Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Keluarga Anggara


__ADS_3

Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaran di antara Rendi dan Rara sampai pada akhirnya Rara mengawali pembicaraan.


"Suamiku apa aku sudah cantik dan Rapih?" Tanya Rara.


Rendi yang mendengar suara istrinya melayang-layang sangat bahagia. Rendi bahkan sangat tegang di waktu- waktu terakhir tadi. Tapi setelah mendengar istrinya berbicara ia baru merasa tenang dan tersenyum.


Dengan istrinya yang sudah mulai membaik ia akan dengan senang hati menunjukan kebahagiaannya pada kedua orang tuanya. Terutama ibunya yang selalu menentangnya dalam hal mencari wanita.


"Kamu sangat rapih dan cantik Sayang," jawab Rendi tersenyum.


"Apa mereka akan menyukaiku?" Tanya Rara.


"Tentu saja," jawab Rendi.


"Tapi kenapa aku merasa tidak demikian yah karena pertama aku ke rumah besar sepertinya keluargamu tidak menyukaiku hanya mamahmu yang tampak ramah padaku tapi yang lain," ucap Rara.


"Kamu memegang kartu tiga AS sekaligus Sayang jangan takut," ucap Rendi meyakinkan istrinya.


"Maksudmu?" Tanya Rara heran.


"Sudahlah kita lihat saja nanti ya yang penting ayo kita turun kita sudah sampai !" Ajak Rendi.


Rendi sudah tahu situasi Papahnya yang menyukai Rara dan mamahnya yang menyayangi Rara. Walau tidak tahu bahwa ia istrinya dan Rendi yang menjadi suaminya tiga kartu AS yang Rara pegang itu. Yang terpenting karena di rumah besar mereka bertigalah yang dominan.


Di rumah besar sudah berkumpul satu keluarga besar Keluarga Anggara. Begitu pula tuan Anggara dan nyonya Anggara sudah ada di rumah besar.


Tuan Anggara meluangkan waktunya untuk lebih awal kembali dari pekerjaanya demi menemui menantunya.


Ia sudah tahu sifat istrinya Rendi. Untuk kali ini ia merasakan sendiri cinta dan kasih sayang menantunya pada putranya sendiri.


Menantunya ini bahkan bisa mengendalikan emosi Rendi yang tidak bisa di baca oleh siapapun termasuk orang tuanya.


Di saat Rendi dan Rara keluar dari mobilnya.


Sudah ada pelayan yang menyambut mereka. Rendi memerintahkan salah satu pelayan agar membawa bawaan mereka.

__ADS_1


Perasaan Rara yang sedang bergemuruh. Jantung yang berdetak kencang. Ia berdiam diri sebelum melangkah masuk. Darah yang mengalir di tubuhnya seperti berhenti seketika.


"Ya ampun apakah ini perasaan takut jika bertemu ibu mertua seperti yang kebanyakan orang katakan. Lalu aku harus bagaimana haruskah aku berbalik pergi dari sini bukankah aku sangat ingin bertemu dengannya tapi kenapa sekarang malah takut," batin Rara.


Rara mencoba menguatkan dirinya dan mendengarkan apa yang suaminya katakan padanya bahwa Rara memiliki tiga kartu AS.


Rendi dan Rara berjalan bergandengan tangan memasuki Ruangan rumah besar keluarga Anggara.


Rara tampak senang bahagia kali ini karena setelah menginjakan kakinya di rumah mertuanya. Hati Rara sudah tidah gundah lagi. Kini ia masuk bukan sebagai orang lain,melainkan sebagai menantu di rumah ini.


Rara di sambut oleh keluarga Rendi paman tante dan juga Saudara-saudaranya.


Rara yang mengucap salam tidak ada sahutan dari mereka malah tampak terlihat keheranan dengan apa yang di ucapkangadis itu.


"Asalamualaikum," sapa Rara.


Rara tersenyum walau tidak ada sahutan. Ia bergegas menyalami mereka yang nampak tidak suka padanya .


Rara berdiri bersama suaminya. Tampak wajah berserinya ia pancarkan saat memasuki rumah mertuanya. Ia mencari-cari seseorang yang ia nantikan tapi tidak ada di sana. Rara sempat berpikiranan lain tentang ibu mertuanya.


