
Malam ini Rara dan Rendi duduk di depan balkon kamarnya. Melihat langit malam yang berbintang. Rara duduk di pangkuan suaminya dengan mengenakan dres tidur warna putih senada dengan suaminya yang kini berada di hadapannya dengan senyum dan penuh kasih sayangnya. Memeluk erat istrinya. Rara tersenyum sumringah dengan hati bahagianya memandangi langit malam yang indah berbintang.
"Kamu tahu Sayang? Saat aku melihat langit malam yang berbintang, aku selalu mengingatmu yang penuh dengan cinta dan kasih sayangmu padaku, tapi jika langit malam yang gelap, aku juga mengingatmu untyk pertama kalinya bertemu denganmu setelah aku berteriak pada langit malam yang gelap dan meminta seseorang untuk datang menjemputku dan ternyata kamu beneran datang di hari dimana aku akan di adakan pernikahan perjodohan itu," ucap Rara tersenyum memandangi bintang yang berkerlip malam hari.
"Makanya jangan berdo'a saat langit gelap tak berbintang, jadinya kamu jodohnya sama aku yang penuh kegelapan ini kan!" jawab Rendi menyusupkan kepalanya di leher jenjang istrinya yang tersenyum mendengar ucapan suaminya.
"Takdir cinta seseorang itu berbeda-beda dan beragam Sayang, jika ada gelap pasti ada terang. Seperti dirimu dan diriku ini. Aku juga tahu jika kamu bahkan mencoba belajar beribadah, hanya untuk mengimbangiku," ucap Rara tersenyum memandangi suaminya yang kini menatap wajah istrinya yang tersenyum.
"Ya, kau memang menerangi hati dan kehidupanku istriku, maka dari itu aku tidak ingin melepaskanmu yang teramat berharga bagi hidupku," jelas Rendi mengecup bibir ranum istrinya.
Rara tersenyum dan memegang wajah tampan suaminya yang terlihat manja padanya. Itu memberikan kebahagiaan yang teramat bahagia bagi Rara hanya dengan melihat tingkah manja suaminya.
"Sayang? Jangan pernah tinggalkan aku lagi ya, aku tidak tahu harus bagaimana lagi jika aku beneran gak bisa liat kamu lagi," ucap Rara manja pada suaminya yang justru tersenyum melihatnya.
Rendi tersenyum dan mengangguk pada Rara yang mengembungkan pipinya dan memajukan bibirnya dengan segala manjanya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Sayang, apalagi banyak mata yang selalu curi-curi pandang sama kamu, aku tidak akan membiarkannya," jaeab Rendi mengecup bibir istrinya yang memaju ke depan dengan pipi yang mengembang dan tersenyum setelah mendengar penuturan suaminya yang terdengar manis baginya.
"Haha, mana ada yang curi pandang sama aku sayang? Itu hanya asumsimu lagipula tidak akan ada yang berani melawan ketua mafia terbesar di dunia ini, aku akan tetap menjadi istrimu satu-satunya yang tercantik untukmu," tawa Rara terdengar nyaring dan Rendi tersenyum melihat tawa manis dan wajah yang cantik di hadapannya itu.
"Sayang? Kenapa masih mau makan malam di pantai? Kenapa tidak di hotel berbin4thang lima atau di srbuah gedung yang terlihat romantis?" tanya Rendi mengingat istrinya selalu meminta pantai untuk tempat paling romantis bagi Rara.
Rara tersenyum menatap suaminya yang masih menatapnya dengan senyum di wajahnya.
"Karena disana aku merasakan sebuah ketenangan Sayang, asal kamu tahu aku sudah pernah bilang jika aku ingin datang ke pabtai bersama dengan pasanganku dan apalagi untuk saat ini aku memiliki suami yang sangat aku cintai dan aku akan dengan bangganya memperkenalkanmu pada pantai yang ibdah dan tenang dengan ombak yang menyoraki hubungan kita Sayang," jelas Rara tersenyum dan menempelkan hodungnya dengan hidung suaminya.
"Baiklah, apapun itu aku akan memberikan semuanya untukmu Sayang, jadi kau hanya tinggal menunggunya sayang," jawab Rendi dengan senyum dan jemarinya menyentuh bibir ranum milik istrinya yang terlihat basah dan menyegarkan baginya. Rendi memainkan bibir istrinya dengan jarinya dan juga dengan keasikannya memainkan bibir mungil milik istrinya yang terlihat merah ranum.
