
Langit semakin gelap dengan bintang berkerlip di sepanjang malamnya. Adam masih memainkan gamenya dan juga berjaga bersama Nesa yang sedang asik menikmati teh hangatnya minumannya.
Tidak ada perbincangan di antara keduanya. Mereka sibuk dengan aktivitas pikiran mereka sendiri.
Semakin malam udara sudah terasa dingin. Adam mulai merasa dingin.
Ia melirik ke arah Nesa yang sedang memegang cangkir tehnya. Nesapun melirik padanya sebentar dan beradu tatap dengan Adam. Nesa mengerutkan dahinya dengan bibir rapat tanpa kata-kata.
"Hmmm, kau bisa buatkan ...."
"Tidak," cetus Nesa.
Adam tertegun mendengar jawaban Nesa yang singkat dan jelas.
Ia tersenyum dan menyimpan handponenya. Ia berjalan mendekati Nesa dengan tatapan tajamnya beserta senyum tipis dji wajahnya.
Nesa tertegun dan mulai antisipasi dengan tingkah Adam yang mulai mencurigakan baginya. Apalagi ia sudah mulai mendekatinya.
Adam semakin mendekati posisi duduknya Nesa. Ia semakin mendekati wajahnya. Nesa tertegun dengan takutnya apa yang akan Adam lakukan padanya.
Wajah mereka tatapan mereka kini sudah semakin dekat dan beradu tatap .
Nesa mulai menduga-duga dengan tingkah Adam yang akan melakukan sesuatu padanya.
"Apa yang akan di lakukan pria bodoh ini?" Batin Nesa, ia memejamkan matanya.
"Wanita ini wangi juga dari kedekatan, haha apa yang di pikirkan wanita ini? Aku hanya mau mengambil pemetik api ini saja," batin Adam.
Saat di rasa tidak ada hal yang terjadi. Nesa membuka kedua matanya dan melihat Adam sudah berdiri di hadapannya dengan senyuman liciknya.
Nesa terkejut saat Adam menunjukan pemetik api yang Adam ambil di dekat Nesa duduk. Ia tersenyum tipis saat melihat Nesa yang menutup matanya saat Adam berada dekat tadi.
Nesa membenarkan pofisi duduknya dan dengan hal itu ia merasa malu dan berusaha untuk tetap tenang. Walau sebenarnya dadanya sempat berdetak kencang ketika seorang Adam berada dekat wajahnya tadi.
"Apa kau bodoh? Apa yang kau lakukan barusan?" Bentak Nesa.
Adam tersenyum licik saat mendengarkan cetusan Nesa yang tidak sesuai reaksinya.
"Apa kau berharap aku menciummu?" Tanya Adam.
__ADS_1
Nesa terkejut mendengar ucapan Adam yang benar adanya. Ia sempat berpikir bahwa Adam akan melakukannya mengingat wajah mereka barusan tanpa jarak.
"Kau bodoh ! Mana ada aku berpikir seperti itu," cetus Nesa.
"Oh ... baiklah, tadinya jika kau memang berharap seperti itu aku akan melakukannya," ucap Adam datar.
Nesa tertegun mendengar ucapan Adam yang membuat dadanya berdebar dan berpacu tanpa henti. Ia melihat ke arah Adam yang kini sedang membuat api unggun menggunakan pemetik api yang barusan ia ambil di samping Nesa.
Nesa memikirkan tentang perkataan Adam yang masih bisa berbicara konyol dengan ekspresinya yang datar.
"Pria yang paling bodoh dan idiot," decak Nesa.
Nesa sesekali menyentuh dadanya yang mulai tak karuan dari tadi. Ia sempat melirik ke arah Adam yang sedang berjongkok menghangatkan tubuhnya di depan api yang kini sudah menyala di hadapan mereka. Ia menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan meniupnya di depan wajahnya. Adam berbalik untuk melihat Nesa yang berpaling dari pandangannya. Adam tersenyum tipis.
"Kemarilah disini hangat," ajak Adam.
"Aku tidak kedinginan," cetus Nesa.
"Hmm, kalau begitu aku tidur saja di dalam kamar dan kau berjaga disini," ucap Adam.
"Apa kau bodoh?" Teriak Nesa.
"Kenapa? Apa kau masih berharap aku menciummu?" Goda Adam.
"Jangan harap," tegas Nesa.
Adam tersenyum saat melihat ekspresi wanita yang ada di sampingnya yang kini mulai memerah wajahnya. Bukan karena panasnya api di hadapannya, Melainkan karena lerkataan Adam yang selalu membuat jantungnya berdebar kencang dan merasa malu.
"Apa kau wanita setengah pri?" Tanya Adam mengejutkan Nesa.
