
prolog.
Suasana di penginapan sangat tegang dan mengerikan,ketika pandangan Rendi terlihat menyoroti setiap karyawan disana,dengan tatapan membunuhnya.
Ken sudah berdiri disana,juga Sudah memerintahkan anak buahnya,untuk membawa Dilla dan Anak-anak Rendi kembali ke kamarnya.
Ken menghampiri Rendi yang sedang terdiam dengan wajah memerah menahan amarahnya.
"Lakukan secepatnya!" Teriak Rendi
Rendi bicara pada Ken,yang mengangguk dan mengeluarkan handponenya menelpon.
"Semua sudah di periksa Tuan,dan sepertinya pelaku tahu setiap sudut disini Tuan,kamera pengawas bahkan tidak tergores sedikitpun,tidak ada yang terhapus," ucap Ken.
"Panggil dia," ucap Rendi dingin.
"Baik Tuan," jawab Ken.
Ken berlalu dan membuka laptopnya untuk melakukan video call,yang tersambung dengan Mark yang sedang ada di singapore.
Rendi terduduk dengan wajah kebingungan,ia membayangkan sedihnya istrinya jika jauh denganya juga anak-anak mereka.
"Kemana kamu Sayang," lirih Rendi.
Rendi melihat ke arah para pelayan di Resort itu. Ia menatap lekat,mereka yang tertunduk ketakutan.
"Pergi," ucap Rendi tajam.
"Pergi dari hadapanku," teriak Rendi.
Mereka berhamburan pergi,tapi tidak dengan penjaga yang Ken bawa.
"Ken ada apa sebenarnya,apa terjadi sesuatu dimana Rara?" Tanya Dilla.
Dilla bertanya pada Ken yang sedang membuka laptopnya.
"Ken"teriak Dilla.
Ken menatap wajah cemas istrinya.
"Sebaiknya kamu kembali dan jaga si kembar!" Tegas Ken.
"Maksudmu apa dimana Saudariku,apa yang terjadi?" Teriak Dilla panik.
"Tenanglah aku akan memastikan besok pagi dia akan kembali," ucap Ken menenangkan Dilla.
"Aku tidak mau besok aku mau sekarang," lirih Dilla menangis.
Ken memeluk istrinya, dan melihat ke arah Rayn dan Amira yang tertidur tenang.
Ketukan pintu membuyarkan Ken dan Dilla.Ken membuka pintu kamarnya.
ternyata Rendi yang berada di luar kamar Ken.
"Apa mereka baik-baik saja?" Tanya Rendi.
"Mereka tertidur pulas," jawab Ken.
"Hmmm, ayo kita kembali,antar mereka ke rumah besar, keselamatan mereka harus terjaga," ajak Rendi.
"Hah, tadi tuan histeris ngamuk,apa dia sudah tidak cemas tentang nona muda lagi?" Batin Ken.
Kini Dilla menggendong Rayn dan Amira,dengan Rendi dan Ken.
Mereka melajukan kendaraannya menuju Jakarta dimana rumah besar berada.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" Tanya Ken memberanikan bertanya.
Rendi tidak menjawab, ia tetap dingin dengan pandangan ke depan dengan pikiranya sendiri.
Ken memahami tuannya sedang dalam mencari cara aman,dalam setiap langkahnya.
"Apa dia sudah datang?" Tanya Rendi.
"Dalam empat puluh menit mereka akan mendarat Tuan," jawab Ken.
"Apa kau sudah memastikan tempatnya?" Tanya Rendi kembali.
"Sudah Tuan,hanya saja belum pasti dia pelakunya Tuan," ucap Ken kembali.
"Aku tahu tapi hanya dia,yang tahu pasti dimana istriku berada," ucap Rendi dingin.
"Baik Tuan, saat ini dia sedang berada di kediaman orang tuanya Tuan," ucap Ken.
"Kita akan segera kesana," ucap Rendi dingin.
"Semoga itu benar tuan,saya harap ini yang pertama dan terakhir tuan,saya tidak yakin dengan anda masih menahan amarah begini tuan," batin Ken.
Rendi terdiam dengan diamnya, melihat ke arah anak-anaknya yang sedang tertidur pulas.
"Aku tahu kamu baik-baik saja sayang, anak-anakmu tampak baik-baik saja walau kamu tidak disini sayang,aku harap kamu baik-baik saja Sayang," batin Rendi .
Kini kendaraan sudah sampai di rumah besar dengan orang tua Rendi menunggu kepulangan mereka.
