
Di malam hari.
Ken tertidur di kursinya dengan Laptop masih menyala. Ia tidak menyadari istrinya yang menghampirinya perlahan. Dilla melihat layar yang terbuka dan ada sebuah poto seorang gadis di layar Laptop milik suaminya.
"Hmm, liat cewek cantik begini malah di tinggal tidur, giliran sama aku aja yang lagi badan dua nyosor terus kamu Ken," cetus Dilla.
Dilla duduk di pangkuan suaminya seperti biasa yang selalu ia lakukan jika mencoba membangunkan suaminya jika tertidur tidak pada tempatnya.
Ken terkejut mendapati tubuh istrinya berada di pangkuannya. Ia merangkul istrinya agar tidak terjatuh. Ken menciumi leher istrinya dengan menghirup harum tubuh istrinya. Ia menyusupkan kepalanya ke leher jenjang istrinya dengan rambut terurai.
"Kenapa terbangun, apa tidurmu tidak nyaman?" tanya Ken.
" Mana ada aku tidak nyaman, justru aku sangat nyaman tidur di istana tuanmu ini Ken," jawab Dilla tersenyum.
"Hmm, aku bisa buatkan lebih dari ini," ucap Ken dengan suara seraknya.
"Tidak perlu, aku tuh bisa bareng dengan kamu apalagi Saudariku aja aku sudah bahagia, lagipula aku tidak kekurangan dengan semua yang aku dapat saat ini," ucap Dilla.
Ken tersenyum, Ia merangkul istrinya dan menggesek pangkal hidung istrinya dengan hidungnya. Senyum gemas pada istrinya Ken merangkul dan menciumi leher istrinya.
Dilla merasa geli akan tingkah suaminya yang malah menyusup di lehernya.
"Ken .... kamu ini tidak berat apa aku duduk di pangkuanmu?" ucap Dilla tertawa.
"Kau pikir aku selemah itu,jika hanya kau duduk di pangkuanku itu hal mudah bagiku, lebih dari ini juga aku mau," jawab Ken tersenyum menggoda.
"Hmm itu maumu saja," ucap Dilla mencubit pipi suaminya.
Ken tersenyum dan semakin kesana kemari telusuran ciumannya, bersamaan dengan tangannya yang kini sudah mulai menyusup kebagian bawah istrinya.
Dilla menghentikan aktivitas suaminya. Dan menggesek hidung suaminya kembali dengan gemasnya.
"Suamiku ... aku ini terbangun karena lapar apa kamu mau memberiku makan?" ucap Dilla.
"Kamu lapar Sayang? Kenapa tidak bicara dari tadi, kasian kan anakku?" ucap Ken mengerutkan dahinya.
"Dia bukan anakmu saja tapi anakku juga," cetus Dilla.
Ken tersenyum dan mencium bibir istrinya yang sedang cemberut mengembung.
"Kamu tunggu disini dulu ya sayang akan aku ambilkan makan untukmu," tegas Ken.
"Hmmm aku tidak mau, aku mau mencari sendiri makananku," protes Dilla.
Ken berhenti dan menatap istrinya yang sedang mencoba untuk berdiri dengan badannya yang sudah semakin susah bergerak.
"Sebaiknya kau diam saja, biar pelayan yang ambilkan," ucap Ken.
"Ken. Aku ini harus banyak bergerak agar persalinanku lancar kamu tahu Dokter mengatakan aku harus banyak pergerakan," jelas Dilla.
"Kalau hanya untuk bergerak kau bergerak di kamar biar aku temani," protes Ken.
"Aku tahu maksudmu itu, nanti yang ada aku yang lelah dan kamu yang keenakan," ucap Dilla malas.
Ken tersenyum saat istrinya tahu maksud dari ucapannya. Ia memilih menuruti keinginan istrinya dan membantu istrinya untuk berjalan dengan menggandeng tangan istrinya.
Dilla mendongakan kepalanya melihat wajah suaminya yang masih tersenyum.
"Ken? Kenapa kau biarkan poto cewek cantik itu sendirian?" tanya Dilla.
"Oh, Dia? Dia wanita tua yang waktu itu aku ceritakan padamu, itu saat masa mudanya,aku mencoba mencari informasinya," jelas Ken.
