
Di malam hari Rendi dan Rara duduk di balkon rumahnya memandangi langit malam yang berbintang. Rara duduk di pangkuan suaminya dengan balutan dres tidur warna hitam dengan rambut terurai, wajah berseri tangan merangkul leher suaminya kepala mereka saling menempel.
Rendi tersenyum memandangi wajah berseri istrinya selagi Rara sedang tersenyum mengagumi malam berbintang.
"Sayang aku baru kali ini melihat langit malam berbintang sangat indah," ucap Rara.
"Hmmm," jawab Rendi menyusupkan kepalanya di leher istrinya mengecupnya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
"Semakin indah saat melihat bintang malam yang bersama orang yang aku cinta," ucap Rara.
"Hmm, benarkah Sayang, aku yang pertama?" Tanya Rendi menatap mata istrinya.
"Tentu saja,kau pikir aku pernah bersama siapa?" Jawab Rara.
"Hmm, apa tidak pernah sama sekali?" Tanya Rendi.
"Kamu yang pertama dan terakhir," jawab Rara.
"Kalau begitu aku sangat beruntung di dunia ini Sayang," ucap Rendi.
"Benarkah?" Tanya Rara tersenyum memandangi suaminya.
"Hmm, aku sangat beruntung istriku tercinta... apa kamu bahagia?" Tanya Rendi.
"Aku sangat bahagia kamu selalu menjadi duamiku untuk selamanya," ucap Rara.
"Kalau begitu apa aku boleh memintanya?" Tanya Rendi.
"Minta apa?" Tanya Rara.
"Hmm,"
"Hei Sayang sabar dong," Teriak Rara.
__ADS_1
Rendi menggendong istrinya dan memasuki kamarnya. Melakukan jeramahnya pada istrinya dengan menelusuri tubuh istrinya dengan buasnya.
Rara tersenyum mendapati suaminya selalu melakukannya tanpa mengekang apalagi menyakitinya. Mereka bercinta penuh desah dan syahdu beralun di atas ranjang mereka. Hingga malam semakin larut setelah melakukannya dengan keringat berderai dan panas. Rendi kini memeluk istrinya dengan berbalut selimut di tubuh mereka. Rendi mengecup pucuk kepala istrinya dengan senyum bahagia mendapati setiap lekuk tubuh istrinya dengan puas dan penuh bahagia cinta di antara mereka tidak dapat terpungkiri dengan apapun bahkan tanpa batas. Mereka tertidur saling berpelukan dengan esok hari berencana untuk pergi ke Bandung berharap ada jawaban untuk keputusan mereka berdua untuk tinggal di Jerman menjalani hidup dengan ketenangan tanpa ada beban di hati dan pikiran istrinya Rara.
Dalam perjalanan.
Ken menyelesaikan pekerjaannya hingga malam hari baru bisa kembali untuk pulang. Ken bergegas membereskan dokumen-dokumennya. Ia berjalan keluar dari ruangannya dan sudah tidak ada karyawan di perusahaan hanya ada sekertaris Nina yang sedang menunggunya juga ikut berjalan untuk pulang.
"Tuan, Anda baru selesai, tuan Rendi juga berpesan ia akan pergi ke Bandung besok pagi tuan," ucap Nina.
"Benarka?" Ucap ken.
Nina mengangguk keluar dari perusahaannya. Ken melajukan kendaraannya dengan pandangan ke depan di kursi kemudinya.
Ia berpikir tentang rencana tuannya untuk pergi ke Bandung esok hari.
"Apa tuan mau meminta ijin pada kedua orang tua nona ya," guman Ken.
Ken berpikir tentang Rendi dengan istrinya yang akan pergi ke Bandung tanpa di temani olehnya. Ken bhakan lupa bahwa dirinya sudah lelah karena dokumen yang di tinggalkan oleh Rendi. Awalnya ingin protes tapi ia memikirkan tentang ke khawatiran tuannya tentang rencana untuk tinggal di Jerman dan menetap disana. Ia berpikir haruskah ia ikut juga jika istrinya akan gundah sama seperti nona mudanya. Ken memikirkan hal yang akan terjadi tentang Rendi bahkan ia tidak menyadari bahwa ia sudah melewati Apartmentnya dan hanya berputar-putar dengan pikiran kesana kemari Ken baru menyadari bahwa ia malah semakin jauh dari Apartmentnya.