"Ayo kita tidur Sayang! Karena besok kita akan pergi ke pantai sesuai ke inginanmu," ajak Rendi menggendong istrinya yang berada di pangkuannya dari awal mereka berbicara di atas balkon.
Rara mengangguk dan tersenyum ketika suaminya menggendongnya dan juga mencium bibur ranum istrinya dengan kelembutan yang terasa hangat dan manis di bibir Rendi yang merasakannya. Rendi berjalan memasuki kamarnya dengan istrinya yang masih di pangkuannya. Rara hanya tersenyum bahagia mendapati suaminya yang selalu memanjakannya.
"Apa anak-anak tidak apa-apa tidur di kamar mereka?" tanya Rara mengingat ini bukan rumah mereka berdua.
"Kamu tenang saja setelah pulang dari pantai, kita akan segera pindah ke Jerman. Karena perusahaan membutuhkanku dan juga ada rumah yang masih ada untuk kita. Walau tidak semewah sebelumnya Sayang," jawab Rendi.
"Aku tidak perduli dengan kemewahan Sayang, aku hanya mau kau dan aku dan jyga putra-putri kita bersama dan bahagia, aku tidak mau jika kehidupan hanya di dasari dengan kemewahan dan tidak dengan cinta kasih sayang yang penuh cinta sayang," jawab Rara yang kini sudah berada di atas ranjang dan berbaring dengan suaminya yang masih di sampingnya dan berbincang.
"Baiklah, besok kita habiskan bulan madu kita ya," ucap Rendi mengecup bibir istrinya.
Rendi mendekap istrinya di dalam pelukannya dan tertidur dengan selimut menutupi keduanya danbsenyum dan hati bahagia mereka tertidur.
Masih malam yang sama, Dilla berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa dengan beberapa dokumen di tangannya dan juga laptop di hadapannya.
Dilla berjalan menghampiri suaminya dengan dres warna abu-abu selutut dan mencoba untuk berkomunikasi pada suaminya.
"Ken? Apa kamu terlibat sesuatu? Ada masalah apa, bisakah kamu menceritakannya padaku?" tanya Dilla memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya itu.
"Hmm," Ken menjawab istrinya hanya dengan ucapan sesimple itu dan juga tidak menoleh sama sekali dengan penampilan istrinya yang begitu sexsi dimatanya.
Tapi lain dengan Ken, ia bahkan sama sekali tidak melirik istrinya yang kini duduk di sampingnya. Dilla sedikit merasa sakit di hatinya ketika suaminya bahkan tidak menghiraukannya semenjak kepulangannya dan bahkan ungkapan cintanya juga cuman satu kali. Setelah satu jam Dilla duduk menemani suaminya yang sedang bekerja. Ia mulai merasakan sakit yang teramat dalam di hatinya karena suaminya bahkan tidak memandangnya sama sekali. Ia berdiri dan berjalan meninggalkan suaminya dengan muka di tekuk ke bawah.
Ken melihat istrinya yang pergi meninggalkannya dengan wajah di tekuknya dan tanpa berbicara Dilla berjalan meninggalkan suaminya. Ken menyimpan dokumennya dan menutup laptop di hadapannya dan menghampiri istrinya yang sudah mendekati ranjang dan hendak naik di atas ranjang. Tapi sebuah tangan mencegahnya dan merangkul pinggang Dilla dan membalik tubuhnya dan menghadap ke arah Ken yang kini mencium bibirnya dengan lenbut. Dilla membulatkan kedua matanya dan membalas ciuman suaminya yang begitu dalam dan tidak bisa membuatnya bernafas.
Ken mengakhiri ciumannya karena Dilla yang tidak bernafas.
"Bernafas! Apa kau mau jadikan aku pembunuh mesum yang membuat istrinya mati ke habisan nafas?" ucap Ken dingin.
__ADS_1
Dilla terdiam saat mendengar ucapan suaminya yang semakin membuatnya merasakan sakit di hatinya.
Ken terdiam mengerutkan dahinya melihat istrinya yang malah terdiam tidak menjawab apalagi membantah ucapan Ken. Lain dari biasanya. Dilla selalu berbicara panjang lebar dan merajuk dan juga bermanja pada suaminya dalam hal apapun.
Dilla terdiam menahan sakit yang semakin terasa di hatinya. Tanpa menatap wajah suaminyayang kini menatapnya dengan banyak pertanyaan dan terheran akan sikap istrinya yang malah berubah sedari tadi siang.