"Astagfirullooh Ken, gadis secantik itu dan kini menjadi seorang tukang gado-gado? Lalu kemana kehidupan masa mudanya?" tanya Dilla mengerutkan dahinya.
Mereka berjalan ke arah dapur sambil berbicara dengan berjalan perlahan. Ken menggandengan tangan istrinya untuk berjalan perlahan menuju dapurnya.
__ADS_1
"Dia berakhir seperti itu karena seorang pria makanya hidupnya menjadi luntang lantung begitu, jika bukan karena ketulusan hatinya membuatkan makanan untuk istri dan anakku aku juga tidak akan mencari tentang dirinya," jelas Ken.
"Hmm kau carilah Ken, wanita seperti itu pasti berhati bersih," ucap Dilla.
Ken mengangguk. Ia memahami dengan istrinya yang tahu secara detail. Ia tidak perlu cemas jika nanti mendapatkan informasi tentang wanita tua itu lagi.
Mereka berjalan mengarah ke tempat meja. Ken dan Dilla terkejut saat melihat seseorang sedang duduk di meja makan dengan pakaian tidur yang di baluti sweater warna abu.
Rara tersenyum kikuk ketika melihat Dilla bersama Ken datang dan melihat ke arahnya.
"Hehe, kalian ada apa ke dapur?" tanya Rara salah tingkah menggesek punggung lehernya.
Dilla tersenyum, mengerti kecanggungan Saudarinya jika berpakaian terbuka di hadapan orang lain. Ia pasti akan salah tingkah.
"Ken ! Kau kembalilah aku bisa sendiri lagipula ada Rara disini yang menemaniku," tegas Dilla.
Ken mengangguk dan memahami apa maksud istrinya. Ia tahu jika nona mudanya merasa canggung jika berhadapan orang lain dalam keadaan dirinya yang tidak rapih ataupun tertutup.
Ken mengangguk dan berpamitan pada istrinya juga pada Rara yang kini juga tersenyum canggung ke arah Dilla dan Ken yang berdiri dari kejauhan.
Setelah Ken pergi. Dilla duduk di kursi samping Rara yang sedang memakan cake rasa strawberi yang berada di meja makannya.
Dilla tersenyum dan mengerutkan dahinya ketika melihat Rara yang malah asik makan srndiri.
"Hmm. Sepertinya aku harus memanggil suamiku kembali agar aku bisa makan dengan benar," ucap Dilla dengan senyum liciknya.
Rara terdiam dengan tangan dan sendok menggantung di hadapannya. Mulut menganga sudah siap memakan cake yang ada di hadapannya. Ia membelalakan matanya ketika mendengar ucapan Dilla yang terdengar sebuah ancaman baginya.
"Hehe, Sayang kamu mau makan apa?" tanya Rara menyimpan sendoknya dan beralih memegang lengan Dilla yang kini berpura-pura acuh pada Rara.
"Hmm ...."
Dilla terdiam dan berpura-pura tidak perduli akan ucapan Saudarinya yang kini sedang memeluk erat lengannya dan bersender di bahunya.
"Ayolah Sayang, kamu mau apa? Biar aku buatkan apa yang kamu inginkan ya," pinta Rara merengek pada Dilla yang kini memalingkan wajahnya pura-pura acuh.
"Baiklah Sayang, akan aku siapkan untukmu, ini cake rasa strawberi apa kamu mau? Bukannya kamu tidak suka rasa strawberi Sayang? Nanti aku bawakan rasa coklat ya," ucap Rara antusias bangun dari duduknya.
"Tidak perlu, aku mau yang kamu makan," jawab Dilla cetuS.
Rara mengerutkan dahinya saat melihat Dilla mengambil cake yang harusnya ia makan. Dalam hati Rara merasa sedih ketika makanan kesukaannya di ambil alih oleh Dilla dan kini bahkan sudah habis di makan lahap oleh Saudarinya. Rara memajukan bibirnya dengan pipi kembung dan hati yang sedih.
Ia berjalan ke arah kompor dan hendak membuat makanan yang di minta Dilla.
Seorang pelayan wanita menghampiri Rara hendak mengambil alih masakan Rara. Tapi Rara mencegahnya dengan senyum dan perkataannya yang ramah.
Pelayan dan koki merasa canggung ketika melihat Nyonya mereka sedang bergelut di dapur mereka.