Ken berputar arah menuju Apartmentnya. Dengan wajah datarnya ia berbalik dan mengemudi dengankeceptan tingginya. Sesampai di Apartmentnya Ken melihat istrinya sudah tertidur pulas. Ia tersenyum memandangi wajah istrinya yang tampak polos tertidur pulas. Ia bangun dari duduknya dan bergegas ke kamar mandi.
Setelah bersih dan siap untuk tidur. Ken duduk di sofanya dan membuka handponenya. Ia melakukan panggilan video pada tuannya Rendi yang pastinya ia sudah tertidur pulas di jam segini. Ken tidak bisa jika harus menunggu esok hari. Ia tidak akan bisa tidur jika masalah tuannya belum selesai menurutnya. Ken meminum air hangatnya dengan panggilan videonya yang masih belum di angkat oleh tuannya.
Terlihat wajah kesal bangun tidur Rendi geram mengangkat hanfponenya.
"Apa kau bosan hidup Ken sialan," bentak Rendi dengan suara seraknya bangun tidur.
"Tuan, apa Anda akan pergi ke Bandung besok?" Tanya Ken datar.
"Hmm," jawab Rendi setengah tidur memegang handponenya.
Ken tersenyum tertahan saat melihat mata kantuk tuannya yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Sepertinya Anda sudah bekerja keras Tuan," ucao ken.
"Diam kau, aku amu tidur," ucap Rendi geram.
"Heh, baiklah Tuan apa saya harus ikut besok?" Tanya Ken.
"Hmm," jawab Rendi.
"Baiklah saya akan bersiap untuk besok Tuan," ucap Ken.
Saat Rendi mau menutup panggilannya. Ia teringat sesuatu dan berteriak pada Ken. Ken terkejut mendengar teriakan tuannya yang tiba-tiba.
"Hei, sialan, kau tidak perlu pergi jaga istrimu yang sedang hamil aku tidak akan lama. Ada Adam dan Nesa yang akan menemaniku nanti," ucap Rendi.
"Hmm, baiklah tuan kalau begitu saya tidak perlu ke kantor Tuan," ucap Ken datar.
"Jika kau sudah bosan bekerja lakukanlah Ken aku tidak akan menghidupimu lagi," ucap Rendi.
"Heh, baiklah Tuan anda harus hati-hati di jalan besok," ucap Ken.
"Hmm," ucap Rendi.
Rendi menutup panggilan video Ken dan tertidyr kembali bersama Ken juga segera tertidur setelah banyaknya pekerjaan seharian ini.
Di pagi hari Adam beserta Nesa sudah berdiri di depan rumah Anggara dengan persiapan tmyang sudah beres untuk perjalanan ke Bandung beberapa hari.
Adam tanpa ekspresi memandangi taman dengan pandangan yang tanpa arah dan ekspresi. Nesa yang berdiri di sampingnya. Ia mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah pintu utama melihat Rendo berjalam beriringan dengan istrinya juga di ikuti kedua pengasuh anak-anaknya yang kini sudah memasuki kendaraanya.
Adam memasuki mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Begitupun Nesa yang duduk di kursi kemudi juga di kendaraan satu lagi yang berisi anak buahnya dan juga pengasuh putra putri Rendi.
Mereka kini melangsungkan perjalanan menuju Bandung dengan hati bahagia akan bertemu keluarganya. Terutama Rara yang sedang nerseri memandangi Jalanan. Mengingat akan segera bertemu keluarganya. Rara tidak ada hentinya tersenyum sumringah dalam hatinya ia sangat merindukan Ayah dan Ibunya untuk waktu yang lama setelah pergi ke Jerman. Rendi tersenyum bahagia melihat istrinya yang tersenym senang melihat pemandangan jalanan dan menuju keluarganya yang pasti ia rindukan.
"Sayang, apa kamu senang kita pergi menuju Bandung?" Tanya Rendi.
__ADS_1
Rara tersenyum mengangguk dan memeluk erat suaminya menyusupkan kepalanya pada dada bidang suaminya yang kini memeluknya dengan erat juga padanya.