
Di depan gerbang rumah Rendi. Ada seorang pria berbaju serba hitam mengenakan hodie untuk menutupi kepalanya. Di tengah sepinya malam dengan angin berhembus mengibaskan rambutnya yang menutupi keningnya.
Ia tampak menatap ke arah pintu gerbang yang panjang. Tampak tersirat senyuman di wajahnya dengan bibir tipisnya.
Saat ia menatap pintu gerbang yang ia pandangi sejak awal ia berdiri. Kini terbuka dan ada seorang pria berpakaian formalnya menghampirinya. Senyuman yang tersirat di wajahnya berubah menjadi tatapan dinginnya atas kedatangan seorang pria yang keluar dari gerbang menghampirinya.
Pria itu semakin dekat menghampirinya. Pria yang mendekatinya adalah seorang Ken yang di kenal dalam dunia mafia dengan kekejamannya dalam menghadapi musuhnya.
"Heh, aku kira aku akan bertemu dengan tuan besarmu itu ternyata hanya bertemu tangan kanannya saja," ucap pria itu.
"Tuanku, hanya akan menemui kesetiaan bukan penghianatan," jawab Ken.
"Tuan Ken, bahkan bermulut pedas ya! Aku semakin penasaran dengan tuanmu yang kamu jungjungi itu," ucap Adam.
Pria yang berbicara dengan Ken adalah Adam putra pertama tuan Dira pengusaha Kosmetik terbesar di Jerman.
Adam tidak banyak berbicara dengan Ken. Ia memberikan amplop besar yang di ikat dengan pita.
"Asal kamu tahu, Tuan prinsipku siapapun yang besedia menolongku di kala sulit aku akan menyerahkan hidupku untuknya serta keturunannya," ucap Adam meninggalkan Ken.
Ken melihat ke arah dimana Adam pergi meninggalkannya dengan berjalan santainya.
Adam berjalan dengan memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.
Rendi memilih Adam karena ia terkenal dengan kemampuannya dalam hal memberi informasi yang aktual, kemampuannya yang tidak terburu-buru. Membuat Rendi menariknya dalam lingkupnya akan kesetiaan kepada tuannya.
Ken berbalik setelah kepergian Adam dari pandangannya. Ia tidak kembali ke rumah belakang melainkan menemui Rendi yang sudah ada di ruang kerjanya.
Ken memasuki ruangan tuannya dengan membawa berkas dari Adam.
Ken melihat tuannya sedang membuka laptopnya memperhatikan dengan akurat seorang Adam yang baru ia rekrut sebagai anak buahnya.
__ADS_1
Ia mengerutkan dahinya saat melihat tuannya tersenyum hanya dengan melihat.
Rendi bersender ke belakang kursi.Ia beralih melihat Ken yang sudah berada di hadapannya.
"Apa kamu senang bertemu dengannya?" Tanya Rendi.
"Dia tampak hanya main-main Tuan, dengan tingkah konyolnya Tuan. Apalagi penghianatan yang ia lakukan pada Jason tuan apa tidak Tuan pertimbangkan," ucap Ken.
Rendi hanya tersenyum menanggapi perkataan Ken. Ia membuka berkas perjanjian proyek Hazel yang ingin Rendi ketahui tentang proyek itu.
Ia membuka dan memeriksa berkas yang Ken berikan padanya.
Ia memeriksanyan serius mengerutkan dahinya juga mengulangi keakuratan berkas tersebut.
Setelah selesai membolak balik berkas tersebut Rendi menutupnya dan berdecak kesal.
"Ken, kamu panggil Mark untuk datang menemuiku aku ingin dia memeriksa proyek yang di lakukan di pantai Binzerstand aku rasa adiku bukan karena kecelakaan tapi termasuk ulah dia," ucap Rendi dengan tatapan dinginnya.
"Menurut tuan dia melakukannya tepat saat kita pergi di hari yang sama?" Tanya Ken mengerutkan dahinya.
Setelah Ken pergi dari ruangannya.
Rendi menutup matanya dengan kepala bersender di kursinya. Ia merasa segala hal yang terjadi memang karena ulah dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu jika ini akan mengakibatkan aku kehilangan adik kesayanganku.Maafkan kakak Anisa . Kakak tidak tahu jika semuanya akan berakhir seperti ini karen ulah kakak yang terlalu keras kepala," batin Rendi.
