
Prolog
Rara terjaga di samping Rendi yang bersandar di bahunya tertidur.
Ia tidak mencoba membangunkan suaminya walau tangannya sudah mati rasa karena pegal.
Saat Rara mencoba memainkan handeponenya ia melihat ke arah serombongan orang-orang yang mendekat ke arah Rendi dan Rara berada.
Ternyata keluarga Nia dan rombongannya. Juga ada sebagian keluarga Anggara yang berjalan menghampiri tuan Anggara menyapanya.
Ayah Rendi terbangun setelah mendengar suara orang-orang yang berbicara dan mencoba untuk menyapanya.
Ayah Rendi berdiri dari duduknya ia melihat ke arah Rara dan tersenyum.
Ia memberikan switer milik Rara kepada Rendi yang masih tertidur.
Seorang Dokter yang keluar dari ruangan menghampiri Ayah Rendi dan keluarga.
"Masuklah, pasien sudah stabil bahkan sudah sadar," ucap Dokter.
Sesegera mungkin keluarga Nia mendahului masuk mengikuti ayah Rendi.
Rara hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum ketika Ayah Rendi melihatnya.
Kemudian mereka masuk ke ruang pasien dimana hanya ada ibu Rendi yang terbaring dengan kabel di hidung dan tangannya.
Keluarga Nia menghampiri ibu Ratih menyapanya dan berbicara sesuka hati.
"Ada Rendi dan istri barunya, wanita kampungan begitu ia nikahi lebih memilih bercerai dengan anaku malah dapat yang norak," celetuk ibu Nia
Mereka tidak hentinya membicarakan istri Rendi yang norak juga kampungan bahkan penampilannya sangat buruk.
Ibu Ratih yang mulai bosan mendengar omongan mereka,ia memilih untuk menutup matanya tanpa menghiraukan keberadaan mereka.
Tuan Anggara yang mengerti akan maksud istrinya ia mengisyaratkan Pak Jun untuk mengusir mereka.
Pak Jun yang mengerti ia tersenyum dan mengangguk.
"Tuan dan Nyonya sepertinya waktu besuk sudah habis,juga Nyonya besar harus beristirahat silahkan kembali esok hari," ucap Pak Jun dengan senyum tegasnya.
Mereka yang tahu akan ketegasan dan kekejaman Pak Jun memilih tidak menjawabnya apalagi membantahnya.
Mereka berpamitan untuk kembali pada Tuan Anggara dan meninggalkan ruang rawat.
Setelah keluarga Nia keluar kini tinggal Rendi yang akan masuk.
Ia sudah bangun dari tadi bahkan saat rombongan keluarga Nia datang tadi pagi.
Rendi hanya malas meladeni mereka hingga ia berpura-pura tidur bersandar pada istrinya.
Rara yng di ikuti Rendi berdiri saat keluarga Nia sudah keluar.
Mereka berjalan menghampiri pintu dan berrgegas untuk masuk.
__ADS_1
Ibu Nia yang masih di depan pintu ia melirik Rendi dan Rara dengan pandangan tidak sukanya pada Rara.
"Ibumu berpesan jangan bawa orang lain selain Ken," ucap ibunya Nia melirik Rara.
Rendi dan Rara terdiam dengan apa yang di ucapkan ibunya Nia.
"Orang lain?" Batin Rara.
"Aku tahu Rendi belum sempat memberitahu pernikahan kami," batin Rara.
Rara mencoba bertahan dan memperkuat dirinya, untuk berbicara dan menahan rasa pedih tidak di anggapnya ia oleh keluarga Rendi.
"Aku kembali saja ya Rend," ucap Rara.
"Tidak,kalau kamu tidak masuk aku juga tidak akan masuk," jawab Rendi.
Tegas Rendi menggenggam tangan Rara tanpa memasuki ruangan pasien.
Rara tersenyum menengadahkan kepalanya dan ia memegang tangan suaminya menyentuh lengan dan pundak suaminya.
"Jika api kamu lawan api lagi, lalu kapan jadi asapnya ... itu hanya akan menciptakan api yang lebih besar lagi," ucap Rara.
Rendi terdiam dengan ucapan istrinya.
Ia enggan untuk masuk jika tidak bersama istrinya,juga enggan untuk pergi karena yang di dalam adalah ibunya.
