Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Seperti Dulu


__ADS_3

Mark dan Iyas melihat Ken yang murka dengan tampilannya setelah membantai anak buah Jason. Ken tampak geram melihat ke arah Mark dan Iyas yang membiarkan tuannya Rendi mengotori tangannya hanya untuk menghajar seorang Jason.


"Kalian tidak berguna !" Cetus Ken memancarkan aura membunuhnya pada Mark dan Iyas yang sedang berdiri dan mereka di tinggalkan begitu saja oleh Ken dengan wajah yang geram memasuki kendaraannya.


Mark hanya diam tak menanggapinya begitupun dengan Iyas mereka teringat sumpah janji mereka bahwa hanya mereka yang akan turun tangan di lapangan dan Rendi cukup menjadi tuan mereka. Tetapi hari ini Rendi dengan tangannya sendiri memukuli Jason membabi buta dengan murkanya. Walau tidak terkena pukulan sama sekali tapi Ken bahkan tidak mau tuannya itu berkeringat sedikitpun jika hanya menghadapi musuhya. Setelah melihat kendaraan yang di tumpangi Rendi pergi .


Mark dan Iyas masih terdiam mematung. Mengingat itu semua Mark dan Iyas menerima kekesalan Ken yang murka karena ulahnya yang tidak bisa mencegah tuannya untuk berkelahi. Kini mereka pergi membereskan Jason yang sudah terkapar dan mengirimnya ke pulau yang Rendi maksud. Pulau yang bahkan tidak pernah ada seorang manusiapun datang ke sana.


Ken tampak cemas di balik kemudinya, ia melihat ke arah Rendi yang sedang memejamkan kedua matanya bersandar di kursi penumpang. Ia bahkan tidak melihat ke arah Ken saat Ken datang dan menyapanya tadi.


Rendi tidak mau Ken melihat keadaannya saat ini karena Ken selalu marah pada siapapun jika mengingat Rendi yang turun tangan sendiri.


Ken selalu ingin dia yang menjadi tangannya Rendi dalam hal apapun apalagi hanya untuk membunuh satu orang saja. Mengingat itu semua Rendi tidak ingin ada banyak hal yang Ken tanyakan padanya tentang ia yang malah turun tangan sendiri tentang Rwndi yang mulai berkeringat bahkan Rendi yang bersedihpun baginya itu tidak boleh terjadi bagi Ken.


Ken tampak sangat penasaran dengan keadaan tuannya yang sekarang memejamkan kedua matanya. dengan pakaian Rendi yang kusut berantakan membuatnya ingin menggantinya dan merawat tuannya saat ini juga.


Ken geram dalam dirinya sendiri dn memarkirkan mobilnya di sebuah Mini Market.


Ia keluar dan meninggalkan Rendi di dalam mobil sendirian. Rendi membuka matanya dan melihat ke arah Ken yang sudah berjalan jauh memasuki Mini Market.


Rendi memejamkan matanya kembali meredakan dadanya yang memanas karena amarah yang memuncak saat memukuli Jason tadi.


Ken kembali dari Mini Marketnya dengan membawa sebuah plastik bingkisan di tangannya ia menghampiri pintu penumpang dan membukanya.


"Ini minumlah dulu Tuan dan juga usap keringat Tuan," ucap Ken memberikan sebuah sapu tangan dan juga minuman untuk Rendi beserta makanannya.


Rendi membuka kedua matanya dan melihat ke arah Ken yang sudah menyodorkan bingkisan beserta sapu tangan.


"Aku tidak apa- apa," ucap Rendi acuh.


Ken terdiam dengan tingkah Rendi yang bergengsi jika harus menunjukan kelemahannya.


"Saya hanya tidak mau Nona melihat Anda yang berantakan dan terlihat lelah Tuan," ucap Ken acuh.


Rendi membulatkan kedua matanya terkejut mendengar ucapan Ken yang berbicara tentang istrinya.


"Hmm kau sudah mulai berani bernegosiasi ya Ken," cetus Rendi.


"Jika Tuan ingin Nona tahu keadaan Tuan ya sudah," ucap Ken acuh dan menyimpan bingkisan di hadapan Rendi yang sudah memasang wajah geram pada Ken.


"Kau semakin berani ya akan aku pastikan kau tidak lagi bekerja denganku," ucap Rendi geram tapi hatinya suka saat Ken memperhatikan tentang dirinya untuk istrinya.