"Kemari sayang kalian pasti cape,mana Mamahmu?" Tanya ibu Ratih.
"Rara tidak ada ma,tapi Rendi akan pastikan Rara kembali sebelum Rayn dan Amira menangis," ucap Rendi.
"Kenapa bisa seperti itu Rend, kamu harus berusaha untuk menemukan istrimu jangan sampai terjadi sesuatu hal buruk padanya," gundah ibu Ratih.
"Rendi tidak akan membiarkan hal buruk terjadi Mah," ucap Rendi.
Rendi menaiki tangga ke arah Kamarnya,ia melihat setiap sudut kamarnya dan teringat setiap canda tawa mereka antara Rendi dan Rara.
"Bisa gila aku tanpamu Sayang,kamu dimana?" Gumam Rendi.
Rendi termenung dengan kepala tertunduk,ia bahkan memikirkan bagaimana keadaan istrinya,bila benar-benar di culik juga bagaimana jika istrinya di lukai.
"Aaah,, semoga kamu baik baik saja Sayang," ucap Rendi.
__ADS_1
Terdengar ketukan dari pintu kamar Rendi,ia berdiri dan membuka pintu kamarnya.
"Tuan ada Tuan Ken, juga dengan dua orang lainya," ucap pelayan.
Rendi mengangguk dan turun di ikuti pelayan yang memanggilnya.
Rendi menuruni tangga ia melihat ada Ken juga Mark dan Iyas, bergegas berdiri menghampiri Rendi dan mengikutinya berjalan di belakang Rendi memasuki ruang kerja Rendi.
Rendi menoleh ke arah pelayan yang mengasuh Rayn dan Amira yang sedang memberi dot susu pada anak-anaknya yang di tinggalkan istrinya di pendingin.
"Kamu bahkan tahu sayang bahwa Asi yang kamu pompa,akan berguna di saat seperti ini,mereka bahkan sangat tenang aku yakin kamu baik-baik saja Sayang," batin Rendi.
Ken melihat kesedihan tuanya yang di tutupi dengan wajah datarnya,Rendi melangkah masuk ke ruang kerjanya. Ia duduk dan menatap Ken Mark dan Iyas dengan tajam.
"Apa kau sudah periksa?" Tanya Rendi.
"Keberadaanya masih di Bandung Rend," jawab Mark.
"Kau yakin?" Tanya Rendi dingin.
"Aku pernah memberi pelacak di cincin pernikahan kalian jadi aku sudah yakin bahwa itu tidak akan kalian lepaskan,bila kamu perintahkan aku akan kesana secepatnya," ucap Mark.
"Biar aku juga pergi aku ingin tahu siapa dalang dari semua ini?" Ucap Rendi dingin.
"Tuan, serahkan saja pada kami nanti jika perlu saya bawa orangnya pada Anda," ucap Mark.
"Baiklah kau pergi kesana aku akan ke rumah Raditya memastikanya," tegas Rendi.
"Baik saat ini juga kita akan pergi," ucap Mark.
Mark dan Iyas pergi meninggalkan Rendi dan Ken dari ruangan kerja Rendi.
Di saat Rendi mengendorkan pandanganya,Tuan Anggara masuk menghampiri Rendi yang juga ada Ken yang menemani Rendi.
"Nak,apa perlu bantuan papa?" Tanya tuan Anggara.
"Jika Rendi perlu Rendi pasti akan menghubungi Papa," ucap Rendi.
Tuan Anggara mengangguk dan menghampiri putranya.
"Pastikan semua beres Nak," tegas tuan Anggara.
Ayahnya menepuk pundak Rendi, dan berjalan meninggalkan ruang kerja Rendi.
Rendi berdiri dari duduknya setelah terdiam sejam lamanya dengan Ken yang setia mendampinginya.
Rendi mengenakan jasnya dan berjalan keluar ruangannya.Ia menghampiri Rayn dan Amira yang sudah tidur di pangkuan neneknya.
"Aku akan segera kembali," ucap Rendi kepada ibunya.
Ibu Ratih melihat Rendi berjalan meninggalkan kediaman rumah Anggara.
Rendi berada di kursi penumpang dengan Ken di balik kemudi.
*****
"Apa kamu sudah siap untuk besok?" Tanya Raditya pada putranya Leo.
"Siap Yah,apa Ayah tidak akan ikut?" Tanya Leo.