"Dia itu Ibumu dia juga wanita aku wanita,perasaanya tidak jauh beda dariku yang ingin yang terbaik untukmu aku ingin melihatmu baik-baik saja juga Ibumu," ucap Rara.
"Masuklah, temani ibumu agar ia bergegas sembuh,jangan pernah meninggalkan wanita yang sudah melahirkan dan merawatmu, lagipula aku masih harus menjaga cafe," ucap Rara kembali.
Rendi hanya tersenyum dan mengangguk mencium kening istrinya.
"Ken antar Rara," pinta Rendi.
"Tidak perlu,kamu di butuhkan disini bila ada sesuatu yang di butuhkan aku naik taxi saja ya," ucap Rara.
"Tapi ... " sebelum Rendi
menyelesaikan ucapanya ia terkejut Rara mencium pipi suaminya dan berkata.
"Tunggu seminggu lagi aku akan selalu ada untukmu," ucap Rara tersenyum dan berlalu dari pandangan Rendi.
"Dia manis sekali," batin Rendi.
Setelah melihat Rara pergi dari pandangannya,Rendi masuk menghampiri mamanya.
"Mah bagaimana perasaanmu?" Tanya Rendi pada ibunya.
"Seperti yang kamu lihat," jawab ibu Ratih.
Rendi seharian di dalam ruangan ia melakukan apapun yang ibunya inginkan.
Seperti ke kamar mandi makan sampai di waktu malam ibu Rendi menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Sampai saat ini bahkan istrimu tidak menemuimu dan bahkan sekedar makan wanita macam apa itu," cetus ibu Ratih.
"Dia menolak tinggal bersamaku karena dia ingin memberikan waktu untuku dan Mama," jawab Rendi dingin.
Ibu Ratih tertegun dengan perkataan putranya.
"Dia bahkan melarangku untuk membantah mamah juga harus tetap di sampingmu," tambah Rendi.
Ibu Ratih terdiam dan merenungkan setiap perkataan putranya.
Wanita itu bahkan bisa mengatur putranya dan bahkan membiarkan Rendi sepanjang waktu bersama ibunya.
"Apakah benar wanita itu seperti itu dan aku bahkan belum pernah di perlakukan sebaik ini oleh putraku?" Batin ibu Ratih.
Klik pintu terbuka Ayah Rendi datang menghampiri istrinya.
"Apa kamu sudah membaik?" Tanya Ayah Rendi.
"Ya,"jawab ibu Ratih singkat.
Ayah Rendi melihat ke arah Rendi yang sedang membaca koran dan menghampirinya.
" Dimana dia apa kamu di usir istrimu dan di suruh tidur sendirian selamanya?" Goda Ayah Rendi.
Rendi terkejut mendengar apa yang ayahnya katakan.
"Tidak,Papa mendengarnya?" Tanya Rendi heran.
"Papa juga tahu kalau kamu merajuk ingin membuat cucu Papa." Ayah Rendi menggoda.
Ayah Rendi menepuk punggung anak nya dan mereka saling pandang dan tertawa mengingat hal konyol yang Rendi lakukan dengan istrinya.
Ibu Rendi menyaksikan gurauan antara anak dan suaminya ia tertegun.
Ia tidak pernah melihat hal ini tidak pernah melihat percakapan ayah dengan putranya dengan tertawa begitu ibu Ratih melamun.
"Seperti apa sebenarnya istrinya itu kenapa bisa putra dan suaminya begitu asik membicarakanya," batin ibu Ratih.
Seminggu sudah berlalu ibu Ratih sudah pulang dua hari yang lalu .
Rendi lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya di rumah besar,terutama ibunya. Rendi kadang main catur dengan ayahnya dan menemani ibunya di taman.
Rendi hanya melakukan komunikasi lewat telepon dengan Rara di kala melepas kerinduan mereka.
*****
Prolog Rara
Hari ini hari yang cerah bagi mereka berdua Rara dan Rendi karena hari ini Rara akan pindah ke Apartment Rendi.
Di saat Cafe sudah tutup Rendi sudah menunggu di depan Cafe dan melihat Rara keluar dari cafe.
Tersirat hati senang saat Rendi melihat istrinya berjalan menghampirinya.
__ADS_1