Rara mempererat genggamannya pada tangan suaminnya mencoba kuat untuk menerima kenyataan bahwa ia tidak di terima oleh keluarga suaminya.


Rendi yang menyadari genggaman tangan istrinya yang semakin erat. Ia tersenyum dan mempererat genggamannya dan mendekati wajah istrinya.


"Tenang Sayang ada aku yang mencintaimu kenapa kamu harus takut aku akan mengerahkan segalanya untukmu bahkan semua anak buahku akan mendukungmu jika keluargaku tidak menyukaimu," bisik Rendi.


Ucapan suamknya yang membuat debaran kencang jantungnya. Memperkuat hati dan dirinya untuk tetap berdiri walau tidak ada yang menyukainya di dalam keluarga Rendi.


Selang beberapa menit ada suara yang menjawab salam Rara dari atas tangga.


"Waalaikum salam Raraku," ucap ibu Ratih tersenyum melihat Rara.


Sontak semua keluarga tegang mendengar dan melihat ibu Ratih mengucap salam. Bahkan cara bicaranya yang lembut terdengar menyayangi Rara. Ada banyak yang memasang aura tidak suka terhadap istrinya Rendi. Dari salah satu keluarga Anggara.


Ada yang berbisik bisik tentang Rara dan ada juga yang mengoceh keburukan Rara.

__ADS_1


"Wanita kampungan udah gitu norak juga darimana dia dapat wanita seperti ini," bisik salah seorang keluarganya.


Ibu Ratih menghampiri Rara.


Rara yang tahu darimana asal suara itu. Ia tersenyum bahagia dan ia mencoba berjalan menghampiri ibu mertuanya.


Rara tersenyum ia memeluk ibu Ratih mertuanya sebagaimana biasanya mereka bertemu.


Rara tampak bahagia begitupun ibu Ratih senang memeluk Rara hingga tersirat wajah tersenyum.


Seisi rumah tampak terkejut melihat kejadian ini melihat nyonya besar tersenyum pada seseorang bahkan memeluk orang itu dengan erat.


Ada Yang merasa ketakutan karena membicarakan hal buruk tentang Rara.


Ada juga yang ingin menyingkirkan Rara. Tapi itu hal yang tidak mungkin mereka lakukan. Karena yang berkuasa di rumah ini adalah kaka ipar mereka sekaligus nyonya besar keluarga Anggara ny Ratih Anggara.


Ibu Ratih yang tahu sikap Rara kalau bahagia Rara pasti memeluk orang terdekatnya. Begitupun menangis ia akan tenang dengan hanya memeluk orang terdekatnya.


Ibu Ratih memeluk dengan senyum lebar. Ia mempererat pelukannya pada menantunya juga rasa bersalahnyapada menantunya karena sempat berencana untuk menyingkirkannya. Ia tidak memperdulikan orang-orang yang ada di sana memperhatikannya karena ketegasannya kini luluh hanya karena seorang gadis biasa saja.


Setelah sadar akan apa yang ia lakukan tiba-tiba Rara melepas pelukanya terkejut mundur beberapa langkah menjauhi ibumertuanya.


"Maf Nyonya, saya kelepasan mungkin karena," ucap Rara terbata.


Ibu Ratih yang mendengar hal itu mengerti akan perasaan Rara. Ia malah tersenyum kembali.


"Tidak apa kemari mamah peluk lagi bukan kamu saja yang senang mamah juga senang," ucap ibu Ratih merentangkan tanganya dan tersenyum.


Rara yang mendengar itu ia memeluk kembali ibu mertuanya.


Ia memang sudah bersahabat dengan ibu Ratih walau tanpa menjadi menantunya. Di lain sisi ada hati yang ikut bahagia dan ada juga yang iri hatinya.


Seluruh keluarga besar Anggara terkejut dengan apa yang mereka lihat nyonya besar yang terkenal dengan ketegasan dingin,angkuh dan kejam.


Kini tersenyum bahkan dengan lembutnya berbicara pada menantunya.

__ADS_1


Rendi tampak penuh kemenangan saat kedatangan istrinya yang memenangkan hati ibunya yang dingin.


__ADS_2