"Ayah akan menyusul kesana nanti, ingat jadilah pria sejati yang sukses dan pastikan jangan pernah menyakiti seorang gadis apalagi seorang ibu," tegas Raditya.
"Apa ibu membenciku Yah? Tanya Leo.
"Kalau ibu membencimu, dia tidak akan membesarkanmu sampai saat ini Nak," ucap Raditya.
"Baiklah Yah," ucap Leo.
"Tidurlah besok Ayah antar ke bandara," ucap Raditya mengusap pucuk kepala Leo.
Raditya menidurkan anaknya Leon, dan akan mengirim anaknya ke Luar negeri,untuk tinggal dengan pamanya.
Saat Raditya keluar dari kamar Leon, ia menuruni tangga melihat kesekeliling setiap ruangan rumahnya.
"Aku bahkan tidak bisa mempertahankan rumah ini," gumam Raditya.
Raditya duduk si ruang tamu ia terdiam dengan pikiran kemana-mana.
"Kalau saja Rara yang menjadi ibumu mungkin dia tidak akan meninggalkanmu dan aku dengan sifat lembutnya itu," gumam Raditya.
Terdengar suara orang menerobos memasuki kediaman Raditya.
Raditya berdiri melihat orang yang datang menghampirinya dengan wajah murka menatapnya.
"Tuan Anggara ada apa anda menerobos masuk dengan tergesa-gesa?" Tanya Raditya.
"Tidak perlu beralih dimana Rara?" Ucap Rendi menajamkan tatapanya.
"Maksud anda apa,memang Rara siapa Anda,kenapa bertanya pada saya?" Tanya Raditya kebingungan.
"Dia istriku aku tahu kamu yang menculiknya!" Bentak Rendi.
"Rara di culik oleh siapa,kenapa tanya padaku,Anda suaminya?" Ucap Raditya tak percaya.
"Apa perlu aku menghancurkan rumahmu?" Tegas Rendi.
"Dia tidak disini aku bahkan tidak tahu bahwa dia istrimu juga untuk apa aku menculiknya," tegas Raditya.
"Aku tahu kamu masih menyukainya," bentak Rendi.
"Kalau saya menyukainya lalu kenapa," ucap Raditya.
"Sialan dia istriku!" Teriak Rendi.
"Terserah yang pasti dia tidak disini! " Tegas Raditya.
"Periksa !" Tegas Rendi pada Ken dan tiga anak buahnya.
Raditya melihat ke arah pintu,dimana itu adalah kamar anaknya.Ia khawatir jika Leon terbangun,dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Rendi melihat tingkah kemana arah penglihatan Raditya,ia berjalan dan menghampiri pintu kamar yang Raditya perhatikan dari tadi.
Raditya khawatir dengan Rendi mendekati pintu kamar putraya.
"Jangan masuk itu kamar putraku aku takut dia terganggu," pinta Raditya.
Rendi tak menghiraukan, ia membuka pelan pintu kamar,ia melihat seorang anak kecil yang tertidur pulas,dengan memeluk bantal guling. Rendi menghampiri perlahan melihat kesekeliling ruangan dan melihat Leon yang tertidur dengan air mata membekas ti plipis matanya.
"Anak lelaki tidak boleh menangis," ucap Rendi.
yang di dengar Leon tapi ia tertidur dengan mimpinya.
"Tidak ada Tuan," ucap Ken pada Rendi.
Rendi berbalik keluar kamar,ia melihat ke arah Raditya yang sedang terdiam melihat Rendi yang memghampirinya.
"Jika kamu yang menculik Rara akan ku pastikan setiap orang yang berhubungan denganmu akan aku hancurkan," tegas Rendi dengan tatapan tajamnya.
"Hah, apa perusahaanku juga ulahmu?" Tanya Raditya curiga.
"Kamu tanyakan pada Adik tersayangmu itu," ucap Rendi dingin.
"Pantas kamu tidak kunjung datang menemuiku," ucap Raditya.
"Siapapun yang menyentuh istriku akan aku pastikan kehancuranya," ucap Rendi datar.
"Aku tidak mungkin menyakiti Rara," ucap Raditya.
"Apa kamu yakin tidak pernah menyakitinya?" Ucap Rendi senyum licik.
"Aku aku hanya kecelakaan," ucap Raditya gugup.
"Kamu berkencan di restoran dan bermalam di hotel kamu bilang kecelakaan," ucap Rendi.
"Tapi aku tidak pernah menyakitinya," ucap Raditya.
