
Di ruang kerja Mark dan Alea bersitatap satu sama lain dan masing-masing terbawa pikiran mereka sendiri. Mark menatap dengan tajam melihat wajah sekretarisnya itu dan pandangannya turun kearah bibir Alea, yang sempat bersentuhan dengan bibirnya beberapa hari yang lalu. Mark menelan salivanya ketika melihat bibir Alea merekah tersenyum tipis. Mark mengerutkan dahinya ketika memikirkan apa yang dilakukan gadis di hadapannya itu. Ia terbatuk untuk membuyarkan lamunan mereka berdua. Alea terkejut ketika mendengar batuk tuannya, dengan refleks ia mengusap punggung Mark secara spontan. Alea mengusap-usap punggungnya tanpa ia sadari. Mark justru mengerutkan dahinya dan heran akan sekretaris barunya itu.
"Anda tidak apa-apa Tuan?" tanya Alea sedikit khawatir kepada Mark.
"Tidak! "jawab Mark dingin.
Alea menyadari apa yang ia lakukan saat ini, lalu mengakhiri tengahnya yang refleks mengusap-usap punggung tuannya itu. Ia sedikit mundur, berjaga jarak dari tuannya dan mencoba menenangkan dirinya mengingat dadanya semakin berdegup kencang ketika berada di dekat tuannya itu. Apalagi beberapa saat yang lalu mereka bersitatap dengan sangat dekat hingga tercium aroma mint dari tubuh Mark. Aroma yang membuat Alea semakin canggung. Ia juga sempat melihat bibir milik Mark yang juga sempat mencium bibirnya. Alea semakin salah tingkah ketika Mark yang duduk dan masih menatap ke arahnya.
Setelah cukup lama, Mark mulai mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Ia merasa ada sesuatu yang salah pada dirinya. Ketika dia menatap seorang wanita dengan cukup lama seperti itu.
"Apa yang akan kau sampaikan?" tanya Mark pelan.
__ADS_1
"Semalam nona Dera menelpon saya Tuan! Dia meminta untuk makan malam kembali," jelas Alea kepada mark dengan sedikit ragu.
"Lalu?" tanya Mark kembali.
Setiap pertanyaan Mark membuat Alea mengerutkan dahinya dan tidak habis pikir akan jawaban Mark.
"Apa yang harus saya jawab? Katakan saja Tuan, apa saya perlu mencarikan tempat untuk makan malam lagi?" jawaban Alea ragu-ragu.
"Bukankah kamu juga memiliki hutang makan malam denganku?" ucap Mark tegas kepada Alea.
"Astaga sebenarnya apa sih yang dia katakan? Pria dingin kutub utara ini kenapa semakin kesini, aku semakin tidak mengerti dia? Bukankah aku sudah bekerja padanya cukup lama? Untuk mengetahui sifatnya?" gumam Alea.
__ADS_1
Alea semakin tidak mengerti akan sifat tuan yaitu.
"Bukankah kau perlu menjelaskannya kepada kutub utara ini?" tambah Mark lagi.
"Ya ampun ... ternyata kutub utara ini mendengarkan ucapan aku? Apa yang harus aku lakukan?" gerutu Alya semakin merasa tegang mengingat dirinya memang sudah mengetahui Bosnya itu kutub utara secara tidak sengaja saat ditelepon.
"Maaf tuan saya...."
Alih-alih menunggu jawaban Alea. Mark malah asyik melihat tingkah gadis itu yang sedikit ragu-ragu dengan memutar-mutar jarinya merasa tegang. Mark tersenyum, ia berdehem dan membenarkan duduknya. Sesekali ia melirik ke arah Alea yang masih berdiri di hadapannya.
"Kemari!" pinta Mark datar.
__ADS_1
Alea seperti ada sebuah magnet dan secara spontan, ia menuruti apa yang diucapkan oleh Mark. Alea berjalan menghampiri Mark. Hingga sekarang ia berada dihadapan Mark.
Mark yang sedang duduk di kursinya, Alea terdiam ketika mendapati Mark yang malah semakin menatapnya dengan tajam.