini?" Tanya Dilla.


"Hmm," jawab Ken.


Dilla yang masih ingin bertanya ia urungkan karna suaminya sudah enggan menjawab banyak.

__ADS_1


Dilla tahu kalau Ken selalu banyak bertindak tidak banyak berbicara.


Ken memegang kemudi dengan Dilla di sampingnya. Ken selalu fokus pada apa yang ada di hadapanya.


"Rendi mau membicarakan bulan madu kita,uuuh aku sudah tidak sabaar," ucap Dilla bahagia.


"Aku justru merasa curiga dalam hal ini." Batin Ken.


"Kira-kira kemana ya Ken?" Tanya Dilla.


"Aku belum tahu,"jawab Ken.


Di rumah besar sudah ramai para pelayan bekerja ada yang membersihkan ada yang masak di luar ada yang sedang mengganti air kolam,begitupun Tuan dan Nyonya Anggara yang sedang minum teh di taman menghirup udara pagi.


Di sebuah kamar Rendi dan Rara sedang sibuk mengurus Rayn dan Amira. Yang satu sedang mandi yang satu sedang memakai popok.


Rara memandikan Rayn setelah memandikan Amira.


Rendi yang memakaikan popok pada Amira.


Rara keluar dengan Rayn yang di bulatkan oleh handuknya.


Mereka saling berbagi tugas satu sama lain mengerti tentang anak-anaknya.


Rara sudah selesai memakaikan pakaian pada Rayn. Lain dengan Rendi yang dari tadi belum selesai memasangnya pada Amira.


"Huh sini biar aku saja kamu gendong Rayn aja,"ucap Rara


Rendi mengangguk ia tersenyum karna istrinya sungguh gesit dalam setiap hal.


Rendi bahkan sangat mengagumi istrinya yang sangat pintar mengatur waktu untuk anak-anaknya juga untuknya.


"Sayang aku ke bawah ya," pamit Rendi.


Rara masih memakaikan pakaian pada Amira.


Rara lebih banyakbercanda untuk Amira yang hanya menyaut pada mamahnya.


Amira bahkan sudah tengkurep dan hanya di lakukan jika ada ibunya saja.


Rara turun ke lantai bawah yang disana sudah ada mertuanya.


Rendi menggendong Rayn, Amira yang kini di pangkuan ibunya,ia sangat anteng tanpa menangis lagi.


"Mah Amira pintar ya kemampuanya ia hanya menunjukan pada mamahnya aja," ucap Rara


"Iya padahal nenek juga mau dong Amira kreatifnya cucu omah," ucap Nyonya besar.


Rara menghampiri suaminya yang sedang membaca koran dengan satu gelas kopi hitam.


"Bagaimana sayang Ken ko belum datang sih?" Ucap Rara manja.


"Sebentar lagi juga sampai," jawab Rendi.


"Apa dia beneran kembali?" Tanya Rara.


"Permisi Tuan muda,tuan Ken ada di depan," ucap pelayan iya melanjutkan langkahnya dan kembali ke dapur.


"Waaaaah aku senang ayo Sayang kita tanyakan bagaiman tempatnya," ucap Rara.


Rendi berdiri dan masuk ke ruang tamu.


"Tuan anda perlu sesuatu?" Tanya Ken.


"Hmmm," jawab Rendi.


Dilla pergi mencari Rara saudaranya.


"Uuhmmm ternyata di rumah besar ini semua orang segar-segar berlalu lalang ya," ucap Dilla


"Sayang sini," panggil Rara pada Dilla.


Dilla menghampiri Rara ia menggendong Rayn yang taampan.


Mereka berbincang bersama mertua Rara bersama di taman.


Di ruang kerja Rendi mendiskusikan sesuatu dengan ken.


"Apa ada sesuatu Tuan?" Tanya Ken.


"Carikan tempat yang baguss untuk bulan madu yang hangat," ucap Rendi.


"Sebenarnya tuan anda tidak perlu repot-repot mencarikan tempat bulan madu kami," ucap Ken tersenyum.


"Siapa yang untukmu ini untuku dan Rara," ucap Rendi.


"Uuuh sudah kuduga anda tidak mungkin sesenggang itu tuan hatinya."Batin Ken.


"carikan empat kamar buatku buat pelayan dan Rayn," ucap Rendi.


"Baik Tuan," ucap Ken


"Kalau begity saya pamit dulu tuan," ucap Ken.


"Siapa yang menyuruhmu pergi," bentak Rendi.


Ken terdiam.


"Apa kau sudah berani membantahku hah," teriak Rendi.


"Tidak tuan saya hanya berpikir rencana kemana ya," ucap Ken.


"Kau cari sendiri yang bagus yang bisa membuat keluargaku nyaman.


"Baik Tuan," ucap ken ia berdiri dan pamit.


"Ken tambah satu kamar untuk Dilla," teriak Rendi.


Ken terkejut dengan apa yang ia dengar,ia berbalik kembali pada tuanya.


"Apa tuan sedang bercanda? Tanya Ken.


"Aku tahu kau belum tuntas makanya secepatnya cari tempat bulan madunya," ucap Rendi.


"Kata istriku Double huneymoon," ucap Rendi tersenyum.


Ken mengangguk mengerti apa yang di katakan tuanya.


"Anda memang selalu istimewa tuan saya tidak sanggup bila harus jauh dari anda lama lama tuan," batinKen..

__ADS_1


__ADS_2