Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Rendi famly


__ADS_3

Prolog


Sementara di taman belakang. Rendi dan Rara sedang duduk di bawah atap hijau berayun saling bersender kepalanya satu sama lain.


Rara dan Rendi memejamkan mata masing-masing dalam pelukan.


Tersirat senyum di wajah mereka berdua.


Lain dengan Ken yang menghampiri istrinya yang sedang duduk,sibuk mencoba sepatu yang di layani oleh lima pelayan yang berkeliling di hadapannya.


"Hmmm, sudah kuduga gadis ini tidak bisa menahan diri,padahal sudah aku pindahkan yang lainnya untuknya disana," batin Ken.


Ken menghampiri istrinya yang sedang sibuk mencoba sepatu-sepatu yang bermerek bersama para pelayan melayaninya.


Ken memberi isyarat pada para pelayan untuk pergi meninggalkan mereka berdua saja.


Dilla sibuk dengan menggunakan sepatu heelnya yang sedang ia pakai.


Ken berjongkok dan memakaikan sepatu Dilla dengan benar.


Dilla terdiam saat tangan Ken memasang tali sepatunya.


Setelah selesai Ken mendongakan kepalanya melihat istrinya yang melongo padanya.


Ken tersenyum dan mengecup bibir istrinya.


"Apa sudah puas Sayang?" Tanya Ken.


"Hmmm, aku suka sekali ini Ken,tapi sodariku itu tidak menyukainya,aku kan tidak seru kalau hanya sendiri saja," ucap Dilla.


"Kalau tidak seru kenapa semuanya kamu coba sampai berantakan begini?" Tanya Ken.


"Hehehe aku kan hanya mencobanya saja Ken,kamu marah?"ucap Dilla.


"Tidak! Lakukanlah sampai kamu merasa puas," jawab Ken.


Ken duduk dan merangkul bahu istrinya.


"Apa aku boleh memiliki ini semua?" Tanya Dilla.


"Boleh, tapi kamu hanya boleh memakainya di kamar saja," jawab Ken.


"Kok di kamar, aku kan mau memamerkan pada semua orang bahwa pakaianku bermerek," ucap Dilla merengek.


"Kalau tidak mau,ini semua bukan lagi untukmu," jawab Ken datar.


"Uuuuh,aku tidak mau ah lebih baik pakaianku yang ada saja masa hanya memakai untukmu saja," ucap Dilla cemberut.


"Hmmm, kamu yakin?" Tanya Ken.


"Iya repot kalau harus memakainya hanya di depanmu saja bisa habis aku dimakan olehmu," ucap Dilla memajukan bibirnya.


"Ayo kita makan, kasihan bayi kita dia belum makan juga," ajak Ken.


"Hmm baiklah, aku memang lapar juga lelah setelah mencoba semua ini," jawab Dilla.


Ken menuntun istrinya yang enggan untuk meninggalkan tempat yang ia sukai.


"Apa kamu tahu kemana Rara?" Tanya Dilla.


"Nona muda sedang bersama Tuan," jawab Ken.


"Aku mau kesana," ucap Dilla.


"Tidak usah,kamu makan dulu," jawab Ken datar.


"Aku tidak mau aku mau kesana," rengek Dilla.


"Nanti saja, kamu belum makan Dilla," bentak Ken.


"Aku tidak akan makan kalau tidak melihat Rara," ucap Dilla mengembungkan pipinya.


Ken menahan amarahnya pada istrinya yang sedang hamil lima bulan ini.


Ia berusaha untuk lebih sabar menghadapi kekanakan Dilla.


Ken menoleh ke arah penjaga dan berkata.


"Berada dimana Tuan?" Tanya Ken.


"Tuan muda berada di taman belakang Tuan," jawab penjaga.


"Baiklah, kita kesana," ajak Ken.


Ken menuntun istrinya yang masih memajukan bibirnya marah padanya.


Mereka berjalan menelusuri lorong rumah menuju taman belakang yang berada jauh dari Ken berada.


Ken dan Dilla sampai di dekat Rendi dan Rara berada.


Disana hanya ada Rara yang sedang bersenandung di ayunannya.


Ken dan Dilla menghampiri Rara yang sedang asik bernyanyi.


"Sayang kamu kenapa meninggalkanku?" Teriak Dilla.


Dilla menghampiri Rara yang tersenyum padanya.


