Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Strategi Adam


__ADS_3

Di Kediama Rendi Anggara.


**flashback on**


Setelah berdiskusi dan mengatur strategi untuk melawan rencana Jason. Rendi tidak mengerahkan anak buahnya sama sekali saat pergi menuju markas Jason. Ia membagi tugas menjadi empat bagian tugasnya dan berdiskusi dengan teman-temannya yang saat ini sedang menunggu persetujuannya.


Rendi memerintahkan semua untuk bersiap malam ini juga. Ia menggendong istrinya yang tertidur lelap beserta putra putrinya yang sudah berada di dalam kendaraannya bersama pengasuhnya.


Rendi menggendong istrinya yang masih terlelap. Rara malah merasa nyaman tidur di pelukan suaminya dan menyusupkan kepalanya di dada suaminya yang kini sedang berjalan menuruni tangga. Mark dan yang lainnya melihat ke datangan Rendi yang turun membawa istrinya yang tertidur yang hanya mengenakan penutup asal sampai terlihat uraian rambutnya sedikit terlihat.


Iyas yang melihat adegan pangeran menggendong kekasihnya. Ia tersenyum dengan berharap bisa semanis itu pada calon istrinya kelak.


"Kira-kira gadis mana yang akan aku gendong seperti tuan muda ini ya aku jadi tidak sabar mencari gadis itu," batin Iyas.


Rendi berjalan ke luar dari rumahnya dan di ikuti oleh para anak buahnya bersama teman - temannya.


Ken sudah menunggu di depan kendaraannya melihat Rendi datang menggendong istrinya yang masih tertidur lelap.


Ia mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Rendi mendudukan istrinya di kursi penumpang masih dengan tidurnya.


"Kenapa istriku ini masih tertidur lelap begini, aku harap kamu tidak kaget ya sayang, aku berikan kamu minuman yang bisa menjagamu" batin Rendi.


Setelah memberikan sedikit minum pada istrinya yang tertidur. Rendi keluar dari mobilnya dan berdiri di dekat pintu mereka berkumpul dekat pintu mobilnya.


"Kau pergi dan berjaga kerahkan semua anak buahmu untuk menangkap anak buah Jason di dekat Markasnya," ucap Rendi pada Ken.


Rendi lalu beralih ke Nesa dan Mark. Ia berbicara dengan teman-temannya dan anak buahnya begitu serius dengan setiap rencananya.


Rendi bergegas pergi menaiki kendaraannya bersama Adam di kursi depan di samping Iyas. Ken pergi bersama beberapa anak buah kepercayaannya menghadang anak buah Jason di bagian arah menuju markas Jason.


Di perjalanan Rendi melihat istrinya yang tidur bersender ke bahunya. Ia mengusap wajah istrinya tersenyum dan mengecup pucuk kepalanya.


"Maaf ya sayang kamu jadi harus melewati hal ini, kita akan segera pulang," ucap Rendi.


Untuk kali ini Adam tidak nampak sesantai biasanya, ia berpikir dalam duduknya dengan cermatnya, ia membuka dan meretas setiap jejaring kamera di seluruh area menuju bandara.


Ia mencoba mencegah agar pantauan Jason tetap tidak berubah untuk mencegah ia bergerak. Adam meretas semua hal yang berhubungan dengan kamera pengawas Jason. Karena Adam berencana untuk menyelinap melewati kota.


"Tuan, sebaiknya kita ubah rencana," ucap Adam.


"Apa maksudmu?" Tanya Rendi.


"Anda yang pergi atau saya yang pergi untuk menjaga nona Tuan?" Tanya Adam.


"Aku harusnya menjaga istriku tapi harus dengan istri Ken juga," ucap Rendi.


Adan terdiam saat melihat Rendi terdiam dan menatap Rara yang masih tertidur.


"Sebaiknya kita putar arah aku rasa di depan sudah tidak bisa kita lewati,"ucap Adam.