"Kau bodoh atau idiot Adam?" Teriak Nesa.
Adam tersenyum saat mendengar ucapan dan teriakan Nesa yang lain dari wanita lain terhadap Adam. Biasanya para wanita akan terkagum dan berteriak ingin menjadi kekasihnya. Tapi wanita di hadapannya dari awal menatap tidak suka padanya. Sehingga membuat Adam merasa curiga dan ingin menggodanya.
"Kenapa?" Tanya Adam.
Nesa terdiam dan memalingkan pandangannya dari Adam.
"Apa kau benar pria?" Ucap Adam kembali.
__ADS_1
"Hei, bodoh ! Aku wanita apa kau tidak melihatnya?" Bentak Nesa geram.
"Mana ada wanita memiliki dada rata begitu, bukankah wanita ada sebesar ini dan mereka tidak nampak darimu," jelas Adam membentuk kedua tangannya dengan lingkaran besarnya dan tersenyum tipis.
Nesa tertegun mendengar ucapan Adam yang menurutnya tidak masuk akal.
"Hei bodoh, aku ini wanita, hanya pria bodoh dan idiot sepertimu yang tidak bisa melihat aku sebagai wanita," cetus Nesa kesal padanya.
"Lalu ada apa dengan mereka yang tidak nampak itu?" Tanya Adam kembali. Dengan ekspresi datarnya menanyakan hal seperti itu pada Nesa.
Nesa semakin kesal dan berdiri meninggalkan Adam dan duduk di posisi awalnya dan meminum teh hangatnya sekali tegukan dan menyimpan gelasnya dengan keras.
Adam tersenyum dan iapun ikut berdiri juga terduduk di tempatnya yang hanya berjarak satu meter lain dari semenjak tadinmereka berjarak jauh satu sama lain. Adam melihat wajah Nesa yang tampak kesal dan diam.
"Hei wanita pria, kenapa kau bisa secantik itu saat marah?" Ucap Adam.
Nesa tertegun saat mendengar ucapan Adam yang membuat wajahnya nerah padam menahan malu.
"Ada apa dengan pria bodoh ini kenapa dia jadi banyak bertanya hal bodoh padaku,dengan pertanyaan konyolnya aku bisa gila di buatnya," batin Nesa kessl.
Adam madih dengan tatapan ekspresinya, ia melihat ke arah Nesa yang masih terdiam tanpa menjawab pertanyaan Adam.
"Sepertinya kau memang bukan wanita ya, mana ada wanita berdandan seperti itu dengan dada rata dan juga ekspresi seperti pria begitu," ucap Adam.
"Kau ..." ucapan Nesa terhenti sendirinya karena kesal.
"Kalau kau wanita pasti akan mmbuatkanku kopi hitam panas yang manisnya dengan kadar gula fua sendok teh saja," ucap Adam.
Nesa berdecak kesal saat mendengar setiap perkataan Adam yang baginya konyol tanpa hal yang wajar. Ia bahkan berkata seperti itu saat hanya ingin secangkir kopi yang seharusnya di buatkan dari awal. Nesa melirik ke arah Adam yang kini sudah memegang handponenya kembali dengan permainan gamenya. Tanpa menghiraukan decakan kesal Nesa saat mendengar setiap ucapan Adam padanya.
Nesa melihat ke arah Adam dan membulatkan kefua matanya dengan mulut bergerutu. Ia mengambil gelas dan membuat kopi hitam yang hanya menmberikan gula sesuai dengan ucapan Adam dengan air panas yang sudah tersedia dari awal mereka berjaga. Nesa berdecak berulang kali dan memberikan secangkir kopi untuk Adam tanpa berkata ataupun menawarkannya. Ia menyimpan gelas kopinya di samping Adam.
Saat Adam menghirup aroma wangi khas yang ia sukai. Adam menoleh ke samping dan bertemu dengan wajah Nesa yang sedang menyimpan kopinya. Adam tersenyum jelas di hadapan Nesa. Yang membuat Nesa semakin salah tingkah dan berdebar kencang jantungnya.
"Astaga pria bodoh ini tersenyum padaku dan membuat dadaku semakin kecang begini," batin Nesa.
"Terimakasih wanita pria," ucap Adam tersenyum.
Nesa berdecak kesal dan pergi dengan duduknya yang kini membelakangi Adam.
__ADS_1
Adam tersenyum saat melihat Nesa yang kesal di godanya. Ia meminum kopi hitamnya dan meneguknya dengan hikmat dan terasa hangat di tenggorokan hingga menjulur ke seluruh tubuhnya dengan hangatnya minum kopi di tengah malam yang dingin di daerah Bandung.