"Kamu sangat munafik,jika benar ada hubunganya denganmu,aku tidak akan membiarkan putramu hidup dengan aman," ancam Rendi pergi meninggalkan Raditya yang terdiam melihat kepergian Rendi.
Saat Raditya melihat ke arah Rendi yang pergi dan kendaraannya,terdengar dering handpoenya dan mengangkatnya.
"Kak aku sudah mendapatkanya kak!" Teriak Bari di sebrang telponya Raditya.
"Apa maksudmu?" Tanya Raditya bingung.
"Kak gadis cantik yang menggiurkan sudah aku miliki Kak,kemarilah aku akan memperkenalkanya," ucap Bari.
"Bari apa yang kau maksud itu Rara?Tanya Raditya.
"Hahaha iya Kak, aku baru tahu namanya Rara dari anak buahku," tawa Bari.
Raditya terdiam ia tak menduga bahwa adiknya yang menculik Rara.
"Kemarilah Kak,jika kakak ingin tahu betapa cantiknya wanitaku ini Kak," ucap Bari tersenyum.
"Dik jangan kau sentuh dia"ucap Raditya.
"Hahaha, jika aku sudah puas nanti akan aku beri Kakak untuk mencicipinya," ucap Bari tertawa.
"Bari jangan sentuh dia!" Teriak Raditya.
"Tenang Kak aku tidak akan menghabisinya," tawa Bari.
Raditya mematikan sambungan telponya,ia terdiam dengan pikiranya sendiri .
"Kenapa harus Rara,dia gadis baik-baik kenapa kamu harus menyukainya," ucap Raditya.
Raditya menghampiri kamar putranya, ia melihat Leon yang tertidur pulas.
"Ayah minta maaf Nak,tidak bisa mengantarmu ke bandara,pergilah dengan Pak Aja dia pasti akan selalu menjagamu," ucap Raditya mencium pucuk kepala anaknya.
Raditya pergi dari rumahnya dan mengendarai mobilnya di malam hari.
*****
Prolog Rendi
Di jalanan Rendi dengan wajah kesal dengan perkataan Raditya yang masih menyukai Rara.
"Seharusnya tidak aku sisakan siapapun di keluarga Budiman," batin Rendi.
Ken mendapat handponenya berdering dan mengangkatnya.
Ken memberikan handponenya pada Rendi.
"Apa?" Tanya Rendi dingin.
"Jejak tertinggal di satu tempat Rend, dan belum menemukan titik temu,tapi dari titik terakhir di pastikan nona muda tidak akan jauh dari tempat semula,aku akan berusaha menemukanya secepatnya," ucap Mark.
"Baiklah, besok aku akan kesana," ucap Rendi menutup telponya.
Rendi kembali ke kediaman rumah besar.Rendi memasuki kamar tidurnya yang sudah ada Rayn dan Amira tertidur disana,dengan pelayan di luar pintu kamar Rendi.
Rendi menghampiri anak-anaknya yang tertidur pulas,bahkan tidak menangis sama sekali,dari sejak Rara menghilang.
"Kalian sangat pintar, dan patuh seperti mama kalian,aku sangat merindukan mamah kalian," ucap Rendi.
Rendi pergi ke kamar mandi,ia mandi di bawah sower,dengan pikiran yang tak karuan,ia tampak bersedih dengan dirinya yang tidak bisa melindungi istrinya dengan baik.
Rendi keluar dari kamar mandi ia terduduk di atas kasurnya,dan mencoba memejamkan matanya tapi tak kunjung tidur juga.Ia hanya berguling di atas kasur, tanpa tertidur pulas. Rendi memikirkan istrinya yang biasanya tidur dalam pelukanya.
Saat Rendi gundah tanpa tertidur,ia mendengar kegundahan Rayn dan juga Amira,Rendi terduduk ia melihat ke arah anak-anaknya dan menggendongnya.
Ia menggendong Amira juga memberinya susu untuk mereka,dan tertidurdi atas kasurnya Rendi memberinya minum susu sambil tiduran dengan tangan menopang kepalanya.
Rendi tersenyum dengan anak-anaknya yang kembali tenang.
Pegangan tangan Rendi memberinya susu,di atas kasurnya hingga Rendipun terasa mengantuk di depan kedua anaknya.
Rendi memberi bantal guling di setiap sisi anak-anaknya,agar tidak terjatuh, ia memeluk putra putrinya dan ikut tertidur bersama mereka bertiga hingga Rendi tertidur pulas.
__ADS_1