"Apa kau yakin?" Tanya Rendi.


Adam mengangguk meyakinkan tuannya.


"Baiklah putar arah !" Tegas Rendi.


"Sepertinya kita tidak bisa putar arah ada banyak penjaga di depan penjagaan ketat sekali," ucap Iyas di kursi kemudi.


Di depan mereka sedang ada banyak penjagaan dan melakukan pemeriksaan penumpang di setiap kendaraannya.


"Tuan bisakah Anda menghubungi tuan Ken, Kita harus mendekatinya saat ini juga," ucap Adam.


"Baiklah, biar aku yang kemudikan," ucap Rendi.


Iyas dan Adam terdiam dan saling pandang, jika Rendi mengemudi lalu siapa yang memegang dan menjaga istrinya. Akan jauh lebih berbahaya jika Rara sampai terbangun dan histeris. Tapi akan jauh lebih berbahaya jika Rendi murka jika salah satu dari mereka mendekati istrinya itu, apa lagi menyentuhnya walau hanya untuk menenangkannya.


"Apa yang kalian pikirkan ayo cepat ! Teriak Rendi.


"Biar saya saja yang kemudi Tuan, anda jaga Nyonya agar dia tidak terganggu dan membuat kita cemas," ucap Adam.


"Apa yang kau katakan hah,kau pikir istriku akan membuat kekacauan?" Teriak Rendi.


Adam tertegun dengan ucapannya yang salah menyampaikannya, ia terdiam dan melihat ke arah Iyas yang sedang tersenyum tertahan saat Adam mendapat teriakan dari Rendi.


"Maksud saya jika Tuan yang menjaga Nona, itu akan jauh lebih baik dari pada salah satu dari kita yang menjaganya Tuan, apa mungkin kita yang jaga Tuan?" Ucap Adam salah tingkah.

__ADS_1


"Hmm lakukan," jawab Rendi. Ia tidak menginginkan siapapun menyentuh istrinya dan tidak mau ambil resiko itu.


"Baik Tuan," ucap Adam.


Kini Adam mengambil alih kemudi. Ia mengendarainya dengan kecepatan tinggi seperti sedang berada di arena sircuit.


Adam menancap gas dengan kecepatan tinggi dan menerobos penjagaan bahkan menabrak beberapa penjaga di depan jalanan yang membuat terkejut anak buah Jason yang sedang berjaga. Saat mendapati sebuah kendaraan yang menerobos penjagaan. Semua anak buah Jason berhamburan menaiki kendaraan mereka dan mengejar kendaraan Adam yang sedang serius mengendarainya.


Ia master dalam main game untuk itu ia juga ahli dalam membawa mobil di arena Cirkuit yang sering ia ikuti perlombaannya semasa remajanya.


Rendi tampak memeluk istrinya agar tidak terganggu dalam tidurnya. Untuk saat ini jalanan sedang sepi kendaraan lain di malam hari kini mereka mengendarai mobilnya dalam kecepatan tinggi. Sesampai di tempat yang di tuju Adam memberhentikan kendaraannya yang sudah ada beberapa orang yang sudah berdiri di jalanan.


Ken berdiri di bagian depan dan menghampiri kendaraan yang baru saja berhenti. Ia bersiaga saat tuannya menelponnya untuk bersiap. Belum sampai Ken menghampiri tuannya sudah ada mobil yang mengejar mereka dan menghampirinya. Ken mengerahkan anak buahnya untuk menghadang mereka. Ken tampak memancarkan aura membunuh saat melihat banyaknya anak buah Jason yang di kerahkan hanya untuk menculik nona mudanya. Ia tampak sudah bersiap dengan perkelahiannya.


"Sudah lama aku tidak melemaskan otot-ototku kali ini akan ku lakukan sepuasnya," ucap Ken tersenyum dan berjalan bersama anak buahnya berkelahi dengan anak buah Jason.


Dorr ....


Dorr ....