Ken tidak menghiraukan gerutuan Rendi ia berputar mengitari mobilnya dan memasuki kembali mobilnya dan melajukan kembali menuju Bandara yang diamana sudah ada Nona dan juga istrinya yang sedang menunggu mereka.


Rendi berpura-pura acuh tapi ia teringat akan istrinya yang pastinya akan banyak pertanyaan yang akan ia lontarkan jika melihat keadaannya yang saat ini sangat berantakan. Ia melirik ke arah Ken yang sedang fokus mengemudi dan mengambil bingkisan yang Ken simpan di dekatnya tadi.


Rendi membuka air mineral dan menenggaknya meminumnya hingga hampir habis tersisa. Ia merasa jauh lebih baik saat sudah minum,ia juga mengambil sapu tangan yang ada di dekatnya dan mengusapkannya ke wajahnya begitupun tisu basah yang di gunakan untuk membersihkan dirinya tangan yang tadi ada darahnya agar tidak tercium bau amis. Rendi juga mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah tersedia di mobilnya.


Setelah selesai Rendi kini suda rapih dan bersih, ia tersenyum saat mengingat Ken yang selalu memperhatikan setiap hal spele yang ia sendiri tidak pahami. Ia melirik kembali pada Ken yang masih fokus mengemudi. Rendi merogoh plastiknya kembali dan membuka makanan camilan yang sudah Ken siapkan dan memakannya dengan lahap. Sesekali ia melirik ke arah Ken yang anti-anti agar dia tidak terlihat konyol di hadapannya.


Bukan Ken jika ia tidak tahu apa yang di lakukan Rendi, tuannya yang terkadang kejam terkadanh konyol baginya sudah hal biasa melihatnya. Ia hanya melirik dan tersenyum tipis saat mendapati Rendi sudah meminum air minum yang ia berikan tadi. Rendi bahkan mengganti pakaiannya dengan yang bersih dan saat ini ia sedang asik memakan camilannya. Baginya inilah tuannya yang sebenarnya yang ia kagumi dari dulu.


Rendi yang sesekali melirik ke arah Ken yang menyetir, ia melihat ke arah tangan Ken yang sedang memegang pedal stir yang terdapat goresan luka tipis yang terdapat darah yang sudah sedikit mengering di lengannya. Ia mengerutkan dahinya dan berdecak kesal.


"Berhenti.! Tegas Rendi.

__ADS_1


Ken memberhentikan kendaraannya di samping jalanan dan melihat ke arah tuannya. Saat Ken hendak bertanya pada Rendi. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya ke arah belakang.


Rendi membalut luka di lengan Ken dengan sapu tangan yang ia berikan tadi pada tuannya.


"Bodoh ! Kau sudah umur berapa hal seperti ini masih kena luka," Cetus rendi dingin.


Ken tersenyum tipis mendapati gerutuan tuannya yang mengingatkannya pada masa lalunya.


Saat Rendi memungutnya dari jalanan, memndikannya mengobatinya bahkan memberinya makan untuk pertama kalinya ia makan makanan seenak waktu itu. Seperti saat ini dulu Rendi selalu mengucap kata bodoh padanya jika ia melakukan hal yang melukainya dan mengobatinya dengan gerutuan yang biasa ia dengar dulu. Yang bahkan tidak pernah terjadi sama sekali ini untuk kali ini Ken merasa rindu di katakan bodoh olehnya.


Setelah mengikatnya dengan ikatan pita Rendi tersenyum tipis licik karena ia sengaja mengikatnya seperti itu agar Ken tidak sok terlihat keren di depannya. Ia duduk kembali setelah melakukannya. Ken terdiam melihat Rendi yang kini sudah dalam posisi duduknya kembali.


"Apa kau benar-benar semakin bodoh?Cepat jalan.! Teriak Rendi.


Ken melajukan kembali kendaraannya dengan hati yang bahagia di perhatikan kembali oleh tuannya. Terpasang senyum tipis di wajahnya dan tidak merubah mimik datarnya.


Tidak ada perbincangan di dalam perjalanan mereka, seperti tidak terjadi apa-apa mereka sampai di Bandara.