Untuk pertama kalinya ada seorang nyonya rumah memasuki dapur mereka bahkan memasak dan menggunakan kompor dengan mahirnya. Bahkan permintaan nyonya rumah mereka, hanya meminta agar tidak ada di antara mereka yang masuk ke dapur dan melihat dirinya yang sedang tidak memakai penutup kepala. Apalagi Rara hanya mengenakan dres tidur yang hanya di baluti sweater untuk menutupinya.
Para pelayan, kini duduk di halaman belakang menunggu nyonya mudanya selesai melakukan aktivitas memasaknya.
Ada yang bertanya - tanya dan penasaran ingin melihat tentang nyonya rumah yang sedang memasak. Tetapi mereka urungkan, ketika mengingat setiap ucapan dan perintah adalah bersifat mutlak bagi siapapun. Jika ada yang melanggarnya tidak akan ada kesempatan kedua bagi pekerjaan mereka apalagi bekerja di luar sana. Banyak beredar siapapun yang keluar dari kediaman rumah besar Rendi Anggara tidak akan mudah di terima di luaran sana lagi. Karena kualitas yang di rekrut pekerja oleh rumah Rendi Anggara, selalu mengutamakan profesionalisme dan itu akan berpengaruh jika seseorang keluar dengan alasan di pecat.
Siapapun tidak akan ada yang percaya kualitas pekerja yang melamar di luar sana.
Maka dari itu ada banyak yang ingin bekerja di rumah Rendi Anggara karena bayaran yang jauh dari umum gajih seorang pegawai kantor.
Tapi besar juga resiko jika tidak profesional dalam pekerjaannya.
Para pelayan lebih memilih menurut dan berdiam di luar dapur dan tidak ada yang berani masuk apalagi berniat untuk membantu Nyonya rumahnya.
Rara memasak dengan segala kemampuannya. Ia tersenyum bahagia ketika mengingat pertama kali ia membuat nasi goreng di kediaman kedua orang tuanya.
Setelah berasa siap. Rara menyiapkan piring dan makanan untuk Dilla yang kini sedang bersiap dengan kedua sendok makan di tangannya.
__ADS_1
"Hmmm, harumnya ... aku sudah tidak sabar memakannya Sayang, masakan buatan kamu itu yang terbaik untuk lidah dan perutku," ucap Dilla mencium aroma masakan yang sudah ada di hadapannya.
"Makanlah Tuan putri ...."
Rara tersenyum melihat Saudarinya makan dengan lahap. Ia juga memakan nasi goreng di piringnya dengan senyum mengingat saat ia belajar memasak dulu.
"Kamu ingat La, saat aku pertama membuat nasi goreng ini?" tanya Rara dengan senyum di wajahnya mengingat kejadian dulu.
"Hah! Iya ... saat itu semua memakannya dengan sangat lahap begitupun Mama dan Ayahku, Mereka ikut makan di rumah Ayahmu," jawab Dilla yang sudah menyeimbangkan cara makannya tidak seperti awal makan.
"Ya ... Kamu tahu mereka memuji masakanku dengan senyum bahagia dan senang ketika memakan masakan pertamaku," ucap Rara menghentikan melahap makanannya. Ia melihat meja tanpa arah.
"Hmmm ...."
Dilla mengangguk dengan sendok masih memasuki mulutnya dan melihat Rara yang mulai serius bercerita.
"Mereka sangat pandai menutupi segala kekuranganku, bahkan mengatakan masakanku enak,padahal pas aku memakannya nasi goreng itu sangat asin dan tidak enak di mulutku," jelas Rara terkekeh.
"Hahaha, iya saat itu aku juga sebenarnya tidak tahu enak atau tidak yang aku tahu makanan bagaimanapun bagiku terap enak asalkan perutku kenyang, apalagi itu buatan Saudariku," tawa Dilla.
Rara ikut tertawa ketika mengingat Dilla memakan nasi goreng yang sangat asin. Begitupun keluarga besarnya bahkan setelah menghabiskan makanannya, mereka berkata jujur jika masakannya enak tapi asin.
Saat bercerita mereka tertawa bersama di ruang keluarga. Rara malah terdiam dan mengingat betapa keluarganya sangat menyayanginya hingga tidak mau membuat hati Rara tersinggung karena masakannya yang tidak enak.