"Dimana suamimu itu?" Tanya Dilla.


"Tuh," jawab Rara menunjukan pada Suaminya terduduk menghadap kolam ikan yang memakai topi memegang pancingan.


"Hah, mau apa dia?" Teriak Dilla.


"Kamu pikir ini untuk apa memang untuk memancingmu hah," bentak Rendi.


"Diiih, kamu pikir aku ikan apa?" Cetus Dilla.


"Bagi Ken, kamu memang ikan sayang," ledek Rara.

__ADS_1


Rara tertawa sendiri menertawakan Dilla yang cemberut padanya.


Lain dengan Rendi Ken beserta para penjaganya termasuk Nera yang masih berdiri menunggu perintah tuannya.


Mereka tersenyum tertahan melihat tingkah Rara yang selalu bahagia dengan caranya sendiri.


"Nona muda ini selalu seperti ini hal yang membuatnya tertawa bahagia hanya dengan bersama keluarganya," batin Ken.


"Nih dapatkan ikannya," ucap Rendi memberikan pancingannya pada Ken.


"Eeeh jangan ! Ken mau punya bayi jangan di biarkan memancing ikan tidak boleh,"teriak Rara.


"Kenapa?" Tanya Rendi mengerutkan dahinya.


"Sayang apa kamu tidak mau memancing ikannya?" Tanya Rara.


"Sudah ku bilang kalau kamu mau ikan biar mereka mengambilkannya," ucap Rendi tegas.


"Aku bukannya mau ikannya Sayang, tapi keseruannya memancing ikan,apalagi ikannya ada banyak begini,sini aku temanin kamu memancingnya ya," ucap Rara.


"Jangan nanti kamu lelah," ucap Rendi.


"Kalau lelah kita bisa istirahat lagipula kita tidak perlu berlama-lama memancing karena anak-anak kita nanti keburu haus,ayo duduk bersama," jelas Rara.


Rendi hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah istrinya yang baginya menggemaskan.


Rendi menuruti ke inginan istrinya dan duduk bersama dengan istrinya di sampingnya.


Ada sekitar tiga orang yang memancing menemani Rendi dan Rara memancing. Di antaranya Nera yang di mintai Rara untuk ikut memancing dan dua penjaga yang berjaga juga.


Dilla sebagai penonton ia bersorak ria dengan pancingan yang kena umpannya.


Ken mengerutkan dahinya melihat tingkah tuan dan nona mudanya yang tertawa bahagia saat mendapatkan ikannya yang terlepas kembali.


"Untuk membuat Nona muda bahagia itu hanya sesederhana ini ya tuan,Anda pasti tidak menduganyakan semoga kalian selalu seperti ini," batin Ken tersenyum .


Rara tertawa lepas saat umpan yang Rendi dapatkan lepas kembali.


Sesekali Rara mengusap keringat suaminya yang sedang serius memancing untuk mendapatkan ikannya.


"Sayang kamu harusnya jangan berisik jika sedang memancing nanti ikannya akan lepas lagi," ucap Rara.


Rendi tampak serius menggeluti pancingannya yang belum dapat ikan sama sekali. Sekali dapat ia malah terlepas kembali saking ingin di pujinya oleh istrinya. Rendi mencoba untuk menunjukan kemampuannya saat memancing ikan.


Terdapat kehangatan yang Ken lihat saat melihat tuan mudanya dengan nona mudanya yang sedang asik memancing berdua.


Tawa Rara yang menggema di setiap hal yang membuatnya bahagia.


Orang-orang di sekelilingnya yang memperhatikannya hanya mengagumi sosok nona muda yang polos.


Dilla sudah merasa bosan,ia duduk di ayunan dengan segala makanan di sampingnya.


Ken suaminya yang meminta Dilla makan jika ingin melihat kebersamaan Rendi dan Rara.


Hingga pada akhirnya hanya Nera dan dua penjaga yang berhasil mendapatkan ikan.


Ia membanting pancingannya dan berdiri.


"Aku lapar," ucap Rendi kesal.


"Hahaha Sayang, kamu manis sekali juga tadi kamu sangat keren aku suka itu," puji Rara mencium pipi Rendi yang sedang penuh amarah.


Rendi yang sedang kesal kini reda kembali walau tidak membuat istrinya bangga dengan ikan yang sama sekali tidak ia dapatkan.


