Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Berdua


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen dan vote yach... Selamat membaca kak.


 


Iyas dan Lina kini sudah berada di dalam mobil berdiam diri tanpa ada pembicaraan diantara mereka berdua. Setelah datang seorang pria memasuki ruangan tersebut. Iyas tampak tidak menyukai pria yang baru saja datang. Iyas memilih untuk keluar tanpa menyapa pria tersebut dan berpamitan kepada Ines.


Iyas berjalan dan diikuti oleh Lina. Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil tanpa berbicara. Lina merasa salah tingkah ketika melihat pria disampingnya menjadi sangat diam. Lain dari awal mereka bertemu. Iyas sangat tidak mau berhenti berbicara ataupun bertanya kepadanya.


Namun setelah keluar dari rumah sakit tersebut, yang ternyata adalah seorang wanita yang dirawat, tengah menghadapi penyakit yang serius. Saking datarnya Lina ia tidak tahu cara untuk menghibur pria di sampingnya itu. Hingga terdengar suara gemuruh perutnya. Wajahnya Lina memerah menahan rasa malu yang pastinya gemuruh perutnya terdengar juga oleh Iyas.


 


" Aku lapar," hanya hal itu yang keluar dari mulut Lina, hingga membuatnya merasa malu telah mengucapkannya.

__ADS_1


Iyas yang mendengar ucapan Lina mengerutkan dahinya dengan bibir tersenyum tipis. Ia sadar bahwa ia sudah membawa seorang gadis muda, sudah cukup jauh dari tempatnya. Namun bukannya menjawab. Iyas malah menancapkan pedal gasnya dan membawa mobil dengan kecepatan sedang. Ia lebih banyak berdiam diri tanpa banyak berbicara kepada Lina, yang terheran-heran melihatnya. Di perjalanan handphone Iyas berbunyi, hingga memperkenankan Iyas untuk berhenti dan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan sebuah taman kota.


" Iya ada apa? " ucap Iyas singkat dengan nada kesal mengangkat teleponnya.


Lina memerhatikan dan mendengar ucapan Iyas yang sedang mengangkat telepon dengan sangat kesal. Ia semakin terdiam ketika melihat raut wajah kesalnya Iyas. Setelah mendengarkan ucapan yang menelponnya. Iyas menutup telepon dan terdiam. Iyas menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi. Sesekali dengan kasar, ia mengusap wajahnya. Dia tidak percaya jika dirinya masih sangat kesal kepada dirinya sendiri tidak bisa menolong kekasih masa kecilnya itu.


"Dia meninggal," ucap ya Sendu.


"Apa anda yakin jika nona itu meninggal?" tanya Lina. Ia meragukan akan hal yang begitu mendadak.


Lina ragu ketika melihat Ines tadi sangat baik-baik saja. Saat ditinggal oleh mereka. Iyas tidak menjawab pertanyaan Lina namun ia menutup wajahnya dengan sweater yang ada di belakang mobil kursi kemudi. Hanya terdiam melihat Iyas yang masih tidak mau menjawab pertanyaan ya. Iya sangat merasa putus asa ketika mendapatkan kabar bahwa wa gadis kecil yang sempat mengisi kehidupannya kini Ini sudah Ah tidak mungkin untuk bersamanya lagi.


Sekitar 1 jam Lina dan Iyas berdiam diri di dalam mobil tanpa pembicaraan diantara mereka berdua. Lina memilih untuk diam, berusaha untuk memahami suasana hati Iyas yang sedang merasa kehilangan atau hancur, karena kekasih hatinya kini telah meninggal dunia. Akan tetapi, tiba-tiba suara gemuruh yang berasal dari perut Lina membuyarkan lamunannya, juga membuat kedua mata Iyas terbuka secara mendadak.

__ADS_1


Lina terkejut ketika apa yang terjadi pada dirinya. Lalu dia melirik kearah Iyas, namun ia memalingkan lagi wajahnya ke arah jendela mobil.


"Ya ampun aku malu sekali, kenapa perutku ini selalu tidak bisa diajak kompromi ? Kenapa tidak nanti aja? Tapi memang aku belum sarapan dari tadi pagi, makan siangpun aku hanya sedikit," gumam Lina pelan.


Wajah Lina tampak merah menahan malu karena perutnya yang berbunyi dan memang dia sangat lapar untuk saat ini. Apalagi, setelah menunggu lama di dalam mobil bersama Iyas. Iyas yang mendengar suara gemuruh perut Lina. Ia tersenyum tipis dan melihat kearah gadis yang ada di sampingnya itu, dengan pandangan yang penuh arti.


Iyas mulai tertarik kepada gadis di sampingnya itu. Apalagi setelah ia menyatakan bahwa dirinya adalah istrinya di depan Inez. Iyas merasa bertanggung jawab atas perbuatannya, terhadap Lina yang yang mau ikut bersandiwara bersamanya di depan Inez.


"Ayo kita cari makan!" ajak Iyas.


"Tapi aku belum mengantarkan pesanan hari ini," jawab Lina sambil menunjukkan bingkisan yang ia bawa tadi siang.


Iyas terdiam dan mengerutkan dahinya ketika mengingat gadis di sampingnya itu. Gadis itu masih mementingkan pekerjaannya, padahal untuk jam saat ini pemesan mungkin sudah membatalkannya secara otomatis. Namun ia tidak mau mematahkan semangat gadis di sampingnya itu. Iyas tersenyum tipis dan mengangguk kepada Lina. Iyas lalu menyalakan mesin mobilnya, namun lain dari dugaannya mobilnya kini tidak bisa dihidupkan kembali. Iyas mencoba berulang kali menghidu0kan mobilnya. Namun tidak kunjung hidup juga. Lalu melihat ke arah Lina di sampingnya yang juga tertegun memperhatikan Iyas yang prustasi mencoba menghidupkan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2