Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Bidadariku


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Setelah sarapan dan berpamitan kepada Naura. Rayn kini berada di dalam mobil yang sama dengan Ken di balik kemudi, Rayn mengerutkan dahinya, ketika ia mendapati handphonenya berdering dan ia melihat nama yang tertera di handphone-nya. Hal yang sangat tidak pernah ia duga ketikan nama ayahnya tertera di layar handphonenya.


Ayahnya menelponnya untuk pertama kalinya terlihat Rayn tidak bergegas untuk mengangkat panggilan dari ayahnya itu, namun ia mencoba untuk menerima telepon dari ayahnya.


"Apa sesulit itu untuk menerima telepon dariku?" tegas Rendi dengan dingin.


Rayn hanya terdiam ketika mendengar suara ayahnya yang memang sudah lama ia rindukan.


"Jangan lakukan apapun kepada anak sahabatku itu dulu!" seru Rendy.


Rayn mengerutkan dahinya ketika ia mendengar ucapan Rendy yang terdengar sangat menginterogasi dirinya.


"Satu hal lagi, nanti sore aku akan sudah sampai di rumah. Jika kau belum menyelesaikan pekerjaanmu, jangan harap akan ada pernikahan!" tegas Rendy. Ia menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Rayn.


Rayn mengerutkan dahinya dan ia melihat kearah Ken yang memang mengetahui tadi pagi. Rayn dan Naura tidur dalam satu kamar. Mungkin itu alasan Rendi marah kepada Rayn dan juga memperingatinya dengan sangat tegas. Seperti yang baru saja ia dengar dari ayahnya itu.


Ken tersenyum tipis ketika melihat Rayn menatap lekat ke arah kaca spion dengan tajam kepada Ken.


"Kenapa aku merasa ada aura membunuh seperti Tuan Rendy dari tatapan tuan muda ini? Sudahlah aku abaikan saja aku sudah terbiasa mendapati tatapan tajam itu tatapanmu tidak akan ngaruh kepadaku Tuan," batin Ken.


Ken tampak datar duduk di balik kemudi.


Rayn dengan malasnya ia menyimpan handphonenya, namun beberapa menit kemudian dering handphonenya kembali berbunyi. Namun nama yang tertera di sana adalah Bidadariku. Rayn tersenyum ketika melihat panggilan telepon dari ibunya itu. Lalu ia mengalihkan panggilan telepon itu ke panggilan video setelah melihat wajah ibunya yang sangat ia rindukan, Rayn tersenyum dan menjawab ucapan salam dari ibunya itu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Rayn.


"Jangan macam-macam kepada anak sahabatku itu!" sela Rendi merebut handphone istrinya.


Dan berbicara kepada Rayn. Rayn masih terdiam ketika ayahnya berbicara bahkan kini beralih kepada Rara yang memukul lengan Rendy.


"Dia sedang berbicara kepada aku bukannya kamu sudah tadi!" seru Rara menatap tajam ke arah Rendy.


"Tapi dia sama sekali tidak berbicara tadi Sayang! Kenapa padamu dia berbicara?" balas Rendy.


"Jika mengucap salam dia pasti menjawa! Jangankan dia, siapapun pasti akan menjawabnya. Bukannya kamu tidak mau ngucap salam tadi!" ucap Rara.


"Tapi kan dia pria harusnya dia mengerti mungkin dia bisu!" ucap Rendy.


"Jangan seperti itu! Dia itu putraku!" balas Rara.


"Manja!" cetus Rayn.


"Diam!" tegas Rendi dingin.


Rayn tersenyum tipis ketika melihat dan mendengar perdebatan antara Ayah dan Ibunya itu, yang terdengar dan terlihat manis, setiap kali melihat keduanya bersama. Meskipun mereka berantem hanya hal kecil saja. Setelah itu Rara tersenyum melihat kearah Rayn yang masih dengan tatapan dan senyuman manisnya.


"Bagaimana kabarmu sayang? Apa kamu baik-baik saja? Kamu sudah sarapan belum? Jangan lupa untuk sholat. Oh iya bagaimana pekerjaan kamu dan juga Naura bagaimana, jangan terlalu sering buat dia khawatir. Apalagi merasa tidak nyaman dengan kamu, tunggu mama pulang baru kamu boleh sah bersama dengan dirinya," ucap Rara tersenyum.