Dari arah belakang kendaraan Rendi terdengar suara tembakan. Saat melihat dari arah kaca spion belakang terlihat anak buah Rendi berkelahi dengan para anak buah Jason yang di pimpin oleh Ken langsung.


Tidak ada raut kecemasan tentang Ken di raut wajah Rendi,ia malah terlihat seutas senyum di wajahnya saat melihat Ken memimpin langsung perkelahian saat ini.


"Heh, sepertinya kau akan bersemangat untuk kali ini Ken," gumam Rendi.


Sementara Adam melajukan kembali kendaraannya meninggalkan Ken bersama anak buahnya menghadang anak buah Jason yang mengejarnya. Adam merendahkan kecepatannya dan sampai di sebuah tempat yang di kira sudah tidak ada lagi anak buah Jason yang mengejarnya.


Kendaraan Rendi tidak langsung pergi lagi, mereka berdiam di pinggir jalanan yang sepi dua kendaraan menunggu kedatangan Ken yang harus secepatnya menyusul.


Selang dari mereka menunggu sudah ada yang mengetuk pintu kaca mobil di arah Rendi. Ia menurunkan kaca mobil dan melihat Ken dalam ke adaan berbeda dari biasanya yang biasanya rapih kini ia mengenkan kemeja lengan di guling dan jas di ikat di pinggang nya rambut sedikit berantakan.


"Sepertinya kau masih belum puas Ken," ucap Rendi.


Ken tidak langsung menjawab ucapan tuannya dengan pandangan yang masih sama seperti biasanya Ken merendahkan ucapannya dan berbicara pada tuannya.


"Tuan sudah aman, mereka sudah kita amankan, Tuan bisa secepatnya ke Bandara," ucap Ken.


"Bawa istrimu kemari biarkan dia bersama istri dan anak-anakku," ucap Rendi.


Ken mengangguk dan mengajak istrinya untuk pindah dri mobilnya dan memasuki mobil tuannya. Dilla sempat ragu saat ia keluar dari mobilnya dan melihat suaminya yang lain dari biasanya wajah yang sangat dingin dengan aura membunuhnya apalagi sempat terdengar suara tembakan saat di jalanan tadi saat suaminya keluar dari mobilnya dan menyuruhnya untuk diam dan mendengarkan Airpone yang suaminya pakaikan untuknya.


"Tidak akan terjadi apa-apa masuklah temani Nona dan kau akan lebih aman bersama Tuan," ucap Ken.


Dilla melihat tatapan dingin Ken yang memalingkan pandangannya saat istrinya melihatnya dengan tatapan sendu dan khawatir.


Ken mengecup pucuk kepala Dilla dan menuntunnya untuk masuk ke kendaraan Rendi di mana sudah ada Rara bersama anak-anaknya.


Dilla duduk di samping Rara yang masih tertidur lelap.


Ken berbincang dengan Rendi dan pergi mendahului kendaraan Rendi pergi meninggalkan mereka.


Rendi memasuki kendaraannya,ia melihat semua sudah ada di dalam mobil tersebut, yang luasnya muat dengan beberapa orang termasuk dirinya.


"Jalan," ucap Rendi.


Adam mengangguk dan menancap gas kembali menuju Bandara. Tidak ada perbincangan di dalam perjalanan mereka. Rendi melihat ke arah istrinya dan menyenderkan kepala istrinya di bahunya. Ada Dilla melihatnya dengan hati yang mulai tenang karena melihat Rendi yang masih tenang tanpa khawatir sesuatu hal buruk akan terjadi setelah dari tadi ia merasa gundah karena hal yang mendadak di tengah malam.


BANDARA.


Sesampainya di dalam pesawat Rendi bersama Iyas berbincang dengan Adam di luar pesawat yang belum melakukan penerbangan. Bahkan pesawat yang khusus untuk keluarga Rendi Anggara.