"Ada apa denganmu Dilla? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ken dengan wajah datarnya.
Dilla tetap diam dan berbalik menaiki ranjang tidurnya dengan hati yang terasa semakin sakit. Saat Ken semakin membentaknya.
Ken menarik tubuh istrinya dengan keras hingga tidak terasa Dilla yang sudah tidak tahan dengan sikap suaminya yang sangat acuh dan juga keras padanya.
Ken mengerutkan dahinya melihat Dilla yang malah menangis di hadapannya.
"Kamu kenapa La? Apa yang mengganggu pikiranmu? Ada apa?" tanya Ken menghadapkan wajah Dilla yang menangis dan memegang wajahnya.
Ken tertegun melihat istrinya yang menangis. Ia memang kurang paham tentang cara menghadapi seorang wanita. Akhirnya Ken memilih untuk memeluk istrinya yang sedang menangis. Dilla menangis dengan segala rasa sakitnya di hatinya. Ia bahkan tidak pernah bisa menjadi seorang istri yang sangat berarti bagi suaminya yang saat ini sedang memeluknya.
"Katakanlah, apa yang ingin kau ketahui dan kau tanyakan padaku? Lakukanlah sayang jika itu bisa membuatmu merasa tenang dan tidak menangis seperti ini lagi," ucap Ken tersenyum pada istrinya yang kini sudah berhenti menangis.
"Aku ingin tahu semuanya?" ucap Dilla mengusap air matanya dengan sendu.
Ken mengangguk mengiyakan setiap ucapan istrinya. Kini ia mulai menceritakan alasan ia pergi ke kota c bersama dengan Rendi. Kecelakaan dan pesawat yang meledak dan kehidupannya selama menjalani perawatan dan juga menceritakan tujuan utama untuk pergi dan hasil yang tidak bisa memuaskannya baginya karena kedua orang tuanya tidak ada dan menjadi hal yang tabu untuk bertemu dengan kedua orang tuanya yang keberadaannyapun tidak tahu.
Dilla tertegun dan merasa bersalah ketika mendengar cerita suaminya yang penuh perjuangan untuk menemukan kedua orang tuanya. Ia juga harus berkhianat pada tuannya yang ia cintai selama ini.
Dilla memeluk suaminya dan dengan lembut mencium bibir suaminya dengan lembut dan dalam berharap membuat suaminya menjadi lebih tenang dan kuat. Karena bukan hanya dia saja yang ada . Tapi ada istri dan yang lainnya yang mendukungnya.
"Kamu harus tetap berusaha, insyallaah kedua orang tuamu akan segera di temukan," ucap Dilla meredakan perasaan sedih Ken yang kini sedikit tersenyum tipis pada Dilla yang kini sudah tidak menangis lagi.
"Kenapa kau menangis?" tanya Ken penasaran dengan hal yang membuat istrinya menangis. Bahkan Ken sudah berusaha untuk tetap bersikap hangat padanya. Tapi yang ada istrinya masih saja menangis tanpa sebab yang pasti. Apalagi mengingat sikapnya yang selalu acuh dan dingin pada siapapun. Tapi Ken sangat mengutamakan istrinya setelah tuannya.
"Apa maksudmu? aku ini tidak menyukaimu?
Menurutmu untuk apa aku menikahimu jika aku tidak menyukaimu?" tegas Ken mengerutkan gahinya.
"Aku...."
"Apa yang kamu pikirkan Dilla? Aku sangat mencintaimu, kenapa kau berpikir aku tidak menyukaimu?Apa lagi tidak menginginkanmu? Aku ini tidak bisa mengungkapkannya saja jadi kau harus percaya jika aku sangat mencintaimu Dilla!" jelas Ken dengan tekanan menatap istrinya yang tertegun mendengar penuturan Ken yang terbilang sangat jarang ia dengarkan.
"Maafkan aku Ken, meragukan cintamu," ucap Dilla memeluk suaminya dengan srnyum dan kesedihan yang tidak bisa ia gambarkan kebahagiaanya saat ini.
Ken tersenyum dan memeluk istrinya yang kini mulai tersenyum lagi. Dilla dan Ken tertidur dengan pelukan mereka yang saling mencintai daj mengasihi.