Rendi dan Ken kini sudah berjalan menuju pesawatnya dengan cara berjalan Rendi yang berwibawa kini di Bandara tidak hanya mereka saja. Karena hari sudah mulai siang. Ada banyak pengunjung di Bandara berlalu lalang kesana kemari yang ia lewati. Mereka yang akan melakukan penerbangan dan sudah berlalu lalang lain dari saat mereka kesana tadi malam. Ada banyak kaum wanita yang melihat kedatangan Rendi dan Ken yang tampak terlihat seperti seorang pangeran yang mereka idamkan dengan fostur tubuh yang sangat jarang mereka lihat Atletis bagi setiap wanita yang melihatnya.


Rendi dan Ken kini sudah berjalan menghampiri pesawat. Sudah ada seorang petugas disana yang berjaga juga anak buah Ken yang berjaga di luar pintu. Juga Adam yang berdiri di belakang mereka ikut membungkukan kepalanya memberi hormat pada Rendi.


Mereka membungkuk memberi hormat pada Rendi dan juga Ken di belakangnya.


"Silahkan masuk dan beristirahat Tuan," ucap Petugas.


"Lepas landas," ucap Ken.


Petugas itu mengangguk dan membungkukan kepalanya untuk memberi hormat pada Ken yang kini sudah menasuki pesawat.


"Kau panggil Nesa suruh dua ikut denganku ke Indonesia," ucap Rendi kepada Ken.


Rendi melihat ke arah Adam juga dan megisyaratkannya untuk duduk.


Kini mereka duduk dengan Ken yang mengirim pesan pada Nesa untuk menyusul secepatnya.


"Kau mau ikut denganku atau mau tetap tinggal di sini itu terserah dirimu aku tidak akan mencegahmu," ucap Rendi.


"Saya sudah matang bersama Anda tuan," jawab Adam.


"Kau yakin?" Tanya Rendi.


Adam mengangguk mantap. Rendi berdiri dan pergi ke dalam meninggalkan Adam yang duduk dalam diamnya memandangi punggung Rendi yang sudah memasuki ruangannya. Sekitar 20 menit Nesa datang dengan tergesa memasuki pesawat. Ken memerintahkannya untuk ikut ke Indonesia tanpa persiapannya bahkan pakaianpun berantakan untuk saat ini. Nesa bahkan sedikit memar di wajahnya saat melihat Adam duduk Nesa ikut duduk di pinggir Adam. Tanpa bertanya padanya ia duduk di samping Adam dengan acuhnya Adam tidak menghiraukan wanita yang ada di sampingnya. Ia menyodorkan tisu dan bersender mengenakan Airponenya dan menutup matanya.


Nesa mengambilnya dan mengusap keringat dan juga luka yang di dapatinya saat berkelahi tadi.


Sesampainya di dalam pesawat Rendi memasuki sebuah kamar yang kini sudah ada Dilla yang duduk beserta anak-anaknya yang kini sudah terbangun bersama para pengasuhnya.


Tapi tidak dengan istrinya yangvamsih saja tertidur karena efek obat yang Rendi berikan padanya tadi malam .


Dilla berdiri dan keluar dari kamar pribadi Rendi bersama para pengasuh yang bersama anak-anaknya. Dilla melihat suaminya yang sudah berdiri di depan pintu. Ia terkejut melihat keadaan suaminya yang kini tidak seperti biasanya berantakan, bahkan ada sebuah sapu tangan kecil yang terikat dengan bentuk pita di lengannya.


Dilla menghambur ke dalam pelukan suaminya dan memeluknya.


"Ken, kamu tidak apa-apa? Ini ... apa kamu terluka?" Tanya Dilla.

__ADS_1


Ken tidak menjawabnya ia merangkul istrinya dan membawanya ke tempat duduk bersama kedua pengasuh ke belakang penumpang mereka berbincang.


Dilla tampak khawatir pada suaminya yang malah tampak biasa saja saat mendapatkan dirinya yang berantakan seperti saat ini.


Dilla menggerutu ia membuka sapu tangan yang mengikat lengan suaminya dan sebuah tangan mencegahnya.


Ken mencegah istrinya untuk membukanya. Dilla mengerutkan dahinya melihat ke arah suaminya yang kini tampak tersenyum padanya dan mencium bibir Dilla dengan intens.


Dilla membulatkan kedua matanya mendapati suaminya yang tiba-tiba menciumnya. ken mengalihkan segala ke khawatiran istrinya dengan menciuminya dengan lama berharap agar ia tidak mempengaruhi kehamilannya.


Setelah melepas ciumannya. Ken memandangi wajah dan sorot mata istrinya yang kini sudah tenang.