Mengingat moment saat keluarganya sangat menghargainya. Ia tersenyum tipis dan melihat ke arah Dilla yang masih lahap memakan nasi gorengnya.
"Kamu tahu Sayang, saat kamu buat nasi goreng seperti ini lagi? Ayahku malah mau menginap di rumahmu saking ingin mendapatkan sarapan buatan kamu, haha," tawa Dilla menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Haha ... iya juga saat itu bahkan Tante Naya juga ikut menginap aku sampai terkejut saat bangun dan keluar dari kamar sudah ada kalian yang duduk di meja makan dengan piring dan sendok di tangan berteriak ingin nasi goreng, hihi," jelas Rara terkekeh mengingat saat melihat semua keluarga Ayahnya berkumpul di pagi hari.
" Iya Sayang, sepertinya saat itu kamu membuatnya dengan semangat hingga sudah tidak terasa asin dan malah terasa enak, haha," sambung Dilla tertawa.
Rara tersenyum dengan tawa Saudarinya yang menggema. Ia menghabiskan makanannya dan merapihkan kembali meja makannya.
Rara bahagia dan tersenyum di wajah berserinya, ketika mengingat kenangan manis saat bersama keluarga besarnya, hanya dengan hal sederhana.
Ia duduk kembali di meja makan di samping Dilla yang kini sedang bersender di kursinya mengelus perutnya yang sudah merasa kenyang.
Rara tersenyum melihat Dilla yang puas dan kenyang dengan masakannya. Ia menyentuh dan mengusap perut Dilla dengan senyum di wajahnya.
"Apa dia sudah merasa kenyang Sayang?" tany Rara dengan tangan masih di perut Saudarinya yang kini juga tersenyum padanya.
"Hmm ... sepertinya bayiku juga sangat puas dan menyukainya Sayang," jawab Dilla tersenyum dan mencubit pipi Rara yang tersenyum padanya.
"Aww ... sakit La," ringis Rara mengusap pipinya yang Dilla cubit gemas.
"Hahaha, Sayang aku memang selalu menyayangimu hingga selalu gemas dan rindu jika bertemu dan tidak melihatmu," jelas Dilla tersenyum.
Rara memajukan bibirnya cemberut saat mendapati pipinya yang sakit di cubit oleh Dilla. Juga tersenyum bahagia saat Dilla memang saudarinya yang selalu ada untuknya, bahkan bersedia ikut tinggal dan menetap di Jerman bersama keluarganya.
Ia tersenyum dan masih mengusap perut Dilla yang kini ada pergerakan di bagian yang ia sentuh.
Rara terkejut dan tersenyum bahagia saat merasakan tangannya yang memegang perut Dilla yang bergerak.
"Wah ... Sayang? Dia bergerak, sepertinya dia juga menyayangiku," tanya Rara sentum sumringah bahagia.
"Hmm. Tentu saja Dia akan menyayangimu juga,apalagi Tantenya pandai membuat makanan yang bisa membuatnya kenyang nanti," jawab Dilla tersenyum melihat Rara yang bahagia hanya menyentuh pergerakan bayinya yang masih di dalam kandungannya.
"Uuuuuh. Aku sudah tidak sabar menantinya untuk lahir Sayang," ucap Rara sumringah mengusap perut Saudarinya.
Rara dan Dilla tersenyum dan tertawa dengan perbincangan mereka kesana kemari mereka berbicara dan bercerita.
Mereka tidak menyadari empat sorot mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Rendi tersenyum bahagia saat melihat dan mendengar istrinya yang tertawa bahagia berbicara dengan Saudarinya. Ia tidak sia-sia jika harus mengorbankan pusat perbelanjaan yang Dilla inginkan. Baginya kebahagiaan istrinya adalah segalanya.
__ADS_1
Ken yang juga ikut melihat dan berdiri di samping Rendi memperhatikan dan ikut mendengarkan tawa istri dan Nyonya mudanya. Ia tersenyum dengan bangganya ketika istrinya selalu bisa membuat nona mudanya kembali ceria dan tertawa bahagia. Karena dengan Rara yang bahagia, tuannyapun akan selalu bahagia dengan senyum lebar dan semangat akan bertambah untuk perang antar perusahaan besok di perusahaan Ayah Rendi yang kini sedang membutuhkan tangan dan apresiasi Rendi untuk membangkitkan perusahaan yang sudah berdiri lama.