Hari ini, akan menjadi hari yang sangat panjang bagi siapapun yang menjalaninya. Rendi memerintahkan Mark dan Iyas menyiapkan makan malam yang romantis untuknya dan juga istrinya. Ia begitu tegas pada Mark mengingat dirinya pernah tersenyum bersama istrinya. Rendi masih tampak kesal mengingatnya. Bahkan istrinya sudah menjelaskan dengan rincian segala rencananya dan bahkan tawa Rara dengan Mark waktu itu juga sekedar rekayasa agar Dirga percaya akan hubungan Rara dengan Mark saat itu.
Rara bahkan bekerja keras semalaman agar Rendi tidak memberatkan Mark yang tidak bersalah. Justru malah membantu dan juga melindungunya.
Sementara yang lain sibuk kesana kemari dengan segala persiapan di pantai. Makan malam yang di inginkan Rara bersama suaminya dan juga anak-anaknya.
Setelah di rasa siap, Rara dan Rendi pergi ke pantai dengan suasana ramai. Lain dengan Dilla yang tidak ikut. Mengingat bayinya masih kecil dan tidak baik jika berkendaraan di usia yang masih kecil begitu. Itu yang Rendi jelaskan pada Dilla yang keras kepala ingin ikut. Rara dan Rendi memasuki ruang penginapan dan tertidur dengan berulistirahat di kamar inapnya bersama denagn kedua anaknya yang kini sedang bersama pengasuhnya. Rara tersenyum bahagia melihat pantai yang sangat indah dengan ombak yang berirama dengan terpaan angin yang menghiasi lautan dengan warna biru di pagi hari.
Rara duduk di depan pantai dengan alas kaki di tangannya. Rendi berada jauh dari istrinya sedang berbicara pada pemilik Resort tentang makan malam yang romantis untuknya bersama istrinya yang sangat romantis dengan terpaan angin malam di pantai yang menambah suasana romantos di pantai malam hari.
Rara duduk di tepian pantai dengan wajah dan senyum berseri di wajahnya. Rendi menghampiri istrinya yang terduduk dan duduk di samping istrinya.
"Sayang? Apa kau menyukainya? Malam yang indah akan kita lewati berdua saja dengan romantis Sayang, apa kamu bahagia?" tanya Rendi membuat Rara tersenyum dan melirik ke arah Rendi yang juga tersenyum padanya.
__ADS_1
"Kamu tahu Sayang? Aku srlalu bahagia selama ada kamu bersamaku, aku tidak mau yang lain tapi aku mau kamu, hanya kamu," jawab Rara tersenyum dan mencium bibir suaminya dengansenyum kebahagiaan yang teramat dalam bagi mereka berdua yang di landa kerinduan yang teramat dalam.
Di sore hari Rara berjalan setelah membersihkan dirinya dan juga bersiap untuk jalan di sore hari melihat senja yang sangat indah di depan lautan yang indah melihat senja di tepi pantai bersama kekasih dan orang tercintanya. Rendi menghampiri istrinya yang kini sudah berjalan lebih dahulu tanpa menunggu Rendi berjalan mengajaknya lebih dahulu. Rendi daj Rara berjalan sore di tepi pantai. Dengan senyum kebahagiaan yang tak terhingga di wajah berseri mereka.
Sesampainya di suatu tempat. Rendi mengajak Rara untuk mengikuti ke suatu tempat yang sudah di sediakan oleh pemilik Resort. Sesampainya di tempat tujuan. Rendi dan Rara tertegun melihat tempat yang sangat indah dengan meja makan yang bernuansa putih bersih elegan.
Rara tersrnyum dan mencium suaminya yang kini menuntunnya untuk duduk dan menikmati makan malam yang akan di lakukan sambil menunggu perginya matahari dan datangnya senja. Setelah melihat senja yang hilang di telan malam. Mereka berdua bermesraan hingga malampun tiba dan masih di tempat yang sama.
Dibawah langit biru yang indah dan disebuah tempat yang menawan. Kursi dan meja-meja tersusun rapih dihiasi bintang-bintang malam.
Terdapat dua orang yang saat ini tengah menikmati makan malam mereka. Iya! Mereka adalah sepasang suami istri Rendi dan Rara.
Rara sangat menyukai hal-hal yang indah sedang Rendi hanya menyukai sesuatu yang tenang. Mereka berdua bak angin dan hujan.
