Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Masih Bertanya


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Di dalam sebuah mobil Aris kini duduk di kursi penumpang dengan supir yang ada di balik kemudi tanpa berbicara kepada tuannya itu. Aris memikirkan satu hal yang membuatnya sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Amira. Tentang dirinya yang akan tahu sesuatu ketika sudah sampai di alamat yang diberikan oleh Amira kepadanya.


"Aku sangat penasaran. Apa yang dimaksud dengan Amira tentang alamat ini," gumam Aris.


Ia berbicara sembari melihat-lihat ke jalanan yang cukup ramai, lalu ia mendapatkan sebuah dering handphonenya yang terlihat saat ia melihat adalah tertuliskan gadis impian titik habis tersenyum tipis ia membenarkan posisi duduknya lalu menjawab telepon itu.


"Iya Nek!" ucap Aris.


"Aku sedang dalam perjalanan menuju alamat yang kamu berikan ini," ucap Aris.


Aris tersenyum, lalu ia menutup handphonenya kembali. Dngan suasana hati yang sangat bahagia, Aris melebarkan senyumnya, lalu ia kembali fokus melihat ke jalanan yang cukup ramai dilewatinya. Sembari ia bersenandung mengingat sahabatnya itu. Sopir yang melihat wajah Aris yang berseri-seri itu, tampak bahagia setelah mengingat tuan mudanya itu mempersiapkan apa saja yang akan dibawa untuk peralatan campingnya.


Ia bersama temannya itu, meski Aris belum tahu di mana mereka akan berkemah. Namun dia percaya akan sahabatnya Amira, yang telah mengundangnya berada tepat di sebuah perkomplekan perumahan, yang cukup besar. Yaitu alamat rumah besar Anggara. Saat sampai di sebuah alamat itu Aris mengerutkan dahinya, ia masih tidak percaya dengan alamat yang ia singgahi saat ini.


" Pak Apa benar ini alamatnya?" tanya Aris masih tidak mempercayai alamat yang kini ada di hadapannya itu.


"Ini alamat yang tertera Tuan," jawab Supirnya.


"Lalu kenapa Amira memberikanku alamat ini?" ucap Aris masih tidak mempercayai apa yang ia lihat di depan matanya itu.


Saat Aris bergelut dengan pikirannya memikirkan alamat ya yang kemungkinan salah diberikan oleh Amira. Tiba-tiba seorang pria berbaju serba hitam mengenakan pakaian formalnya menghampiri Aris lalu menyapanya.


"Selamat pagi Tuan Aris," sapa pria berpakaian formal itu.


"Hah! Iya saya?" jawab Aris.


"Silahkan anda masuk mobil dan mengikuti kami!" ajak pria berpakaian formal itu.


Aris terdiam dan melihat ke arah supirnya yang terdiam dan mengangguk, supirnya sudah paham perturan dari komplek Anggara yang sudah terkenal dengan sebuah privasinya. Aris mengangguk dan pergi bersama dengan pria serba hitam itu memasuki mobilnya.


Meski Aris merasa sedikit ragu dan terkejut, namun ia berjalan mengikuti pria yang berpakaian serba hitam itu, memasuki mobilnya. Ia bahkan meninggalkan mobil yang ia naiki beserta dengan sopirnya. Meski sopirnya itu tahu akan peraturan dari kediaman Anggara ini. Namun dia tidak mencegah atau melarang tuan mudanya untuk ikut bersama dengan para penjaga di kediaman Anggara.

__ADS_1


Jangankan upir itu seluruh Asia sudah tahu keprofesionalan para pekerja di kediaman Anggara. Bahkan perusahaannya jauh lebih besar dari dugaan Aris. Saat memasuki mobil itu, ia semakin terkejut bahkan tidak bisa mempercayainya ketika ia masuk ke dalam mobil itu dengan fasilitas yang mewah dan sangat nyaman.


"Ini untuk menjemputku kah? Kenapa harus dengan mobil semewah ini?"gumam Aris.


