Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Tawamu


__ADS_3

Prolog.


Setelah makan Rara suaminya dan kedua mertuanya lebih memilih berbincang di ruang tamu rumah besar. Terdengan tawa Rara yang nyaring menggema yang justru memberi ke hangatan di rumah besarjuga membuat kedamaian di hatinya orang-orang yang melihat tawanya yang lepas tanpa beban di hatinya.


Suaminya Rendi melihat tawa istrinya yang cantik dan polos .


Ia seperti melihat kebahagiaan dari istrinya. Yang membuat hati Rendi merasa tenang dengan apa yang sering ia lakukan pada istrinya .


"Semoga tidak ada air mata lagi Sayang dan tidak ada kesedihan di hatimu," batin Rendi tersenyum melihat istrinya.


Ayah dan ibu Rendi tersenyum melihat Rara yang tertawa di perhatikan oleh putranya.


Ayah Rendi dengan senyum di wajahnya. Ia saling memandang Rendi. Ia tersenyum bahagia melihat puteranya bisa tersenyum seperti itu .


Dulu Rendi jangankan tersenyum bicarapun ia sangat pelit tidak pernah banyak bicara kepada siapapun termasuk orang tuanya.


Mereka berbincang kesana kemari selalu ada pembicaraan jika Rara yang banyak bertanya. Kini mereka berbincang dan bergurau tentu saja yang tertawa lepas dan nyaring hanya Rara seorang. Menurutnya perbincangan antara Rendi dan orangtuanya sangat lucu sampai ingin sekali ia tertawa terus.


Ada hati dan perasaan bahagia baginya saat kebersamaan Suaminya dengan kedua orang tuanya. Setelah mendengar kabar bahwa Rendi sangat jarang berkunjung apalagi berbincang dengan kedua orang tuanya seperti sekarang. Ia memberikan senyum dan tawa bahagia akan kebaikan kasih sayang dan cinta yang utuh yang di berikan suaminya beserta kedua orang tuanya yang sekarang menjadi mertuanya.


Kini ibu Ratih Tuan Anggara juga Rendi sudah memahami Rara. Ia


Seorang gadis yang polos apa adanya yang dengan senyuman dan ucapanya bisa meluluhkan kedinginan satu keluarga Suaminya. Banyak sorot mata yang memandang ke arah Rara yang kini menambah kekaguman atas sikap nona barunya Rara bahkan menjadi idola semua pelayan di rumah besar.


"Mah, apa ada strawberi?" Tanya Rara tiba-tiba.


Semua orang terkejut Saling memandang satu sama lain mendengar pertanyaan Rara yang berhenti dengan tawanya tiba-tiba saja menanyakan itu.


Rendi mengerutkan dahinya. Ia merangkul pinggang istrinya dan berkata.


"Sayang apa kamu ngidam?" Tanya Rendi.

__ADS_1


"Hmmm, yang namanya ngidam itu menginginkan sesuatu yang sedikit susah di dapatkan kalau buah strawberi ada banyak di pasaran," ucap ibu Ratih.


Tuan dan nyonya besar tersenyum melihat perbincangan putranya dengan istrinya yang sama-sama keras kepala.


"Ada Nona muda," jawab pak Jun .


"Aku mau," teriak Rara.


"Sayang, kenapa kamu tiba-tiba ingin makan buah itu..Bukankah kamu baru saja habis makan banyak?" Tanya Rendi heran.


"Hmmm, gak tahu aku hanya mau makan buah saja," jawab Rara.


Ibu Ratih yang melihat percakapan putra dan menantunya. Ia memandanginya dengan kekagumannya pada hubungan dan cara mereka bahagia yang unik. Ia tidak pernah lepas dari senyumnya.


Memperhatikan menantunya entah kebahagiaan apa yang sedang di rasakan nyonya besar sehingga ia tetap tersenyum.


Mungkinkah karena ia menginginkan menantu seperti Rara atau dia yang akan dapat cucu. Antara sikap putranya Rendi yang mulai hangat pada keluarganya. Atau memang ia suka pada Rara. Itu yang ada di benak ibu Ratih tapi untuk kali ini benar baru kali ini merasa damai bahagia.