Rendi masih dengan menggendong istrinya melalui jalur rahasia yang Adam ketahui di sekitar Bandara yang ternyata sudah ada beberapa anak buah Jason di sana yang berjaga di depan Bandara.


Sesampainya di dalam Bandara mereka bergegas menuju pesawat dan tidak ada yang memperhatikan mereka


Sudah ada seorang angkatan udara yang menyambut mereka dengan pakaian tugasnya yang gagah dengan tubuh yang kekarnya.


"Silahkan masuk Tuan,saya akan pastikan semua aman," ucap pria itu.


Rendi mengangguk dan membawa istrinya memasuki pesawat dan membaringkannya di tempat tidur pribadi yang tersedia di dalam pesawat.


"Huh,kalau aku tidak memasukan obat tidur dulu padamu mungkin tidak akan semudah ini membawamu Sayang," ucap Rendi tersenyum.


Ia mengusap pucuk kepala istrinya dan mengecup keningnya.


Kini Dilla memasuki dimana Rendi membaringkan istrinya dan duduk di sampingnya di ikuti putra- putrinya.

__ADS_1


Rendi melihat ke arah Dilla dan berbicara padanya.


"Temani dia, agar suamimu cepat kembali," ucap Rendi.


"Iya," jawab Dilla mengangguk.


Rendi keluar di mana istrinya istirahat. Ia keluar dari pesawatnya. Ia pergi berbincang bersama Iyas dan Adam.


"Apa kau bisa dam?" Tanya Rendi.


"Baik Tuan," jawab Adam.


Rendi pergi bersama Iyas berdua meninggalkan Adam yang melihat mereka pergi.


Di Dalam Pesawat.


Dilla melirik ke arah saudaranya yang masih tertidur lelap dalam situasi seperti ini.


"Hmm dalam situasi seperti ini kamu masih saja terlelap Sayang, tidurlah yang nyenyak aku tidak mau kamu khawatir," gumam Dilla.


Setelah berbincang Adam masuk kembali ke dalam pesawat. Untuk kali ini ia tampak dalam ke waspadaan dengan serius berjaga untuk mencegah anak buah Jason berhasil mengetahui keberadaannya.


Dilla terkejut karena Rendi tidak ikut masuk lagi bahkan di tinggalkan begitu saja oleh Adam.


"Hei kenapa kau tinggalkan Tuanmu di sana hah?" Ucap Dilla.


"Tuan masih ada urusan Nyonya nanti akan menyusul setelah kita berada di pesawat," ucap Adam.


Dilla terdiam ia tidak mau memperpanjang urusan Rendi yang memilih pergi dan meninggalkan mereka hanya bersama seorang Adam seorang. Mereka kini berada di dalam pesawat sesampainya di Bandara hanya di temani Adam beserta kedua pengasuh yang menggendong anak-ank Rendi. Pesawat yang di tumpanginya bahkan belum lepas landas. Mereka menunggu tuannya untuk menyusul setelah menyelesaikan urusannya.


Rendi bersama Iyas berdua tanpa pengawal menghampiri Mark dan Nesa yang kini sudah berada di pinggir jalan tidak jauh dari Bandara. Mark dan Nesa sudah berdiri saat Rendi berjalan menghampiri mereka.


Rendi melihat Nesa mengenakan pakaian rapih milik istrinya mengenakan penutup kepala.


"Apa kau siap?" Tanya Rendi.


"Siap Tuan," jawab Nesa.


Mereka bersiap dan berdiam menunggu fajar tiba untuk mempersiapkan aksinya.


Ken sekarang sudah siap dengan anak buah Jason yang semuanya sudah ia tangkap dan akan di jadikan umpan untuk Jason. Setelah matahari mulai muncul dan kota sudah mulai ramai.


