Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Pelepas Lelah


__ADS_3

Saat Adam turun dari mobilnya setelah melakukan perjalanan bolak-balik sekaligus Jakarta - Bandung. Adam turun dari mobilnya, setelah itu ia memasuki rumah utama Anggara. Adam melihat ke arah istrinya Nesa yang sedang berbicara pada para pelayan lainnya. Ia tersenyum tipis ketika melihat gadis yang tangguh itu sedang serius bekerja dan tampak berwibawa. Dengan segala ketegasannya kepada pelayan lain. Adam berdiri dan bersandar di dinding tidak jauh di mana istrinya Nesa berada. Nesa berada di ruang tengah sedang berbicara kepada para pelayan lainnya.


"Gadis itu terlihat sangat manis ketika sedang serius bekerja! Tapi kenapa aku malah sangat suka ya sama dia? Padahal begitu banyak wanita cantik dan seksi di luaran sana yang selalu mendekatiku, tapi aku lebih tertarik dengan wanita galak seperti ini hehehe," gumam Adam yang memperhatikan Nesa.


Istrinya yang kini berjalan menghampirinya. Adam tersenyum di wajahnya menatap istrinya yang berjalan menghampirinya. Dengan langkah yang terlihat keren bagi Adam.


Nesa menghampiri suaminya yang masih berdiri dan bahkan menatapnya tanpa berbicara sepatah kata pun. Ia tampak Acuh menatap suaminya yang justru malah tersenyum kepadanya. Sesampainya Ia di hadapan suaminya, ia mengerutkan dahinya melihat suaminya yang masih dengan senyum di wajahnya menatap kearah Nesa.


"Apa kau semakin bodoh Adam? Setelah dari Bandung Kenapa Kau tampak semakin gila tersenyum sendiri menatap istrimu ini?" ucap tanya Nesa acuh.


"Bagaimana tidak gila jika aku memiliki seorang istri yang selalu galak setiap waktunya? Tidak bisakah kau lembut sedikit saja?"Jawab Adam tersenyum mendengar pertanyaan istrinya yang terbilang sangat datar. Nesa tampak malas meladeni suaminya selalu berkata hal yang tidak-tidak kepadanya.


"Apa kau sudah makan?" tanya Nesa dengan nada datar.


"Apa kau sudah memberiku makan? Jika sudah berarti aku sudah makan, jika belum berartibelum makan!" ucap Adam tersenyum menggoda istrinya.


"Kau malah semakin gila dan merepotkan!" cetus Nesa berbalik dan berjalan meninggalkn suaminya.


Adam tersenyum melihat istrinya yang marah akan tingkahnya dan itu adalah kesenangannya tersendiri menggoda istrinya sampai kesal. Setelah melihat istrinya berjalan Adam mengikuti istrinya dan memegang tangan Nesa. Mereka berjalan berpegangan. Nesa tampak acuh tapi tidak menepis pegangan tangan suaminya. Ia tahu apa yang diinginkan suaminya itu. Mereka berjalan belakang dan menuju kamar mereka. Mereka berjalan dengan beriringan saling memegang tangannya layaknya sepasang kekasih yang bergandengan tangan penuh cinta. Adam dan Nesa berjalan menuju ke kamarnya.


"Apa yang terjadi pada tuan Ken, apa baik-baik saja?" tanya Nesa pada Adam.


Nesa bertanya pada suaminya memecahkan keheningan di perjalanan mereka yang sedang bergandengan menuju kamar.


"Sebenarnya tidak ada hal yang serius hanya saja tuan Ken sempat hampir terjatuh ke jurang! Bahkan mobilnya terbakar langsung di jurang!" jawab Adam dengan datarnya.


Nesa membulatkan kedua matanya ketika mendengar hal dan kejadian yang yang terlihat sangat mengerikan pada Ken dan anak buahnya.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya pria ini kenapa dia sampai bisa sekejam itu Apakah tuan Rendy apa hubungannya?" tanya Nesa mengerutkan dahinya karena memang tidak tahu seseorang yang bernama Vin bos mafia yang baru di dengarnya itu.