Ia melihat tatanan di dalam mobil dengan fasilitas dan kenyamanan yang ada di sana. Membuatnya menjadi salah tingkah, meski dirinya terbilang keturunan anak orang kaya, namun fasilitas ataupun mobil miliknya tidak seperti yang saat ini ia tumpangi. Ada terdapat meja untuk tempat minum bahkan kursinya pun sangat leluasa jika ada beberapa orang berada di dalam mobil itu.


Saat Aris mencoba untuk menyentuh gelas yang tertata rapi di sana, tiba-tiba mobil itu berhenti dan membuatnya teralihkan hingga pintu mobil yang ia tumpangi terbuka. Lalu Aris keluar saat pria berpakaian serba hitam itu berada tepat dimana ia turun dari mobil.


Aris terdiam ia bahkan tidak percaya akan apa yang ia lihat di hadapannya adalah kediaman Utama Rumah Anggara.


"Apa aku salah alamat ya? Tapi kenapa ada yang menjemputku? Sudahlah aku ikut," gumam Aris.


Aries di tunjukkan arah oleh pria berpakaian formal tadi, hingga memasuki sebuah halaman rumah yang cukup besar, bahkan lebih besar dari rumah Aris yang terbilang golongan orang kaya. Saat ia melangkah memasuki halaman rumah itu terlihat seorang gadis yang berpakaian rapih mengenakan hijab berwarna moca dengan kaos warna putih lengan panjang dan celana jeans warna Navy, berjalan menghampiri Aris. I bahkan tersenyum dengan tipis menghampiri pria itu.


"Kamu sudah datang?" tanya Amira tersenyum ramah ke arah Aris.


"Kamu Amira kan? Kenapa aku melihatmu seperti lain dari biasanya?" tanya Aris.


Ia menarik peergelangan tangan Aris dan berjalan melewati halaman rumah Anggara. Kini Aris malah terdiam, dia membiarkan tangannya ditarik oleh sahabatnya itu. Meski begitu banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Namun Aris hanya bisa berdiam saja tidak bisa berkata apapun.


Apalagi ketika memasuki kediaman rumah Anggara yang sangat luas. Bahkan ada terdapat senyum sapa ramah dari pemilik rumah itu, yaitu tuan Anggara dan nyonya Anggara. Aris terdiam ketika melihat dan mendapati perlakuan lembut dan ramah dari keluarga utama kediaman Anggara.


"Ayo kalian mau makan dulu! Makanan sudah sedia. Bukankah kalian akan melakukan kemping nya nanti siang?" tanya ibu Ratih dengan ramah.


"Iya nih, nanti setelah sarapan kita akan ke halaman. Ayo kita makan!" jawab Amira terdengar lembut.


Meski Aris masih belum mengerti dengan apa yang ia dengar dan dia lihat. Namun ia masih terdiam bahkan tangannya masih saja digenggam erat oleh Amira, yang menuntunnya hingga berada tepat di luasnya meja makan yang sangat panjang. Bahkan di sana sudah ada tuan Anggara dan juga seorang gadis yang memang Aris belum ketahui siapa orang itu.


Gadis yang sangat cantik dengan gaun warna putih duduk dengan elegan saat tepat di meja makan. Amira membukakan kursi untuk Aries.


"Jangan diam saja duduk!" ucap Amira.


Seperti sebuah magnet, Aris duduk saja ketika diperintahkan duduk oleh sahabatnya itu. Naura dan juga kakek dan neneknya Amira, hanya tersenyum tipis ketika melihat perlakuan Amira kepada sahabatnya itu. Yang cukup akrab bahkan membuat nyaman bagi siapapun yang melihatnya tentang perhatian Amira kepada pria yang kini duduk tepat disamping Amira.

__ADS_1


Meski Aris belum memahami akan apa semua ini, namun ia melihat ke arah Amira yang juga menyediakan membuka piring untuk dirinya.


"Harusnya aku bahagia ketika Amira melayaniku dengan baik seperti ink! Tapi aku lebih penasaran akan apa yang terjadi saat ini? Apa aku sedang bermimpi?" batin Aris.


Saat Amira memberikan makanan untuk Aris. Keluarga Amira, nenek dan Naura memperhatikan Amira yang memperhatikan sahabatnya itu dengan baik. Mereka tersenyum tipis ketika mendapati hal yang diluar dugaan mereka. Bahwa Amira bisa bersikap lembut kepada sahabatnya juga.