"Aku tidak apa-apa , ini hanya goresan kecil dan juga sudah di obati aku sudah merasa lebih baik sekarang,kamu tidak boleh mengagetkan anak kita yang sedang tidur di sini," ucap Ken mengalihkan istrinya dan menyentuh perutnya yang kini sudah mulai besar.


Ken tersenyum dan memeluk istrinya yang sudah mulai tenang kembalo. Bagi Ken luka goresan pisau yang Ken dapati saat berkelahi ini adalah anugrah karena sudah sekian lama. Ken tidak melihat ke khawatiran Rendi setelah sekian lama hanya sejak Ken masih kecil ia mendapati perhatian tuannya itu. Dalam pelukannya istrinya kini Ken menutup matanya dan beristirahat bersandar kepalanya pada kursi di belakangnya.


Rendi duduk di samping istrinya. Kini pesawat sudah lepas landas dengan ruangan pribadi. Rendi bisa melakukan apapun di dalam ruangannya termasuk cara ia membangunkan istrinya.


Rendi tersenyum menyeringai.


Ia mendekati wajah istrinya dan mengecup kening istrinya dengan lama, ia juga mengecup pipi istrinya yang sedikit berisi, lalu turun mengecup bibir istrinya dengan dalam saking gemasnya ia melihat istrinya yang masih dengan tidurnya yang nyaman. Rendi menyeringai dan menggigit pelat bibir istrinya yang kini sedikit merintih kesakitan. Rara bahkan hanya menganggapnya hal biasa karena itu pasti ulah suaminya Rara berbalik tidurnya membelakangi Rendi yang sedang tersenyum tertahannya.


Rendi membulatkan kedua bola matanya saat melihat leher jenjang istrinya yang terlihat karena hijab yang istrinya kenakan terbuka.


Rendi tersenyum kembali dan mendekati leher istrinya kembali.


Awalnya Ia mengecup rambut istrinya dan turun ke leher jenjang Rara. Rendi mengecup lama lehernya hingga membekas sebuah tanda merah di leher istrinya. Ia tersenyum menyeringai. Rendi mendekati telinga istrinya dan menciumnya.


"Sayang aku mau minum susu yang Rayn minum boleh ya," bisik Rendi.


Rara terkejut bangun dari tidurnya saat mendengar suara suaminya yang biasa ia dengar setiap harinya. Ia meneriksa pakaiannya yang sama sekali tidak terbuka dan melihat isinya masih seperti semula. Ia mendongakan kepalanya melihat suaminya yang sedang tersenyum ke arahnya.


Rara mengerutkan dahinya dan kesal dengan tingkah suaminya. Ia memukul tubuh suaminya dengan pelan.


"Kamu ini selalu membuatku khawatir," gerutu Rara.


"Hahaha, kenapa Sayang apa kamu mau aku minum susunya? Tapi aku tidak mau kalau bukan yang sama seperti Rayn," goda Rendi. Ia mendekati istrinya dan duduk merangkul istrinya.


"Kamu bukan anak kecil Sayang kamu ini," gerutu Rara.


Rara membulatkan kedua matanya melihat setiap sudut ruangan yang saat ini ia duduki.


"Sayang ini dimana kenapa aku merasa mual begini?" Tanya Rara.


"Ini di pesawat Sayang, kita akan pulang seperti yang kamu minta," jawab Rendi menyusupkan kepalanya ke leher istrinya dan menciuminya.


Rara masih dalam pandangan yang masih bingung walau mendapati suaminya yang kini sedang menelusuri setiap tubuhnya tanpa menghiraukan kebingungan Rara.


"Sayang kenapa kita sudah di pesawat bukankah kita berangkat nanti pagi?" Tanya Rara.


"Ini sudah jam sepuluh Sayang, kita bisa terlambat jika menunggumu bangun, makanya aku menggendongmu tuan putriku," jelas Rendi yang masih dalam aktivitasnya mengecup setiap lekuk leher istrinya.


"Hmmm, saat aku berangkat ke Jerman sydah ada di pesawat dan sekarang kembalipun masih sudah di pesawat suamiku ini senang sekali ya memanjakan aku," ucap Rara memegang wajah suaminya dan menatapnya kini mereka saling pandang dengan senyum di bibirnya menatap bahagia saling mencintai.


Rendi mengecup bibir istrinya dan mereka melakukannya berlangsung lama di sepanjang penerbangan.

__ADS_1


__ADS_2