Ia bahkan tidak mengenali pemuda itu selama ia mengabdi di keluarga Anggara. Adam tidak menanggapi pertanyaan istrinya. Ia memilih untuk masuk ke dalam kamar dan menarik istrinya agar segera masuk ke dalam kamar mereka. Setelah berdiri di depan kamar mereka Nesa mengerutkan dahinya ketika memikirkan seseorang yang menjadi Ancaman bagi tuannya Rendi. Tapi saat sedang memikirkannya tiba-tiba suaminya Adam menarik pinggangnya dan memeluknya. Tidak ada jarak di antara wajah mereka. Adam tersenyum tapi lain dengan Nsa. Ia menatap suaminya bahkan mengerutkan dahinya menatap dengan tatapan heran kepada suaminya.


Nesa terdiam dan memajukan bibirnya ketika memikirkan betapa suaminya tidak pernah lelah saat bersama dengan dirinya. Padahal tubuh Nesa ini sangat atletis. Nesa lebih memilih berkelahi dibandingkan bercinta dengan suaminya ini. Adam tampak tidak kenal lelah ketika mereka bersama dan bercinta setiap malam. Bahkan setiap hari kadang Adam tidak pernah mau berhenti.


Itulah Adam jika dia menghadapi seorang gadis yang sangat menantang baginya. Ia akan berulang kali dan akan terus terusan dengan sangat penasarannya membuat gadis itu bertekuk lutut memujanya. Tapi lain dengan gadis lain. Nesa bahkan masih tetap saja terhadapnya galak dan bahkan acuh. Setelah apa yang Adam lakukan kepada dirinya. Nesa masih dengan pandangan acuh tak acuh terhadap Adam dengan sikapnya yang datar.


Mereka berdua berbincang di dalam kamar dengan Adam duduk dan Nesa duduk di samping suaminya di atas ranjang. Mereka membicarakan pekerjaan suaminya yang sedang memeriksa dan mencari tahu informasi tentang pria besar dari jerman yang mengusik kehidupan Rendy.


Saat ini mereka tampak kerjasama berdiskusi dan terlihat kompak. Ketika sedang membicarakan tentang pekerjaan apalagi tuan muda mereka yaitu Rendi Anggara dan juga saat ini mencoba untuk mengusik kehidupan keluarga Rendi. Nesa tampak geram ketika seorang bos mafia masih saja mencoba untuk mengusik kehidupan keluarga tuannya itu.


Apa lagi menyerang langsung kepada keluarga istrinya yang di Bandung bahkan kini mengakibatkan ibu Rara sampai jatuh koma di rumah sakit.


Nesa duduk di depan komputer milik suaminya itu dan memeriksa setiap data yang didapat oleh suaminya dan memeriksa biodata yang di beritahukan oleh Adam tentang seorang bos mafia judi yang telah mengusik kehidupan tuannya. Pria yang bernama Vin bahkan sempat mau mencelakai Ken saat kembali dari Bandung.


Sementara Nesa sibuk mencari tahu tentang pria yang menjadi bos mafia yang telah mengusik kehidupan Rendi. Lain dengan Adam yang duduk di belakang istrinya. Adam meraih pinggang milik istrinya. Ia menyusupkan kepalanya dari belakang dan memeluk pinggang Nesa dan menyusupkan kepalanya di leher jenjang milik Nesa.


Nesa masih dengan fokusnya mencari data seseorang yang sangat ingin ia ketahui, yaitu seorang bos mafia di dunia perjudian di negara Jerman. Karena untuk pertama kalinya Nesa tidak mengetahui identitas seseorang dengan teliti. Terkecuali tuannya Rendy yang memang membuat privacy sendiri tentang identitasnya


Sementara Nesa serius memeriksa data. Tangan kanan Adam sudah membuka kancing kemeja milik istrinya bagian paling bawah. Tapi Nesa masih tidak menyadarinya dengan senyum tipis dan liciknya. Adam bersikap seolah-olah tidak terjadi hal apapun. Ia tidak melakukan apapun yang mencurigakan bagi istrinya.