Rendi tetap mendapatkan hadiah terbesar yaitu istrinya yang menyayanginya.


"Kenapa?" Tanya Rara polos.


"Aku mau hadiahnya," ucap Rendi tersenyum.


"Baiklah nanti kita lanjutkan pemberian hadiahnya yan sekarang kita makan katanya kamu lapar?" Tanya Rara.


"Yang lapar tuh aku Sayang," teriak Dilla.


"Kamu punya suami kenapa minta sama istriku," cetus Rendi.


"Ken tuh hanya nurut sama tuannya bukan sama aku,aku kan minta sama sodariku"jawab Dilla.


"Dia istriku jadi tidak perlu menuruti kamu," ucap Rendi tidak mau kalah.


"Aku sahabatnya dari kecil !" Teriak Dilla.


"Aku suaminya sampai mati," ucap Rendi dingin.


"Iiih kalian ini, kenapa sih berisik saja aku tinggal ajalah," teriak Rara kesal.


"Sayang kamu mau kemana?" Tanya Rendi.


"Aku lapar," jawab Rara malas.


Rara berjalan meninggalkan mereka.


Rendi mengikutinya dari belakang mengejar istrinya.


"Aku ikut," teriak Dilla.


Tangan Ken mencegah Dilla melarangnya mengikuti Tuan dan Nona mudanya.


"Aku lapar juga Ken," teriak Dilla.


"Kita makan di tempat kita," jawab Ken.


Ken menuntun istrinya meninggalkan rumah utama dan beristirahat di rumah belakang.


Karena hari sudah sore.


Ken akan mempersiapkan persiapan untuk besok.


Prolog Rendi.

__ADS_1


Rendi mengikuti istrinya menuju meja makan. Rara duduk dengan suaminya di sampingnya.


"Ayo makan Sayang,aku lapar juga," ucap Rara menyiapkan piring untuk suminya.


"Hmmm aku mau," ucap Rendi.


Rendi makan dengan istrinya berdua.


Sesekali Rendi mencolek -colek istrinya menggodanya.


"Hmmm makan yang benar,kita harus melihat anak-anak kita setelah makan " ucap Rara.


"Hmmm,besok kamu diam di rumah yah aku bersama Ken akan ke perusahaan yang ada di sini,kamu di rumah saja berkeliling kalau bosan kamu bisa pergi ke pusat perbelanjaan yang hanya tinggal membuka pintu saja di sana sudah tembus langsung kesana," jelas Rendi.


"Hmmm, tidak apa kamu bekerjalah aku akan bersama anak-anak bermain di taman bersama Dilla, " jawab Rara.


"Aku hanya sebentar saja," ucap Rendi tersenyum.


"Hmmm,"jawab Rara tersenyum.


Rendi dan Rara melanjutkan makannya.Setelah makan mereka menaiki tangga dan menghampiri anak-anaknya yang sedang bermain di kamarnya.


"Anak-anak mamah kalian pintar sekali yaa tidak menangis di tinggal mamah," ucap Rara menggendong Rayn.


Rendi menggendong Amira menghampiri Rara dan juga Rayn. Mereka duduk di lantai beralas bersama.


Rara dan Rendi bercanda dengan anak -anak mereka yang kini sudah mencoba berdiri dan melangkah untuk berjalan.


Mereka bercanda bersama menertawakan tingkah anak-anaknya yang tidak mau diam dalam pangkuan orang tuanya.


Dilla yang baru datang di balik pintu bersama Ken menghampiri Rendi keluarga.


"Uuuuh, baby Rayn dan Amira sudah pintar saja,sini tante gendong ya," ucap Dilla.


"Jangan gendong nanti dia nendang nendang kamu lagi tante liatin aja ya,"u cap Rara.


Rendi berdiri memberikan Amira pada istrinya,ia mencium Amira dengan gemasnya.


"Aku tinggal ke ruang kerja dulu ya sayang,tidak jaga anak-anak dulu ada yang harus di bicarakan dengan Ken," ucap Rendi.


"Hmm, sana biar mereka denganku juga ada tante Dilla ini"jawab Rara.


Rendi pergi dengan Ken keluar dari kamar Rara dan anak-anaknya berada.