Saat Aris mulai mencerna apa yang terjadi saat ini. Tiba-tiba ia dikejutkan ketika kedatangan seorang pria yang cukup familiar bagi dirinya. Duduk berada tepat di hadapan Aris disamping Naura. Aris mengerutkan dahinya, bahkan ia terdiam sejenak tidak bisa berkata apapun, saat melihat adegan dimana pria tampan itu duduk berada tepat di samping Naura.


Bahkan Amira duduk tepat disamping Aris. Saat menyaksikan hal itu, Aris berulang kali melihat kearah Rayn lalu melihat ke arah Amira bersamaan. Amira mengerutkan dahinya, ia lalu menatap Aris yang masih terdiam, bahkan tidak berbicara sama sekali semenjak Ia datang memasuki kediaman Anggara.


"Sepertinya ada banyak sekali pertanyaan di dalam otakmu itu?" ucap Amira.


Aris terkejut ketika mendengar ucapan dari sahabatnya itu, ia menjadi salah tingkah ketika mendapati Amira yang melayaninya dengan baik.


"Harusnya kamu bersyukur ketika dilayani dengan baik oleh Adik kesayanganku itu," ucap Rayn sembari ia memakan sarapannya.


Aris semakin terkejut ketika mendengar penuturan Rayn yang tentang dirinya dan Amira. Ia sekali lagi melihat ke arah Amira dan juga ke arah Rayn berulang kali. Bahkan sesekali ia melihat ke semua orang yang ada di meja makan.


"Makan dulu Nak Aris! Nanti jika selesai makan. Kamu boleh bertanya apapun yang mau kamu tanyakan kepada Amira," ucap Ibu Ratih tersenyum ramah lalu memberikan makanan untuk suaminya.


Saat Mendengar hal itu, Aris kini mencoba untuk memakan makanannya. Meski begitu banyak pertanyaan yang ingin Ia lontarkan. Namun ketika melihat kerukunan dan kerapihan di meja makan keluarga Anggara. Tidak ada yang berbicara ataupun bersuara bahkan berdecak pun tidak ada, hanya suara dentingan sendok dengan piring di mana mereka makan. Begitupun dengan Aris yang kini memakan makanan yang sudah disediakan oleh Amira.


"Apa aku benar-benar sedang bermimpi?' batin Aris.


Aris masih bertanya-tanya tentang apa yang sedari in saat ini setengah terjadi. Hingga acara sarapan pagi selesai. Aris yang kini duduk tepat di halaman rumah Anggara. Memperhatikan Amira dan juga Rayn begitupun Naura yang tengah sibuk memasang tenda, berada tepat di samping kolam taman rumah Anggara. Yang di sana berada tepat perkebunan buah-buahan, yang juga hamparan perkebunan itu cukup luas dan juga asri jika mereka ingin bercamping disana.


Saat Aris mencoba untuk menghampiri mereka. Amira memukul kepala Aris dengan ranting yang ada di tangannya lalu tersenyum.


"Nanti saja bertanyanya. Sekarang kita harus membangun tenda untuk kita berkemah saat ini!"ucap Amira tersenyum.


Aris mengangguk dan Ikut memasang tenda yang dibantu oleh Amira begitu kebersamaan mereka dengan Naura memasang tenda bersama. Meski mereka sebenarnya hanya membuat 2 tenda saja, yang satu untuk Amira dan Naura dan juga yang satunya lagi untuk Rayn bersama Aris.


Meski seperti itu, Aris masih belum juga mengerti ataupun memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini. Namun ia ikut menikmati momen kebersamaan mereka ketika membangun sebuah tenda bersama-sama. Mereka sesekali bercanda dengan Amira yang memang sedikit berperilaku keras. Namun jauh berbeda dengan Naura yang terlihat manis bahkan anggun dengan gaunnya yang berwarna putih selutut, rambutnya yang di bawah bahu dengan kulit putihnya itu. Ia terlihat sangat manja ketika bersama dengan Rayn.

__ADS_1


__ADS_2