Mereka terhenti saat seorang pelayan membawa keranjang buah dan memberikannya pada tuan dan nona mudanya. Rara yang senang akan buah yang sudah datang ke pada nya.


Ia memakamnnya dengan lahap.


"Hmmm, kenapa buah ini seperti segar sekali apa mendadak di petik?" Tanya Rara dengan mulut yang masih mengunyah strawberi .


"Iya Nona, tadi kami memetik dan menyiapkanya untuk makanan camilan juga sudah di bersihkan dan di sterilkan," ucap pak Jun.


"Ini enak aku suka, Sayang kamu mau?" Ucap Rara.


Suaminya Rendi yang melihatnya tersenyum. Melihat istrinya memakan buah dengan lahap padahal sudah makan. Ia menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau.


"Kenapa ini enak..Tidak baik membiarkan makanan begitu saja kita harus menghargai makanan yang ada di hadapan kita ayo makan. Mamah juga mau bisa minta di ambilkan lagi," pinta Rara.

__ADS_1


Ibu Ratih tersenyum juga menganggukan kepalanya tanda ia setuju pada ucapan menantunya. Rendi yang tadinya tidak mau .


Terpaksa membuka mulutnya dan mengunyah buah itu dengan senyumnya.


"Akan aku makan mulutmu yang tidak bisa diam ini istriku tunggu saja nanti malam ku makan habis kamu, " batin Rendi tersenyum.


"Kenapa kamu melihatku begitu..aku tahu apa isi pikiranmu itu kalau kamu tidak menghabiskan makanan ini jangan harap," ucap Rara.


Rendi terkejut mendengar itu rasanya ingin sekali menutup mulut istrinya saat ini juga. Tapi Rendi tidak berani karena ini bukan sedang di rumahnya.


Orang tua Rendi yang melihat ekspresi putranya yang terkejut dengan ucapan istrinya. Mereka tertawa tertahan mendengar perkataan Rara. Tentu saja semua yang menyaksikan terkejut melihat tuan dan nyonya besar yang tersenyum. Selepas itu tuan dan nyonya besar mereka menertawai kelakun anak menantunya. Tuan dan Nyonya besar yang sangat dingin dan menakutkan itu kini terdengar suara tawanya.


Ada kesejukan dan kedamaian di hati para pelayan yang menyaksikan tawa tuan dan nyonya besar beserta anak menantunya. Hal yang di luar dugaan jika berharap tuan dan nyonya besarnya untuk tersenyum ramah apalagi tertawa lepas seperti saat ini. Yang mereka lihat pemandangan keluarga Anggara yang sedang berbincang bercanda dan tertawa lepas menghangatkan rumah yang luasnya muat dengan banyaknya penghuninya.


Rara tersenyum dengan apa yang terjadi melihat mertuanya tersenyum bahkan tertawa lepas bersama menyaksikan kekonyolan putranya. Mereka berbincang dengan Rara sampai larut malam.


Yang bertopik kesana kemari semua pertanyaan Rara sangat di luar pembicaraan.


Ia sangat polos setiap pertanyaanya tidak bisa di tebak hingga saat Rendi berbicara serius tentang perusahaan dengan ibu Ratih.


Rara tertidur di pundak Rendi.Kedua orang tua Rendi yang melihatnya tersenyum. Gadis yang lugu dengan segala kepolosan dan kepintarannya yang ramah. Ibu Ratih memberi isyarat pada putranya ia memelankan suaranya agar Rara tidak terbangun.


Rendi yang tidak mengerti isyrat ibunya Ia melihat ke arah Rara yang sudah tertidur di pundaknya.


"Dan sampailah istriku ini tertidur juga setelah banyaknya pertanyaan yang ia katakan tanpa henti," ucap Rendi.


"Bawalah ke kamarmu kalian menginap ini sudah malam," ucap ibu Ratih.


Rendi mengangguk dan menggendong istrinya ke kamar atas.


Di kamar Rendi yang dulu ia tinggali

__ADS_1


kamar yang bersih tidak berubah saama sekali sejak ia meninggalkanya dan pindah.


__ADS_2