Adam tersenyum tipis ngecup setiap lekuk leher milik istrinya, ia menciumi nya menghirup aroma harum sejuk yang digunakan oleh istrinya. Dengan aroma fresh bernuansa cool parfum dengan rasa mint. Setelah dirasa semua kancing kemeja milik istrinya terbuka. Walau Nesa masih tidak menghiraukannya ada senyum tipis di wajah Adam. Tiba-tiba saja sebelah tangannya merayap menghampiri dua gundukan milik istrinya, yang kini mulai membesar karena selama pernikahan Adam membuatnya merekah. Nesa terkejut dan membulatkan kedua matanya ketika mendapati tangan suaminya berada di daerah yang terlarang. Ia melihat ke arah suaminya yang kini malah tersenyum menatapnya. Nesa mengerutkan dahinya dan juga memasang ekspresi ingin marah kepada suaminya ini.


"Apa Kau semakin gila Dam! Apa tidak cukup yang kau lakukan tadi pagi? Bekas yang kau tinggalkan itu bahkan belum hilang masih tampak jelas di sana!" tanya Nesa tidak mengerti menatap ke arah suaminya yang malah tersenyum mendapat bentakan oleh Nesa


"Memang kenapa jika mereka masih ada di sana? Aku akan menambahnya dan tidak akan membuatnya pudar sedikitpun! Aku ingin berkarya dan menikmati hasil karyaku yang mulai merekah ini!" jawab Adam santai dan tersenyum memandangi istrinya yang terlihat manis baginya, saat Nesa hendak protes, bibir Adam sudah menempel di bibir milik Nesa hingga membuat Nesa tidak bisa berbicara apapun

__ADS_1


Ia hanya membulatkan kedua matanya dan menerima serangan lembut dari suaminya itu. Dalam ciuman mereka. Tngan Adam masih dengan tingkahnya meraba-raba hingga terkepal sudah 2 buah dada itu milik istrinya. Ia sangat puas ketika mendapati keduanya yang mulai nampak setelah pertama kali mereka terlihat rata. Bersamaan dengan ciuman istrinya yang kini terasa manis dan membuat hasratnya naik kembali. Seperti tadi pagi yang mereka lakukan. Karena Adam yang tidak pernah merasa lelah, Nesa melayani suaminya dengan segala kekuatannya dan juga pertahanan dirinya yang memang terbilang sudah matang dalam fisiknya.


Adam begitu berusaha ingin menaklukkan istrinya yang terbilang sangat datar dan galak itu. Mereka bercinta disepanjang siang hari itu.Setelah mengalami kejadian-kejadian yang tampak melelahkan bagi mereka. Adam melancarkan setiap serangannya kepada istrinya. Desahan desahan panas di siang hari, membuat pekerjaan AC di dalam kamarnya seperti tidak berfungsi. Mereka bercinta dengan kepuasan dan hasrat yang tinggi bercinta bersama di siang hari sebelum melanjutkan pekerjaannya. Cinta kedua di bangun karena sebuah ikatan sumpah setia untuk tuan mereka yaitu Rendi Angara dan keluarganya. Tapi mereka tidak menyangka jika sumpah itu sangat membuat mereka berdua menikmati setiap moment berdua mereka.


Sekitar pukul 14: 00 Ken keluar dari kamarnya yang diikuti oleh istrinya yang kini mereka terlihat segar dan fresh. Ada senyum di wajah Dilla yang kini berjalan di samping suaminya menuju ruang makan. Ken masih dengan wajah datarnya. Ia duduk di kursi meja makan dan menunggu istrinya menyajikan makan siang yang sempat tertunda. Karena aktivitas mereka yang terbilang cukup lama di dalam kamar.


Dengan wajah sumringah Dilla menyajikan makanan yang dibantu oleh para pelayan dengan wajah senyum di bibirnya dan juga melihat putrinya yang tertidur pulas di ruang bermain bersama dengan pengasuhnya. Ada Amira dan juga Rayn yang sedang bermain di ruang bermain tersebut. Mereka berdua tampak asyik bermain tanpa mengganggu bayi Dilla dan Ken.


"Apa tuan muda kecil dan nona Amira menangis?" tanya Ken kepada istrinya."