Rendi teringat saat dimana ia sedang berkumpul dengan teman-teman berandalannya. Saat itu ada salah satu anggotanya yang terluka dengan wajah sudah berdarah menghampirinya. Ia mengatakan itu adalah ulah adik Jason yang bernama Rabet. Semua anak berandalan geram karena memang kami berseteru dengan geng Jason. Tentang Rabet yang tidak pernah ikut main dalam geng Jason.
Para berandalan main pihak sendiri terhadap Rabet yang belum tentu kesalahannya.
Rendi melarang anak-anak berandalan untuk tidak pergi mencari Rabet karena dia tidak pernah ikut dalam geng Jason. Tapi Ogi yang wajahnya babak belur tadi bermain di belakang Rendi hingga membuat Rabet meninggal bersamaan Ogi yang sudah di tangkap oleh Jason juga tidak selamat nyawanya.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya Jason semakin membenci Rendi anak berandalan. Tentang perusahaan orang tua Rendi yang hampir bangkrut karena ulahnya dan sekarang Rendi baru menyadari bahwa meninggalnya adiknya juga pasti ulahnya.
Semua Rendi simpan setiap pengalaman pedihnya, dengan ia harus menjadi yang lebih kuat dan berkuasa. Sampai akhirnya walau keadaan Rendi buruk dengan jatuhnya keluarganya dari segala kepemilikanny. Rendi bergerak sendiri berawal dari dirinya sendiri yang harus tegak untuk melangkah.Ia yang selalu menolong Mark yang di kejar para Mafia.
Iyas yang terkapar atas kejamnya keluarga tirinya.Ken yang luntang lantung di jalanan di usianya yang baru delapan tahun.
Rendi membina hubungan dengan orang-orang terpercayanya selain karena solidaritas. Ia juga ingin memiliki kawan yang sungguh-sungguh menyayanginya juga memperdulikannya satu sama lain.
Dengan dirinya yang hanya anak tunggal.
Ia harus bisa menjadi yang terkuat jika ingin menjadi seseorang yang bisa membawa kedamaian bagi keluarganya juga orang sekelilingnya.
Saat itu juga Rendi keluar dari anak berandalan dan hanya berempat, dengan teman-teman barunya mereka dalam keadaan tidak memiliki apa-apa saat itu tapi lain dengan Rendi.
Ia memilih mengikuti kemauan kakeknya memulainya dari perusahaan kecil kakeknya. Ia menyetujuinya setelah mendapati ia berada di tahan polisi oleh keluarga Jason. Sebuah kasus tentang ia yang memukuli Jason sampai terkapar.
Ia di rawat selama satu bulan karena kakinya Rendi pukul mengenakan batang kayu dalam ke adaan murka mendengar Jason menghina keluarganya terutama ibunya.
Mengingat itu semua, dari mata yang terpejam Rendi meneteskan air yang tidak terasa olehnya. Ia mengusapnya dan berdiri keluar dari ruangannya.
Saat ia memasuki kamarnya ia melihat istri dan juga anak-anaknya tertidur dengan pulas. Mengingat masih tengah malam ia membaringkan tubuhnya di samping istrinya ia memejamkan matanya dalam keadaan hati masih geram dengan ulah Jason yang tidak pernah baik padanya.
Sekitar pukul dua pagi Rendi dan istrinya sudah di sibukan dengan anak -anaknya yang terbangun.
Rendi menggendong Rayn yang sudah tidak mau diam jika di dalam pangkuannya.
Rara menyusui Amira dengan senyum di wajahnya yang melihat Rendi yang kesusahan terhadap Rayn.
"Hehe, mereka sudah besar ya sayang sudah pintar-pintar," ucap Rara.
"Hmmm, Rayn bahkan selalu menguji kesabarannku jika sedang minum susu milikku," jawab Rendi.
__ADS_1
"Haha, kamu masih saja tidak mau mengalah dengan putramu ini," tawa Rara.
Rendi tersenyum melihat tawa istrinya seperti biasanya. Ia juga melihat kedua anaknya yang hanya baru menginjak satu tahun. Ia semakin memperketat keamanan mereka mengingat kejadian yang pernah terjadi pada istrinya.