Rendi dan Mark kini berpencar dan Nesa berjalan memasuki Bandara bersamaan mereka mengikutinya dari arah belakang Nesa. Ketika melihatnya seorang wanita dengan pakaian yang sama seperti di dalam fotonya anak buah Jason langsung bergerak dan menangkap Nesa menutupnya dengan kain hitam di kepalanya. Karena semua sudah berjalan dengan lancar mereka melihat Rendi dan Mark berjalan dan berlaga belum menyadari ada penculikan oleh mereka. Sehingga mereka bergegas untuk pergi dari tempat dan kembali ke markas. Begitupun Rendi mengikuti mereka bersamaan Jason yang sudah mulai kembali ke markasnya.


**flasback off.**


Rendi kini mendekati Jason yang kini bersama Nesa dan Iyas juga sudah berada di belakangnya. Anas yang kini sudah terkulai berhasil di kalahkan setelah berkelahi dengan Iyas. Iyas tersenyum melihat Anas yang sudah tidak berdaya.


"Heh,kau pikir tubuhku ini selemah itu, aku sudah sering bahkan lebih dari pukulan kecilmu itu cih," ucap Iyas memandang rendah Anas yang sudah tersungkur penuh memar di wajahnya.


Jason memerintahkan kedua anak buahnya yang berada di hadapannya untuk berkelahi dengan Rendi.


Mereka maju untuk memukul Rendi tapi di hadang oleh Mark dan Iyas. Kini mereka berkelahi melawan kedua anak buah Jason. Hanya tinggal Rendi bersama Nesa di belakangnya menghadap ke arah Jason yang kini dalam keadaan ketakutan.


"Kau bahkan membunuh adik kesayanganku dengan kejamnya, apa kau lupa Jason?" Ucap Rendi.


"Aku ... aku tidak tahu kalau itu adikmu," teriak Jason.


"Kalaupun bukan adikku, akan ada seorang kakak yang akan membalas kematian tidak wajar adiknya," ucap Rendi.


"Omong kosong," teriak Jason melayangkan tinjunya dan berkelahi dengan Rendi.


Sebuah kesenangan bagi Rendi jika ia bisa berkelahi sampai puas menghajar Jason. Orang yang sudah berani membunuh adik tercintanya,menghina ibunya, juga sekarang ingin merebut istrinya bahkan ingin menyentuhnya.


Rendi tampak murka saat memukuli Jason yang kini sudah banyak terkena pukulan darinya, apalagi di setiap pukulan teringat akan setiap kejahatan Jason yang tanpa alasan baginya.


Setelah mengalahkan kedua anak buah Jason, Mark dan Iyas juga Nesa melihat Rendi yang dengan murkanya memukuli Jason walau Jason masih melawannya. Rendi bahkan sama sekali tidak terkena pukulan sekalipun dari Jason. Mengingat Rendi yang sudah seperti itu Mark menghampirinya dan meredakan pukulan Rendi pada Jason yang kini sudah babak belur di wajahnya yang di penuhi luka tersungkur.


Rwndi berhenti dan merapihkan dan mengelap kembali tangan yang penuh dengan darah. Nesa mengusap tangan Rendi dengan sapu tangannya. Ia melihat wajah tuanya dengan aura murkanya dan lelah.


"Seret dia dan tinggalkan dia di tengah pulau yang aku sediakan untuk penyiksaannya," ucap Rendi meninggalkan tempat Jason berada dan keluar dari markasnya berjalan seperti tidak melakukan apa- apa.


Mark memerintahkan anak buahnya yang baru datang untuk membawa Jason bersamanya keluar.


Rendi di hampiri Ken yang sudah berada di depan mobil. Ia mengerutkan dahinya melihat tuannya dengan wajah berkeringat.


"Apa Tuan yang melakukannya,sial kau Mark membiarkan Tuanku menghadapinya," batin Ken geram melihat ke arah Mark dan Iyas.

__ADS_1


Ken membukakan pedal pintu mobilnya dan Rendi memasuki kendaraannya duduk di kusi penumpang menyenderkan kepalanya dan menutup kedua matanya.


__ADS_2