"Mereka tidak akan bisa menangis selama ada tantenya di sini! Apalagi mereka sangat menyukai putri kita yang sangat manis itu!" jawab gila Dilla tersenyum dan duduk menemani suaminya makan siang yang terlambat itu.


Setelah makan siang Ken bergegas untuk pergi menemui tuannya. Ia berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke rumah sakit menemui Rendy. Saat Ken berjalan keluar dari rumah Anggara. Ia melihat Adam sudah berada di depan mobil berdiri memainkan game di handphone nya. Ken menghampiri Adam yang juga kini melihat kearah Ken.


Mereka berjalan memasuki mobil mereka Adam duduk di balik kemudi dan Ken duduk di kursi penumpang. Tidak ada perbincangan di antara mereka selama dalam perjalanan. Setelah sampai di depan rumah sakit dan memarkirkan mobilnya. Ken berbalik dan berbicara kepada Adam agar tidak mengatakan kejadian yang menimpanya saat di Bandung. Ken tidak mau tuannya Rendy semakin geram dan memilih untuk turun tangan dalam hal ini. Adam mengangguk dan mengerti akan ucapan Ken.


Mereka lalu berjalan memasuki rumah sakit dan menghampiri dimana ruangan ibu Rara dirawat saat ini. Sesampai di ruangan tersebut. Ken melihat beberapa anak buahnya duduk di depan ruang rawat dan kini sudah ada tuan Permana yang menunggu di depan ruangan bersama anak buahnya Rendy. Tuan Anggara dan ibu Ratih sudah kembali dari tadi pagi menengok ibu Rara bersama. Kini hanya ada tuan Permana dan anak buah Rendi yang berjaga di depan ruang rawat tersebut. Rendi dan Rara masih di dalam ruang rawat ibunya dan masih belum keluar dari tadi pagi.


Ken dan Adam duduk di samping tuan Permana dan berbincang seputar pertanyaan Ken tentang seorang pria yang memasuki rumah Permana dan memasang CCTV di ruang tamu rumah Permana. Adam bahkan sudah memastikan jika Camera tersebut di pasang saat rumah tersebut sepi dan di pasang oleh orang yang sama.


Setelah berbicara Ken mengajak anak buahnya yang ada untuk menuju kediaman Nia yang ternyata juga berada di Bandung. Ia baru mengerti jika ada campur tangan keluarga Nia dalam melancarkan hal itu. Adam bahkan menduga jika yang mencelakai ibu Rara adalah orang terdekat atau keluarga Nia. Saat mendengar hal itu, tuan Permana baru menyadari jika saudara Nia pernah bertamu dan itu di waktu dimana istrinya kecelakaan. Dari penjelasan saudara Permana saat itu.


Ken mengangguk dan berpamitan sebelum bertemu dengan Rendy. Ken pergi bersama anak buahnya untuk mencari keberadaan Nia yang saat ini di Bandung. Tapi tidak tinggal bersama kedua orangtuanya. Adam melihat kepergian Ken dan anak buahnya yang kini ini sekitar 3 mobil. Mereka pergi ke Bandung lagi. Adam melihat kearah Ken yang tidak kenal lelah itu, jika hal itu berhubungan dengan tuannya Rendy.


Hal itu pun akan Adam lakukan jika terjadi panutannya Rendy. Sekitar beberapa menit setelah Ken pergi. Rendy membuka pintu ruangan tersebut dan keluar setelah melihat Adam berada di luar ruangan tersebut ia menghampiri Adam dan ikut duduk bersama tuan Permana dan Adam.


"Dimana Ken? Bukankah kau datang bersamanya?" tanya Rendy kepada Adam yang terdiam.

__ADS_1


"Tuan Ken kembali ke Bandung Tuan! Ia akan membereskan keluarga yang ikut campur melancarkan aksi Nia bersama dengan pria yang bernama Vincent yang bergerak lebih dulu untuk mencelakai Ken, Tuan! "jawab Adam sedikit berhati-hati.


"Ternyata wanita itu sangat licik! Hingga menggunakan kolega besar di Jerman," ucap Rendi mengangguk. Ia tahu jika Ken pergi tanpa bertemu dengannya dahulu. Itu sudah membuat kesabaran Ken tak terbendung kembali.


__ADS_2