Mereka berbeda tetapi saling menggantungkan. Mereka memiliki satu harapan yang sama yaitu sebuah harapan untuk menjadi sepasang suami istri. Banyak lika-liku kehidupan yang harus mereka lalui. Pahit manis kehidupan dan bahkan mereka pernah hampir terpisahkan karena sebuah jarak.
Tetapi, apalah daya jika takdir sudah berkehendak. Mereka dipertemukan kembali secara tidak sengaja oleh Sang Pencipta.
"Hei, sayang. Apakah kamu benar-benar yakin ingin tetap denganku walau kau tahu aku ini seorang mafia?"
"Diriku tidaklah seperti kebanyakan wanita di luar sana. Diriku banyak sekali kekurangan dan ba ..."
"Yang kulihat darimu bukanlah fisik, tetapi hati! Hati indah dan jernih. Aku tak peduli dengan kata-kata orang lain." Sela Rendi sambil tersenyum lembut."Tapi! Aku? Apa kamu tau ak ..."
Jari Rendi yang lembut dan indah itu langsung menempel di bibir Rara yang indah agar Rara berhenti untuk mengatakan hal yang bodoh.
Rendi dengan senyum lembut dan menawan langsung berdiri dan mendekat kearah Rara. Kemudian, Rendi langsung menggenggam tangan Rara dengan penuh hasrat dan cinta.
Senyum lembutnya terlihat begitu indah dan menyejukkan.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Rendi bersikap aneh begini? Bukankah biasanya dirinya hanya bersikap tenang dan dingin?" Gumam Rara dalam hati dengan perasaan bingung dan gunda.
Jari-jemari tangan mereka berdua semakin saling menggenggam dengan erat. Rendi mulai mendekatkan tubuhnya ke tubuh Rara. Mata mereka saling menatap dengan mesra dan indah.
Detak jantung mereka semakin berdebar dengan kencang. Wajah mereka semakin mendekat dan bahkan kedua bibir mereka sedikit lagi akan bersentuhan.
Rendi mendekatkan bibirnya di bibir istrinya dengan senyum manis istrinya. Rendi menikmati bibir ranum istrinya dan menciumnya dengan dalam dan penuh kenikmatan di bawah langit berbintang denagn terpaan ombak yang bergemuruh di malam hari.
Rara tersenyum bahagia melihat dan mendapatkan dan juga merasakan cinta dan perhatian suaminya yang kini benar- benar sangat ia cintai. Rara merangkul pundak leher suaminya dan menempelkan hidung dan juga dahi mereka dengan senyum merekah di wajahnya.
"Kamu mau makan malam dulu Sayang? Sebelum kita lanjutkan ke tahap awal dan akhir?" tanya Rendi tersenyum menggoda istrinya yang kini wajahnya merah padam menahan malu akan ucapan suaminya yang terdengar vulgar.
Rendi menikmati bibir istrinya dengan segala cinta di hati mereka berdua yang saling mengisi satu sama lain. Rara tampak tersenyum berseri melihat wajah suaminya yang terlihat tampan dari sudut manapun. Ia selalu tampak bangga ketika berada di hadapan suaminya dengan srgala tingkah manjanya.
"Aku mau makan, tapi kau suapi!" tegas Rendi manja pada istrinya.
"Baiklah, kau akan menjadi raja di malam ini dan aku juga harus menjadi ratu di hatimu," jawab Rara tersenyum menggoda suaminya yang kini juag tersenyum melihat tingkah istrinya yang begitu manja dan menggoda.
NTR kakak2.
Nama:Battle Domain, sebuah Game Virtual Reality yang terasa sangat nyata dan berjalan lebih cepat dari waktu yang ada di dunia nyata. Berkat fitur tersebut, Battle Domain berkembang dengan cepat di seluruh dunia hingga berpengaruh pada ekonomi dunia.
Veigas Ercnard seorang laki-laki berusia 18 tahun yang baru saja lulus dari sekolah mengalami dilema antara kuliah atau kerja.
Di tengah dilemanya, Veigas menemukan Battle Domain yang ternyata bisa menghasilkan uang dengan cukup mudah.
__ADS_1
Karena terdengar menarik Veigas memulai petualangannya di Battle Domain untuk menghasilkan uang. Namun, seiring berjalannya waktu, tujuan Veigas yang awalnya hanya untuk menghasilkan uang pun berubah.
Kebanggaan, Harga Diri, Reputasi, dan Kehormatan, itulah hal yang menunggu Veigas setelah menyelam semakin dalam di Battle Domain.