Rendi tampak dengan serius berjalan menuruni tangga bersama Ken di belakangnya. Di depan ruang kerjanya Rendi sudah ada dua pria paruh baya yang memakai pakaian formalnya menunggu kedatangan Rendi .


Mereka bersalaman dan memasuki ruang kerja bersama mengikuti Rendi.


Rendi dan yang lainnya duduk di sofa.


"Tuan, Dira apa ada hal yang menarik, yang membuatmu bersusah payah untuk menemuiku,bahkan anda tahu dengan cepat ke datanganku ke Jerman" ucap Rendi dingin.


"Saya dengan sangat memohon maaf sebelumnyaTuanuan Anggara,bisakah anda mempertimbangkan untuk mengulur tangan Anda untuk kelangsungan perusahaan saya yang sedang di ambang ke bangkrutan ini?" Ucap tuan Dira.


"Heh,apa yang akan aku dapatkan jika aku melakukannya?" Tanyaanya Rendi tegas.


"Saya akan menyerahkan anak saya yang sekarang menjadi tangan kiri tuan Jason,saya tahu tuan Jason yang hanya bisa membuat saya sampai seperti ini,dia bahkan memperalat anak saya dan juga menipu saya," lirih Dira.


"Bukankah Dia sudah menjaminmu?" Tanya Rendi.


"Itu semua hanya bualan saja,perusahaan saya bahkan di ambang kesulitan selama satu bulan ini bila anda berkenan anak saya akan bersedia untuk mengikuti setiap perintah Anda," ucap Dira meyakinkan.


"Heh, Anda yakin dengan putra anda?" Ucap Rendi.


"Dia sudah bersumpah siapapun yang menolongnya akan bersedia menjadi budaknya," tegas Dira.


"Aku perlu bukti bukan hanya bualan"tegas Rendi.


"Nanti malam tengah malam dia akan menemui anda membawa apapun yang anda minta," ucap Dira.


"Hmmm, jika dia membawakanku bukti kesepakatan proyek Hanzel tepat pukul dua belas malam. Aku akan pastikan besok pagi perusahaan Dira akan berkembang kembali," tegas Rendi.


Tuan Dira terdiam dengan permintaan Rendi yang tidak mungkin.


Proyek Hanzell adalah proyek yang di pegang langsung oleh Jason dan sudah berjalan selama lima tahun.


Tuan Dira berpikir bahwa itu hal yang tidak mungkin baginya,tapi bagi anaknya mungkin bisa tapi taruhannya nyawa jika ia berani mengusik Jason.


"Jika sudah tidak ada hal lain silahkan Anda kembali saya sudah harus pergi saat ini,"u cap Rendi kembali.


"Tidak...! Baiklah Tuan Anggara saya akan pastikan putra saya akan memberikannya tepat seperti yang anda minta," ucap Dira.


"Aku akan menjawabmu jika itu terjadi," ucap Rendi.


"Kami permisi Tuan," pamit tuan Dira.


Rendi hanya mengangguk dengan berpamitnya dua pria paruh baya yang tak lain adalah pengusaha kosmetik yang berdiri sudah 15 tahun. Tapi bangkrut hanya dalam satu hari jika Jason mengatakan bangkrut pasti bangkrut. Ia selalu menggunakan kekejian jika menginginkan sesuatu.


Lain dengan Rendi yang selalu bermain lembut untuk meraih kemenangannya.


Rendi selalu bermain halus dalam segala bidang termasuk berbisnis.


"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan Ken lakukan antisipasi jika anak Dira bergerak,dia bahkan sudah bergerak sekarang untuk nanti malam," ucap Rendi.


"Apa pena yang Tuan Dari simpan di sakunya adalah alat komunikasi Tuan," tanya Ken.


"Hmmm hanya Mark yang tahu tapi dia sudah bergerak untuk saat ini,aku hanya perlu menunggunya datang kau temui dia jika sudah saatnya,pastikan ke patuhannya," tegas Rendi.


"Baik Tuan," jawab Ken.


Rendi berdiri dan keluar dari ruang kerjanya di ikuti Ken di belakangnya.


Rendi berjalan menaiki tangga berharap istrinya ada di dalam kamarnya.


Sesampainya Rendi di depan pintu kamarnya Rendi berhenti dan berbalik pada Ken.


"Pastikan istrimu aman apalagi istriku," tegas Rendi.


Ken mengangguk dan melihat tuannya masuk kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2