Meski Rara tidak menyadari pertanyaannya sangat banyak, mengingat dirinya memang sangat merindukan putranya itu. Rayn tersenyum, ia menjawab ibunya dengan anggukan meski memang ibunya bertanya sangat panjang dan banyak. Rayn suka menanggapinya dengan senyuman tanpa protes, bahkan dia sangat nyaman mendengar setiap ucapan dari ibunya itu

__ADS_1


"Kamu mau berangkat kerja? Jangan terlalu capek kerjanya, nanti kamu harus ingat makan siang, jangan selalu mengutamakan pekerjaan tapi makan dulu! Perut kamu tuh kasian. Kamu harus selalu sehat!" tambah Rara.


"Baik bidadariku! Anak muda ini akan melaksanakan apapun yang Mama perintahkan," ucap Rayn tersenyum.


"Tipuan itu," sela Rendi yang duduk di samping Rara. Namun Rara dan Rayn tidak menghiraukannya.


"Kamu memang Putraku yang sangat manis, kata Papa kamu, nanti sore kita akan sampai di rumah. Kamu jangan lupa untuk selesaikan pekerjaan kamu pulang dan menikah!" pesan Rara tersenyum lalu ia memberi kecupan kearah Rayn. Rayn tersenyum melihat tingkah ibunya yang menggemaskan.


"Kakak! Kata paman Ken. Kakak sudah satu kamar ya sama Kak Naura? Ish, nggak boleh itu kan belum ada acara nikah. Kan belum ada prasmanan. Kan belum ada paman Mark yang datang ke sini. Harusnya tidak boleh itu," sela Raisa berbicara sangat panjang seperti halnya Rara berbicara tadi kepada Rayn.


Rayn tersenyum tipis, lalu ia mengangguk menanggapi ucapan adik kecilnya itu.


"Aku sangat merindukan senyumanmu itu Kak! Jika sudah pulang nanti aku mau meluk kamu dan aku juga mau dicium sama kamu Oke! Jangan lupa jangan dekat-dekat sama Kak Naura dulu," ucap Raisa tersenyum memeluk ibunya yang juga ikut tersenyum mendengar penuturan anak bungsunya itu.


"Ya udah Sayang! Kamu hati-hati di jalannya sampai jumpa nanti malam, assalamualaikum," ucap Rara, ia berpamitan kepada putranya itu.


"wa'alaikumsalam, oh ya mah Rayn sangat merindukan mama," jawab Rayn tersenyum lalu dia membalas ciuman ibunya itu.


"Hahaha kamu lucu sekali sayang! Aku juga sangat merindukan kamu, begitupun papa kamu dia juga rindu sama kamu tahu. Dia sangat senang sekali ketika mendengar kamu mendapatkan proyek dan itu membuatnya tersenyum terus memikirkan kamu," tawa Rara, ia masih berbicara tanpa henti kepada Rayn.


Rayn yang tersenyum tipis, lalu ia berpamitan kepada ibunya dan menutup teleponnya. Saat ia menyimpan handphoneya, ia menatap lekat ke arah Ken yang menjadi salah tingkah, namun ia tetap fokus dengan kemudinya tanpa menghiraukan Rayn yang menatapnya dengan tajam.


"Bukannya seseorang mengatakan kalau aku dengan Naura sudah sah secara hukum. Lalu kenapa dia harus mencampuri urusan tentangku semalam? Seharusnya tidak perlu juga akan memberi tahu papa aku yang seperti singa itu," cetus Rayn.


Rayn melihat ke arah jalanan. Bagaimana di pagi hari memang sangat ramai dan Ken mengangguk mendengar ucapan Rayn. Namun ia tidak menjawabnya, memang ia yang telah memberitahu Rendi tentang Rayn dan Naura yang tidur satu kamar. Namun itupun karena Rendy yang setiap kali selalu menanyakan tentang keadaan Rayn tiap hari, bahkan setiap waktu.

__ADS_1


Meski seperti itu, Rendy sangat memperhatikan semua anak-anaknya, meski dia berada jauh di antara mereka. Rayn tersenyum tipis namun ia sangat bahagia ketika melihat wajah ibu tercintanya itu. Bahkan ia benar-benar sangat merindukan ibunya. Setelah mengetahui bahwa keluarganya akan pulang sore nanti, Rayn sangat bersemangat mengerjakan pekerjaanya bahkan ingin segera menyelesaikan semuanya.


Setelah sampai di perusahaannya Rayn kini bersungguh-sungguh mengerjakan dan mengisi semua isi dokumen memahami setiap perusahaan ataupun tentang proyek-proyek yang tengah di kerjakan oleh eh ayahnya yang diambil alih olehnya.


__ADS_2